Natal Tanpa Wajik Bandung

 




Postingan pertama di tahun 2021.

Bulan Januari dan saya masih menulis tentang Natal. Ya kan belum terlalu lama lewat. Dalam kondisi normal, masih banyak perayaan Natal di minggu-minggu awal tahun baru. Saat Natal, biasanya ada bahasan soal makanan. Hari raya (agama apapun) memang sering identik dengan makanan. Biasanya ada makanan-makanan khas untuk moment tersebut. 

Namun, Natal dan wajik Bandung adalah dua perkara yang jarang digabung. Mungkin karena Natal itu hari raya agama yang tersebar ke Indonesia melalui londo*, jadi makanan khas yang lazim disebut juga yang kelondo-londoan. Sebutlah  kue jahe, kastangel, atau nastar. Nama-nama yang beda golongan dengan wajik, nagasari, atau ketan bakar.

Natal 1945. Natal 2020

 


Memang keras dan keji hukum hutan jati. Saya keluarkan buku notes kecil yang selalu saya bawa, sebuah hadiah dari ayah, ketika masuk tentara, dan mengolak-alik halaman-halaman yang bertepi kelabu-abu dan kotoran, mencari tanggal hari kala itu. Selasa..Rabu..Desember.. nanti dulu, kemarin dulu ketika..iya..lalu 22, 23..ya sekarang mestinya 24 Desember 1945, tahun yang ramai ini. Heh, mengapa 25 Desember dicetak merah??

(Natal 1945)

Saaya membaca Natal 1945 dalam “Rumah Bambu”, buku kumpulan cerita pendek karya salah satu penceriata favorit saya, Romo YB Mangunwijaya. Pertama kali diterbitkan tahun 2000 oleh Kepustakaan Populer Gramedia, buku itu merupakan kumpulan cerpen pertama dan terakhir Romo Mangun. Saya memiliki cetakan keempat yang terbit tahun 2003 saat masih kuliah di Solo. Selanjutnya, Rumah Bambu menjadi salah satu buku yang ikut kemanapun saya berpindah tempat tinggal.     

Malino, Suatu Hari


Hari berlalu, sudah setengah tahun saja kami berempat tinggal di Sulawesi Selatan. Rentang waktu yang seharusnya sudah cukup untuk menjelajah berbagai tempat. Namun, pandemi Covid-19 dan ritme kerja BJ membuat banyak keinginan bepergian yang belum terlaksana. Mudah-mudahan nanti ada waktu dan kesempatan untuk menuntaskan.

Ibu Bagi Jiwa

 

Pict by edsays.catchplay.com


Pada Agustus 2020 saya mulai terpapar virus “nonton drama serial.”  Haha, saya menggunakan istilah virus (ada juga yang memakai kata “racun”) untuk hobi nonton drama serial. Selain daya sebar yang cepat, juga karena tingkat serangan yang bisa sangat hebat. Sebagian orang sampai rela menonton secara marathon. Menghabiskan banyak waktu tanpa sadar (atau sadar sih sebenarnya ^-^).

Itu sih yang saya takutkan sebelumnya. Takut efek adiktifnya ^_^

Jodoh Kompos (Praktikum The Series)

 

Danau Sidihoni - Samosir (gambar hanya pemanisđŸ˜€)

Jodoh kompos. Rrrrr, gabungan kata yang tidak familiar bukan? Dua kata yang terasa dipaksa untuk disandingkan. Seperti pengantin yang dijodohkan tanpa persetujuan. Hahaha, apa’an siiiiiih....

Postingan kali ini masih rangkaian dari praktikum the series. Sebelumnya saya sudah menulis tentang membuat MOL dari Limbah Dapur, disambung Membuat Lubang Biopori Sederhana. Nah, tulisan tentang kompos akan menutup tulisan tentang pengelolaan sampah rumah tangga ala DW.

Membuat Lubang Biopori (Praktikum The Series)

 



Hallooo, dalam artikel sebelumnya, saya menulis tentang mengelola sampah rumah tangga ala DW. Belum sepenuhnya ideal memang. Namun, dengan konsistensi sejauh ini, saya sudah cukup seneng sih. Sebab, saat hendak memublikasikan tulisan itu, sebenarnya saya agak ragu. Khawatir hanya semangat jangka pendek saja. Mudah-mudahan ya, bisa tetap konsisten.

Saya menulis pembuatan lubang biopori dan membuat kompos sederhana sebagai upaya untuk mengelola sampah basah. Ternyata, duet ini sangat efektif dalam mengurangi volume sampah organik dari rumah. Oh ya, saya bikin MOL (cairan MikroOrganisme Liar) juga sih. Volume sampah untuk membuat MOL memang tidak seberapa. Namun, cairan  MOL sangat membantu dalam proses pembuatan kompos. Jadi harusnya bukan duet tapi trio ya ..