Dilema Anak Pindah-Pindah





“Ale, kamu tahu Kunto Aji?” tanyaku pada si sulung saat kami berkendara dari tempat fotokopi.

“Tahu. Kenapa?” jawab Ale disambung pertanyaan.

“Nanti kalau sudah sempat, buka video lagu Kunto Aji yang berjudul Sulung. Kamu pasti related banget deh sama liriknya,” jawabku merekomendasikan sesuatu.

Sore ketika dia membuka video Mas Kun : 

Cukupkanlah
Ikatanmu
Relakanlah
Yang tak seharusnya untukmu

“Waaaaakkk..iyaaaa. Kenapa se-related ini sih..” seru si Ale gemas. “Tapi aku belum bisa rela…”   

Kehilangan yang Belum Direlakan

Aku suka lagu Sulung karena sering membantuku mengatasi ketidakrelaan atas sesuatu. Lagu-lagu Mas Kun (atau harusnya Dik Kun karena lebih muda dariku :D ) memang ramah untuk jiwa yang sedang gelisah.

Nggak apa-apa sih kalau belum bisa rela. Aku tidak akan dan tidak bisa memaksa dia untuk bisa rela. Everything takes time. Terlebih, rela dan cukup adalah keputusan dan tindakan pribadi yang tidak terlihat sebagai benda nyata. Walaupun mulut bilang rela dan ikhlas, belum tentu hatinya selaras kan? 

Merelakan dan mencukupkan adalah proses pribadi. Dan si anak baru gede ini sedang dipaksa mempelajari dua hal tersebut.

Aku sudah cerita di SINI dan di SINI tentang hal ihwal ketidakrelaan Ale. Kepindahan kami dari Makassar ke Kediri membuat dia terluka. “Kenapa sih, ini terjadi lagi?” demikian protesnya berulang kali. Terjadi LAGI, karena ini memang bukan kepindahan yang pertama kali.

Dulu, ketika pindah dari Medan ke Makassar, Ale sudah menampakkan tanda-tanda seperti ini. Namun, kali ini dia sudah lebih besar. Di kelas delapan ini, dia sudah lebih bisa menyatakan pendapat. Pindah sekolah menjadi kehilangan terbesar saat ini.

Rasanya, setiap hal selalu punya dua sisi. Plus-minus, kelebihan-kekurangan, kebaikan-keburukan, atau apalah kata untuk menggambarkannya. Demikian juga pada anak-anak di keluarga pindah-pindah. 

Satu hal, pindah-pindah yang mereka alami bukan/belum merupakan keputusan pribadi. Situasi itu terjadi sebagai dampak dari keinginan atau konsekuensi pekerjaan/tindakan orang yang lebih dewasa (orangtua/walinya).

Sisi positif anak pindah-pindah
🚗 Pengalaman geografis yang lebih nyata. Anak-anak punya kesempatan belajar tentang tempat-tempat tidak hanya dari buku/media saja.
🚗 Kesempatan belajar budaya yang berbeda-beda.
🚗 Memiliki teman yang beraneka latar belakang.

Sisi negatif anak pindah-pindah
🚗 Kurang bisa memiliki persahabatan yang intens. “I always come and I always go,” demikian keluh Ale.
🚗 Terpaksa menghadapi situasi-situasi baru. Tidak semua anak bisa melewati hal ini dengan mudah. Berbeda dengan si sulung, si bungsu kami yang baru kelas tiga lebih chill menghadapi kepindahan ini.

Cerita Sacha

Algoritma internet memang dibikin untuk “mengerti” kebutuhan/kondisi kita. Kemarin malam, tiba-tiba ada video Sacha Stevenson di beranda Youtubeku. Padahal, aku jarang menonton video Sacha. Sepertinya juga sudah cukup lama aku tidak menonton video Sacha. 

Buat yang belum tahu, Sacha ini bule yang dulu tinggal di Indonesia dan menikah dengan orang Indonesia. Dulu aku tahu channel Sacha karena dia suka review cara ngomong Inggris para artis. Sekarang Sacha sedang tinggal di Kanada bersama anak dan suaminya. Ia pulang kampung untuk kembali sekolah.

Dalam video yang muncul di berandaku (dan entah kenapa aku tertarik klik), Sacha bercerita tentang masalah anaknya. Ada masalah yang membuat Sacha dan suaminya dilaporkan terkait kondisi anaknya. Kalau aku tidak salah tangkap, si anak takut pulang ke rumah. Ditambah lagi si anak punya perbendaharaan kata-kata yang “lebih berat” dari umurnya. Akibatnya, Sacha dan suaminya dicurigai melakukan tindakan kekerasan dan si anak terancam diambil oleh negara.

Poin utama yang diceritakan oleh Sacha adalah sistem Kanada yang sedemikian aware pada kesejahteraan anak, tapi dalam beberapa kasus jadi terasa sangat kaku. Aku tertarik pada satu poin yang diungkapkan Sacha, yakni banyak hal yang memengaruhi kondisi anak. Pada anaknya, bisa jadi ada sumbangan pengaruh perpindahan (dari Indonesia ke Kanada).

Ah iyaaaa,... related.

Kasus pindah anak dalam skala lokal, juga dari pernikahan sebangsa (bahkan sesuku) saja sudah bisa problematik. Apalagi kasus pindah anak beda negara/benua, plus dari pernikahan campuran. 

Bersama Anak Belajar Kerelaan

Sebagai orangtua yang usianya jauh lebih dewasa, aku pun tidak bisa dibilang sudah sangat mahir dalam urusan merelakan. Jujur, aku pun masih sering remedial 😂. Namun, “menang usia” membuat aku punya lebih banyak pengalaman soal merelakan. Itu menjadi bekal bagiku untuk membersamai anak dalam berproses dengan kehilangan dan upaya untuk merelakannya. Bahkan aku memilih menggunakan kata “bersama anak belajar”, sebab dalam proses ini aku juga harus belajar rela ketika progress anak tak secepat harapan.

Beberapa hal yang aku lakukan dalam proses ini adalah : 

Pertama, validasi perasaan anak. Bukan cuma pencapaian, perasaan pun perlu divalidasi. Kesedihan, kekecewaan, maupun kemarahan anak adalah emosi yang menurutku jangan dipendam-pendam. Jangan pula diremehkan dengan perkataan semacam "halah, cuma persoalan kayak gitu saja lemah." Orangtua harus berusaha sabar ketika anak meluapkan emosinya. Sejauh bukan ekspresi emosi yang membahayakan, kita pahami hal itu sebagai upaya menumpahkan energi negatif. Kalau bebas ditumpahkan, mudah-mudahan kelama-lamaan stok-nya menipis, bahkan habis. 

Kedua, hindari adu nasib. Kalau Ale membaca ini, mungkin dia bakalan kurang sepakat. “Halah, Bunda aja suka kasih contoh kasus-kasus yang lebih berat,” mungkin demikian dia akan menyanggah. Namun, aku katakan padanya, bahwa maksud dari contoh-contoh itu adalah untuk memberi pengertian, bahwa setiap orang pasti punya (atau akan punya) masalah. Poinnya bukan di berat-ringan persoalan (adu nasib), sebab berat ringan itu relatif. Seseorang bisa hancur dan membuat keputusan bodoh “hanya” karena putus pacar. Sementara orang lainnya bisa tetap kuat dan bangkit lagi meski kehilangan keluarga, karir, kesehatan, dan hal-hal berharga lainnya.

Ketiga, jadikan situasi ini untuk meningkatkan bonding dengan anak. Dalam proses sejauh ini, aku merasa jadi lebih banyak ngobrol dengan Ale. Kadang sebal juga sih dengan dia yang terus-terusan mengungkapkan kecewanya, juga membandingkan situasi lama dengan situasi saat ini. Kadang aku mau lepas kendali juga, tetapi puji Tuhan sering segera diingatkan kalau ini adalah proses belajarku juga.

Keempat, meyakini dan meyakinkan bahwa ini adalah proses yang akan bisa dilalui. This too shall pass, ceunah. Tadi kok ya ketemu sebuah komentar di Quora tentang broken heart syndrome (patah hati kan nggak melulu urusan asmara, aku bilang kekecewaan Ale ini termasuk patah hati). Konon, sindrom patah hati umum terjadi selama dua mnggu hingga satu bulan pertama. Tetapi bisa juga lebih lama karena kondisi tiap orang berbeda-beda. Belajar sabaaar...

Kelima, kutulis di urutan akhir tetapi ini yang terutama dan meliputi poin-poin berikutnya, yakni doakan anak. Aku banyak membaca kasus depresi anak dengan penyebab yang “terlihat” sepele bagi orang dewasa, padahal bagi anak benar-benar terasa berat. Dengan berdoa aku belajar memercayakan seluruh proses ini pada-Nya, supaya bukan hanya anak yang bisa mengambil pelajaran, tetapi juga kami sebagai kesatuan keluarga. 

Aku percaya bahwa Ale akan bisa melewati situasi ini. Kelak, dia akan mengingat masa-masa ini sebagai masa pembelajaran yang membuat dia lebih tangguh sekaligus lentur menghadapi berbagai keadaan. 

Soli Deo Gracia.


    

24 komentar untuk "Dilema Anak Pindah-Pindah"

  1. Enjoy Kediri, Mba Lisdha! Next kalau aku mudik ketemuan kita ya...:) rumah ortuku di dekat terminal bis Kediri..:)
    Btw, salut sama keluarga yang pindah" begini, tentu buat anak-anak (dan pasti juga Emak) bukan hal yang mudah ya.
    Semoga semangat selalu dan segera bisa adaptasi di tempat yang baru.
    Pengalaman pindah"ku saat anak-anakku masih kecil, meski antar benua sepertinya belum terlalu sulit.
    Semoga Mbak Lisdha dan keluarga dimudahkan segala urusan ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiiin. Makasii Mb Dian. Pas mau pindah Kediri aku lgsg ingat Mb Dian meski mb dian uda ga stay di situ. Semoga bisa meet up ya malau Mb Dian pulkam.

      Hapus
  2. Sebagai anak TNI seharusnya saya juga punya pengalaman pindah-pindah karena tugas orang tua yang selalu dipindah tempat tugas.
    Tapi Alhamdulillah bapak kerjanya di bagian yang tidak harus pindah-pindah tempat jadi saya gak mengalami harus pindah-pindah sekolah seperti teman-teman. Dan memang rata-rata keluhan teman saya hampir mirip dengan pengalaman Ale.
    Semoga ke depannya Ale bisa lebih bisa menyesuaikan diri ya. Dan saya yakin itu gak mudah. Tugas kita yang selalu mendukungnya ya, Mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasii mba. Mmg tantangan kluarga dg kepala kluarga pindah2 tugas itu kalau ga LDR ya selalu repot boyongan ya...semua ada plus minusnya.

      Hapus
  3. belum lama habis baca tulisan soal family yg harus sering2 pindah tentu karena kerjaan orang tuanya. Pasti memang ada plus minusnya, tapi mostly kulihat sisi positifnya anak yang sering diajak berpindah memang jadi punya kepribadian yang lebih mudah beradaptasi, ya karena dituntut keadaan. Tp ternyata ada jg ya kasus kyk Ale dan ga semua anak bs mudah menjalani proses pindah2 tersebut. Semoga Ale bs segera menghandle perasaannya ya mba, supaya ttp nyaman

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasii mbaa. Mgkin skrg Ale blm merasakan manfaatnya dr pindah2 ini. Masih kecewa. Semoga seiring waktu dia merasakan sisi positifnya

      Hapus
  4. Aku juga anak korban orangtua pindah-pindah, ka.
    ((KORBAN banget gatuu.. ))
    Hehhe.. memang kalau ditanya tentang temen bayi, TK, SD, aku lupa banget. Syapa namanya.. tapi untuk guru yang pernah hadir dan mengajarkanku hidup ((aaihh)), aku masih inget banget. Entah karena sering nostalgia sama Ibuk dan menjadikan kisah saat itu adalah hal yang menyenangkan.

    Masa-masa mas Ale mungkin terasa berat yaah..
    Tapi aku dulu kalok pindah sekolah bagaikan menghapus "kenangan" memang.. dan mengukir kenangan indah yang baru, di tempat baru.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pas SD dia ga terlalu begini. Mungkin krn pas SMP ini yaa..pas mulai menjalin pertemanan yg intense dan lebih berwarna ketimbang masa anak2..jd merasa korban jg :D

      Hapus
  5. Dilema anak pindah-pindah ini related sama aku loh mbak, waktu kecil juga aki mengalami hal yang sama kayak Ale. Tapi setelah dewasa jadi udah terbiasa pindah-pindah, udah terbiasa handle perasaan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba Niken. Ini masih latihan, jadi yaa paham kalau masih susah.

      Hapus
  6. Karena ditemani dan selalu didampingi bunda yang hebat, saya yakin pelan-pelan Ale akan bisa memahami, menerima dan merelakan bahwa dia harus pindah lagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasii mb Nanik. Memang sgala sesuatu butuh waktu kan ya..

      Hapus
  7. halah, cuma persoalan kayak gitu saja lemahh

    kalimat ini kliatannya singkat, tapi damage nya luar biasa
    smoga lancaarr semua yahhh

    BalasHapus
  8. Selamat kembali ke tanah jawa mak lisdhaa jadi hemat ya sekarang kalau mudik, dan lebih sering bisa jenguk orang tua krn ada toll. Semoga ale lekas bisa beradaptasi ya mak

    BalasHapus
  9. Apalagi kalau anak sudah mulai merasakan nyaman di daerah sebelumnya, pasti ada rasa gak rela untuk pisah dari teman dan lingkungannya. Nanti aku bertemu orang baru di lingkungan baru.

    BalasHapus
  10. Semangat buat Ale!

    Kebayang sih segimana gak rela, (Mungkin) bingung juga meski bukan pindahan yang pertama. Kalau dia udah usia SMA atau kuliah, ada kemungkinan milih tinggal terpisah daripada pindah-pindah. Tolong Mbak siapkan hati juga #Eh

    BalasHapus
  11. Wah pindah-pindah ini banyak dialami sama anak-anak yang punya orang tua pindah tugas ya. Beruntung sih menurutku soalnya jadi banyak pengalaman dan insight, juga anak lebih luwes bergaul.

    Pernah dengar kalau anak itu paling mudah adaptasinya. Jadi mumpung masih anak-anak masih bisa banget menyesuaikan diri ke sana sini. Tapi tantangannya memang kalau sudah nyaman ya, beraaatt banget rasanya meninggalkan tempat yang sreg.

    BalasHapus
  12. Saya merasakan juga masa sekolah pindah kota seperti itu. Tiga kali pindah sekolah emang bikin nambah wawasan, tapi juga nambah beban.
    Kalau sekarang udah gede, sebenarnya bisa dibuat enjoy aja ya. Apalagi kecanggihan teknologi komunikasi saat ini udah gak diragukan lagi

    BalasHapus
  13. meskipun dilema tetapi anak2 yang sering pindah2 sekolah ini kemampuan beradapatsinya biasanya lebih bagus lo mak. aku inget banget aku dulu waktu kecil sering pindah2 ikut tugas ayahku. jadi bisa berbagai bahasa daerah di Indonesia hahaha

    BalasHapus
  14. Aku salut Mak dengan kesabaran Mak Lisdha mendampingi anak untuk bisa belajar merelakan dan mengerti bahwa dari sisinya pasti cukup berat. Kadang orang tua nggak mau tau dan memaksa anak untuk langsung "move on" seakan-akan it's not a big deal. Semoga proses adaptasinya bisa makin lancar dari hari ke hari ya Mak

    BalasHapus
  15. Benar sih kalau pindahan itu dibilang patah hati. Sebagian orang cepat menerima dan merelakan, tapi sebagian yang lain butuh waktu lebih lama. Semoga Ale bisa melalui masa-masa ini dengan baik. Tetap semangat ya, Mbak.

    BalasHapus
  16. Dibalik sisi negatifnya pindah2 sekolah sisi positifnya seru, pengalaman baru, kenal kulture baru, nantinya mudah beradaptasi

    BalasHapus
  17. Iya aku juga pindah-pindah waktu zaman sekolah, jadinya sering sedih karena harus berpisah dengan bestie terus harus beradaptasi lagi dengan teman dan lingkungan baru, berat sih

    BalasHapus
  18. Ngerti bangettt yg dirasakan ale, krn aku aja pernah ngerasain pindah sekolah dan pindah kuliah, walo ga berkali2 kayak ale, ttp aja ga enaaaak. Apalagi adaptasi segala macam, ada anak2 yg ga suka dan musuhin juga. 😆. Kalo bisa tetep di tempat lama, ga bakal mau pindah sih.

    Tapi waktu memang ngobatin ya mba. Lama2 sakitnya hilang, mungkin krn ketemu teman yg sesuai. Cuma kebayang aja ale udh akrab ama temen lama, harus pisah lagi..

    Mau ga mau, memang hrs dijalanin 😊. Anggap aja belajar utk menyesuaikan diri dr muda. Sisi positifnya skr zaman digital yg mana komunikasi gampang. ☺. Semoga ale lama2 bisa ikhlas dan trima yaa

    BalasHapus

Terima kasih atas kunjungannya. Mohon tidak meninggalkan link hidup dalam komentar ya :)