Cerita Ramadhan Seorang Kristiani

 Puji Tuhan, turut berbahagia untuk Ramadhan yang lancar sampai hari ini. Haha, turut berbahagia, ~kok terasa seperti ucapan untuk pernikahan ya…Tapi beneran lho, aku turut gembira dan bahagia untuk Ramadhan yang lancar di negara kita.

Tentunya, Ramadhan akan lebih berat jika kondisi negara sedang sangat kacau, entah karena peperangan (kita tahu di mana itu), bencana alam, resesi ekonomi, dan sejenisnya. Ya sih, tidak menutup mata, masih ada persoalan di sana-sini, seperti banjir di beberapa daerah dan juga harga-harga yang melambung tinggi. Semoga saudara-saudara yang sangat terdampak bisa segera mendapatkan pertolongan.


Ramadhan kali ini juga seperti menurunkan tensi politik yang cukup panas di saat pemilu, Februari lalu. Apakah pelaksanaan pemilu memang ditetapkan sengaja sebelum Ramadhan, salah satunya untuk tujuan ini? Boleh kasih tahu aku di komen yaa…


Sebagai seorang Kristiani, aku memang tidak punya banyak cerita seputar Ramadhan. Tapi bukan berarti aku tidak punya cerita yaaa…. 


Apalagi di Ramadhan saat ini, ketika ada fenomena “perang takjil” yang viral di media sosial. Entah siapa yang memulainya. Aku pertama kali tahu dari postingan di Quora, yang mana si penulis mengunggah tangkapan layar dari X. Haha, media sosial memang suka gitu yaaa… Dari lapak A, diunggah ke B, dari B, diunggah ke C….dan aku pernah nemu lho, postingan di A yang sudah berkelana kesana-kemari itu balik lagi ke A dalam bentuk tangkap layar juga. Kocak memang..


Entah siapa yang memulai posting perang takjil ini. Bisa-bisanya sampai viral sekali. Dari Pendeta Marcel atau ada yang lebih awal lagi?


Di Facebook, aku sampai bikin status, jangan-jangan viralnya perang takjil ini memang direkayasa. Siapa tahu Kementerian Agama kolaborasi dengan intelijen dan pihak-pihak yang berhubungan, lalu juga bekerja-sama dengan para pemengaruh (influencer).


Haha, kebanyakan nonton pilem konspirasi apa yaak…


Apapun itu faktor pendorongnya, disengaja ataupun tidak, aku tetap bersukacita. Baru kali ini lho, lihat komunikasi antar-pemeluk agama begitu kocak dan viral. Baca tanpa kipas dan AC pun tetap terasa adem. Pendapat kontra dan miring sih tetap ada, tetapi sangat kecil jika dibandingkan vibes positif yang lebih terasa.


Aku gembira karena selama ini sering ketemu debat antar pemeluk agama yang panas. Lha debatnya tentang keyakinan, ya susaaaah… Itu seumpama pemain sepakbola mengolok-olok pemain bola voli. 


Pemain sepakbola bilang, “main bola itu nggak boleh pakai tangan, cuma kiper aja yang boleh pakai tangan.”  


Lalu dibalas sama pemain bola voli, “kalian tuh yang salah, bola itu mesti dilempar, bukan ditendang.”


Lalu rame…. Perang begini sih umumnya di dunia maya. Sebab di dunia maya, orang jadi lebih berani karena bisa bersembunyi di balik nama palsu. Bahkan, ada kecurigaan, memang ada akun-akun trol yang sengaja bikin keributan dengan menjelek-jelekkan agama. Mana orang kita kebanyakan sensitif kalau soal agama kaan….


Itu makanya, aku menikmati perang takjil ini. Tak hanya masyarakat umum, para tokoh pun rata-rata memberi respon positif yaaa… Sebab, memang demikian seharusnya kita di negara yang majemuk ini.


Aku sampai latah bikin konten perang takjil. Bukan dalam bentuk rekaman video, tapi live di Facebook. Aku pergi ke Jalan Jaksa Agung Suprapto yang merupakan salah satu titik keramaian jual takjil di Kota Kediri. Aku pergi sama bocil kedua sekitar pukul 16.00. Ya kan ada yang bilang, jangan mendahului yang punya event 😀. Berangkat pukul empat sore sih masih wajar yaaaa.... Dan belanjaan kami waktu itu adalah ayam lodho, cumi kobong, tahu gejrot, maklor (makaroni telor), dan bilor (bihun telor).


Tuh kaaaan, nggak ikut ibadah puasa Ramadhan, tapi belanjanya banyak wkwkwkw. Tapi tenang, kami nggak menghabiskan kok…soalnya di sana buanyaaak banget yang jualan. Ruameeeee puwoool kalau kata orang Jawa Timur. Mudah-mudahan semua pedagang merasakan rezeki Ramadhan ini yaa...


Omong-omong, terlepas dari keviralan perang takjil, sebenarnya untuk aku pribadi, jajan takjil bukan hal yang baru. Dari duluuuu, aku biasa jajan takjil. Mau heran kok bisa sedemikian viral, tapi namanya juga zaman media sosial yaaa… Apapun yang sekiranya menarik bisa jadi viral toh… Demikian juga, hal yang sebenarnya sudah biasa, entah bagaimana caranya bisa saja menjadi terlihat unik dan viral. Kalau yang viral-viral itu hal positif, orang kan nyaman bacanya yaaa...


Lagipula, biasa dan luar biasa (unik) itu relatif sih. Sesuatu yang biasa bagi kita, mungkin luar biasa bagi orang lain. Demikian berlaku kebalikannya.


Pengalaman beberapa kali pindah daerah membuatku agak paham tentang hal ini. Seperti misalnya banyak orang Kristen di Jawa yang biasa sedia kue dan opor saat Lebaran, juga ikut silaturahmi ke saudara/tetangga. Mungkin ini unik bagi teman-teman Kristen Batak yang setahu aku tidak ikut tradisi itu saat Lebaran.



***


Flash back ke masa kecil. Aku lahir dan tumbuh di desa yang cukup heterogen dalam hal agama. Nggak sepenuhnya heterogen sih, tapi setidaknya ada tiga pemeluk agama yang hidup berdampingan di sana, yakni Islam (mayoritas), Kristen, dan Budha. Ketiganya ada rumah ibadahnya lho...


Salah satu kenangan masa kecil yang aku ingat samar-samar adalah ikut buka puasa di masjid. Entah bagaimana ceritanya, sehingga aku bisa ikut buka puasa di masjid. Mungkin dulu lagi main sama teman-teman, lalu ada ortu yang menyuruh segera mandi untuk makan di masjid kali yaa...


Aku lupa, waktu itu apa menunya, bagaimana pakaianku, lalu apakah aku ikut sembahyang atau tidak. Aku lupa detail kecil-kecilnya. Namun, buatku kenangan samar-samar itu turut membentukku dalam menyikapi keberagaman. 


Aku jadi tidak mudah curiga pada orang yang berbeda kepercayaan. Aku juga percaya bahwa bersama dalam perbedaan adalah sebuah keniscayaan. 


Tapi bayangkan orang-orang yang lahir dan tumbuh dalam komunitas yang hampir full homogen. Apalagi kalau ditambah informasi-informasi sepihak (yang negatif) tentang pihak seberang. Aku agak paham kalau dia agak susah menerima perbedaan.


Oh ya, kenangan Ramadhan lainnya adalah saat kuliah di Kota Solo. Di luar bulan Ramadhan, ada mbok-mbok penjual nasi kucing yang rutin berkeliling setiap pagi. Yaaaa, nasi kucing dan teman-temannya adalah sarapan rutin kami. 


Ngeooooong....😻😻😻😻


Saat bulan Ramadhan, si mbok penjual libur jualan sarapan. Untuk sahur, ada kok warung nasi yang buka dini hari. Saat itu kan belum zamannya Gofood, Grabfood, Makximfood dan sebangsanya (hahaha, so long time ago memang). Jadi, kami-kami yang nggak puasa kadang ikut bangun pagi-pagi untuk beli makan ke warung nasi. Atau, kalau males bangun pagi, nitip deh ke teman yang pergi.


Oh ya, saat itu aku ikut salah satu organisasi kampus. Saat Ramadhan, biasanya masing-masing organisasi mengadakan acara buka bersama, lalu mengundang organisasi lainnya. Jadi sarana silaturahmi antar organisasi gitu lah... Atau kadang juga diundang ke organisasi lain di luar kampus.


Berhubung undangan nggak hanya satu, jadi seringnya bagi tugas tuh. Siapa berangkat ke mana. Meskipun aku nggak puasa Ramadhan, tapi kadang kebagian jatah juga untuk hadir bukber. Nah, buat anak kost dengan uang saku terbatas, undangan bukber itu menyenangkan. Makan enak dan gratis hehehe.


Begitulah sebagian cerita Ramadhan-ku. Oh ya, FYI, Ramadhan tahun ini berbarengan dengan Paskah yang juga lazim menjadi event puasa bagi umat Kristiani. Jadi barengan tuh event puasanya. 


Akhir kata, semoga Ramadhan teman-teman berjalan lancar dan khusyuk yaaa...

23 komentar untuk "Cerita Ramadhan Seorang Kristiani"

  1. Indahnya Ramadan 2024 yaa Kak, ketika sudah lepas dari masa pandemi dan manusia bahagia karena merasa bebassss.

    Ramadan 2024 juga diramaikan oleh 'takjil war' dan kontennya juga lucu-lucu, bener-bener menghibur. Salam toleransi!

    BalasHapus
  2. Seru tren war takjil ini sambil seseruan bikin konten juga meningkatkan pendapatan pengusaha UMKM di sekitar kita ya..salut..

    BalasHapus
  3. Saya seneng lho dengan 'perang takjil' ini. Semua menikmati. Para pedagang juga senang kalau dagangannya laku. Berkah Ramadan. Alhamdulillah.

    Tapi, beberapa konten dibikin agak ngedrama. Begitupun dengan komen-komennya. Makanya saya juga suka rada males lihat kontennya. Padahal sebetulnya berburu ta'jil tuh menyenangkan.

    BalasHapus
  4. Iya nih mbak, tren war takjil ini membawa keseruan tersendiri. Kadang saya sampai senyum sendiri waktu lihat videonya. Semoga tren ini juga bisa meningkatkan pendapat masyarakat.

    BalasHapus
  5. iya ya mbak, sebenarnya masalah beli jajan takjil buat non muslim tuh udah dari dulu juga ada, cuma ramainya baru tahun ini aja.

    Jaman kost dulu, saat bulan puasa, teman-teman satu kost yang nasrani juga ikut bangun kala sahur, ke warung beli nasi buat sarapan. Kalau dia susah dibangunkan saat waktu sahur, biasanya kami belikan aja, ntar tinggal dia ganti duitnya

    BalasHapus
  6. Ramadan tahun ini memang sungguh berwarna ya, apalagi dengan adanya trend war takjil ini bagaikan menyatukan kembali masyarakat Indonesia. Heheheee... Jujur sih konten-konten yang berseliweran tuh menghibur sekali.

    BalasHapus
  7. takjil war ini memang kocak di era medsos sampai ramai dibuat konten. Menurutku ga apa sih mbaa...seru aja gitu war-nya, kan enggak saling menghina yang menyangkut prinsip. Ini tuh cuma makanan, bisa dimakan siapa aja. Serunya, banyak makanan dan minuman yang hanya muncul waktu bulan puasa. Cuma di Indonesia begini kali ya.

    BalasHapus
  8. Gegara semua serba dikontenin ya mak..padahal semua orang bebas aja mo jajan takjil aku punya temen kuliah dulu non muskim dan kami selalu jajan takjil bareng. Ga ada masalah dan seru aja..tapi luxu juga liat konten2 war takjil

    BalasHapus
  9. Seru banget memang Ramadan kali ini. Bahkan tidak sekadar war takjil, sekarang sudah merambah war kue lebaran dan baju lebaran. Indahnya perbedaan dalam persatuan, ya.

    BalasHapus
  10. Kalau di sosmedku tuh yang para nonis gabung buat belanja takjil bareng dan mereka takjub sama harganya. Tus lagi, makanan yang biasanya ga ada tuh jadi ada pas Ramadan.

    Seru sii..
    INdah banget kalau keberagaman ini bisa bersatu menjadi sebuah persatuan tanpa ada judgement yang gimana gimana.

    Intinya, saling bergembira dan saling menghormati sambut Ramadan.

    BalasHapus
  11. Iya loh ramai banget karena dibahas di medsos ya, karena dulu aku punya sahabat nonis, kalau pas kita kumpul dia juga cerita ikutan jajan takjil. Katanya banyak menu yang ga biasa ada jadi ada

    BalasHapus
  12. Aamiin terima kasih doanya mbak. Kyknya Ramadan tu bulan bahagia buat semua orang ya gak peduli agamanya apa. Terutama buat yang punya bisnis apalagi bisnis kuliner dan pakaian wah makin laris pas Ramadan gini.
    Apalagi war takjil itu yaa seneng2 aja dianggap lucu2an aja sih kalau liat konten2nya.

    BalasHapus
  13. Bersyukur banget tinggal di Indonesia bisa lihat keseruan perang takjil. Nggak kontennya nggak komen-komennya pada kocak banget. Yang kayak gini nih udah sampai di level toleransi tertinggi karena nggak ada yang tersinggung sama sekali. Alhamdulillah.

    Anw, selamat merayakan paskah ya mbak, janji kok telurnya nggak diborong semua. :))

    BalasHapus
  14. So far cuma di mana ya ada war takjil
    DI Surabaya aman-aman saja
    Bahkan beberapa tempat banyak yang penjual gorengan mengeluh karena dagangan mereka gak habis
    War Takjil ini semoga jadi biang toleransi agar makin guyub satu sama lain

    BalasHapus
  15. Terima kasih doanya Kak. Tahun ini kebetulan bersamaan dengan puasa paskah ya. Semoga puasanya lancar juga ya Mbak. Sebenarnya war takjil ini sudah lama ada di sekitar rumah kami. Kebetulan kami tinggal di komplek yang mayoritas penduduknya non-muslim. Ada pasar kaget setiap sore selama bulan Ramadan. Para Ibu non-muslim juga ikut juga belanja makanan setiap sore. Mereka selalu bahagia setiap Ramadan karena bisa sering cuti masak selama sebulan hehehe.

    BalasHapus
  16. Sekarang itu segala sesuatu memang harus dicerna lebih dalam ya kak. Saya juga sering berpikir apa ini settingan? Konspirasi? Pengalihan issue? Haha
    Terlepas dari itu semua, saya lega juga pemilu udah selesai. Bukan karena saya dukung paslon yg menang tapi jujur capek lahir batin

    BalasHapus
  17. Iya ya, kenapa rame banget soal war takjil hehehee... Mungkin karena sekarang tiap orang udah bisa bebas mengunggah postingan di medsos ya mbak, jadi sesuatu yang sepertinya biasa dan sudah berjalan bertahun2, tampak viral dan heboh karena diunggah dan dibumbui caption macem2.

    BalasHapus
  18. Peran sosmed ternyata pengaruh banget ya tentang drama war takjil ini. Apalagi buat yang tinggal di perkotaan, pastinya takjil jadi rebutan bagi siapa saja gak harus yang beragama Islam saja. Tapi suasananya beda banget klo di kampung2 kayak di tempat saya ini, sepi bgt, sampe jualan takjil juga ada yang gak habis

    BalasHapus
  19. War Takjil, wkwkw, tidak ada masalah dengan itu, malah senang karena dengan Ramadan, kita bisa saling menyatu dan damai dalam urusan duniawi meskipun berbeda. Saya sendiri punya banyak teman yang beda agama, dan jujur saja, itu membuat saya jadi lebih terlatih untuk toleransi

    BalasHapus
  20. Ada banyak efek positif dari War Takjil ini. Salah satunya adalah memotivasi muslim untuk tetap semangat, kalau gak semangat, takjilnya bakal habis lho :D..

    BalasHapus
  21. Iya ya, heboh banget war takjil. Mungkin di kota-kota besar. Di aku sih gak ada. Aku tahunya dari TikTok. Tapi satu sisi positifnya, kita jadi move on dari gontok-gontokan soal pilpres kemarena ya.

    BalasHapus
  22. Seru banget deh ini tren "perang takjil" malah jadi ajang ngeborong jajanan usaha kecil menengah. Menurutku malah jadi berkah Ramadan setelah sebelumnya sempat terpecah belah gara2 isu pemilu. Adem jadinya :))

    BalasHapus
  23. Maka berbahagialah oenjual takjil krn jualannya habis2. Saya justru senang kalo bukan hanya yg muslim yang berburu takjil karena membuat jualan pedagang makin laris

    BalasHapus

Terima kasih atas kunjungannya. Mohon tidak meninggalkan link hidup dalam komentar ya :)