Mengurus Pindah Sekolah Antar Provinsi

Ale (paling kanan) dengan teman2 sekolah di Medan
lagi praktik belanja di sebuah supermarket :)


Pertama kali mendapat kabar tentang mutasi kerja BJ, pikiran saya langsung tertuju pada satu hal : sekolah Ale! Pindah tempat tinggal berarti Ale pindah sekolah (LAGI!). Rrrrrrrrr.... bagaimana ya? Saat naik kelas empat (SD), dia baru saja pindah sekolah. Lalu, naik kelas lima harus pindah lagi? Itu berarti hanya setahun di sekolah baru (dan karena COVID-19, sebagian besar semester dua harus dijalani secara daring).

Pengalaman Terbang Saat Pandemi COVID-19

Selamat datang di Bandara Sultan Hasanuddin



Menepati janji di tulisan “Pindah Lagi”, di sini saya akan membagikan pengalaman naik pesawat terbang saat pandemi Covid-19. Transportasi udara sudah menjadi hal lumrah bagi banyak orang. Tapi, kita tahu, pandemi Covid-19 mengubah banyak hal. Termasuk dunia penerbangan yang mau tak mau harus mengikuti protokol new normal.

Pindah Lagi : When Laughter and Tears Collide

pic from bisniswisata.co.id (karena kemarin kami naik Lion Air)

      Judul ini terinspirasi dari lagu “When Love and Hate Collide”, hits lawas punya Deff Leppard. Laughter, ada tawa bahagia yang meruah karena kepergian ini mengakhiri kondisi lima bulan terpisah sebagai keluarga. Di sisi lain, ada air mata kesedihan karena mesti berpisah dengan orang-orang yang telanjur dekat.
Sebelum memublikasikan ini, saya mengecek tanggal artikel terakhir. Sekedar memastikan hal yang sudah pasti bahwa saya cukup lama hiatus ngeblog. Daaan....sudah lebih dari sebulan saya enggak menengok “rumah” ini. Fiuuuuh, sapu-sapu, lap-lap, pel-pel dulu biar rada bersih hehehe.

Mengumpulkan Cashback dari Pomona

pic by pixabay


Sudah dari beberapa bulan lalu saya membaca tentang Pomona, yakni sebuah aplikasi advertising tech yang bisa diinstall  di gawai. Baca sekedar baca, meski terbersit keinginan, tapi saya tak juga menginstallnya. Lalu, datanglah masa pandemi Covid-19. Eh apa hubungannya pandemi Covid dengan install aplikasi?

Hubungannya : situasi gabut saat ini membuat sebagian kita merealisasikan niat-niat yang sebelumnya tidak kunjung dilaksanakan. Iya nggak? Toss kalau iya hehehe. Mungkin ada yang berhasil mengeksekusi pekerjaan besar. Atau mungkin sekedar menggenapi niat receh seperti memasang sebuah aplikasi hihihi.

Terima kasih Ninja (Cerita Paket Nyasar)



pic from www.ninjaxpress.co

Belanja online sudah menjadi hal biasa dalam kehidupan di masa sekarang. Perubahan budaya yang memakan waktu tak terlalu lama. Coba ingat-ingat sepuluh tahun lalu, mungkin kita masih antara percaya tak percaya untuk melakukan transaksi tanpa mengenal siapa penjual/pembeli. Sekarang? Orang sudah merasa biasa untuk transfer uang pada orang tak dikenal ketika barang belum di tangan.

Hayo...siapa yang rajin belanja online? Ngacuuuung!!!

Mengurangi Keterikatan

pic by pixabay



Masih dua bulan lagi menuju Juli. Bulan (yang jika tak ada aral adalah) waktu kepindahan kami ke Makasar (tarik nafassss). Memang belum ada tanggal pasti, tapi jika semuanya lancar, kemungkinan pertengahan Juli kami berangkat. Mei-Juni-Juli. Masih lama atau tinggal sebentar?

Mengenai durasi waktu, jawaban favorit saya adalah : relatif. Waktu seperti mengandung dualisme. Secara angka, waktu terukur secara matematis. Tapi persepsi tentang cepat-lambatnya bisa berbeda, tergantung situasi. Juga tergantung cara/siapa melihat sang waktu. Satu ukuran waktu, bisa dirasa cepat, bisa juga dirasa lambat.

Laron, Jomblo Berarti Mati

pic by takimzone.com


Dalam postingan sebelum ini, saya cerita tentang alergi ikan lele pada Elo. Saya juga sedikit menyinggung alergi laron yang terjadi pada saya di masa kecil. Penampakan alerginya berupa gatal dan merah di sekujur badan. Sejak kejadian itu, saya nggak pernah lagi makan laron. Kalau sekarang,  di usia yang sudah berlipat dari masa itu,  apakah saya tetap alergi jika makan laron?

Saya serahkan pada Wanda untuk menjawab.

Elo dan Alerginya

cat and fish (not catfish^-^), pic by pixabay



Ale, si sulung gemar makan ikan lele (goreng). Cocok ya sama rima namanya... Le, Ale ...sukanya ikan lele. Sudah cukup lama saya nggak masak ikan lele. Jadi, kemarin, dengan sangat memohon, Ale minta saya menggoreng ikan lele. Harusnya bukan permintaan yang susah, mengingat  ikan lele mudah didapatkan. Harganya pun tergolong murah untuk  ikan segar.

Ikan dengan nama internasional catfish ini juga mengandung banyak nutrisi. Dilansir dari sehatqu.com, manfaat ikan lele antara lain sumber lemak omega-3, sumber vitamin B12, sumber vitamin D, dan sumber protein. Sebagai ikan air tawar yang mudah diternakkan, ikan lele juga sedikit kemungkinan mengandung merkuri.

Tips Makan Snack Saat Social Distancing

Hayoo..telurnya di manaaa?


Warning : ini tips receh banget nget nget.  Dari judulnya saja sudah....ini apa’an seeeeh? Makan snack saja perlu pakai tips hehehe. Tapi sah-sah saja dong buat update blog haha. Lagipula, buat saya tips ini so far terbukti berfaedah. Jadi, mana tahu ada manfaatnya juga bagi sidang pembaca (ahahaa...berasa aneh pakai istilah sidang pembaca).

Tips receh tapi bisa menciptakan keriangan. Riang, situasi yang secara umum berkurang drastis sejak pandemi Covid-19 ini. Pada orang-orang dewasa sudah jelas sih ya... Social distancing bikin gabut. Di anak-anak, kegabutannya mungkin nggak segawat orang dewasa. Ya kan, mereka belum mikir kerjaan, keuangan, dan lain sebagainya. Tapi pandemi bikin mereka nggak bisa leluasa main di luar seperti sebelumnya. Jadi melakukan aktifitas yang bikin mereka tetap hepi itu penting banget.

Makasar, Seperti Apa Sih?

satu-satunya foto dengan keyword Makasar yang saya temukan di Pixabay,
yakni di akun tiann-ann
jujur,, saya nggak ngerti ini lokasinya di mana :)



Beberapa hari lalu, saat hujan deras tinggal gerimis, Oom Usman -office boy kantor BJ di Medan-datang ke rumah. (Jika sudah berusia dewasa, apakah sebutan office boy bisa diganti menjadi office man? –serius nanya). Oom Usman datang mengangkut setumpuk  karton bekas bungkus rokok. Kartonnya tebal dan ukurannya besar. Cocok buat packing barang pindahan.

Sebelumnya, BJ memang sudah pesan pada Oom Usman untuk membelikan karton tersebut.  Di Medan, kotak karton rokok seperti ini relatif mudah didapatkan di toko-toko daerah Jalan Dr. Mansyur. Daerah kampus USU, banyak kos-kosan mahasiswa. Mungkin karton besar sudah jadi kebutuhan umum untuk pindahan kos atau balik kampung. Sampai hari ini, karton-karton  itu masih tertumpuk rapi. Setiap kali mata tertuju ke situ, langsung terpikir.... hmmmh, bakalan nggak lama lagi tinggal di sini.