Waspada Overdosis Paracetamol




Akhir  Februari saya mengalami hari yang emosional. Bukan emosi dalam bentuk kemarahan, tapi empati mendalam atas kesedihan yang dialami oleh keluarga teman. Meski bukan sahabat dekat (kami hanya teman segereja), tapi saya benar-benar turut berbela sungkawa. Kehilangan anak yang masih balita –usianya belum genap dua tahun- secara tiba-tiba. Terbilang tiba-tiba karena dari sakit hingga meninggal terhitung cepat. Saya rasa, siapapun bisa memahami kesedihan mendalam yang mereka alami.

Staycation Dua Jilid



Duluuu banget, saya pernah heran dengan cerita seorang teman, yakni sekali waktu dia dan keluarga kecilnya liburan dengan cara menginap di hotel dalam kota (Medan). Dalam hati saya mikir, ini antara kelebihan bujet atau kurang kerjaan sehingga menginap di hotel dalam kota (aja). Lha itu kan namanya pindah tidur doang. Secara hotel sama rumah masih dalam satu area. Beda cerita kalau tempat menginapnya agak jauhan sedikit, di Berastagi misalnya. FYI, dalam lalu lintas normal Medan – Berastagi bisa tempuh dalam waktu 2-3 jam.

Elo, Biyung, dan Rumah Sakit

Yang penting tampak tulisan Ngesti Waluyo ^_^

Libur Natal kemarin diwarnai dengan Elo opname di rumah sakit Ngesti Waluyo, Parakan. Yup, Parakan –bukan Medan. Sama-sama berakhiran –an, tapi jarak di antara keduanya jauh terbentang. Elo opname di sana karena, seperti biasanya, libur Natal adalah pulang kampung. Dalam posisi itu, rumah sakit terdekat adalah Ngesti Waluyo, Parakan.

Renungan Sebelum Natal



Menemukan tulisan ini ketika mencari puisi untuk pentas Natal. Jadi, ini bukan hasil karyaku ya gangs. Duluuuuuu banget sih aku cukup rajin bikin puisi. Bahkan, beberapa puisiku sempat dimuat di koran. Tapi sekarang, entah-lah, daya puitisku seolah sudah menyublim hingga hanya tersisa remah-remah. Tak cukup menopang percaya diriku untuk membuat puisi sendiri. 

SHMILY (Undangan Part 2)



November kemarin, aku bener-bener merasa nggak produktif. Entah kenapa fisik maupun psikis berat banget untuk dipakai melakukan hal-hal selain rutinitas domestik (yang ini sih mau nggak mau harus dikerjain). 

Mata susah diajak begadang atau sebaliknya bangun pagi. Sementara, bisanya nulis itu kalau nggak malem-malem ya pagi-pagi. Bahkan, minggu-minggu kemarin ini aku bawaannya melow melulu. Bukannya sama sekali nggak ngapa-ngapain sih. Tapi, hari-hari seolah habis hanya untuk kerjaan domestik. Blog hanya satu postingan dan juga vakum produksi nugget. Syedih...

Bertualang Sejauh Ini (Undangan Part 1)





Meski ada menu “marriage” di blog ini, tapi ternyata aku sangat jarang  menulis tentang pernikahan :D. Yang aku ingat hanya satu tulisan. Yakni, saat media-media heboh menayangkan pernikahan Kahiyang Ayu dan Bobby Nasution (haha, sudah lama ya...). Waktu itu aku menulis tentang pernikahanku yang juga menggunakan kereta kuda. Memang sama-sama kereta kuda, tapi beda jauhlah kondisinya. Kahiyang-Bobby naik kereta kencana yang jelas-jelas dipersiapkan. Sebaliknya, aku dan BJ naik dokar karena sebuah kealpaan :D

Tersesat di Medan



Tepat di saat Ale masuk sekolah dasar, kami pindah dari Siantar ke Medan. Jadi gampang banget mengingat berapa lama kami sudah tinggal di Medan. Ale kelas berapa? Itulah angka tahun kami tinggal di ibukota Sumatera Utara ini. Nah, Juli lalu, Ale mulai kelas empat. Berarti sampai Oktober ini sudah tiga tahun sekian bulan kami jadi penduduk Medan.

Review Boncengan Sepeda Motor Begver

pic by @sarahpaulinetobing yang boru cantiknya ikut nampang foto


Sudah semingguan ini ada yang jelas beda terpampang nyata pada kereta Honda Revo merahku. Haha, ini Medan bah! Di sini, sepeda motor disebutnya kereta (tanpa api ya...catet! :P).  Kalau di tempat lain, kereta jalannya di rel. Beda di Medan, kereta lalu lalang di jalanan aspal. Nah, si kereta Revo merah ini jadi beda dengan yang lainnya karena di bagian belakang dipasangi boncengan anak.

Celebrating Daily Life




Sejak September 2019, aku menggunakan “Celebrating Daily Life” sebagai tagline blog ini. Tepatnya setelah ikutan Durian Blog M dengan tema desain blog yang dibawain kawan Fajar Siagian (thanks a lot Blog M and bro Fajar). Tak lama setelah itu, aku ganti template, merapikan label, dan sekalian-lah bikin tagline. Yuhuuu, akhirnya punya tagline (plok plok plok).

Katanya Bluebird, Tapi Kok Burungnya Warna Putih?





BJ sering menggunakan taksi Bluebird saat pergi dari rumah ke bandara. Taksi Bluebird juga mudah dijumpai di jalan raya. Itu sebabnya Ale-Elo familiar dengan moda transportasi berwarna biru muda ini. Ada satu hal yang rasanya tak pernah luput dibahas dua anak itu tiap melihat taksi Bluebird, yakni warna logo. “Katanya Bluebird, tapi kok burungnya warna putih? Harusnya whitebird dong.” Selalu begitu celoteh dua bocah tersebut.