Kali Kedua ke Toraja

5 Agustus 2022



Kete'Kesu
Makam di Kete' Kesu


TORAJA, nama tempat yang tidak asing bukan? Sejak lama, daerah ketinggian di bagian utara Sulawesi Selatan telah menjadi salah satu magnet wisata Indonesia. Keunikan budaya yang masih terawat hingga kini mengundang banyak orang untuk mengunjunginya.


Namun, coba baca dulu kata Elo -si bungsu kami- usai kami jalan-jalan ke Toraja di medio 2021.


Toraja? Huh…wisata apa’an? Jalan-jalan kok ke makam-makam. (Kata-katanya tidak persis seperti itu sih. Intinya, bagi Elo, Toraja itu tidak asik).


Haha, teman-teman pecinta wisata budaya, terlebih sudah menaruh Toraja dalam bucket-list, jangan marah sama Elo yaaaa…. Saat tulisan ini dibuat, umurnya belum genap delapan tahun. Masih bocil dia.

 

Bocil yang sedang bertumbuh dengan aneka imaji. Termasuk imajinasi tentang dunia mistis, tempat mahluk-mahluk astral yang sering dikisahkan berkelindan dengan makam dan kematian. Nggak perlu kami ajak nonton film horor untuk tumbuh imajinasi serupa itu (kebetulan, saya bukan penggemar horror movie). Lha wong di animasi Upin-Ipin saja ada cerita hantu kan?


Nah…. Wajar dong kalau dia merasa serem dengan wisata Toraja hehehe. Setelah sekali ke Toraja, dia nggak pernah mau lagi jalan-jalan ke sana. Beda kalau diajak main ke Bira…langsung hayuuuuk aja.


Baca : Birunya Bira


Tapi itu sudah berlalu. (Mau bilang "tapi itu dulu" kok ya belum dulu-dulu amat😀).


Juni lalu, Bou Shallom dan Shallom datang dari Jogja. Mereka mau menguraikan keruwetan otak setelah sekian waktu penat dengan urusan ujian kelas enam. FYI, Shallom adalah teman sekolah Ale saat di Medan. Saya dan bunda Shallom (yang juga bernama Lisda!~tapi tanpa huruf h di antara d dan a) plus satu teman lagi (Mama Matthew) jadi trio sahabat dari jalur sekolah anak-anak😀. Saat Ale-ShallomMatthew masih satu sekolah, hampir tiap hari kami ketemu. Namun, selanjutnya kami mesti long distance friendship karena Bunda Shallom pindah ke Jogja, setahun kemudian saya pindah ke Sulawesi Selatan.


Oh yaaa…Ale-Elo memanggil Bunda Shallom dengan sebutan Bou. Ini adalah kependekan dari namboru. Dalam budaya Batak, namboru adalah sebutan budhe/bulik dari pihak ayah/marga ayah. Jujur, saya nggak hafal-hafal urutan panggilan kerabat ala Batak. Kalau mereka panggil Bou, itu karena ikut-ikutan Matthew. 


Dalam sikon LDF, saya dan Bunda Shallom sudah beberapa kali ketemuan. Ya kan dia di Jogja, jadi kalau saya mudik dan waktunya cocok, bisa deh janjian. Tempo hari adalah kali pertama (dan kata dia, mungkin sekali seumur hidup) bagi Bunda Shallom dan Shallom pergi ke Sulsel. Berdua doang soalnya si ayah lagi ada kerjaan di luar kota. Duet ibu anak yang dengan gagah berani memulai perjalanan dari Jogja - Surabaya (naik bus) lalu sambung Surabaya - Makassar (naik kapal). Kalian memang keren gaessss…


Mereka tiba di Pelabuhan Makassar sekitar pukul 11 malam (WITA). Gara-gara menjemput mereka, untuk pertama kalinya, saya-BJ-Ale-Elo jadi punya pengalaman masuk area pelabuhan. Selama ini lewat-lewat doang😀


Bunda Shallom bilang, pokoknya mau ke Makassar. Kan banyak tujuan jalan-jalan seputar Makassar. Pun di sini ada saudara yang bisa ditemui. Memang, rasanya belum komplit ke Sulsel kalau belum ke Toraja. Tapi, kalau bisa ke Toraja syukur, kalau tidak bisa, ya nggak apa-apa. Secara Toraja memang cukup jauh dari Makassar. Paling cepet enam jam perjalanan darat. 


Sebagai sahabat yang baik (uhuk), kami berusaha mewujudkan asa tamu istimewa ini dong. Kan jarang-jarang kami dikunjungi saudara/sahabat hehehe. Daaaan…surpised-nya, Ale - Elo mau dong main ke Toraja lagi. 


Jadi deh…  Juni 2022. The six of us went to Toraja…


Dengan waktu terbatas, tentu tidak mungkin semua tempat bisa dikunjungi. Setidaknya, pilih beberapa destinasi yang wajib dikunjungi kalau jalan-jalan ke Toraja. Rencana perjalanannya tidak jauh beda dengan kali pertama kami berempat ke sana. 



Monumen Cinta Sejati Habibie Ainun
Mampir di Monumen Cinta Sejati BJ Habibie-Ainun Pare-Pare

Hari pertama.


Start pagi-pagi dari Makassar. Istirahat sebentar di Pare-Pare. Lalu singgah di Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) Sidrap dan Gunung Nona. 


Baca : 

Famtrip Toraja, Mampir Sebentar di PLTB Sidrap

Famtrip Toraja, Mencicip Nasu Cemba di Gunung Nona


PLTB Sidrap sudah saya ceritakan di Perjalanan ke Toraja Part 2. Sulsel juga punya PLTB lain lho, yakni PLTB Jeneponto. Main-main ke sana, saya ceritakan di tautan berikut :


Baca : Angin, Listrik, dan Pesawat Kertas


Di jalan, dengan bercanda, saya bilang kalau kabupaten Toraja itu "aku banget." Soalnya nama ibukotanya Makale (Mak Ale = Mama Ale). Ditambah lagi semboyan Toraya Maelo' (Maelo : Mama Elo) yang ditulis segede gaban di dinding bukit sebagai ucapan selamat datang. Mak Ale dan Mak Elo, pas kaaan? Lebih tepatnya sih  dipas-paskan alias cocoklogi.😇 


Tapi saat pergi ke Toraja bareng Shallom dan bunda-nya, ternyata tulisan selamat datang di Kota Makale sudah berubah. Bukan lagi Toraya Maelo' melainkan Toraya Mala'bi'. 


Baca : Famtrip Toraja, Sambutan Personal di Tana Toraja


Dari arantoding-torajahomeland.blogspot.com* ada penjelasan arti Tondok Toraya Mala'bi', yakni Toraja sebuah tempat yang indah, dengan posisi geografisnya yang terletak di daerah pegunungan, dan masyarakat yang menjunjung tinggi  nilai nilai budaya dan adat istiadat dengan menyelaraskan kondisi kemajuan zaman yang selalu berubah. 



Buntu Burake
Buntu Burake

Kami hanya melintasi Kota Makale. Tujuan kami adalah ke Buntu Burake, bukit tinggi tempat berdirinya patung Tuhan Yesus Memberkati Toraja. Dari Kota Makale, patungnya sudah tampak jelas terlihat. Patung ini lebih tinggi daripada patung Christ the Redeemer yang jadi ikon Rio de Jeneiro-Brazil. Meski bernafas kristiani, tempat ini juga banyak dikunjungi umat beragama lain lho… Buntu Burake memang tidak hanya menyajikan obyek patung raksasa. Namun, dari ketinggian Buntu Burake, pengunjung bisa melihat hamparan pemandangan Kota Makale dan sekitarnya.


Tahun lalu, ada portal penghalang jalan di Burake akibat perselisihan warga dengan pemerintah daerah. Mobil mesti diparkir di bawah dan kalau nggak mau jalan, wisatawan mesti naik ojek. Tempo hari, portal sudah tak ada. Mobil sudah bisa melenggang hingga area parkir Buntu Burake.


Sesaat di Buntu Burake, hari sudah menjelang sore. Tak ada rencana kunjungan ke tempat lain lagi. Kami mesti cepat-cepat menuju tempat penginapan yang berada di daerah Toraja Utara.  (FYI, secara administratif, ada Kabupaten Toraja dengan ibukota Makale dan Kabupaten Toraja Utara dengan ibukota Rantepao)..



Pongtora Lolai
Matahari terbit di Pongtora Lolai

Untuk istirahat malam itu, kami sepakat untuk menjajal pengalaman baru. Bukan menginap di hotel, melainkan di tenda. Lokasinya di Pongtora, Lolai,  “negeri di awan” yang berjarak sekitar 12 km dari Rantepao. 


Baca : Famtrip Toraja, Di Ketinggian Negeri Atas


Tentang Pongtora, saya buat tulisan tersendiri (tautan di bawah👇 ). Sebab, di Pongtora-lah, kali pertama kami menjajal menginap ala camping di tenda. Lalu keterusan jadi suka camping deh... 


Baca : Tergigit Dingin di Pongtorra


Hari Kedua


Usai berkemas di tenda, kami menuju desa wisata Kete Kesu. Sempat nyasar karena kehilangan sinyal saat lihat map, tapi malah jadi tahu jalur lain. Tentu saja, dapat bonus perkampungan dengan banyak tongkonan yang indah. Menariknya, di beberapa spot, kami mendapati warga bekerja bakti membersihkan jalan. 


Tahun lalu, tidak banyak cerita yang kami dapatkan di Kete Kesu. Sebab, waktu itu, Kete Kesu sepi. Masih pandemi, jadi berusaha jaga jarak dan tidak banyak ngobrol. Gara-gara sepi, Elo takut waktu diajak jalan ke areal makam di belakang rumah adat tongkonan. 


Baca : Famtrip Toraja, Londa-Kete’ Kesu-Bori Kalimbuang


Kali ini, Kete’ Kesu lebih ramai dibandingkan tahun lalu (pandemi sudah mereda). Serunya, Shallom oke-oke saja ketika diminta pakai baju adat Toraja. Seperti di banyak destinasi wisata budaya, di Kete Kesu pengunjung bisa sewa baju adat untuk foto-foto dan jalan-jalan seputar area. Biaya sewa baju adat Rp 50.000. 


Kami juga bisa mendapatkan pemandu sehingga kami bisa masuk ke bagian dalam salah satu tongkonan. Tidak ada ketentuan tarif pemandu, berikan sesuai keikhlasan.  Sejujurnya saya lebih suka kalau ada daftar tarif yang pasti. Supaya, wisatawan tak perlu meraba-raba tentang nominal yang pantas. Kalau mau kasih lebih, itulah keikhlasan.


Sekilas, bentuk tongkonan mirip dengan rumah adat Batak. Dari kedua suku ini, tidak hanya rumah adat-nya lho yang mirip. Sistem kekerabatan (marga), nama-nama marga, upacara adat, dan kepercayaan tradisional adalah beberapa hal yang juga memiliki kemiripan. Bunda Shallom yang bersuku Batak sepertinya lebih merasa terhubung. Banyak ahli sejarah yang menyatakan, suku Toraja dan Batak (serta beberapa suku lain, seperti Nias dan Mentawai) sama-sama keturunan bangsa Austronesia. Para leluhur melakukan migrasi dari daerah Yunan, China Selatan sekitar 4000 tahun yang lalu.


Dengan Shallom yang berbaju adat, kami naik ke makam. Beberapa pengunjung minta foto bersama Shallom. Berasa foto dengan putri Toraja yaaa…padahal dia gadis Jawa Batak😆. Tak berhenti di makam di dinding batu, kami juga masuk ke gua yang terletak di ujung atas. Berbeda dengan makam di gua Londa, gua di Kete Kesu tidak banyak digunakan. Hanya sedikit tengkorak dan tulang-belulang di gua di Kete Kesu. 


Untuk masuk gua, ada pemandu khusus. Para pemandu juga sekalian menyewakan lampu. Hari-hari itu masih ada hujan. Selain gelap (makanya perlu lampu), gua juga licin.  Wajib hati-hati kalau tak mau terpeleset dan terjerembab. Bahkan, sesekali juga harus menarik bocil-bocil itu karena jalur yang lumayan curam. Untung tidak pamali (terlarang) kalau sesekali berteriak kaget. Jalan sama bocil-bocil tiga biji dalam suasana demikian, mana bisa kalem toh…


Kete’Kesu kali ini memberikan banyak cerita. Sembari menunggu Shallom dan bunda-nya membereskan baju adat serta berbelanja, saya banyak berbincang dengan oma-oma pemilik kedai kopi. Ini sih yang saya sukai dari jalan-jalan, berbincang dengan warga lokal, mendengarkan bermacam cerita dari mereka yang memang tinggal di sana.


Usai dari Kete’Kesu, kami langsung bertolak ke Makassar. Kalau lancar, kami akan tiba di sana saat malam. Toraja memang terlalu singkat untuk ditelusuri hanya dalam dua hari satu malam. Setidaknya, ada sebagian lagi wilayah negeri yang kami kenali.


Gadis Toraja
Di dalam tongkonan

Makam Toraja
Gelap dan licin dalam goa


Toraja
Edit foto biar komplit tiga serangkai : ki-ka Matthew, Ale, Shallom


*http://arantoding-torajahomeland.blogspot.com/2011/12/tondok-toraya-malabi.html?m=1

28 komentar

  1. Di dalam goa rasanya bisa dapet suasana baru apalagi di sana ehm serem sih pasti tapi seru. Pakaian Toraja unik dan menarik, ya, apalagi rumah tongkonan itu jadi penasaran ke sana. Liburan ke daerah ini banyak belajar tentang daerah pedalaman jadinya, terima kasih sharingnya!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama2 mb Nisa... makasiiih selalu mampirrr :)

      Hapus
  2. wah sudah dua kali ke Toraja ya mba, aku yang baru sekali ini merasa kurang banyak explore Toraja dan belum ada tulisan yang naik di blog tentang perjalanan ke Toraja bulan Februari lalu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha..jd tabungan ide ya mbak. Kapan2 ditulis

      Hapus
  3. Waduh ga lagi klop ya Mak Ale dan Mak Elo ..dah ganti ternyata:)
    Senangnya bisa ke Toraja untuk kali kedua, bersama bestie pula...
    Paling suka sama foto di dalam gua itu akutuu..ekspresi dan angle foto dapet banget
    Pasti habis ini tripnya camping karena jadi ketagihan, hihi..ditunggu cerita serunya:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyooo mbaaa...wis ora mak ale mak elo neh. Wes ra klop hahahihi..

      Hapus
  4. Aku bayanginnya juga serem sih Mbak kalau ada yang nyebut tanah Toraja.. hehe *dasar akunya aja yang penakut.
    Tapi harus diakui kalau baju tradisionalnya itu sopan pisan ya.. ya bagiku lebih sopan daripada pake kemben, jiaahahaha ^^v, peace ya bercanda

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jaman duluuu, katanya kemben pun tidak mbak hehehe (di bbrp daerah)

      Hapus
  5. Seru sekali kunjungannya ke Toraja yang kedua kali, aku dari dulu penasaran pengen menjejakkan kaki ke Toraja nih. Menyaksikan matahari terbit di Pongtora Lolai indah sekali yaaah, pantes kalo dibilang negeri di awan

    BalasHapus
  6. Senang sekali bisa mengunjungi Toraja untuk kedua kalinya ya, Mba. Saya penasaran sejak dulu pengen liat langsung rumah adat Toraja. Di Pare-pare juga ada monumen cinta sejati BJ Habibie dan Ainun. Mengunjungi makam, melewati goa bisa jadi pengalaman yang berkesan buat anak dan keluarga ya.

    BalasHapus
  7. Toraja emang terkenal banget akan kentalnya budaya dan adat istiadatnya apalagi lihat gadis toraja tuh cantik dan manis juga. Suka banget sama cerita liburannya mbak jadi nambah pengetahuan tentang daerah pedalaman.

    BalasHapus
  8. Bapak dulu pernah bertugas ke Papua, kak Lis.. Yang mana juga membawahi Sulawesi.
    Ibuku paling gak bisa berhenti cerita mengenai Toraja.
    Katanya kagum sekali dengan budayanya yang sangat menghormati makam leluhur.

    BalasHapus
  9. Sampe detik ini, daku blm pernah menapakkan kaki d Toraja.
    Semogaaaaa suatu saat ada kesempatan bs ke sana.
    Ngetrip bareng sahabat dan kluarga memang assoyyyy

    BalasHapus
  10. Maaaak Lisss 😭😭 aq mupengg Toraja sejak lamaa.... harusnya minggu depan ada upacara pembersihan mayat hikss tiket oh tiket bikin kumenangiss....

    Tapi semoga next time beneran bisa ke toraja 🤲🤲

    BalasHapus
  11. Wah keren banget mbak, bisa dua kali ke Toraja
    Aku tuh pengen banget ke Toraja
    Pengen tahu banyak tentang budayanya

    BalasHapus
  12. Setuju saya juga berpikir mending ada aturan berapa bayaran guide jadi gak ada harga tinggi atau harga rendah. Karena semua sudah jelas ketentuannya ya ...

    BalasHapus
  13. Pengen banget ke Toraja, dulu punya banyak banget teman Toraja, jadi suka dengar cerita tentang Toraja jadi pengen banget ke sana. Liat foto Tana Toraja dan tradisi mereka tuh terkesan mistis tapi keren banget. Kliatannya emang peradaban tua sih ya.

    BalasHapus
  14. cantiknya Shallom pakai baju adat Toraja. Batak-Jawa traveling ke Sulawesi. Mikir gini betapa luasnya Indonesia.
    Berarti enaknya berapa hari ya mbak kalau mau eksplor Toraja? 2 hari ternyata masih kurang.

    BalasHapus
  15. Aku punya ipar orang Toraja mb. Dan kalau dengar cerita dia tentang pesta pemakaman di sana whua kok pengen banget liat secara langsung.

    BalasHapus
  16. Selama ini mainnya masih seputaran Jawa dan Kalimantan, semoga suatu saat bisa main ke daerah Sulawesi termasuk ke Toraja ini yang ikon rumah adatnya khas banget

    BalasHapus
  17. Ajakin aku juga donk kalau ke Toraja hehehe. Ternyata masih jauh banget yaaa dr Makassar. .
    Seru banget berangkat ma teman2 apalagi sempat nyasar di pelabuhan tapi jadinya malah dapat pengetahuan baru ya mba.
    Temannya lucu banget nama kotanya dicocoklogi hehe.

    BalasHapus
  18. Meski puteri Jawa Batak tapi cocok juga mengenakan baju tradisional Toraja, itu main ke makam yang jenazahnya cuma di dudukkan aja ya mba? berasa semriwing ga sih, duh aku efek nonton Pengambdi Setan jadi agak gimana gitu kalo sama makam dan tengkorak

    BalasHapus
  19. Beruntung bisa ke sana dua kali
    Saya yang lahir di Sulawesi Selatan, sekali pun belum pernah
    Sekarang aku dan suami berencana tahun depan ke sana pas mudik

    BalasHapus
  20. Sampai sekarang aku masih rada ngeri mba klo harus masuk goa. Apa yaaa.., kesannya lembab dan kayak di luar dimensi kehidupan, halaaahhh istilahku ya. Tapi penasaran juga dengan Kete Kesu yang selalu menjadi daya tarik wisata ini.

    BalasHapus
  21. Waah seru sekali pengalaman ke Toraja. Dah dua kali pula. Yg ini lebih seru soalnya bersama sahabat sahabat dan anak-anak yaa...

    BalasHapus
  22. Saya baru dua kali ke Toraja dan itu puluhan tahun lalu (puluhan ya, sebab kejadiannya waktu saya masih SMA dan awal bertugas tahun 1986) huuu...pasti sudah banyak perubahan, tetapi untuk gua nya sepertinya tidak banyak perubahan. Ahaaiii, tiba-tiba ada ide mau jalan-jalan lagi ke Toraja.

    BalasHapus
  23. Ya Allah kangen Toraja, punya banyak saudara sepupu di sana karena mamaku orang Enrekang, tetangganya Toraja. Penasaran lihat patung Yesus raksasa dan negeri di awan tapi berani nggak ya menempuh perjalanan menuju sana yang pasti naik-naik hehe...

    BalasHapus
  24. Masya Allah indahnya alam Toraja, pas lihat matahari terbit itu merinding, awannya dekat banget terasa kayak kapas. Baju adatnya juga super menarik dan cocok dipakai, Mbk. Makin cantik.

    BalasHapus

Terima kasih atas kunjungannya. Mohon tidak meninggalkan link hidup dalam komentar ya :)