Goa atau Gua?



“Sekarang tinggal di mana, Dha?”

Demikian pertanyaan seorang temanku dalam percakapan suara lewat Whatsapp. Percakapan yang tejadi beberapa tahun lalu ketika saya belum lama pindah ke Sulawesi Selatan. 

“Aku tinggal di Gowa, Say…” jawabku.

“Ha? Di goa? Ada kelelawarnya nggak?” tanyanya renyah.

Hmmh..ngajak gelud  becyanda niih… 

“Iyaaa…di Go(w)a. Nih, suasana remang-remang.” 

Saat itu memang sudah sore dan listrik mati. Jadi suasana dalam rumah sudah menuju gelap. Tapi nggak ada kelelawarnya juga, kali...๐Ÿ˜€

“Eh Gowa di mana sih?” sambung si teman alih mode serius.

“Sebelah Makassar, Say..” jawabku. Begitu dibilang Makassar, dia langsung paham.

Begitulah…

Menyebut nama kota/kabupaten (kokab) memang berisiko lawan bicara tidak langsung paham. Ini berlaku untuk kokab manapun, bukan Gowa saja (jadi no offense ya warga Gowa). Terlebih kalau kokab-nya jauh dari si lawan bicara. Kecuali kalau nama kokab-nya sudah lumayan terkenal atau sedang viral karena suatu hal. Menyebut nama ibukota provinsi/kota besar jelas lebih memudahkan.

Lha wong ketika mulai ramai Ibu Kota Nusantara (IKN) dan disebut nama Kabupaten Penajam Pasir Utara sebagai lokasinya, aku bertanya-tanya itu Kalimantan sebelah mana? Namun, ketika disebut sekitar tiga jam dari Balikpapan, barulah punya bayangan lebih jelas. 

Nama-nama ibukota provinsi (dan nama kota besar yang bukan ibukota) kan lebih sering disebut yaaa.. Bahkan, zaman SD dulu, nama-nama provinsi dan ibukotanya termasuk materi yang harus dihafalkan (haha, penanda umur niih..). Menghafal ibukota provinsi saja sudah lumayan banyak (jujur, aku masih suka terbalik-balik antara ibukota Kepulauan Riau dengan Bangka Belitung). Apalagi kalau ditambah nama-nama kokab… Kurasa, hanya orang-orang tertentu yang punya ingatan nama-nama dan letak ratusan kokab di Indonesia. Entah karena mereka memang punya kecerdasan geografi, rajin menjelajah, atau pekerjaannya menyangkut nama-nama kokab di Nusantara.

Itu sebabnya, bukan bermaksud mengaburkan fakta kalau aku lebih sering menyebut tinggal di Makassar ketimbang di Gowa. Kecuali kalau sedang punya energi lebih untuk menjelaskan. Aku akan bilang, tinggal di Gowa tapi dekat banget kok sama Makassar. Paling 10 menit naik kendaraan sudah sampai perbatasan kota Makassar.

Sekarang aku tinggal di Kediri, sekitar tiga jam dari Surabaya๐Ÿ˜Š

Goa atau Gua?

Omong-omong, tadi aku menyebut Gowa, tapi temanku merespon goa. Ada lagi penulisan gua. Gowa sudah jelas yaaa…itu nama sebuah kabupaten di Sulsel yang bersebelahan dengan Kota Makassar. Yang sama sekali belum pernah ke Gowa, mungkin masih menyimpan memori nama kerajaan Gowa-Tallo dari pelajaran sejarah.

Nah kalau goa dan gua. Mana yang benar?

Kalau menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, penulisan yang tepat adalah GUA. Dalam tulisan non-formal seperti ini sih masih termaafkan kalau salah ejaan (malah jadi kebiasaan yaa huhuhuhu)… Tapi kalau  menulis formal kan sebaiknya ejaan baku.

Gua atau elu? ---Ah lupakan hehehe.

Mmmh…jadi ingat salah satu wishlist-ku setelah berkunjung ke makam Pangeran Diponegoro di Makassar. Selain makamnya, aku juga ingin berkunjung ke markas Pangeran Diponegoro di masa perang dulu, yakni Gua Selarong di Jogja. Namun, menimbang jarak, sepertinya lebih memungkinkan untuk lebih dulu main ke Gua Selomangleng yang terletak di Kediri.

Gua Plato

Kalau cuma membahas gua dan goa kan jadi pendek banget tulisannya. Jadi, selain pengantar mengenai Gowa, aku mau tambahkan tentang alegori gua Plato. Sebagai alegori, tentu gua Plato bukan kisah yang benar-benar terjadi, juga bukan nama lokasi. 

Plato (hidup sekitar 427-347SM), menceritakan alegori gua ini dalam bukunya, Politeia. Jujur aku belum pernah baca buku itu๐Ÿคช. Aku hanya tahu alegori gua Plato dari berbagai artikel. Dalam alegori tersebut, filsuf Yunani itu menceritakan tentang sekelompok orang yang seumur hidup dirantai di sebuah gua. Mereka hanya bisa memandang ke dinding belakang gua, tidak bisa ke arah lain. Sementara, di bagian mulut gua terdapat dinding pembatas dan kobaran api.


Gua Plato
Ilustrasi gua plato
(nggak tahu sumber gambar aslinya)
Keberadaan api/cahaya meniscayakan bayangan. Di dinding gua, orang-orang hanya bisa melihat proyeksi bayangan benda-benda yang lewat di depan api. Mereka juga hanya mendengar gema suara-suara dari luar gua. Karena seumur hidup belum pernah melihat hal lain, bagi orang-orang di dalam gua, bayangan dan suara tersebut adalah kenyataan/realitas.

Sampai suatu hari, ada orang yang berhasil kabur (artikel lain menyebut dilepas) keluar. Ia pun melihat wujud dan suara asli dari semua hal yang selama ini hanya dia lihat sebagai bayangan di dinding gua. Pada pengalaman pertama, ia merasa silau (syok?) dan lebih menyukai penglihatan bayangan di gua. Namun, lama-lama ia pun terbiasa dan bahkan merasa bahwa pemandangan di luar lebih indah dan lebih nyata.

Ia kembali (dalam artikel lain disebut dipaksa kembali) ke gua. Ia bertekad membebaskan teman-temannya dari keterikatan dalam gua. Ia ingin teman-temannya melihat dan mengalami benda-benda yang nyata dan asli. Namun oleh teman-temannya, cerita orang tersebut dianggap kebohongan dan mengganggu kemapanan. Sad ending, orang yang sudah melihat dunia nyata itu justru dibunuh oleh teman-temannya.

Gua Plato, cerita kuno yang tetap relevan hingga masa kini. Di masa banjir bah informasi dan kemudahan mengaburkan fakta dengan teknologi, jangan-jangan kita hanya melihat ilusi, bukan realita sesungguhnya (*)  


16 komentar untuk "Goa atau Gua? "

  1. Soal Goa atau Gua itu, aku jadi teringat waktu menulis artikel tentang Gua Sembat di Pulau Maratua (Kaltim) untuk sebuah majalah. Editornya membuat catatan penting soal Gua dan Goa, dan dari situlah aku tahu mana yang benar dan harusnya digunakan dalam penulisan formal ๐Ÿ˜

    Ohya mbak, seru banget baca tulisannya. Selain jadi tahu lebih banyak tentang Gowa, gua Plato juga jadi bahan obrolan menarik nih. Kayaknya keren tuh kalau bisa berkunjung ke tempat-tempat yang punya cerita sejarah dan filosofi seperti Gua Selomangleng.

    BalasHapus
  2. Ooh jadi yg bener gua ya. Tapi kebanyakan pake kata goa instead of gua.

    Wahh daku belum pernah ke Gowa nih. Jadi penasaran.

    BalasHapus
  3. Aku jadi ingat salah satu blogger yang tinggal di Gowa juga, jadi waktu itu karena sedang tanya kalau ke Makassar memungkinkan gak? Pas dia bilang tinggal di Gowa, aku langsung cek jaraknya dong.

    Tapi kalau soal penulisan goa dan gue itu aku pun kadang masih menuliskan goa sih. Makasih mbak Lis dikasih referensi penulisan yang tepat.

    BalasHapus
  4. nah iya ada beberapa penamaan menggunakan Gua dan Goa ya, tapi aku jadi tau nih cerita tentang Gua Plato karena baca artikelmu ini mak

    BalasHapus
  5. Sebagai orang yang mengucapkan, aku lebih sering pakai kata Goa. Tapi sebagai pendengar, aku lebih senang dengan bunyi kata Gua. Hahaha. Menarik sekali ceritanya tentang orang-orang yang hidup di dalam Gua Plato sekitar tahun 427-347SM ini. Dunia tempatnya hidup dan segala bayangan dan suara, dianggap yang paling nyata, sementara suara dan gambar asli justru dianggap ilusi.

    BalasHapus
  6. As always, kalau Mak Lidha, menulis, jagoooo bingit!

    Kalau off~line pastilah aku fokus memandang, eye~contact dan menikmati kata demi kata.

    ... dan kadang tertawa, ketika sense of humornya, nyalip.
    Hihihi.

    Apalagi pas di bagian : 'Gua atau elu?. Ah, lupakan!'

    Anyway,
    Gua, yang benar yak!
    Elu, salah
    Hahaha.

    BalasHapus
  7. Hahaa kecuali kalau lagi ada energi. Beneran deh aku jg kalau lg nggak ada energi jawab ya gitu deh jawabnya. Jadi biar memudahkan aja. Gua atau eluu ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ
    Gowa kalau di sini nama jalannya ditulis jalan Gowa..

    BalasHapus
  8. Meskipun saya gak ada bayangan sama sekali dengan daerah di Sulawesi, tapi saya cukup familiar dengan Gowa. Tau nama daerah itu dari pelajaran sejarah. Karena di Gowa dulunya ada kerajaan besar dan bersejarah.

    BalasHapus
  9. Hahaha, ya begitulah.

    Kalau saya mungkin akan menambahkan, "Gua gak cocok tinggal di goa, tapi cocok di Gowa. Mungkin lu yang cocok di goa!" ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ Biar makin keder tu.

    Penggunaan kata gua atau goa rmang sering keblinger mana yang benr, ta. Rupanya yg bener itu "gua".

    BalasHapus
  10. Oh Gua ya
    Iya sih selama ini aku juga menyebutnya gua
    Klo gowa seingatku emang nama sebuah daerah, hehe

    BalasHapus
  11. Wahh edukasi baru ini mbak antara gua dan goa, memang pikiran orang kalo di sebut gua itu pasti ke elu dan gua. Wkwkwk meskipun banyak yg bilang gue sih atau gw

    BalasHapus
  12. Dulu aku gak bisa bedain nama kota dan negara. Udahlah kebolak balik. Tahu nama banyak kota di Indonesia juga waktu mulai remaja mungkin termasuk Gowa ini. Maklum, anak gua yang jarang keluar rumah. Sekarang mah sudah banyak informasi dari internet ya

    BalasHapus
  13. Apa ka Lis namanya kalo gini tuh?
    Homofon?

    Aku sejujurnya tau daerah-daerah di Sulawesi ini karena sahabat aku pas SD ada yang kaya ka Lis, dipindah-pindah. Dan dia selalu cerita kalau uda di sana mah.. bahagia aja, Len. Uda beda cara mikirnya, gak kayak orang Jawa yang ribet.

    Gitu yaa.. Emm, emm..
    Aku jadi menyimpulkan tipikal masyarakat di Sulawesi yang se-easy going ituuu... hihihi~
    Makanya, ka Lis mah asik diajak becyandaaa~
    No hard feeling.

    BalasHapus
  14. Ingat Gowa ingat pelajaran sejarah zaman sekolah dulu yakni Sulta Hasanudin, eh bener kan yaaa?
    Gua atau Goa, hmmm, kyknya aku udah pakai Gua, tapi emang di masyarakat dikiranya Goa ya? karena terkait pelafalan masyarakat pada umumnya. Cuma kalau mau bantuin literasi Bahasa Indonesia yang bener, kyknya lbh baik kita bantu populerkan kata Gua di postingan2 kita hehe.

    BalasHapus
  15. PR juga nih Mak untuk diriku yang pengen ambil UKBI (Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia) karena masih sering ada kesalahan minor terkait penulisan. Ujian ini menurutku malah lebih susah daripada TOEFL yang udah biasa kita ambil sejak di bangku sekolah. Perlu belajar lebih giat lagi abis iniiii

    BalasHapus
  16. Bicarain Gowa eh malah panjang ya mbak, hehehe. Tapi menarik juga sih, emang kalau cuma denger kadang bisa salah mengartikan ya. ALhamdulillah mbak sabar bisa menjelaskan ke temannya dan jadi cerita menarik juga di blog

    BalasHapus

Terima kasih atas kunjungannya. Mohon tidak meninggalkan link hidup dalam komentar ya :)