Mencicip Nasu Cemba di Gunung Nona

Gunung Nona, Bambapuang, Enrekang, Sulsel

Hari sudah menjelang siang ketika kami meninggalkan PLTB Sidenreng Rappang. Kami berempat bergerak menyusur jalan menuju Kabupaten Enrekang. Ini adalah perjalanan pertama saya dan anak-anak melewati Bumi Massenrempulu. Sedangkan bagi BJ, chief of the family, ini adalah perjalanan kesekian. Hari itu, kami melewati Enrekang dalam perjalanan ke Tana Toraja.

Baca : Mampir Sebentar di PLTB Sidrap

Jalanan naik turun dan berkelok, sesuai dengan julukan massenrempulu yang berarti daerah pinggiran gunung. Hari mendekati separuh, sebentar lagi jam makan siang.

Mampir Sebentar ke PLTB Sidrap

 



Apa kabar listrik di rumah teman-teman? Semoga tidak sedang oglangan.  Kalaupun oglangan, ketika teman-teman bisa membaca tulisan ini berarti masih punya cadangan energi listrik di gawai. 

Ada yang asing dengan kata oglangan? Haha, saya juga baru tahu setelah kuliah di Solo. Oglangan berarti mati listrik alias power off. Hihi, unik kan?

Hari gini, energi listrik memang sudah menjadi kebutuhan vital. Tak hanya di perkotaan, tapi juga sampai pelosok pedesaan. Mati listrik seharian saja sudah bikin kelabakan, ya nggak?

Selepas Siang di Rammang-Rammang



Rammang-Rammang, nama yang terdengar unik di telinga. Terutama bagi yang pertama kali mendengarnya. Apakah kalian sepakat? Pada sebagian orang, Rammang-Rammang membuatnya langsung teringat pada kata ulang remang-remang, suatu keadaan dengan pencahayaan yang sangat kurang. Pada saya, nama Rammang-Rammang langsung mengaitkan otak pada binatang siamang. Bukan karena banyak siamang di Rammang-Rammang, tetapi murni karena kesamaan rima.

Padahal, Rammang-Rammang tidak berhubungan dengan remang-remang maupun siamang. Beda cerita dengan “saudara dekatnya”, Bantimurung yang identik dengan kupu-kupu. Rammang-Rammang adalah sebuah tempat dengan pemandangan yang menawan. Bebatuan karts, sungai, sawah, perahu, kolam, rumah panggung, dan lain-lain terhampar saling berdampingan. Nama Rammang-Rammang konon terberi karena kabut yang sering turun menghampiri.

Hari Murung di Bantimurung



Hari hujan cenderung digambarkan sebagai waktu yang murung. Langit kelabu di saat hujan membuat warna-warna cenderung terlihat muram. Basah dan becek juga membuat orang tidak bisa bergerak dengan leluasa.  

Namun, hanya diam selama musim penghujan justru bisa membuat rasa murung makin meraja. Sebab itu, sesekali kami tetap bepergian. Tentu saja, kami pergi dengan tetap berusaha mematuhi protokol kesehatan. Tempat yang minim kerumunan adalah salah satu faktor penting dalam menetapkan tujuan jalan-jalan.

Mari Meramban

 



Masak apa hari ini?

Pertanyaan simpel tapi terkadang terasa mengintimidasi bagi ibuk-ibuk dengan kemampuan memasak ala-kadar seperti saya. Untuk membantu ibuk-ibuk memecahkan misteri harian ini, kalimat “masak apa hari ini” sampai dipakai sebuah brand penyedap rasa untuk nama website resep masakan.  Internet memang sumber resep masakan yang melimpah ruah.

Cara Bodoh Menabung Saham


pic by pixabay

Sudah lama saya tidak menulis untuk kategori “duwit” di blog ini. Tergerak untuk kembali menulis setelah minggu lalu saya “jalan-jalan” ke blog Mbak Nia K. Haryanto. Di sana, saya membaca tulisan tentang belajar-trading-bareng-emak-trader. Hhhhm, jadi pengin lagi deh menulis tentang saham. Namun, saya tidak akan menulis tentang trading, melainkan menabung saham. Tepatnya, menabung saham dengan cara bodoh.

Mengalami Covid

 

pic by pixabay

Saya tidak memahami ramalan Jayabaya, tetapi saya tergoda untuk mengenakan istilah zaman kalabendu bagi masa pandemi ini. Mungkin itu pemakaian yang kurang tepat. Namun, secara harfiah, zaman kalabendu bisa diartikan sebagai zaman penuh kesengsaraan.  Bukankah saat ini, dunia sengsara akibat Covid-19?

Mau percaya atau tidak pada keberadaan virus ini, toh tetap ikut terdampak. Sebagian terdampak langsung dalam hal usia. Yakni ketika tubuh tak bisa melawan keganasan virus Covid, sehingga harus terdaftar dalam statistik “korban meninggal.” Sebagian lagi terdampak dalam hal kesehatan. Ini ketika terserang virus dan mengalami sakit hebat tetapi puji Tuhan bisa selamat.

Natal Tanpa Wajik Bandung

 




Postingan pertama di tahun 2021.

Bulan Januari dan saya masih menulis tentang Natal. Ya kan belum terlalu lama lewat. Dalam kondisi normal, masih banyak perayaan Natal di minggu-minggu awal tahun baru. Saat Natal, biasanya ada bahasan soal makanan. Hari raya (agama apapun) memang sering identik dengan makanan. Biasanya ada makanan-makanan khas untuk moment tersebut. 

Namun, Natal dan wajik Bandung adalah dua perkara yang jarang digabung. Mungkin karena Natal itu hari raya agama yang tersebar ke Indonesia melalui londo*, jadi makanan khas yang lazim disebut juga yang kelondo-londoan. Sebutlah  kue jahe, kastangel, atau nastar. Nama-nama yang beda golongan dengan wajik, nagasari, atau ketan bakar.