Belajar Patah Hati


Hari-hari ini, anak sulungku sedang patah hati. Bukan....bukan patah hati sehubungan dengan percintaan anak baru gede. Namun, ada suatu hal yang membuatnya sangat kecewa dan sedih.

Aku, ~ibunya, dan ayahnya tahu penyebab kesedihannya. Bahkan kami menjadi bagian dari lingkaran kekecewaan si bocah. Bukan... bukan kami melakukan tindakan kekerasan pada anak atau sejenisnya. Untuk saat ini, ku merasa masih sangat dini untuk menceritakan persoalan tersebut di sini.

Intinya....anakku belajar patah hati. Mungkin ini bukan patah hati kali pertama untuk persoalan yang sama. Namun, baru saat ini dia tampak begitu kecewa. Dia sering mengulang pertanyaan "mengapa??"

Jadi, aku berusaha mengambil banyak waktu untuk deep-talk dengan si bocah. Ku bilang, "dalam hidup, mungkin akan banyak hal yang tidak sesuai dengan keinginan. Mungkin akan banyak hal yang membuat kita kecewa. Kamu boleh sedih dan marah serta melampiaskannya. Namun, jangan sampai pelampiasan emosimu melukai diri sendiri dan orang lain."

Aku juga bilang, "aku tidak akan menganggap kamu cengeng atau berlebihan. Aku juga tidak akan mengatakan bahwa ini adalah persoalan mudah yang kamu besar-besarkan. Kamu sedih, kamu kecewa, kamu marah...itu valid."

Aku paham, situasi saat ini memang tidak mudah bagi dia. Namun, aku harus mengatakan, "kamu bisa bertanya why. Tetapi,  kalau kamu terus mandeg pada why, kamu akan makin kecewa dan sedih. Sebaiknya, kamu belajar untuk menerima, sebab kita tidak bisa mengubah situasi ini. Selanjutnya, dari why kamu beranjak pada  how? Bagaimana tindakanku untuk menghadapi situasi ini?"

Hhmm..terdengar mudah. Namun, sepanjang pengalaman pribadiku, melakukan tips tersebut tidak semudah membalik telur di wajan. Butuh waktu, butuh proses. Saat ini anakku masih denial, sudah pasti butuh waktu dan pendampingan  untuk bisa menerima.

Jadi, sebisa mungkin aku dan si ayah akan berusaha menemaninya melewati situasi ini. Semoga kami punya kesabaran ekstra untuk menghadapi percikan-percikan emosinya. Suatu hari nanti, entah anakku akan membaca tulisan ini atau tidak. Namun, aku ingin mencatat fase ini sebagai salah satu perjalanan masa remajanya, sekaligus perjalanan kami mendampinginya.

Bertumbuh besar memang tidak selalu menyenangkan. Sebab kamu tidak bisa lagi melihat segala-sesuatu dengan kacamata polos saat masih sangat kanak-kanak.

Patah hatinya saat ini, semoga membuat dia makin terlatih dan dewasa.  Seperti kata Nietzsche : what doesn't kill you, makes you stronger. 

Love

Bunda



2 komentar untuk "Belajar Patah Hati"

  1. Pasti ga mudah yaaa utk anak2 mba. Apalagi kalau sudah terlanjur nyaman di tempat lama. Aku pun dulu saat pindah sekolah, rasanya nano2. Dah terlanjur akrab Ama temen di sekolah lama, eh hrs pindah ke kota yg aku jujur ga tau orangnya. Trus pas perkenalan di depan kelas di sekolah baru, ya Allah, inget banget yg cewe2 sinis, yg cowo2 baik hahahaha. Jadinya aku lebih Deket ke temen cowo drpd yg cewe 😂

    Semoga aja anaknya mba, lama2 bisa menerima dan belajar utk adaptasi lagi di sekolah baru yaaa. 🤗

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasiiiih Mb Fan.. dulu pindah2 pas SD ga sampai segini amat sih. Ini mungkin karena uda teen yaa...jd uda tau malu dan jg sdh punya sirkel pertemanan, jadi kek gini.

      Hapus

Terima kasih atas kunjungannya. Mohon tidak meninggalkan link hidup dalam komentar ya :)