Naik Bus ke Jogja

17 November 2022

18 Mei 2022

Hari sudah lewat maghrib ketika aku dan Elo sampai di Terminal Magelang. Tentu saja, terang sudah berganti gelap. Aku dan Elo bergegas turun bus Jogja - Semarang untuk pindah jurusan Magelang - Wonosobo. Busnya sudah tampak usang, tapi tak ada pilihan lain (kecuali mau naik taksi online dengan harga berlipat).

Kami berlomba dengan penumpang lain yang punya tujuan searah. Hup hup hup, lorong bus segera terisi penuh dengan penumpang. Kami berjejal seperti nonton konser kelas festival. Aku sudah berpengalaman dalam hal berdiri saat bus berjalan. Tapi bagi Elo... ini bakal jadi pengalaman pertama buat si bocah. 

Eh sebentar...kursi paling belakang masih ada sedikit lowong. Puji Tuhan, Elo bisa disisipkan di situ sementara aku berdiri dekat di depannya. Pergi dari pagi, anak itu sudah terlalu lelah untuk protes (kalau masih segar, aku yakin dia bakal minta ikut berdiri). Tak lama, bus yang sudah penuh bergerak meninggalkan terminal. 

Aha...lumayan asik "petualangan naik bus" hari itu. Meski tidak full 100 persen naik bus, tapi cukup oke-lah. 

Perjalanan ini bermula dari aku janjian ketemuan sama teman-teman di Jogja. Berhubung aku nggak bisa nyetir dan bakalan ngrepotin kalau minta diantar, ya sudah naik bus aja. Hitung-hitung nostalgia naik bus antar kota seperti dulu saat masih kuliah. Plus, kasih pengalaman naik bus ke bus bagi anak-anak. Namun, Ale nggak mau ikut pergi. Yawda...aku berdua saja sama Elo.

Ada kendaraan di rumah memang bikin anak-anak jarang naik angkutan umum.  Jujur, kami nggak punya mobil sendiri. Belum ada pertimbangan beli kendaraan karena BJ ada fasilitas mobil kerja yang bisa dipakai pribadi.  Kemana-mana, kalau nggak naik mobil, ya naik sepeda motor. Apalagi, sebelum ada bus transmaminasata, jalan depan kompleks tempat tinggalku tidak dilewati angkutan umum.

Jadi, kalau si ayah sedang pergi dan nggak bisa pakai sepeda motor, aku biasa pakai taksi/ojek online. Taksi dan ojek online memang bisa dibilang sarana transportasi publik, tapi penggunaannya kan private ya..Beda sama kendaraan umum yang dipakai bareng-bareng penumpang lain dan rutenya sudah ditentukan. 

Padahal,  buatku, naik transportasi umum adalah salah satu life-skill yang mesti diajarkan ke anak-anak. Kan nggak selamanya mereka bepergian sama orangtua. Plus, belum tentu juga ketika mereka sudah gede langsung pegang kendaraan sendiri. Selain itu, namanya kehidupan bisa saja berputar tajam. Punya kendaraan mevvah selusin pun, bisa saja hilang semua dalam sekejap.

Maka itu, di awal Januari, ketika mudik pertama di 2022 dan BJ sudah kembali duluan ke Makassar, aku dan anak-anak plus satu keponakan pergi ke Jakarta. Kami naik bus OBL, armada bus asli Temanggung. 


Di google map, jarak kampungku yang mblusuk ke Jogja (dengan titik Terminal Giwangan) adalah 100 kilometer. Kalau pakai kendaraan sendiri, rata-rata bisa ditempuh tiga jam. Namun, kalau pakai kendaraan umum tentu butuh waktu lebih panjang karena ada waktu menunggu serta waktu naik turun penumpang. 

Selain itu, kalau full naik angkutan umum, dari kampungku ke Jogja mesti beberapa kali ganti kendaraan. Jarak rumah ke angkutan umum pertama sekitar dua kilometer berupa aspal pedesaan (dulu pas zaman sekolah, berupa jalan batu dan aku jalan kaki dong). 

Setelah naik angkutan pertama, lanjut ganti bus kecil ke arah Parakan. Habis itu  bisa langsung naik bus rute Purwokerto - Jogjakarta. Tapi aku nggak tahu jadwal lewatnya, jadi mendingan ganti-ganti bus untuk rute yang lebih pendek deh.

Kami pergi pagi-pagi dari rumah diantar Mbak Icha sampai Parakan. Dari halte Galeh aku dan Elo langsung naik bus jurusan Magelang turun di Secang (padahal bisa sekalian turun di Magelang, tapi aku pengin aja ganti bis di Secang). Di sana, aku sama Elo sarapan dulu di terminal. Setelahnya baru nunggu bus ke Jogja. 

Sebenarnya ada beberapa bus ekonomi Semarang - Jogja melintas. Namun, aku menunggu bus AC (horang sombong mana mau bus ekonomiπŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€). Lumayan lama nunggunya, ada kali 30 menit, baru dapat bus AC Nusantara jurusan Semarang - Kudus. Busnya masih bagus, bersih, dan adem...

Tiba di Terminal Giwangan Jogja, ketemuan sebentar sama  Aa (hai bestieee...). Btw Aa ini perempuan ya, buka aa-aa Sunda nu kasep hehehe. Pertemuan yang menyenangkan walau hanya sebentar di warung mie ayam. Tak kusangka bisa kembali ketemuan.  Kami berjumpa terakhir mungkin sudah sekitar sepuluh tahun silam, saat aku masih tinggal di Pematangsiantar.

Habis makan mie ayam, kami bertiga kembali ke Terminal Giwangan. Aku dan Elo hendak melanjutkan agenda hari itu untuk ketemuan dengan teman yang lain lagi di Museum Affandi. Sementara Aa akan kembali bekerja. 

Dari Giwangan, aku dan Elo naik Trans Jogja ke arah Museum Affandi. Maafkan karena aku lupa jalur berapa yang kami naiki saat itu. Yang jelas, nggak ada bus Trans Jogja dari Giwangan yang langsung turun di depan museum. Kami diarahkan untuk turun di Halte UIN lalu nanti sambung jalan kaki. "Nggak jauh kok," kata Aa.

Okee...lami langsung naik bus setelah bayar Rp 3.500x2 = Rp 7.000. Beberapa saat kemudian kami turun di halte UIN lalu jalan kaki sekitar 5 menit ke Museum Affandi. Tiba di sana, dua temanku belum datang. Aku sama Elo beli tiket dulu untuk masuk. Tiket per orang 50.000 dan untuk anak sekolah ada diskon jadi Rp 25.000.

Beberapa saat kami menunggu, datang Bunda Lisda dan Shallom. Mereka ini duet ibu-anak yang tempo hari kutulis dalam jalan-jalan bareng ke Toraja. Btw, nama kami memang sama yaa..bedanya cuma di huruf h. Dia Lisda, aku Lisdha hehehe.

Temanku satu lagi, Rieka belum tiba juga. Jadi kami lebih dulu masuk studio. Kami sedang menikmati lukisan-lukisan sang maestro, ketika Rieka datang menyusul.  Cerita tentang keliling-keliling di Museum Affandi nantik akan aku jadikan post tersendiri.


Singkat cerita, jalan-jalan hari itu kami akhiri dengan istirahat di cafe dalam museum. Aku berencana untuk kembali naik Trans Jogja ke Giwangan. Caranya sama dengan saat datang, yakni jalan sebentar ke halte UIN, kemudian naik bus di halte yang menuju Giwangan.

Namun, rencana tinggal rencana. Hujan turun, deras pula. Bagaimana mau jalan ke halte? Pakai payung pun bakalan basah. Kutunggu-tunggu, hujan tak juga reda. Padahal, siang sudah bergeser makin sore. Bisa-bisa kami ketinggalan bus ke Temanggung.

Kuputuskan naik Gocar bersamaan dengan Rieka yang naik sepeda motor. Sesaat setelah Gocar jalan, aku memutuskan untuk mengubah rute, dari semula ke Terminal Giwangan langsung ke Terminal Jombor. Setidaknya, memperpendek jarak menuju Magelang.

Puji Tuhan, keputusan yang tak keliru. Di Jombor, masih ada bus jurusan Semarang (yang mana aku nanti turun di Magelang atau Secang). Kata kernetnya, itu bus terakhir. Entah beneran atau cuma modus si kernet biar para penumpang naik.  Bus-nya sudah tak kinclong, mungkin sudah sangat lama mengaspal. Namun, hari sudah mendekati petang, aku tak mau ambil risiko dengan pilih-pilih bus. 

Di cafe tadi, Elo sudah makan mie. Namun, ketika hendak naik bus, si bocah malah bilang laper. Jadilah kami beli nasi bungkus di terminal, Elo pilih lauk teri sambal. Saat naik bus, kursi hampir penuh penumpang. Bersyukur, masih ada yang kosong di bagian belakang. Penumpang-penumpang lain terus berdatangan. Tak lama, bus pun penuh sesak dan segera bergerak meninggalkan terminal.

Long story short, kami tiba di Terminal Magelang seperti kugambarkan di awal tulisan.  Penumpang naik turun selama perjalanan. Namun aku masih saja berdiri di antara kepadatan dan Elo nyempil di belakang. Benar-benar kondisi yang kontras dengan bus AC Nusantara dan Trans Jogja di pagi dan siang tadi. 

Bersyukur si bocah tenang-tenang aja...nggak rewel dan nggak ribet. Memang harusnya begitu Lo...berdesak-desakan begini sih masih lumayan. Di dunia ini, pasti buanyak angkutan umum yang kondisinya sangat tidak mengenakkan, bahkan menyeramkan (seperti kubaca tentang angkutan di Afganistan dalam buku Agustinus Wibowo atau lihat perjalanan melintasi lereng terjal Bolivia di Youtube. Eh kok jauh-jauh ke luar negeri ya, di Indonesia pun masih banyak sarana transportasi darat yang gitu deh...). Jadi, perjalanan malam itu, meski terasa tak nyaman, masih bisa dibilang : bolehlah.

Setelah lewat Temanggung, barulah ada kursi kosong untuk duduk berdua. Elo pindah duduk bersamaku. Kami turun di Galeh Parakan, halte seperti saat kami berangkat. Di situ, kami menunggu jemputan Mbak Icha dan Mas Iel sembari makan ayam penyet. Leganyaa....

Tuntas sudah perjalanan naik bus pulang pergi Temanggung mblusuk - Jogja sedari pagi. Lelah itu pasti. Tapi, hari itu adalah cerita tersendiri.








6 komentar

  1. seru pengalamannya.... lumayan juga ya tiket ke museum.....
    Thank you for sharing

    BalasHapus
    Balasan
    1. Apalagi buat wisman pak..dua kali lipat harganya :D

      Hapus
  2. Masa-masa masih ada kendaraan umum memang begini, ya, mau ke mana-mana naik bus. Tapi, kalau sejauh itu ke Jogja naik bus berasa banget lelahnya. Apalagi kalau rumah di pelosok ini, bakal kerasa betapa ribetnya mau bepergian ke mana-mana. Salut sih ke Jogja naik bus, memang sih berkunjung ke suatu tempat di waktu tertentu bermakna banget. Terima kasih sharingnya!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thanks mb Nisa..kalau dibandingkan zamanku, kayaknya bus skrg nggak serame dulu. Sudah makin banyak orang punya kendaraan kan ya..

      Hapus
  3. Saluuut loh mba, anaknya ga rewel πŸ‘. Padahal itu lumayan panjaaaaang rutenya yaaa πŸ˜….

    Aku jujurnya sangat menghindari bus. Agak trauma soalnya. Masih mau sih naik, tapi kalo ada alternatif lain, aku milih alternatif lain. Pernah dpt pengalaman ga enak pas naik bus di Aceh πŸ˜‚. Sejak itu kapok. Kalopun naik bus, aku milih banget harus bus yg seat nya 2-1 πŸ˜…. Ini khusus bus luar kota Yaa. Kalo bus dalam kota, hanya trans J yg aku mau naikin 🀣.

    Tapi untungnya anak2 ga rewel. Cuma mereka hrs Ama papinya kalo naik bus. Aku ga bakal mau ikutan 😁.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi dia ogah kalau naik bus pulang sekolah mbak...Soalnya muter2 rutenya jd lama sampai rumah. Pernah sekali pul-skul naik bus sama abangnya, trus kapok wkwkwk. Tapi kalo naik busnya pergi2 (bukan skolah) sih dia hayuk aja..

      Hapus

Terima kasih atas kunjungannya. Mohon tidak meninggalkan link hidup dalam komentar ya :)