Rasanya Ingin Golput, Tapi....

Hari H Pemilihan Umum tahun 2024 tinggal sebentar lagi. Pemilu tahun ini dijadwalkan pada tanggal 14 Februari, tepat bersamaan dengan Valentine Day.  Apakah  supaya berita seputar pemilu meminggirkan perdebatan tahunan seputar perayaan Valentine? Atau, supaya pemilu berlangsung dengan semangat cinta pada bangsa dan negara?

Waksss…Pertanyaan macam apa ini?

Ketimbang dua hal di atas, sepertinya lebih penting pertanyaan “mau pilih siapa” atau lebih mendasar lagi : “mau menggunakan hak pilih atau tidak.” Tentunya, pertanyaan ini berlaku bagi kita-kita yang sudah punya hak pilih dan sudah terdaftar sebagai pemilih. 

Setiap Warga Negara Indonesia yang sudah memenuhi syarat, berhak untuk mengikuti pemilu. Berdasarkan Pasal 4 Peraturan KPU 7/2022, berikut syarat pemilih dalam Pemilu 2024 : 

  • Genap berumur 17 tahun atau lebih pada hari pemungutan suara, sudah kawin, atau sudah pernah kawin.

  • Tidak sedang dicabut hak pilihnya berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap.

  • Berdomisili di wilayah NKRI dibuktikan dengan KTP-el.

  • Jika berdomisili di luar negeri dapat dibuktikan dengan KTP-el, Paspor, dan/atau Surat Perjalanan Laksana Paspor.

  • Dalam hal pemilih belum mempunyai KTP-el dapat menggunakan kartu keluarga.

  • Tidak sedang menjadi prajurit TNI atau anggota kepolisian Negara Republik Indonesia.

Berdasarkan syarat di atas, aku jelas sudah memenuhi syarat dong. Namaku juga sudah ada di Daftar Pemilih Tetap (DPT). Oh ya, pemilu kali akan berbeda bagi aku dan bapak negara alias Pak Suami ๐Ÿ˜€. Setelah mencoblos di luar daerah pada dua pemilu lalu, kali ini kami akan mencoblos di tempat keluarnya DPT alias di kampung sendiri.

Pemilu tahun 2014, kami mencoblos di Pematangsiantar. Sementara Pemilu tahun 2019, kami menggunakan hak suara di Medan. Setelah pindah ke Kediri, pulang kampung ke Temanggung jadi relatif lebih dekat. Nyoblos sekalian pulkam, gitu rencananya.

Anak-anak sudah hepi karena mau ke tempat simbahnya. Terutama si sulung Ale yang masih menjalani hari-hari “tanpa warna”, dia sudah merencanakan agenda untuk dia lakukan bersama kakak sepupunya. Sementara aku, hari-hari ini malah masih berkutat dengan pertanyaan “mau pilih siapa?” Beda dengan Bapak Negara yang kayaknya udah mantep sama pilihannya. 

Mencoblos di daerah sendiri, jadi lebih banyak yang harus dipilih. Selain presiden dan wakil presiden, kami juga harus memilih anggota legislatif serta DPD. Beda saat pindah mencoblos di luar provinsi, kami hanya perlu memilih presiden dan wakil presiden.

Aaah….lieur (pusing).

Haha, gayanya pakai pusing-pusing segala. Padahal mah, tinggal coblos aja atuh..

Tapi entah deh, sampai hari menulis ini (7/2), aku masih termasuk golongan swing voter. Ada nggak di antara teman- DW yang  mengalami hal serupa?

Nggak mau golput, tapi belum sepenuhnya sreg dengan pilihan yang ada.

Apa mesti cap-cip-cup atau hitung kancing atau bikin dadu tiga sisi? Cemana itu dadu tiga sisi :D. 

Hihi, gayanya kayak jadi pemegang nasib bangsa aja. Kek berasa penting banget ini suara yaaa… Padahal, banyak tuh suara-suara dijual murah.. Ups.

Tapi mungkin justru karena suaraku masih murni (tsaaah) dari politik uang maupun ewuh-pakewuh atas dasar kenal (entah dekat/jauh) atau balas budi, maka malah jadi bingung. Keknya emang udah paling bener tuh terima uang atau janji materil dari para calon, biar nggak bingung kek gini. 

||Eh..eh..eh..Gimana? Gimana? Gimana? ๐Ÿ˜ฌ๐Ÿ˜ฌ๐Ÿ˜ฌ

Memilih Caleg

Bagiku memilih anggota legislatif dan DPD memiliki dua sisi berlawanan, njelimet atau malah sebaliknya guampang pol (mudah banget). Aku sudah lama tidak tinggal di kampung. Jadi, aku minim informasi tentang caleg untuk daerah pemilihan di sana. Paling-paling pas pulang kampung Desember lalu, aku lihat beberapa wajah caleg dan DPD di baliho sepanjang jalan.  Wajah-wajah yang asing bagiku. Kalau mau, pasti bisa sih cari informasi daftar caleg di sana. Siapa saja, dari partai mana saja. Tapi sampai detik ini aku belum bergerak cari info hehehe.

Akan jadi njelimet kalau aku memilih dengan menimbang a-b-d-e—z. Bagaimana profilnya, rekam-jejaknya, latar belakang partainya, bla-bla-bla. Namun, akan jadi guampang pol kalau nanti aku asal-coblos. 

Dah-lah, coblos yang mana aje, toh nggak ngaruh ke hidup guwee. Ups!! 

||Nggak ngaruh apa nggak ngaruh? ๐Ÿค”

Memilih Capres


Lalu tentang memilih capres yang sudah pasti sama cawapresnya dong. Harusnya ini lebih mudah karena cuma tiga paket. Nomor 1, nomor 2, dan nomor 3. Jujur aku memang tidak membaca KESELURUHAN visi-misi para capres-cawapres. Aku juga tidak menonton acara debat capres/cawapres secara penuh. Aku memilih mengakses informasi berupa rangkuman garis besarnya ๐Ÿ˜‚. Pastinya juga sama lihat seliweran berita-berita dong…

Ya gimana, jujur aku tuh termasuk rada-rada apatis soal janji-janji di visi misi atau kampanye. Visi misi atau janji-janji kan bisa semanis kental manis (alias manissss banget sampai bikin eneg). Namun dalam pelaksanaan nanti pasti tidak semudah tepuk tangan. Ada keterbatasan anggaran, situasi dunia, oposisi, birokrasi de-el-el yang menjadi faktor pembatas/pengubah.

Dalam perumpamaan yang sangat simpel dan sesuai dengan keseharianku sebagai emak-emak rumah-tangga : ini tuh kayak milih sayuran. Dari sekian banyak jenis, sudah mengerucut nih ke tiga jenis sayuran. Masalahnya, sayur A begana-begini, sayur B begini-begene, sayur C begene-bogono.

Padahal maunya tuh begana-begini-begene-begono-begunu dalam satu paket. Mode emak-emak banget nih. Maunya dapat banyak dengan harga hemat. Huh..

Di sisi lain, aku rasa nggak ada pemimpin di dunia dengan spek dewa. Ini ngomongin dunia modern yaaa… Jangan sebut nabi-nabi atau raja-raja yang kalau dalam cerita legenda dibilang “berwajah rupawan serta memerintah dengan adil dan bijaksana.” Pemimpin juga manusia dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Kuat di aspek ABCD, tapi bisa jadi lemah di aspek WXYZ.

Pemikiran ini membuat aku nggak pernah fanatik mencinta atau membenci para calon presiden ataupun yang sudah terpilih jadi presiden. Cape hati kan kalau sudah dukung habis-habisan, eh nanti bikin kebijakan yang kontra dengan kepentingan kita. Atau seperti yang sekarang terjadi, dulu mendukung capres sampai pada berantem, eh yang dulu bertarung sekarang jadi satu kolam. Kaaan...

Golput adalah Pilihan?

Sejak punya hak pilih, sepertinya aku belum pernah golput (sepertinya yaa…soalnya aku sama sekali tidak punya memori  tentang pemilu 2009). Selama ini aku memang memilih untuk memilih (tidak golput). Entah nanti kalau ada perubahan pengetahuan dan kondisi yang mengubah sikap secara drastis. 

Seingatku, hal ter-paling yang aku lakukan dalam pemilu adalah “setengah golput.” Ini istilah yang aku bikin karena memilih presiden dan wakil presiden saja (itupun karena memilih di luar daerah).  Tapi sekadar “setengah golput” pun harus keluar energi untuk mengurus dokumen perpindahan tempat pemilihan lho. Kalau bukan karena “sayang suara”, aku pasti enggan melakukannya. 

Lagipula, hal seperti itu hanya bisa aku lakukan dalam pemilu.  Beda cerita soal pilkada (bupati dan gubernur). Jujur, aku selalu golput dalam agenda tersebut. Melintas pulau hanya demi mencoblos, rasanya berat di ongkos๐Ÿ˜ฌ.  Jadi aku golput karena urusan teknis.

Istilah golput sudah demikian populer dalam politik Indonesia. Tapi, tahun ini banyak pemilih pemula yang sangat muda. Bisa jadi, di antara mereka ada lho yang belum tahu apa itu  golput. Jadi, mari kita sedikit mengulik istilah dan asal mula golput di Indonesia.

Dalam sejarahnya, golput mengacu pada orang-orang yang tidak mau (menolak) menggunakan hak pilihnya karena alasan politis. Golput merupakan bentuk protes dari kelompok pemuda dan mahasiswa atas pelaksanaan pemilu pertama di masa Orde Baru (1971). Mereka menilai tidak ada tokoh politik/partai yang bisa menampung aspirasi mereka.

Selain sebagai tindakan pribadi, para mahasiswa juga mengajak masyarakat untuk mencoblos bidang putih (di luar gambar partai) supaya surat suara tidak sah. Sejak saat itu, istilah golput ada di setiap pemilu. Bahkan, semua tindakan tidak memilih (baik karena alasan politis, apatis, maupun teknis) bisa digolongkan sebagai golput.

Banyak pro-kontra mengenai golput. Baik pihak pro maupun kontra punya alasan masing-masing mengenai pendapatnya. Pro-golput beralasan, seperti halnya memilih,  tidak memilih juga merupakan hak politik yang tidak melanggar konstitusi. Sedangkan golongan kontra  berpendapat jika menggunakan hak suara merupakan bukti komitmen warga negara dalam upaya menguatkan dan menyehatkan sistem demokrasi.  

Terlepas dari pro-kontra, keberadaan golput selalu ada setiap pemilu di Indonesia. Berikut angka golput dari pemilu ke pemilu menurut lokadata :


Lahir di era 80-an, aku sempat menyaksikan (dan dibingungkan dengan) apa yang sekarang disebut “demokrasi semu.” Salah satu yang masih aku ingat, pelajar di masa itu pasti hafal dengan istilah pemilu LUBER (Langsung Umum Bebas Rahasia). Kontradiktifnya, seseorang bisa ketahuan kalau tidak memilih pohon beringin. Waktu itu banyak kebingungan bagi diriku yang masih sangat belia. Kok begini? Kok begitu? 

Setelah era reformasi, ada harapan tentang demokrasi yang ideal tetapi banyak yang menyebut malah kebablasan. Ketimbang demokrasi, ada istilah satire yang sering digunakan, yakni democrazy. Meski demikian, sejauh ini aku memilih untuk tidak golput. 

Golongan pro pemilu pasti punya alasan masing-masing untuk tidak golput. Kalau bagiku, alasan terkuat untuk tidak golput adalah : aku tidak ingin negeri ini dijalankan dengan sistem pemerintahan selain demokrasi. Lagipula ada teman jadi pejabat KPUD, ada saudara jadi KPPS, aduuh mereka udah kerja keras, masa aku golput :D (kalau para elit mah aku kagak kenal hehehe).

        ||“Halah, siapapun presiden dan anggota legislatifnya, kita mah gini-gini aja.” 

Hmm.. adalah hak untuk berpikir seperti itu.  Namun, sepenuhnya menimpakan keadaan pribadi pada pihak lain sih menurutku kurang fair. Memang benar, bahwa terpilihnya seseorang (dengan visi misi/ideologi dan deretan gerbongnya) akan berpengaruh pada beberapa aspek kehidupan. Namun, dari kaktus berduri pun bisa muncul bunga yang indah lho… (hehehe, pas banget bunga kaktus lagi ada di halaman).

Mudah-mudahan saja, segala keruwetan yang masih terjadi saat ini merupakan proses untuk menuju demokrasi yang lebih baik. (Walaupun rasanya masih sulit, boleh kan se-berharap ini? ๐Ÿ˜€).

Masih ada beberapa hari lagi, semoga aku (dan kalian yang masih masuk angin eh angin-anginan) bisa segera menentukan pilihan dengan segala konsekuensinya. Oh ya, jangan lupa, cari merchant-merchant yang menawarkan diskon bagi pemilik jari bertinta biru๐Ÿ™‚. Monmaap kalau kelen merasa buang waktu membaca curhat gaje*-ku.


** gaje : gak jelas





14 komentar untuk "Rasanya Ingin Golput, Tapi...."

  1. Hahahahaha, mbaaaa relatable bangett iniiii, terutama bagian berburu diskon dgn nunjukin jari tercelup tinta ungu (ehhh thn ini masih ungu kan warnanyaaa ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ)

    aku udahvtau mau pilih pres siapa. tapiii lebih bsemangatt cari promo makanan deehhh ๐Ÿคฃ

    BalasHapus
  2. Sooo relaaate... aku tuh mikir golput beberapa kali, tapi trus mikir, pasti nanti akan ditanya pertanggungan jawabnya di akhirat, kenapa ngga milih, kan itu buat kebaikan negara?
    Kalo udah mikir gitu, batal golput, hehehe...

    BalasHapus
  3. Setuju mbak, jangan sampai kita golput karena kita punya hak untuk memilih yang sesuai. Habis itu jangan lupa jajan dengan diskon menarik disetiap pemilihan umum.

    BalasHapus
  4. Aku tahun lalu kepikiran buat golput, hahaha. Padahal sejak pertama bisa nyoblos pas usia 17 tahun, semangat banget meski gak tahu visi misi calon-calonnya. Tahun ini ya akhirnya bakal milih lagi karena jadi Petugas. Gak lucu kan kalau yang ngajak ke TPS malah golput

    BalasHapus
  5. Nah setuju deh, lebih pusing milih anggota legisltaif dan DPD. Kadang calegnya gak kenal sama sekali, susah cari rekam jejaknya. Jadinya aku sering coblos mana saja.

    BalasHapus
  6. Golput juga pilihan sih.. bener-bener.
    Tahun ini, keknya mantep milih siapa, uda gak swing voter lagi. Salah alasan karena ada paslon yang berani secara langsung menjawab keresahan masyarakat. Bagiku, masalah beliau menepati janji atau tidak, itu urusan beliau yang berjanji dengan Allah.

    BalasHapus
  7. Sepertinya sejauh ini aku belum pernah golput, selalu aku manfaatkan. Yang penting pilih sesuai hati nurani, cocoknya sama yang mana. Tapi khusus 2024 aku sejak awal sudah eliminasi salah satu paslon, jadi aku masih akan memilih 2 lainnya, cap cip cup, eh gak ding, aku baca visi misinya donk.
    Harapannya pokoknya pemilu damai aamiin.

    BalasHapus
  8. Aku juga belum pernah golput dalam pemilihan presiden. Kalau caleg-caleg, jujur saja aku tak tahu harus pilih siapa. Haha. Ungkapan "siapapun yang jadi Presiden, hidup kita tetap gini-gini aja", mungkin dulu ya duluuuu banget aku juga pernah berpikir demikian. Tapi tahun ini berbeda. Aku seperti melihat bangsa ini punya harapan untuk lebih baik lagi. Besok tanggal 14 Februari, insya Allah aku akan gunakan hak suaraku dan menyerahkannya pada Yang Maha Kuasa.

    BalasHapus
  9. Akuu belum ada gambaran milih siapa makk...masih bingung aku tuhh...rasa rasanya pemilu spt sandiwara hadeww...

    Semoga pas hari H nanti aq dah ada keputusan jd ga golput (gusti yeni)

    BalasHapus
  10. Samaaaa mbaa ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚. Aku masih ga kepikiran pilih siapa. Cuma udh tau ga akan pilih yg mana ๐Ÿคฃ. Beda ama suami yg udh confirm dari dulu bakal vote no berapa ๐Ÿ˜†.

    Apalagi yg anggota DPR, beuuugh udh main mini mini manimu itu milihnya ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ

    BalasHapus
  11. Saya masih steril dari politik uang. Sama sekali belum pernah padahal sudah punya anak yang jadi pemilih baru. Tapi saya ga pernah golput, sih. Sejauh ini saya cukup melek pemilu dan tokoh sehingga tahu tak ada calon yang sempurna. Ya seperti saya yang ada salah-benarnya. Biasanya saya pilih yang paling dekat dengan value keluarga saya.

    BalasHapus
  12. Wah iya, salah besar tuh kalau dibilang siapa pun presidennya kita mah gini-gini aja. Coba lihat secara makro dong kalau harga bahan pokok, kebijakan pendidikan, kesejahteraan rakyat, itu semua bermuara pada keputusan politik, jadi nggak bisa ya memilih gak peduli dan abai karena nanti yang kena ya justri kita yang gini-gini aja.

    Setuju nggak perlu golput, suarakan meski itu hanya satu.

    BalasHapus
  13. Saya sudah tunaikan kewajiban
    Siapa pun harus tetap amanah
    Janji ditepati
    Jangan sampai cuma OMDO
    Bikin sakit hati banget

    BalasHapus
  14. Alhamdulillah ya kita udah melewati hari pemilihan kemarin.. Semoga apapun hasilnya, itu merupakan yang terbaik untuk indonesia yaaaa

    BalasHapus

Terima kasih atas kunjungannya. Mohon tidak meninggalkan link hidup dalam komentar ya :)