Seorang Bunda Mendengarkan Hindia

 

gambar dari "Song List Indonesia" (Youtube)


Menyesal, tak kusampaikan
Cinta monyetku ke Kanya dan Rebecca
Apa kabar kalian di sana?
Semoga hidup baik-baik saja

Tak belajar, terkena getahnya
Saat bersama Thanya dan Saphira
Kupercaya mungkin bukan jalannya
Namun kalian banyak salah juga
Jika dahulu ku tak cepat berubah

Anak Bisa Berbahasa Daerah, Pentingkah?

 

Salah satu tangkapan layar dari aplikasi Let's Read


“Bunda, apa Bahasa Jawa-nya takut-pasir?

Suatu hari, si bungsu Elo menanyakan hal itu padaku. Hhhhmmm, pasti lihat dari gawai nih. Seketika ingatanku melayang ke kejadian bertahun-tahun lalu, yakni ketika masih kost di Jalan Mendung, sebelah Universitas Sebelas Maret, Solo. Salah satu kakak kostku lahir dan besar di Jakarta (aku lupa, apa suku-nya). Saat itu kami tertawa-tawa gara-gara si kakak kost ini belajar Bahasa Jawa dan diajari kosakata “takut pasir.”

Refleksi Dua Bulan Homeschooling

 

homeschooling
gambar dari www.ujiankesetaraan.com


Setelah sekitar dua bulan menjalani homeschooling (selanjutnya kusingkat HS), aku baru menuliskan hal tersebut di blog DW. Dua bulan bukan rentang waktu yang panjang untuk sebuah proses sekolah. Jujur saja, belum banyak cerita tentang teknis HS bersama anak-anak. Tulisan ini lebih ke curahan hati seorang pemula dalam dunia HS.

Tjurhaaaat mode on...

Minggu-minggu lalu, aku dibuat gemessss dengan urusan mutasi Nomer Induk Siswa yang belum juga beres. Dua minggu lebih aku sudah bolak-balik ke (mantan) sekolah Ale-Elo di Makassar. Memang nggak terlalu sih (kurang lebih 5 kilometer). Namun, gemes juga kan kalau tiap kalau mesti datang hanya untuk update info. Masalahnya, pihak sekolah (SD) susah dikontak lewat telepon. WA sama sekali tidak dibaca atau centang biru tapi tidak dibalas. Sementara telepon tidak diangkat. Gemesss kan?

Cara "Horor" Memperbaiki Kesalahan Data Kartu Vaksin

 

Disclaimer : Judul mengandung clickbait 😂

Teman-teman sudah beres dua dosis vaksin COVID? Atau baru satu dosis? Atau malah belum sama sekali karena sesuatu hal/alasan? Kalau aku, puji Tuhan sudah beres vaksin kedua di Agustus lalu. Sudah beres juga kartu vaksinku. Beres dalam arti, bisa diunduh dan juga tidak ada kesalahan data di dalamnya.

Tapi, aku punya cerita sehubungan dengan kesulitan mengunduh plus kesalahan data di kartu vaksin. Aku bagikan di sini, siapa tahu berguna bagi yang membutuhkan yaaa....

Drama Terbang Saat PPKM

 

PPKM

Entah siapa kreator gambar di atas. Saya mendapatkannya dari grup Whatsapp teman-teman alumni kampus. Satirnya, dapet banget ya...😂😂 Yah, gara-gara pandemi, jadi ada banyak istilah baru. Lockdown-lah, PSBB-lah, mudik aglomerasi-lah, ini-lah, itu-lah. Satu yang  berlanjut sampai saya menulis ini adalah PPKM (gosah disebutkan kepanjangannya lah ya..). Sampai kapan nih PPKM? Diiih, jangan deh sampai kita menua seperti meme di atas.

Di tulisan terakhir, saya bilang, ketidaknormalan yang menerus akan segera menjadi hal yang normal. Mengacu istilah sekarang : new normal. Faktanya, di awal pandemi, banyak orang kalang-kabut dengan ketidaknormalan yang mendadak. Namun, pandemi yang tak juga usai, membuat ketidaknormalan itu berangsur menjadi new normal.

Empat Buku yang Bercerita tentang Afganistan

 

Tak lagi punya "The Kite Runner"
Buku terbawah diedit sekadar untuk menunjukkan jumlah empat buku ^-^

Tulisan pertama setelah hiatus sekian lama.

Afganistan. 

Apa yang seketika tergambar di kepala begitu nama itu tertangkap telinga?

Perang-bom-ranjau-burqa-pembakaran sekolah-Taliban? Jawaban spontan yang wajar mengingat “reputasi” Afganistan yang terangkat di media. Hari-hari ini, demikian mudah menemukan berita tentang salah satu negeri berakhiran –stan ini. Kembali berkuasanya Taliban membuat Afganistan mendominasi berita internasional.

Terlepas dari politik, budaya, dan lain-lain yang membentuk pusaran suasana Afganistan, saya miris melihat beberapa video yang menggambarkan dampak dari perpindahan kekuasaan ini. Salah satunya adalah video suasana chaos di bandara Kabul. Orang-orang berjubel, merangsek masuk ke bandara, bahkan mengejar pesawat yang sudah bergerak. 

Mengejar sepeda motor, mobil, atau kereta api masih masuk akal. Tapi mengejar pesawat?

Biji, Benih, Bibit dan Cerita yang Berputar Lebih Dulu

 

Ilustrasi. Penyebutan benih mangga sebenarnya kurang lazim. Benih lebih banyak digunakan
untuk tanaman berukuran kecil (misal padi, jagung, dan sayuran) 


Mumpung sebelumnya menulis tentang tanaman, jadi sekalian nyambung posting dengan topik yang sama. Tulisan ini akan benar-benar membahas tentang perbedaan biji, benih, dan bibit. 

Aku ingin menulis ini karena ternyata, tiga hal ini sering salah penggunaan dalam perbincangan sehari-hari. Namun, sebelum ke inti pembahasan, tulisanku akan muter-muter lebih dulu. Jadi, buat yang mau to the point, skip puterannya, langsung ke sub judul di bawah (yang pakai huruf kapital).

Putaran cerita aku awali dari suatu hari, ketika seorang suami yang bekerja di perusahaan benih melempar pertanyaan ke istrinya. Katanya, kamu tahu tidak beda benih sama bibit? Bibir si istri langsung monyong. Pertanyaan  menghina nih. Masa, lulusan sekolah pertanian ditanya beda benih sama bibit.

Microgreen, Bertanam Sayuran Tanpa Lahan

BUKAN kebun microgreen saya 😀🙈(foto : scarlux.com)


Ketersediaan lahan sering menjadi hambatan untuk melakukan hobi bertanam sayuran. Apalagi bagi orang-orang yang tinggal di perkotaan. Menghuni rumah minimalis yang mengacu pada ukuran lahan dan bangunan adalah keniscayaan. Bagaimana mau bertanam sayuran kalau halaman luas dan terbuka hanya ada di angan-angan?

Rasanya familiar mendengar alasan ketersediaan halaman sebagai alasan tidak menanam. Saya pun dulu demikian. Selain lahan, saya beralasan sinar matahari yang kurang bersahabat. Saat di Medan, saya tinggal di rumah yang menghadap ke barat. Alhasil, teras tidak pernah mendapatkan sinar matahari pagi, tetapi sinar matahari siang-sore yang panas. Entah karena faktor itu atau sebab lainnya, sayuran yang saya tanam cenderung kutilang (kurus – tinggi- langsing).

Ingatan Tentang Cokelat dan Kue Berbahan Cokelat

 

buah kakao. photo by agrotek.id

COKELAT.... Membaca kata ini, apa yang langsung terbayang di benak teman-teman? Cokelat batangan di kasir swalayan yang sering menggoda untuk ditambahkan ke keranjang belanjaan? Atau secangkir minuman cokelat panas yang harum dan beruap? Atau band lawas yang pernah hits dengan lagu Bendera?

Hihihi, mungkin teman-teman punya gambaran cepat tersendiri begitu mendengar kata cokelat yaaa...

Kalau saya, selain hal-hal di atas, cokelat selalu mengingatkan saya pada rumah yang kami tinggali di Kota Pematangsiantar. Kami tinggal di Jalan Halilintar yang tidak jauh dari jalan raya. Rumah tinggal kami berseberangan dengan sebuah sekolah swasta. Jadi, di hari dan jam sekolah situasinya lumayan ramai. Kontras dengan hari libur, suasananya lengang sekali.

Tujuh Plus Satu Kebaikan dari Rumah

 

alat berkebun
Paket dari @demfarm.id


Pandemi Covid-19 memunculkan berbagai tren sehubungan dengan perubahan ritme kehidupan. Salah satunya adalah tren plant-demi, yakni bertanam di rumah akibat pandemi. Hihi, bisa aja ya si pencipta istilah itu... Kreatif.

Pandemi memang belum usai. Lalu, bagaimana kabar plantdemi? Apakah masih pada rajin bertanam?

Setahun terakhir, saya juga lumayan rajin bertanam. Penggeraknya bukan karena pandemi, melainkan keberadaan halaman di tempat tinggal baru kami😀. Saat tinggal di Medan, dua rumah yang kami tempati bisa dibilang tidak punya halaman terbuka. Kondisinya tidak memungkinkan untuk banyak bertanam.

Cerita Tentang Nama Bayi Laki-laki

 

Nama Bayi Laki-Laki

Cerita tentang nama bayi laki-laki ~ Kita mungkin akrab dengan kutipan karya pujangga Inggris, William Shakespeare : apalah arti sebuah nama? Kutipan itu berasal dari roman Romeo and Juliet yang sangat terkenal. Jujur, saya belum pernah membaca roman tersebut. Saya hanya pernah menonton salah satu versi film-nya, yakni yang dibintangi oleh babang (yang beneran) tamvan Leonardo DiCaprio dan aktris cantik Claire Danes.

Sepertinya, banyak orang mengira jika Shakespeare menganggap nama tidaklah penting. Padahal, kalimat itu dipenggal dan dicerabut dari konteksnya. Dalam versi bahasa Inggris dan kalimat yang lebih panjangnya : What’s in a name? That which we call a rose  by any other name would would smell as sweet.

Pulang dan Akar

 



Masih tentang pulang.

Semula, aku hanya mau mencatat pengalaman mudik 2021 sebagai dokumentasi di blog ini. Bagaimanapun, ada harapan pada proses pulang yang kembali normal. Perjalanan pulang tanpa ribet aturan yang membingungkan. Perjalanan pulang tanpa keharusan test swab yang menyakitkan. Juga perjalanan pulang tanpa was-was tertular penyakit mematikan.

Dengan harapan itu, mencatat pulang tahun 2021 terasa penting buatku. Siapa tahu diberi umur panjang dan kesempatan untuk perjalanan pulang pasca pandemi. Maka, tulisan itu akan menjadi pengingat bagi aku dan keluarga kecilku.

Tentang Pulang

 


Mudik adalah pulang. Rasanya kita semua telah sepakat tentang itu meski seorang presiden pernah memberi makna yang lebih spesifik. Mudik, entah ini benar atau tidak, merupakan akronim dari menuju udik. Namun, mudik adalah pulang yang telah meluas maknanya. Jika kamu adalah orang kota yang lama tinggal di daerah udik. Sepertinya orang akan mahfum saja saat kamu pulang kota menggunakan kata mudik. Bukankah kata mukot terdengar janggal?

Mengapa orang sampai sedemikian memaksa untuk pulang? Menempuh jauhnya jarak. Mengorbankan banyaknya tenaga. Merelakan panjangnya waktu. Menghabiskan banyaknya biaya.

Mudik Tahun 2021

 



Berhubung ini post pertama di hari-hari Lebaran, jadi lebih dulu blog DW mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1442 H bagi teman-teman yang merayakan. Terlambat beberapa hari dari Hari H sih. Soalnya libur lebaran jadi ikut libur post blog 😀😀

Apakah teman-teman mudik di hari raya ini? 

Aku nggak intens mengikuti berita seputar per-mudik-an. Baca selintas-selintas dan beberapa waktu lalu ketemu istilah “mudik aglomerasi”. Duuuh, apa’an lagi nih? Apakah aglomerasi temannya aglonema? Atau aglomerasi itu tetangganya konglomerasi. Beuuuh, ribet amat perkembangbiakan istilah-istilah ini yah...Bukan cuma istilahnya yang ribet, sepertinya pelaksanaan mudik pun ruwet. 

Pandemi Covid vs kerinduan pulang berbuah dilema😓

Rupa-rupa Penipuan Belanja Online

 

tangkapan layar dari Lazada.com

 

Minggu lalu, saya menceritakan tentang paman yang menjadi korban penipuan belanja online. Biar sekalian nyambung, di sini saya akan menuliskan beberapa modus penipuan belanja online yang saya ketahui. Meluasnya jangkauan belanja online memang seiring dengan meningkatnya upaya penipuan.

Saya pribadi belum pernah tertipu dalam berbelanja online. Maksudnya tertipu dalam artian sampai barang nggak dikirim gitu ya...  Palingan “tertipu” karena barang tidak sesuai ekspektasi. Di gambar tampak bagussss,  aslinya B aja hehehe. Seperti ketika membeli organizer kain ukuran jumbo ini.

Penipuan di "Shopee"

 

logo shopee, edited by canva

Ada cerita sedih pada pulang kampung sebentar di awal April ini. Yakni, ada familiku yang menjadi korban penipuan online. Memang, sejalan dengan berkembangnya dunia maya, berkembang juga aksi penipuan di sana. Mungkin, masyarakat sudah mulai hafal dengan berbagai modus yang biasa digunakan penjahat maya. Meski demikian, masih ada saja orang-orang yang menjadi korban.

Kita pasti sudah sangat sering membaca berbagai kasus penipuan online di media massa. Mungkin, rasa kaget kita sudah terkikis akibat begitu banyaknya berita sejenis. Namun,  ketika korban itu adalah orang dekat, rasanya beda banget lho. Wajar sih, kedekatan membuat kita merasakan empati yang lebih. Juga ada semacam “penyesalan”, mengapa kita tidak mampu mencegah kejadian itu padahal melibatkan orang dekat.

Obrolan Fiksi dengan RA Kartini

 

gambar dari internet, tidak tahu sumber aslinya


Inilah aku hari ini :

Bersembunyi di balik perdu taman dengan kebaya warna pastel dan kain batik yang kupasang longgar. Sebenarnya, untuk perjalanan misterius seperti ini, kebaya dan jarik sungguh bukan pakaian yang praktis. Terlebih dengan selapis tipis pupur1 dan gincu di wajahku yang bundar. Riasan yang kini teraliri keringat dingin di beberapa bagian.

Tapi masih bersyukur di kepalaku tidak terpasang sanggul.  Ini karena aku baru saja memangkas rambutku sangat-sangat pendek. Tukang salon dekat rumah sudah bereksperimen memasang sanggul di kepalaku. Namun, hasilnya tidak bagus. Ya wis lah...aku nggak sanggul-sanggulan. Memang penampilanku jadi tidak paripurna. Tapi dengan berkebaya dan berkain jarik, mudah-mudahan aku cukup layak untuk datang ke zaman ini.

Catatan Menjelang Hari Kartini

 

sisi kampung, photo by BJ

Maret lalu, saya banyak membaca blogpost dengan tema perempuan. Tema yang pas karena  8 Maret adalah Hari Perempuan Internasional (International Women Day). Di April ini, saya yakin akan mendapati banyak blogpost dengan tema serupa. Pasti sudah tahu latar belakangnya kan? Yup, di bulan ini ada Hari Kartini, moment tahunan untuk memeringati perjuangan emansipasi perempuan Indonesia.

Sebenarnya, bakal tulisan ini sudah berada di draft sejak bulan Maret. Namun, tulisan ini seperti kehilangan arah. Ada selintas perasaan kurang percaya diri untuk menulis tentang perjuangan perempuan. Lha wong latar belakang Hari Perempuan Internasional (HPI) itu erat kaitannya dengan isu dan aktifitas politis jee...

Pengalaman Test Swab Antigen di FastLab

 



Mendadak kami pulang kampung. Memang tidak semendadak yang hari itu tiba-tiba timbul ide pulkam, lalu langsung berkemas dan pergi bergegas. Mendadak di sini adalah berpikir hanya dalam beberapa hari belakangan. Kemudian, oke, ayo pulang!

Sungguh berbeda dengan pulkam-pulkam sebelumnya. Sebelum pandemi, kami biasa pulang saat Natal, terkadang waktu Lebaran. Pulang yang bisa diagendakan jauh hari, bahkan beli tiket pun biasa dilakukan berbulan-bulan sebelumnya. Namun, seperti kita tahu, pandemi Covid-19 membatalkan banyak sekali agenda bepergian manusia. Tentu saja, kami tidak sendirian. Sangat banyaaak orang yang mengalami perubahan rencana perjalanan.

Kondangan Dapat Saweran

 

Saweran yang sempat viral ^-^. Sumber gambar YT cumi-cumi

Umumnya datang ke hajatan alias kondangan, tamu memberikan sumbangan ke empunya pesta. Namun, saya pernah datang kondangan dan malah dapat uang saweran. Hingga saat ini, baru kali itu kondangan malah dapat saweran. Wajar jika tidak terlupakan.

Kondangan

 

Foto dari grup WA. Tengkiu temans PKP'99

Hari Minggu kemarin, di grup Whatsapp teman-teman kuliah se-program studi dan seangkatan ada posting foto-foto “reuni kecil”. Bukan sengaja mau reuni, tetapi mereka bertemu di kondangan pernikahan seorang teman. Kalau tidak salah, ini adalah teman sekelas yang terakhir melepas masa sendiri. Ahha, sebuah misteri jodoh akhirnya terpecahkan. (Eh AHHA, ini juga barusan bikin acara kondangan yaaa....kondangan nasional booo :P) 

Bom Makassar

 

Foto dari tangkap layar video di grup WA. Sumber tidak diketahui

Kabar ledakan bom di negeri ini sudah tidak mengagetkan lagi. Memang bukan peristiwa saban hari. Namun, faktanya di negeri ini bom meledak secara berkala, walau memang tak tentu periodenya. Saya tidak membuka data, tapi rasanya setiap tahunnya selalu ada kejadian serupa.

Selain soal waktu, pelaku sering menarget sasaran yang sama, yakni gereja. Sering berbeda dengan selalu ya...

Paradoks Kesepian

 

langit suatu sore, di seberang Trans Studio Mall Makassar

Kesepian, kadang seperti uap

Pelan dan lembut menelusup celah

Luput dari penglihatan yang lelah

Terasa siksanya setelah jiwa meresah

 

Sepuluh Bulan di Makassar

 

satu senja di Pantai Akarena - Makassar

Maret 2021. Tang-ting-tung, ternyata sudah hampir sepuluh bulan saya dan anak-anak di Makassar. Berbeda dengan BJ yang sudah setahun lebih sedikit. Tahun lalu, BJ memang berangkat lebih dulu. Sedangkan saya, Ale, dan Elo menyusul kemudian karena menunggu kenaikan kelas.

Diajak ke Mappettuada, Lamaran Adat Bugis

 

kerudung hantaran yang tepat di depan tempat duduk saya
isinya, aneka kue

Dalam banyak budaya, salah satu acara yang kental dengan prosesi adat adalah pernikahan. Tata cara adat tidak hanya dilaksanakan pada hari-H pernikahan. Acara adat bahkan sudah mewarnai tahapan sejak sebelum pernikahan, seperti lamaran.  

Pada Minggu (14 Maret), saya dan BJ diajak ke sebuah acara lamaran oleh keluarga angkat kami. Puji Tuhan, begitu pindah ke sini, kami langsung punya orangtua angkat. 

FYI, keluarga angkat kami di Sulawesi ini adalah pemilik rumah yang kami tinggali. Dengan posisi rumah yang saling membelakangi, praktis bapak dan ibu angkat sekaligus tetangga terdekat. Beberapa kali pindah tempat tinggal membuat saya berpikir, hubungan baik dan dekat dengan orang-orang setempat adalah berkat. Family is not always blood itu benar adanya.

Akhir Cerita, Wisata Macam Apa (FamTrip Toraja #5)

 

Ke Toraja, seolah wajib foto dengan tongkonan ^-^

Menginjak Toraja langsung mengaitkan ingatan saya pada Coco. Film animasi produksi Pixar yang mengisahkan petualangan Miguel, bocah kecil yang ingin menjadi musisi. Cita-cita masa kecil yang yang langsung terganjal restu keluarga. Suatu ketika, tanpa sengaja Miguel masuk ke dunia orang mati. Di sana, ia berjumpa dengan kakek buyutnya yang terlunta.

 Film Coco menyajikan cerita  menyentuh berkaitan dengan dunia arwah. Alih-alih gelap dan horor, Coco justru terlihat meriah. Film dengan pendapatan 807,8 juta USD ini juga menjadi promosi luar biasa bagi kebudayaan Meksiko ke seantero dunia. Berkunjung ke Toraja, mau tak mau membuat saya berpikir, pasti sangat keren jika diangkat dalam film animasi seperti Coco.

Di Ketinggian Negeri Atas (FamTrip Toraja #4)

 



Part #4. 

Ada beberapa pendapat tentang asal-usul nama Toraja|1. Salah satunya adalah dari orang-orang Bugis yang menyebut to riaja, artinya orang yang berdiam di negeri atas. Dalam peta, Kabupaten Tana Toraja dan Kabupaten Toraja Utara memang tergambar dengan warna coklat dan coklat muda. Warna yang menandakan jika Toraja terletak di ketinggian.

Saat berkunjung ke Toraja, medio Februari 2021 lalu, BJ-saya-Ale-Elo, berkesempatan menapak dua tempat yang di Toraja pun dianggap tinggi. Yakni, Buntu Burake pada hari pertama, dan Lolai di hari kedua. Berikut ceritanya :

“Sambutan Personal” di Batas Kota (FamTrip Toraja #3)


Saya akan mengawali tulisan ini dengan menyebut satu nama, yaitu Kamasean Matthew. Apakah kamu merasa familiar dengan nama ini? Jujur, saya sih tidak. Ok, ganti, bagaimana kalau Sean Idol? Saya bukan penonton setia Indonesia Idol (lebih suka melihat edisi audisi daripada babak spekta😀). Namun, saya tahu Sean adalah salah satu “lulusan” ajang pencarian bakat itu.

Saya membawa-bawa nama Sean ke tulisan ini karena dia berasal dari Toraja!

Mencicip Nasu Cemba di Gunung Nona (Famtrip Toraja #2)

Gunung Nona, Bambapuang, Enrekang, Sulsel

Hari sudah menjelang siang ketika kami meninggalkan PLTB Sidenreng Rappang. Kami berempat bergerak menyusur jalan menuju Kabupaten Enrekang. Ini adalah perjalanan pertama saya dan anak-anak melewati Bumi Massenrempulu. Sedangkan bagi BJ, chief of the family, ini adalah perjalanan kesekian. Hari itu, kami melewati Enrekang dalam perjalanan ke Tana Toraja.

Baca : Mampir Sebentar di PLTB Sidrap

Jalanan naik turun dan berkelok, sesuai dengan julukan massenrempulu yang berarti daerah pinggiran gunung. Hari mendekati separuh, sebentar lagi jam makan siang.

Mampir Sebentar ke PLTB Sidrap (Famtrip Toraja#1)

 

Karena tidak bisa naik bukit, hanya bisa foto turbin dari kejauhan



Mumpung lagi tinggal di Sulawesi Selatan, sebisa mungkin kami explore tempat-tempat menarik di provinsi ini. 
Medio Februari 2021, saya-BJ-Ale-Elo  family trip ke Toraja.  Dalam perjalanan berangkat dari Makassar, kami mampir di Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) Sidrap. Di Indonesia, PLTB masih terbilang langka. Maka, mampir ke PLTB Sidrap saya dokumentasikan di sini.

----------------------------------------------------------------------------

Apa kabar listrik di rumah teman-teman? Semoga tidak sedang oglangan.  Kalaupun oglangan, ketika teman-teman bisa membaca tulisan ini berarti masih punya cadangan energi listrik di gawai. 

Ada yang asing dengan kata oglangan? Haha, saya juga baru tahu setelah kuliah di Solo. Oglangan berarti mati listrik alias power off. Hihi, unik kan?

Hari gini, energi listrik memang sudah menjadi kebutuhan vital. Tak hanya di perkotaan, tapi juga sampai pelosok pedesaan. Mati listrik seharian saja sudah bikin kelabakan, ya nggak?

Selepas Siang di Rammang-Rammang



Rammang-Rammang, nama yang terdengar unik di telinga. Terutama bagi yang pertama kali mendengarnya. Apakah kalian sepakat? Pada sebagian orang, Rammang-Rammang membuatnya langsung teringat pada kata ulang remang-remang, suatu keadaan dengan pencahayaan yang sangat kurang. Pada saya, nama Rammang-Rammang langsung mengaitkan otak pada binatang siamang. Bukan karena banyak siamang di Rammang-Rammang, tetapi murni karena kesamaan rima.

Padahal, Rammang-Rammang tidak berhubungan dengan remang-remang maupun siamang. Beda cerita dengan “saudara dekatnya”, Bantimurung yang identik dengan kupu-kupu. Rammang-Rammang adalah sebuah tempat dengan pemandangan yang menawan. Bebatuan karts, sungai, sawah, perahu, kolam, rumah panggung, dan lain-lain terhampar saling berdampingan. Nama Rammang-Rammang konon terberi karena kabut yang sering turun menghampiri.

Hari Murung di Bantimurung



Hari hujan cenderung digambarkan sebagai waktu yang murung. Langit kelabu di saat hujan membuat warna-warna cenderung terlihat muram. Basah dan becek juga membuat orang tidak bisa bergerak dengan leluasa.  

Namun, hanya diam selama musim penghujan justru bisa membuat rasa murung makin meraja. Sebab itu, sesekali kami tetap bepergian. Tentu saja, kami pergi dengan tetap berusaha mematuhi protokol kesehatan. Tempat yang minim kerumunan adalah salah satu faktor penting dalam menetapkan tujuan jalan-jalan.

Mari Meramban

 



Masak apa hari ini?

Pertanyaan simpel tapi terkadang terasa mengintimidasi bagi ibuk-ibuk dengan kemampuan memasak ala-kadar seperti saya. Untuk membantu ibuk-ibuk memecahkan misteri harian ini, kalimat “masak apa hari ini” sampai dipakai sebuah brand penyedap rasa untuk nama website resep masakan.  Internet memang sumber resep masakan yang melimpah ruah.

Cara Bodoh Menabung Saham


pic by pixabay

Sudah lama saya tidak menulis untuk kategori “duwit” di blog ini. Tergerak untuk kembali menulis setelah minggu lalu saya “jalan-jalan” ke blog Mbak Nia K. Haryanto. Di sana, saya membaca tulisan tentang belajar-trading-bareng-emak-trader. Hhhhm, jadi pengin lagi deh menulis tentang saham. Namun, saya tidak akan menulis tentang trading, melainkan menabung saham. Tepatnya, menabung saham dengan cara bodoh.

Mengalami Covid

 

pic by pixabay

Saya tidak memahami ramalan Jayabaya, tetapi saya tergoda untuk mengenakan istilah zaman kalabendu bagi masa pandemi ini. Mungkin itu pemakaian yang kurang tepat. Namun, secara harfiah, zaman kalabendu bisa diartikan sebagai zaman penuh kesengsaraan.  Bukankah saat ini, dunia sengsara akibat Covid-19?

Mau percaya atau tidak pada keberadaan virus ini, toh tetap ikut terdampak. Sebagian terdampak langsung dalam hal usia. Yakni ketika tubuh tak bisa melawan keganasan virus Covid, sehingga harus terdaftar dalam statistik “korban meninggal.” Sebagian lagi terdampak dalam hal kesehatan. Ini ketika terserang virus dan mengalami sakit hebat tetapi puji Tuhan bisa selamat.

Natal Tanpa Wajik Bandung

 




Postingan pertama di tahun 2021.

Bulan Januari dan saya masih menulis tentang Natal. Ya kan belum terlalu lama lewat. Dalam kondisi normal, masih banyak perayaan Natal di minggu-minggu awal tahun baru. Saat Natal, biasanya ada bahasan soal makanan. Hari raya (agama apapun) memang sering identik dengan makanan. Biasanya ada makanan-makanan khas untuk moment tersebut. 

Namun, Natal dan wajik Bandung adalah dua perkara yang jarang digabung. Mungkin karena Natal itu hari raya agama yang tersebar ke Indonesia melalui londo*, jadi makanan khas yang lazim disebut juga yang kelondo-londoan. Sebutlah  kue jahe, kastangel, atau nastar. Nama-nama yang beda golongan dengan wajik, nagasari, atau ketan bakar.