Anak Bisa Berbahasa Daerah, Pentingkah?

 

Salah satu tangkapan layar dari aplikasi Let's Read


“Bunda, apa Bahasa Jawa-nya takut-pasir?

Suatu hari, si bungsu Elo menanyakan hal itu padaku. Hhhhmmm, pasti lihat dari gawai nih. Seketika ingatanku melayang ke kejadian bertahun-tahun lalu, yakni ketika masih kost di Jalan Mendung, sebelah Universitas Sebelas Maret, Solo. Salah satu kakak kostku lahir dan besar di Jakarta (aku lupa, apa suku-nya). Saat itu kami tertawa-tawa gara-gara si kakak kost ini belajar Bahasa Jawa dan diajari kosakata “takut pasir.”

Eh, apa to Bahasa Jawa-nya takut pasir?

Barangkali ada pembaca tulisan ini yang belum mengerti, ini aku kasih tahu yaaaa.....

Takut pasir dalam Bahasa Jawa adalah “wedi wedhi”. Wedi = takut, pasir = wedhi.

Aku iseng membuka google, ternyata lumayan banyak tulisan tentang “wedi wedhi” ini. Hihihi, jangan-jangan frasa ini memang banyak digunakan untuk mengetes kemampuan seseorang dalam melafalkan Bahasa Jawa.

Betapa bahasa sangat memengaruhi artikulasi seseorang ya....Seperti kebanyakan kita, pastilah perlu usaha ekstra untuk bisa melafalkan "r" seperti kumur-kumur laiknya orang bule. Bahkan sudah berusaha ekstra pun bisa jadi masih terdengar wagu di telingaπŸ˜€.

Lidah yang terbiasa ngomong Jawa mampu menghasilkan bunyi berbeda antara “di” pada wedi dengan “dhi” pada wedhi. Dari tulisannya saja sudah beda ya kan,... “Di” diucapkan lebih tipis, sementara “dhi” terdengar lebih tebal. (Adakah bahasa suku lain yang juga membedakan “d” dengan “dh”?? Kalau ada, boleh bagikan di komentar yaa....).

Umumnya, lebih sulit mengucapkan “di” pada wedi. Sebab, Bahasa Indonesia sepertinya jarang (atau tidak ada?) yang memiliki pelafalan ini. Sementara “dhi” pada wedhi justru seperti kita membaca kata “di” (dan “d” lainnya pada Bahasa Indonesia).

Di mana aku di sini

Di mana aku di sini

Di mana aku di sini

(Adakah yang akhirnya membaca baris miring di atas dengan irama??πŸ˜…πŸ˜…* Konon memori lagu adalah salah satu penanda umur).

Lidah yang tidak terbiasa berbicara biasanya Bahasa Jawa sulit lho melafalkan perbedaan ini... Seperti kakak kost-ku yang waktu itu pelafalannya jadi candaan, hal persis serupa terjadi pada Ale dan Elo. Dua pujakesuma (putra Jawa kelahiran Sumatera) itu juga tidak bisa mengucapkan “di” dengan tipis dan “dhi” dengan tebal.

(Semasa tinggal di Bandung, giliran aku yang jadi bahan candaan dengan penyebab serupa. Yakni, lidahku tidak pernah bisa melafalkan “eu” dengan luwes. Mana banyak tempat di sana yang pakai “eu” kan? Cicaheum, Cihideung, Leuwipanjang, Ciateul, Cirendeu, daaaaan  banyak lagi). Hanya dengan mengucap “Cihideung” (misalnya), langsung deh ketahuan kalau aku bukan penduduk pituin (asli) hahahaha).


***

Waktu tinggal di Sumatera Utara, banyak kawan jauh yang mengira aku menikah dengan orang Batak. Bukan perkiraan yang aneh mengingat aku sampai tinggal di sana. Padahal mah ya... BJ itu asli bangsa coklat alias cowok KlatenπŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€. Sementara aku asli Temanggung. Dua daerah yang sama-sama berada di Jawa Tengah.

Namuuun....gara-gara tinggal di luar daerah, anak-anak kami jadi tidak (belum) bisa berbahasa Jawa.

Sadar sih kalau,  “tinggal di luar daerah” bukan satu-satunya gara-gara meski memang sangat berpengaruh. Aku pernah lho mendengar cerita, ada anak suku setempat dan juga lahir di daerah setempat tetapi tidak bisa berbahasa daerah setempat. Kasus seperti ini biasanya terjadi di daerah kota. Kalau di kampung-kampung, -yang kehidupannya masih sangat komunal-, anak-anak otomatis menguasai bahasa karena kebiasaan lingkungan. 

Dulu, semasa sekolah dasar, aku memang mendapatkan pelajaran Bahasa Jawa. Namun, pelajaran di sekolah lebih ke fungsi "memperkaya". Sementara, kemampuan dasar dan praktik lebih banyak dari keluarga dan lingkungan. Itu makanya ya, beberapa tahun  dapat pelajaran Bahasa Inggris di sekolah, nyatanya juga tidak membuatku fasih.πŸ˜€πŸ˜€

Kesimpulannya, faktor lain yang tidak kalah berpengaruh adalah “karena kami tidak membiasakannya dalam percakapan sehari-hari.” Aku dan BJ memang biasa bercakap dengan Bahasa Jawa. Namun, otomatis akan menjadi Bahasa Indonesia saat berbicara dengan anak. Suatu tindakan yang ternyata bertentangan dengan keyakinanku, bahwa “menguasai bahasa daerah itu tidak kalah penting dengan mampu berbahasa asing”.

Oh ya, kita sepaham dulu ya kalau “bahasa asing” di sini maksudnya adalah bahasa luar negeri, semacam Bahasa Inggris, Bahasa Mandarin, Bahasa Jepang, dan sebangsanya.  Hal ini aku tekankan karena sekarang aku berpikir bahwa, bahasa apapun yang kita tidak tahu/tidak lancar, ya bisa-bisa saja digolongkan sebagai bahasa asing. Bahasa Bugis, misalnya, dalam konteks ke-bhineka-an Indonesia, pastilah masuk bahasa daerah. Namun, bagiku yang sama sekali tidak menguasainya, Bahasa Bugis jadi termasuk bahasa asing.

Aku menuliskan hal di atas karena sepertinya....sepertinya ya... ada pemikiran umum bahwa bahasa asing lebih penting daripada bahasa daerah. Saat melihat anak orang cas-cis-cus berbahasa asing, kemungkinan kita akan bilang "wow". Sebaliknya, kalau ada anak cas-cis-cus dengan bahasa daerah, mungkin kita akan menganggapnya biasa atau sekadar lucu.

Kemampuan berbahasa asing juga selalu dikaitkan dengan kesiapan anak menyambut-masa-depan. Persaingan kerja level global, studi dan traveling ke berbagai belahan dunia (sebelum pandemi menyerang) edebre edebre... menjadikan les bahasa asing laris manis.

Ya nggak salah sih. Sangat masuk akal.  

Mungkin, sadar tidak sadar, hal inilah yang membuatku tidak sungguh-sungguh mengajari anak-anakku berbahasa daerah. Pemikiran yang sebenarnya tidak aneh mengingat biasanya bahasa daerah bisa dikuasai secara alami dalam kontak sosial sehari-hari. Sementara, anak-anakku tumbuh dalam situasi berbeda. Lingkungan mereka tidak mendukung belajar bahasa daerah secara natural.

Di satu sisi aku yakin jika “menguasai bahasa daerah itu tidak kalah penting dengan mampu berbahasa asing.” Namun, tindakanku justru bertentangan dengan keyakinan itu. Kontradiktif.

Waktu itu, aku tidak merasa risau ketika di sekolah Ale sudah mendapatkan pelajaran Bahasa Inggris. Bahkan, saat pindah sekolah di kelas lima, Ale sempat mencicip pelajaran Bahasa Mandarin di sana. Di saat yang sama, aku justru tidak pernah secara khusus mengajari dia Bahasa Jawa.

Dulu aku juga idealis sih. Mauku, anak-anak belajar Bahasa Jawa halus. Sementara, aku dengan BJ saja ngobrolnya pakai bahasa Jawa ngoko (sehari-hari). Aku pernah sekali dua kali mengajari Ale bahasa Jawa halus, tapi aneeeeh bener rasanya😁😁😁. Jadi malah tidak lanjut deh...

***

Bahasa daerah merupakan kekayaan budaya bangsa. Indonesia, yang terdiri dari beragam suku bangsa memiliki lebih dari 700 bahasa daerah lho. Jumlah yang jauh lebih banyak daripada jumlah provinsi yang sejauh ini sudah 34. Wajar karena di satu provinsi saja bisa terdapat banyak bahasa daerah.

Sebagai bagian dari kekayaan budaya, bahasa juga tidak luput dari ancaman kepunahan. Bahasa daerah bisa punah atau menuju kepunahan karena ditinggalkan oleh penutur aslinya. Ini biasanya terjadi pada suku-suku dengan jumlah penduduk minoritas dan tidak punya tradisi kuat untuk mempertahankan budaya aslinya.  Berbeda halnya dengan bahasa daerah pada suku-suku mayoritas. Jumlah penuturnya masih relatif besar sehingga bisa digolongkan “aman” dari kepunahan.

***

Sekarang, aku merasa sangat perlu untuk mengajari anak-anakku berbahasa daerah. Menguasai bahasa daerah tidak ada ruginya. Minimal, kita mengerti kalau ada orang meng-gibah pakai bahasa daerahπŸ˜€πŸ˜€. Penggunaan bahasa daerah juga menimbulkan kesan lebih akrab dan lebih dekat. Mana tahu dari situ jadi timbul hubungan kerja, hubungan persaudaraan, pertolongan di kala susah, dan sejenisnya. 

Kok jadi terkesan alasan primordial ya? Bukan...bukan begitu maksudku. Ini semata karena masalah kelancaran. Sejauh ini, hanya Bahasa Jawa-lah yang aku kuasai dengan baik. Coba bisa lancar bahasa daerah lainnya, aku juga akan ajarkan ke anak-anak. Sekarang, kalau aku disuruh mengajari anak-anak Bahasa Makassar? Ini sih seumpama orang buta mengajari orang untuk melihat.

(Sejujurnya aku juga tidak bisa dibilang advanced dalam ber-Bahasa Jawa, sebab bahasa Jawa halusku tidaklah sempurna. Namun, untuk Bahasa Jawa sehari-hari  bisa-lah dibilang lancar jayaπŸ˜€)    .

Jadi agak menyesal karena hampir sebelas tahun di Sumut, aku sama sekali tidak berniat untuk sungguh-sungguh belajar bahasa daerah di sana. Aku dulu sering beralasan Bahasa Batak kan macem-macem sub-nya, jadi susaaaah... Ya padahal, apa sih salahnya belajar salah satunya :D. Mestinya kalaupun tidak benar-benar menguasai, setidaknya lumayan bisa ngerti dan bisa ngomong sedikit-sedikit. Sekarang ada keinginan belajar bahasa Bugis/Makassar. Namun, meski tinggal di Sulawesi Selatan, aku belum banyak kontak langsung dengan penutur bahasa asli.

Kini, dalam percakapan sehari-hari dengan anak-anak, aku memperbanyak penggunaan Bahasa Jawa. Praktiknya sih masih lebih banyak aku bicara bahasa Jawa dan mereka menjawab dengan Bahasa Indonesia. Setidaknya, mereka paham kalimat yang aku perkatakan. Untuk bicara memang masih kalimat-kalimat pendek saja.



Selain dari percakapan, sebelum tidur aku juga membacakan cerita ber-bahasa Jawa di aplikasi Let’s Read.  Buatku, ini benar-benar hal baru dalam menggunakan Let’s Read. Sebab, sekalipun sudah lama mengunduh aplikasi ini, kami hanya menggunakannya untuk belajar Bahasa Inggris (nah kan???).

Jadi ingat, dulu saat kecil, aku secara tidak langsung memperkaya pembelajaran Bahasa Jawa dari majalah Djoko Lodang dan sesekali Penjebar Semangat yang dibeli oleh almarhum pakdheku. Sekarang, di zaman digital ini, anak-anakku membaca Bahasa Jawa (level dasar) dari aplikasi Let’s Read (TERIMA KASIH Let’s Read!!).

Rasa-rasanya sih ada peningkatan dalam kemampuan berbahasa daerah pada anak-anakku. Memang belum selancar seperti anak-anak yang memang lahir dan tumbuh di lingkungan berbahasa Jawa. Namun, bagiku seberapapun itu sudah kucatat sebagai kemajuan. Lagipula, kemampuan berbahasa itu kan jarang yang didapat dengan waktu singkat (kecuali punya kecerdasan linguistik level tinggi kali ya...).

Minggu lalu, saat telepon dengan pakdhe dan budhe di Jawa, anak-anak dapat frasa yang sama-sama punya tantangan dalam pelafalan huruf "d". Bukan lagi "wedi wedhi" melainkan "wedi memedi". Yuhuuuu....siapa yang baca ini dan  "wedi memedi"???πŸ˜€πŸ˜€ (LSD)

----------



* Di Mana Aku Di Sini, salah satu hits milik band Naif yang sekarang katanya sudah bubar

 

51 comments:

  1. Menurutku penting banget anak bisa bahasa daera mam. Minimal dengan dia bis akan jadi ikut serta melestarikan bahasa nenek moyang. Makin hari makin banyak bahasa yang punah lho, jangan sampai bahasa kita juga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. yup mam. Meski utk anak2ku baru belajar ngoko aja. daripada tidak sama sekali :)

      Delete
  2. Ono maneh sing susah Dik, "Ndak" kae lho, mirip bukan nek Indonesia.

    Nek ngikuti cah sekolah Nang temanggung, sak iki yo wis longko Dik, sing nganggo boso Jowo. Luwih seneng Indonesia, sampe nek kon kromo alus bingung

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah..tp sama sih, dulu aku di siantar, anak2 tetangga juga lebih banyak ngomong bahasa indonesia sih.

      Delete
  3. aku termasuk yang gagal ga bisa bahasa daerah. jadi ceritanya papi n mamiku beda suku. kebetulan keluarga besar saling berseteru. biar adil, papi n mami ga ngajarin bahasa daerah masing2 ke anak2nya. jadilah aku n sodara2ku sama sekali ga bisa lancar berbahasa daerah meski kami punya 2 suku :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalau beda suku, memang lebih kompleks ya mbak..apalagi di mbak inna ada faktor perseteruan keluarga besar juga.

      Delete
  4. wedi wedhi, kalau bukan lidah Jawa pasti kesusahan ngomong ini hihihi
    Aku setuju anak belajar bahasa daerah. Meski anakku sendiri ga khusus aku ajari duh...pusing kasihan kebanyakan, soalnya kalau SD di JAkarta ga ada bahasa daerah jadi aman kan. Tapi karena mereka SD dan SMP di sekolah Islam mereka dapat Bahasa Arab, ada juga pelajaran bahasa Inggris belum lagi Bahasa Indonesia. Jadilah aku ga khusus ngajari , tapi mereka dengan kami orangtuanya bicara bahasa Jawa (ngoko)

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah sudah keren itu mbak, di rumah masih praktik. Lha di kami itu sebelum niat belajar ini, kalau ngomong sama anak2 ya pakai bahasa Indonesia.

      Delete
  5. Hahaha.. saya kok langsung auto jajal ngomong wedi wedhi ya, Mba. Memang bahasa daerah ini enak terdengar jika orang itu lama dan terbiasa bicara dgn bahasa tersebut. Dan kalau sudah kental dialegnya. Satu daerah pun kita bisa membedakan ini orang jawa dari daerah sini nih. Sama halnya dengan bahasa Betawi, tentunya akan terdengar aneh ketika yang ngomong itu bukan orang Betawi asli atau orang yang biasa berdialeg bahasa daerahnya. Walaupun hanya ngomong "Gue".

    ReplyDelete
    Replies
    1. aku termasuk orang yang kagok banget kalau disuruh ngomong lu gue mbak hahaha. Dalam hati sudah kagok, kalau ngomong pasti wagu deh..

      Delete
  6. sehari2 aku sih sama anakku pakai bahasa Indonesia, nah, anak2 bisa sendiri bahasa cirebon karena bergaul dengan teman2nya yang asli cirebon. Dan logat mereka sdh cirebon banget. tapi sekarang anakku hilang logat cirebonnya karena bergaul dengan banyak suku lainnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya jeh...
      Logat Cirebon yg aku ingat banget cuma "jeh" ini bund hehehe...

      Delete
  7. Anak anakku termasuk yang hanya bisa berbahaya Indonesia. Mungkin karna percakapan aku dan suami bahasa Indonesia. Tapi satu sisi aku lancar bahasa Ambon dan suami bahasa Jawa. Mau sih anak juga mahir bahasa daerah :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau ortu beda suku/bangsa, apalagi jauh dari keluarga besar, aku maklum banget deh mbak. Butuh usaha lebih besar untuk membiasakan anak.

      Delete
  8. sama dengan saya mbak, saya orang sunda tapi gak fasih bahasa sunda. Malah dulu ibu mertua kebingungan, saya orang sunda tapi gak bisa bahasa sunda heuheu maklum sunda Bogor, udah deket ke metropolitan. sekarang anak-anak menuntut saya karena mereka gak diajar bahasa ibu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bahasa sunda bogor terhitungnya juga kurang halus ya mbak..
      Haha, saya sedikit-sedikit ngerti bahasa Sunda tapi logatnya medok Jawa hihihi

      Delete
  9. Karena lama tinggal di luar daerah, dikira orang Batak. Ya, begitulah. Terus anak-anak belum bisa bahasa daerah asal, ya karena tinggalnya pindah-pindah juga, ya, Mbak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak. dan karena di kota, juga jadi kurang terpapar bahasa daerah setempat.

      Delete
  10. KAlau bisa bahasa daerah memang jangan sampai punah. Tetapi, sayangnya saya juga kurang mengenalkan bahasa daerah. Karena saya pun gak terlalu fasih. Paling cuma sebatas ngerti aja kalau ada yang ngomong Sunda. Tetapi, kalau disuruh ngomong, masih banyak belepotannya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. sekarang ini anak pertama saya di level lumayan ngerti percakapan Bahasa Jawa. Tapi ya masih susah utk ngomong

      Delete
  11. Bisa karena terbiasa sih kalau menurut saya. Faktor lingkungan juga memang menentukan. Saudara saya tinggal di satu daerah dia bisa lancar dan fasih dengan bahasa daerah tersebut sampai ke aksen-aksennya, ya karena dia ga malu mencoba dan mempraktikkan dalam percakapan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang ada faktor bakat/kecerdasan juga kali ya mbak..oh ya, plus niat dan PD hehehe. Saya dulu ga niat belajar bahasa batak sih

      Delete
  12. Menurutku perlu untuk pergaualan, dulu Ayahku suka ngajak ke pasar dan menunjukkan kalau beliau suka ngobrol pakai bahasa daerah dengan pedagang keren sih menurutku

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dan orang setempat sebenarnya maklum2 aja kalau kita salah pakai bahasa daerah ya...asal kitanya berani malu hihihi

      Delete
  13. Kita berpikir hal yang sama mbak, mengenai bahasa apapun yang kita tidak tahu/lancar adalah bahasa asing. Termasuk bahasa daerah. Selama ini aku pun begitu, semua bahasa daerah yang aku ga bisa, adalah bahasa asing :D

    Di SMA ponakanku ada pelajaran bahasa Sunda, herannya di SMA anakku yang cowok (sama-sama negeri), tidak ada pelajaran bahasa daerah. Malah bederet pelajaran bahasa luar negeri (Inggris, Jepang, Mandarin, Arab) :D

    Dari situ aku mencoba menilai mana yang menganggap bahasa daerah itu penting :))
    Tapi entah juga kenapa di SMA ponakanku malah bahasa asingnya hanya Inggris yang dipelajari :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalau sekolah swasta sepertinya jarang kasih bahasa daerah ya Mbak.. Dulu di Medan anak saya di sekolah swasta ga dapat bahasa daerah.

      Delete
  14. karena aku termasuk yang tidak bisa bahasa daerah, pengennya anakku bisa bahasa daerah juga, ya minimal bahasa sunda atau bahasa jawa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apalagi saya tergolongnya masih bisa bahasa daerah, sayang ya kalau anak2 sampai ga bisa (ya meski upaya saya jg nggak menjamin anak2 bisa sih hehehe)

      Delete
  15. Bahasa jawa tuh susah! Aku mpe sekarang aja kalau ngomong jawab logatnya tetap nggak jawa. Jadi orang langasung tahu kalau bukan asli jawa. Untungnya dapet suami jawa banget, dari keluarga seniman jawa yang kalau ngobrol masih suka pake bahasa halus gitu. Jadi anakku bisa belajar bahasa jawa dikit2 dari Romonya

    ReplyDelete
    Replies
    1. bbrp hari lalu, temen saya orang Batak bilang, "Bahasa Batak itu mudah"...ya itu bagi dia ya wkwkwk. Bagi saya pun susah. Sekarang berhadapan dengan bahasa Indonesia yg logat Makassar pun saya tidak mudah menyerap.

      Delete
  16. Penguasaan bahasa daerah itu justru sangat penting buat anak-anak kita. Kalau bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris nanti akan bisa karena diajarin di sekolah. Nah saya salut banget sebenarnya sama Teh Dina Kimbab Family yang youtuber Indo yg tinggal di Korea ia mengajarkan anak-anaknya bahasa Sunda dan bahasa Indonesia kepada ketiga anaknya. Sehingga kalau pulkam ke Bandung anak-anak bisa ngobrol dengan nenek dan keluarga besarnya. Nah saya juga keidean nih mau mengajarkan anak saya bahasa sunda mumpung dia masih kecil.

    ReplyDelete
    Replies
    1. dan saat masih kecil, sepertinya memang lebih mudah bagi anak2 menyerap bahasa ya mbak..

      Delete
  17. Anak-anakku juga diajarin dikit untuk bahasa daerah heheh cuman masih dikit2 soalnya aku ga biasa juga bahasa sunda sih mba bisanya yang agak kasar :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. ini saya juga baru membiasakan jawa ngoko kok mbak...Drpd dulu idealis mau ngajarin yg halus tapi susah dan malah akhirnya nggak jalan :D

      Delete
  18. Aku tinggal di desa dan tiap hari pakai Jawa Ngoko. Gara-gara ini, jadi agak belibet ngajarin Krama ke Keponakan. Paling Krama simpel sih biar gak kasar banget. Itu aja kalau pelajaran bahasa Jawa masih kesulitan buat baca

    ReplyDelete
    Replies
    1. ini kami juga belum ke basa krama kok, apalagi nulid huruf Jawa..saya pun lupa haha

      Delete
  19. Wah aku jd kepikiran utk ngajarin anakku bahasa Jawa dari cerita2 di Let's Read juga mbak.
    Menurutku pribadi belajar bahasa, khususnya bahasa daerah itu penting krn secara gak langsung pasti juga belajar budayanya.
    Kyk aku dan suami gini kan beda suku, anak kami besar di daerah suku lain, itu jg suka bikin khawatir gk bisa bahasa daerah emak bapake. Tp ya mungkin krn keterbatasanku, aku misalnya bhs Jawa, paling banter cuma bisa ngajarin bahasa Suroboyoan haha
    Mungkin dgn banyak dibacakan cerita daerah anak jd lbh paham ya TFS

    ReplyDelete
    Replies
    1. nah itu sikonnya lebih kompleks dr kami kan mbak. Lha kami ini suami istri sukunya sama lho...tapi telat juga ngajarin bahasa derah..Tapi ya daripada enggak sama sekali lah ya :)

      Delete
  20. Aku pernah ketemu sama Eyang Bude yang nikah sama adiknya Sultan Hamengkubuwono.
    Di sanalah ku merasa jeblok banget dengan kemampuan bahasa Jawaku yang sudah jarang sekali aku pakai selain ngoko.
    Aku diomelin abis-abisa, katanya "Baru pindah ke Bandung aja...lupa sama Bahasa Jawa."

    Ya Allah..
    Sedih banget dibilang gini. Tapi kenyataan...anak-anakku sekarang pun kesulitan kalau diajak uti-nya berkomunikasi pakai bahasa Jawa. Tapi uti maklum. Anak sekarang kan begitu yaa..

    Aku masih menggunakan Jawa untuk bahasa sehari-hari bersama suami.
    Mungkin anak-anak belum bisa, tapi familiar dengan bahasa yang kami gunakan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini aku masih ngajarin ngoko kan mbak. Ntar pasti aneh juga kalo pas pulkam dan mereka ngomong ngoko sama saudara yg tua -tua. Tapi kurasa maklum lah ya :)

      Delete
  21. kalo bahasa daerah , anak gak usah diajarkan di rmah, dalam pergaulan temannya pun kadang suka dapat pelajaran. nah, bagi aku penting semua diajarkan , namun kapan digunakan itu penting. ajarkan juga anak supaya bisa menempatkan bahasa itu kepada keluarga, misal kalo lagi ke kampung, ya gak usah sok bahasa Indonesia, hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak milda. Lingkungan memamg sangat berpengaruh ya.. Dan ini yg nggak dimiliki anak2ku

      Delete
  22. Buatku penting banget. Soalnya Bahasa Daerah, terutama Bahasa Sunda, udah jarang digunakan. Padahal susah. Ada undak usuk dan tingkat rasa kalo di Bahasa Sunda. Saya aja ngerasa susah dan sering salah. Justru Bahasa Indonesia yang gak perlu diajarkan di rumah. Nanti saat ngobrol di sekolah pasti pake. Dan relatif lebih cepat belajarnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya belum masuk ke undak usuk mbak...Level dasar (ngoko) dulu deh hehehe. Ya karena dulu idealis mau ngajarin bahasa halus, tapi akhirnya malah mandeg.

      Delete
  23. aku yaang baru pindah ngalami
    biasanya bahasa indonesia ini kudu pakai bahasa daerah ada pelajarannya
    cuma ya itu mereka malah belajar bahasa daerah bukan dari aku tapi dari temen2nya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Soalnya temen2nya pada pakai bahasa daerah kan? Kalau anak2, lingkungan pergaulan maupun sekolah sudah pada pakai bahasa Indonesia juga.

      Delete
  24. Aku juga senang ada Let's Read
    Aku bisa ajak anak untuk mengenal ragam bahasa daerah, khususnya Jawa
    Kemarin dia nangis PTS Bahasa Jawa karena asa yang salah jawab karena memang enggak tahu

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya memang di lets read ini menurutku ada juga sih yg rasanya kurang pas pilihan kata2nya. Tapi mending banget daripada enggak sama sekali

      Delete
  25. Aku Mbak.. Aku.. dulu aku kan tinggal di Bandung. Sementara kedua orang tuaku asli Kudus. Hanya saja memang bapakku bisa Basa Sunda (Halus dan Kasar) ngelotok. Jadi waktu kecil, aku ngerti Bahasa Jawa, tapi tidak bisa mengucapkannya.

    Sekarang, ganti aku pusing kalau ngajarin Bhasa Jawa ke anak, soalnya kita kan A suka dibaca O. Misal nulis loro, ini yg dimaksud "sakit atau dua"?

    Jadi pengen bacain lagi cerita basa Jawa di Let's Read. Install lagi ah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah Bapak keren dong mbak...Holy Man πŸ˜€, tapi nglothok bahasa Sunda halus maupun kasar. Saya di Jabar lima tahun, cuma ngerti sedikit bahasa Sunda

      Delete
  26. Wih baru tau Mak kalau ada aplikasi yang mengakomodir untuk belajar bahasa jawa juga. Kereeen!!! Aku harus coba biar anak tetanggaku bisa belajar bahasa jawa krama. Kek nggak sopan gitu lho kalo pake ngoko terus xD

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungannya. Mohon tidak meninggalkan link hidup dalam komentar ya :)