Refleksi Dua Bulan Homeschooling

 

homeschooling
gambar dari www.ujiankesetaraan.com


Setelah sekitar dua bulan menjalani homeschooling (selanjutnya kusingkat HS), aku baru menuliskan hal tersebut di blog DW. Dua bulan bukan rentang waktu yang panjang untuk sebuah proses sekolah. Jujur saja, belum banyak cerita tentang teknis HS bersama anak-anak. Tulisan ini lebih ke curahan hati seorang pemula dalam dunia HS.

Tjurhaaaat mode on...

Minggu-minggu lalu, aku dibuat gemessss dengan urusan mutasi Nomer Induk Siswa yang belum juga beres. Dua minggu lebih aku sudah bolak-balik ke (mantan) sekolah Ale-Elo di Makassar. Memang nggak terlalu sih (kurang lebih 5 kilometer). Namun, gemes juga kan kalau tiap kalau mesti datang hanya untuk update info. Masalahnya, pihak sekolah (SD) susah dikontak lewat telepon. WA sama sekali tidak dibaca atau centang biru tapi tidak dibalas. Sementara telepon tidak diangkat. Gemesss kan?

Cara "Horor" Memperbaiki Kesalahan Data Kartu Vaksin

 

Disclaimer : Judul mengandung clickbait ๐Ÿ˜‚

Teman-teman sudah beres dua dosis vaksin COVID? Atau baru satu dosis? Atau malah belum sama sekali karena sesuatu hal/alasan? Kalau aku, puji Tuhan sudah beres vaksin kedua di Agustus lalu. Sudah beres juga kartu vaksinku. Beres dalam arti, bisa diunduh dan juga tidak ada kesalahan data di dalamnya.

Tapi, aku punya cerita sehubungan dengan kesulitan mengunduh plus kesalahan data di kartu vaksin. Aku bagikan di sini, siapa tahu berguna bagi yang membutuhkan yaaa....

Drama Terbang Saat PPKM

 

PPKM

Entah siapa kreator gambar di atas. Saya mendapatkannya dari grup Whatsapp teman-teman alumni kampus. Satirnya, dapet banget ya...๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ Yah, gara-gara pandemi, jadi ada banyak istilah baru. Lockdown-lah, PSBB-lah, mudik aglomerasi-lah, ini-lah, itu-lah. Satu yang  berlanjut sampai saya menulis ini adalah PPKM (gosah disebutkan kepanjangannya lah ya..). Sampai kapan nih PPKM? Diiih, jangan deh sampai kita menua seperti meme di atas.

Di tulisan terakhir, saya bilang, ketidaknormalan yang menerus akan segera menjadi hal yang normal. Mengacu istilah sekarang : new normal. Faktanya, di awal pandemi, banyak orang kalang-kabut dengan ketidaknormalan yang mendadak. Namun, pandemi yang tak juga usai, membuat ketidaknormalan itu berangsur menjadi new normal.

Empat Buku yang Bercerita tentang Afganistan

 

Tak lagi punya "The Kite Runner"
Buku terbawah diedit sekadar untuk menunjukkan jumlah empat buku ^-^

Tulisan pertama setelah hiatus sekian lama.

Afganistan. 

Apa yang seketika tergambar di kepala begitu nama itu tertangkap telinga?

Perang-bom-ranjau-burqa-pembakaran sekolah-Taliban? Jawaban spontan yang wajar mengingat “reputasi” Afganistan yang terangkat di media. Hari-hari ini, demikian mudah menemukan berita tentang salah satu negeri berakhiran –stan ini. Kembali berkuasanya Taliban membuat Afganistan mendominasi berita internasional.

Terlepas dari politik, budaya, dan lain-lain yang membentuk pusaran suasana Afganistan, saya miris melihat beberapa video yang menggambarkan dampak dari perpindahan kekuasaan ini. Salah satunya adalah video suasana chaos di bandara Kabul. Orang-orang berjubel, merangsek masuk ke bandara, bahkan mengejar pesawat yang sudah bergerak. 

Mengejar sepeda motor, mobil, atau kereta api masih masuk akal. Tapi mengejar pesawat?

Biji, Benih, Bibit dan Cerita yang Berputar Lebih Dulu

 

Ilustrasi. Penyebutan benih mangga sebenarnya kurang lazim. Benih lebih banyak digunakan
untuk tanaman berukuran kecil (misal padi, jagung, dan sayuran) 


Mumpung sebelumnya menulis tentang tanaman, jadi sekalian nyambung posting dengan topik yang sama. Tulisan ini akan benar-benar membahas tentang perbedaan biji, benih, dan bibit. 

Aku ingin menulis ini karena ternyata, tiga hal ini sering salah penggunaan dalam perbincangan sehari-hari. Namun, sebelum ke inti pembahasan, tulisanku akan muter-muter lebih dulu. Jadi, buat yang mau to the point, skip puterannya, langsung ke sub judul di bawah (yang pakai huruf kapital).

Putaran cerita aku awali dari suatu hari, ketika seorang suami yang bekerja di perusahaan benih melempar pertanyaan ke istrinya. Katanya, kamu tahu tidak beda benih sama bibit? Bibir si istri langsung monyong. Pertanyaan  menghina nih. Masa, lulusan sekolah pertanian ditanya beda benih sama bibit.