JELCO, Sabun Jelantah dari Hati yang Resah

Minggu lalu, aku menulis tentang manfaat dan cara pembuatan eco enzyme. Nah, sekarang, aku mau menulis tentang eco-enzyme bersama teman duetnya, yakni sabun minyak jelantah. Duet olahan limbah ini aku kasih nama JELCO, sabun minyak jelantah dengan eco enzyme. 

Gimana nih namanya? Cukup keren nggak?


Bagi teman-teman yang sering main ke blog ini, mungkin pernah membaca tulisanku tentang membuat sabun cuci dari minyak jelantah. Bisa dibilang, aku membuat sabun jelantah karena hati yang resah. Ya gimana nggak resah kalau aku sudah tahu bahwa jelantah adalah salah satu bahan pencemar. Namun, aku tidak menemukan bank sampah jelantah/pembeli minyak jelantah. Alhasil, mau tak mau aku membuangnya di tempat sampah.


Puji Tuhan, dari Youtube, aku menemukan tutorial cara membuat sabun dari minyak jelantah (terima kasih untuk para konten kreator). Dan dari sejak memuat artikel itu hingga membuat tulisan ini, aku masih mengolah limbah jelantah menjadi sabun cuci. Aku berharap, kegiatan ini akan lestari, hingga ada pilihan yang lebih efektif dan efisien dalam mengelola limbah jelantah.  Siapa tahu kelak jadi tauke minyak jelantah untuk biodiesel, ya kan? Muehehehe.


Sekarang, nggak apa-apa deh dimulai dari skala kecil. Setidaknya, ada dua hal yang aku syukuri dalam perjalanan mengelola limbah jelantah ini. 


Pertama, awalnya aku hanya mengolah limbah jelantahku sendiri. Dalam perkembangannya, aku berani menawarkan diri untuk menerima limbah jelantah tetangga dan teman-teman. Dengan mengelola limbah pribadi dan sebagian tetangga, ada semacam perasaan turut berkontribusi pada kelestarian bumi. Iya sih, kontribusinya masih sangat kecil. Secara volume, mungkin masih jauh dengan polusi dan cemaran yang aku hasilkan. Namun, I think, it's better than doing nothing.


Selalu ingat dong kata-kata panutan soal sampah : We don’t need a few people doing zero-waste perfectly, we need millions doing it imperfectly.”


Kedua, semula aku membuat sabun minyak jelantah tanpa eco-enzyme. Kemudian, aku mengenal eco-enzyme. Lalu, lahirlah si JELCO, produk hasil perkawinan silang dua jenis limbah rumah tangga, yakni minyak jelantah dan sampah organik.


Penambahan eco-enzyme tentu memberikan manfaat tambahan bagi sabun jelantah. Keberadaan eco-enzyme mengurangi pencemaran air dari bahan kimia sabun. Selain itu, menurutku, eco-enzyme juga meningkatkan daya bersih sabun.


Manfaat JELCO


Itu sebabnya, aku jadi se-love itu sama si JELCO. Sejauh pengalaman aku menggunakan JELCO untuk mencuci, aku jadi nyaris nggak pernah pakai pemutih lagi. Anak-anakku kan masih sekolah dan punya seragam baju-baju putih. Bahkan, ada satu hari di mana si sulung pakai celana putih.


Namanya anak-anak, cowok-cowok pula, pakaian putihnya sering “berubah warna.” Ini terutama malah pada si sulung yang pulang sekolah lebih sore. Mungkin karena ia beranjak remaja, jadi produksi hormon-hormonnya meningkat pesat. Noda keringat pada kerah baju bisa setebal dan sebandel itu huhuhu. 


Sebelum pakai sabun jelantah, membersihkan noda-noda di pakaian putih selalu butuh upaya extra, bahkan sering perlu pemutih. Masalahnya, ketika direndam pemutih, bagian badge pun ikut luntur. Hedeeeeh…


Aku pernah lihat iklan sabun batang dengan klaim  “ajaib menghilangkan noda.” Aku terima sebagai kewajaran bahasa iklan. Tentang JELCO, aku belum berani bikin klaim sehebat itu sih. Namun, aku berani bilang kalau sejak pakai JELCO, aku nyaris nggak pernah pakai pemutih. Kecuali untuk noda permanen seperti tinta dan cat, itu sih lain cerita yaaa…


Selain menggunakan JELCO untuk mencuci seragam putih (dan baju olahraga), aku juga memakai JELCO untuk mencuci sepatu, kaus kaki, tas, dan serbet. Aku bahkan menggunakan JELCO untuk mencuci lantai kloset dan lantai kamar mandi.


Jujur, aku memang belum menggunakan JELCO untuk mencuci seluruh pakaian. Aku masih mencuci sebagian besar pakaian keluarga dengan mesin cuci dan sabun cair/bubuk (dengan kutambah eco-enzyme saat perendaman).  Gempor sih kalau semua pakaian aku cuci manual dengan sabun batang hehehe.


Aku belum punya cukup energi untuk bereksperimen membuat sabun cuci cair dari minyak jelantah. Kalau sudah bisa bikin sabun cair dari minyak jelantah, mungkin bisa deh dipakai untuk mesin cuci. Setidaknya, dengan menggunakan JELCO sudah mengurangi limbah jelantah untuk sesuatu yang bermanfaat. 


Oh ya, aku perlu menegaskan bahwa aku bukan penemu/penggagas pertama inovasi ini. Aku juga BELUM EXPERT soal persabunan (mash harus banyak belajar). Di Youtube, tutorial membuat sabun jelantah dengan eco-enzyme tidak susah ditemukan. Aku pun belajar dari platform video tersebut dengan metode ATM (amati, tiru, modifikasi). Cuma, kalau nama JELCO, aku belum pernah ketemu. Entah kalau sudah ada duluan. 


Mudah-mudahan aku tidak tersangkut kasus pelanggaran merk dagang/hak cipta. Jujur, aku masih sangat buta soal itu.


Menjual JELCO


Semula, aku mengolah sabun jelantah untuk aku pakai sendiri. Lalu, ketika aku mulai menerima limbah jelantah dari orang lain, aku membagi-bagikan sabunnya ke orang-orang secara gratis. Entah itu kuberikan saudara/teman atau kubagikan secara random pada orang-orang yang kurasa membutuhkan seperti pedagang keliling dan pemulung yang kutemui di jalanan. Aku juga pernah membagi sabun-sabunku ke kampung kusta Jongaya.


Sewaktu ke Jongaya, Bapak Alqadri, salah satu pegiat kusta di kampung itu bertanya padaku, “sabun ini mbak bagi-bagi saja atau juga dijual?”


Saat itu, kujawab kalau sabun-sabunnya masih kubagikan saja. Sepulang dari sana, aku jadi berpikir kalau aku bisa menjual sabun-sabun itu, mana tahu juga jadi peluang bisnis bagi teman-teman yang pernah menderita kusta.


Namun, pemikiran itu lama tersimpan di kepala, tanpa aku berani melangkah lebih jauh. Dalam rentang waktu tersebut, aku juga belum terlalu sering mengolah sabun. Lagipula, aku tidak terbiasa punya usaha yang kontinyu. Sudah over-thinking duluan : ini bagaimana, itu bagaimana, bagaimana kalau? 


Long story short, akhirnya aku menemukan beberapa alasan untuk menjual sabun-sabun produksiku dengan tidak meninggalkan niatan awal untuk berbagi. 


Pertama, semakin banyak jelantah yang ditampung, tentu semakin besar biaya produksi. Tentunya akan berat kalau semua ditanggung pakai biaya pribadi.


Kedua, dengan menjual JELCO, akan semakin banyak orang yang melihat potensi ekonomi dari pengolahan jelantah. Mana tahu akan orang yang melakukan kegiatan serupa, jadinya makin banyak limbah jelantah yang terolah.


Ketiga, menjual sabun-sabun ini tentu butuh promosi. Walau sekadar promosi di kanal pribadi, tetap saja menjadi salah satu cara untuk menyebarluaskan pesan pengolahan limbah jelantah.


Kupikir-pikir, menggunakan JELCO bisa berarti sedekah bumi lho. Yups..kalau dulu sedekah bumi selalu diartikan sebagai ritual “memberi” pada alam. Bisa kan kita memberi arti baru pada sedekah bumi, yakni “mengurangi” bahan pencemar pada alam? Aku merasa bahagia memikirkan konsep ini.


Selain sedekah bumi, kita juga bisa melakukan sedekah dalam arti yang banyak digunakan, yakni memberi pada orang yang membutuhkan. Sedekah sabun cuci mungkin masih jarang ditemukan. Namun, sependek pengalaman, hal ini niscaya untuk dilakukan.


Aku punya mimpi, konsep ini bisa diadopsi oleh pengambil kebijakan. Karena sebuah aksi selalu bisa dilakukan lebih luas (dengan dampak yang lebih luas juga) jika didukung kebijakan. Mimpi aja dulu, boleh dong. (Atau mungkin sudah ada, aku aja yang belum tahu).


Pesan JELCO


Nah, buat teman-teman yang mau coba pakai JELCO untuk memusnahkan noda-noda bandel, bisa DM di IG @buminjel atau email ke aku lisdha.nia@gmail.com


Harga per pack Rp 6.000, isi 4 pcs.


Untuk setiap pembelian dua pack JELCO, teman-teman otomatis sudah menyumbang satu (1) pack JELCO untuk para sahabat duafa.


Teman-teman juga bisa membeli JELCO untuk dibagi-bagikan ke sahabat duafa. Bisa dibagi-bagi sendiri, atau nitip bagi-bagi melalui aku seperti yang sudah aku lakukan. Ke depan, semoga bisa aku pasarkan di marketplace (btw aku belum pernah jualan di marketplace hehehe...).


Atau ada teman-teman yang mau mencoba bikin sabun jelantah dengan eco-enzyme, baik untuk dipakai sendiri atau dibagi-bagikan, tutorialnya juga ada di IG @buminjel lho.. Yuk difollow.

48 komentar untuk "JELCO, Sabun Jelantah dari Hati yang Resah"

  1. Wah, keren banget mbk.. Jelantah termasuk sampah harian ya mbk huhu. Tapi ini menarik banget, jelantah bisa dibuat sabun. Mana bisa menghilangkan noda pula..

    BalasHapus
  2. Keren nih Mba, perlu dapat awarding deh atas idenya, btw kalo dibaca pelan-pelan ulasannya nih kayaknya sabun ini hampir sama denga sabun batangan sinar laut yang ampuh bersihkan noda dibaju putih atau seringnya kalo aku bekas darah mens, hehehe. busanya dikit juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. sinar laut warnanya apa mbak? kalau dulu aku di Medan biasa nemu sabun telpon warna hijau. pas kecil sering nemu sabun superbusa warna biru.

      Hapus
  3. Tagline yang keren sii JELCO ini, sabun jelantah dari hati yang resah. Tapi aku setuju sii, jangan nunggu orang yang pengen zero waste secara sempurna, ini malah bikin kita ngga gerak2 ya kan. Kalau aku di sini juga pernah ikut pelatihan bikin sabun dari limbah minyak jelantah. Ada juga pengepul buat sedekah minyak jelantah juga. Ngebayangin combo same EE pasti deh bakal bombastis manfaatnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku ga nemu bank jelantah di sekitar tempat tinggalku mba huhuhu

      Hapus
  4. Berarti sabun Jelco ini bener-bener lahir dari kecintaan juga terhadap lingkungan atas jelantah yang ada. Membantu perekonomian pastinya dan satu hal ga perlu pakai pemutih lagi untuk mencuci baju, bahkan bisa juga dipakai mencuci lantai kamar mandi. Wahh ngebantu banget pasti mbak ya nyuci baju ya nyuci lantai.

    BalasHapus
    Balasan
    1. sejak bikin sabun jelantah dan ecoenzyme, mmg jd ada bbrp benda pembersih yang sudah ga kubeli lg mbak

      Hapus
  5. Ih benar banget nih kalau punya anak cowok tuh baju sekolah pasti ekstra banget ngebersihinnya. Aku tuh setiap kali cucu baju anakku selalu bergumam "ini anak main apa sih sampai bisa begini". Terus sekarang tuh yang PR banget bersihin kaos kakinya, karena di sekolah kalau di kelas lepas sepatu, dan menggunakan sandal. Nah anakku tipe yang kaos kakinya masih terus dipakai. Itu bagian telapakannya selalu hitam pas balik kerumah. Aku jadi pengen coba si sabun dari jelantah dan eco enzym ini deh mbak, biar gak melulu mencuci dengan pemutih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. tosss yang punya anak lanang. kaus kaki anakku jg gitu deeeh hehehe. cobain jelco deh mba ci.

      Hapus
  6. Masya Allah keren. Mbaaa peluk jauh. Jelco aku baru denger mereknya, melaju terus ya semoga semakin berkembang dan makin manfaat. Jadi bersih tanpa pemutih ya si baju seragam anak2. Biasanya yg cair harganya mahal ya mba. Bener siih gempor kalau batangan ya mba.. duet produknya cakep^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. thank you mb chie. skrg aku sedia pemutih botol kecil sekadar buat noda permanen yg ga selalu ada, jadinya ga abis2 hehehe.

      Hapus
  7. Masya Allah keren banget Mak berawal dari keresahan eh bisa berkarya menghasilkan uang dan membantu sesama dengan memanfaatkan limbah, salut banget

    BalasHapus
  8. Wah keren banget nih, Kak bisa membuat sabun dari minyak jelantah. Langsung dijual di marketplace aja, Kak siapa tahu laku banyak hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mb nisa..produksinya belum rutin tiap hari jg sih. mudah2an cukup energi utk go online ya hehehe

      Hapus
  9. Mantul banget mba udah bikin sabun batang dari minyak jelantah begini. Semoga nanti bisa bikin sabun cairnya. Hasilnya bagus ya untuk memutihkan pakaian. Semoga nanti jadi bisnis besar yak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. sejujurnya blm berani bermimpi jauh sih mba hehehe. Tapi semesta kan sering ga terduga yaaa..

      Hapus
  10. Wah mak, aku jadi pengen nyobain juga deh. Solusi banget ya ini, bisa memanfaatkan limbah rumah tangga dan jadi tersalurkan minyak jelantahnya. Keren banget sih :D

    BalasHapus
  11. Keren mbak, berawal dari keresahan dengan keberadaan minyak jelantah, cari ilmunya, lalu melakukan percobaan hingga bisa berproduksi dan lahirnya JELCO.

    Kalau saya selama ini minyak jelantah saya kumpulkan saja dalam botol, ntar ada tetangga yang ngambil ke rumah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. sudah bagus tu mbak. ini aku begini gara2 ga nemu bank/pengepul jelantah

      Hapus
  12. Ternyata sabun ini dari minyak jelantah, bagus nih jadi tidak terbuat percuma minyak jelantah. Padahal minyak itu bisa dihilangkan dengan sabun. Dan ternyata sabun itu dari minyak haha bener bener kebesaran Tuhan ya, dan tentunya hasil ilmu pengetahuan yang dikaji dengan penuh ilmu

    BalasHapus
  13. Mba Lisdha, kamu beneran hebat banget. Bisa memproduksi sabun dari jelantah feat eco enzim. Seniat dan setulus itu kamu, Mbak.

    Bahkan harga jualnya murah meriah. Semoga makin ramai dan sukses ya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. thanks mba..semoga dicukupkan energi dan lain2nya utk prosesing. amin.

      Hapus
  14. Keren banget ini, mbak
    Mengingat hampir setiap rumah, pasti ada limbah minyak jelantah ini

    BalasHapus
  15. Kak Liiiss..
    Langkah kecil yang kini semakin meluas dan bermanfaat untuk banyak orang karena selain menjual produk JELCO, juga membagikan cara membuatnya secara mandiri.

    Kak Lis kereeen banget.

    BalasHapus
  16. Keren memang tong ini kawanku, Minyak jelantah yang selama ini hanya dibuang malah diubah menjadi produk yang bermanfaat, seperti sabun. Semoga produksi dan usahanya semakin lancar ya Mbak Lis. Siapa tahu nanti bisa jadi sultan Jelco, kan saya bisa kabarkan ke orang-orang. "Itu tuh temanku loh, si sultan itu." Amin,

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha..setidaknya ada kenangan sewaktu kelak meninggalkan sulsel ya bunda..

      Hapus
  17. Selamat mak lisdhaaa....sukses selalu ayo sama2 belajar maak bismillahn

    BalasHapus
  18. Mbakkk keren banget lho.. Kadang, eh seting banget aku punya minyak jelantah yg bingung mau dibuang kemana huhuhu.. PR ibu ibu kalo punya anak cowok yg masih sekolah, baju putih selalu dekil ya hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku pernah bikin sabun ini
      Cuma pas anak anak masih bayi
      Sekarang nunggu mereka bisa diajak bareng daripada merusak bahan

      Hapus
    2. dulu pas kecil, bajuku juga suka ampun2an krn mainku ga karuan hehehe.

      Hapus
  19. Aku pernah lho bikin sabun dari minyak jelantah
    Sayang karena waktu itu pindahan jadinya stokku diangkut orang yang bantu
    Jadinya sekarang kumpulin lagi dari tetangga minyaknya

    BalasHapus
  20. Namanya kusuka JELCO, langkah sederhana yang menginspirasi Mak..
    Senangnya dirimu juga berbagi ilmunya, mengedukasi semua...pokoknya keren pakai bangets!

    BalasHapus
  21. Keren, Mbak. Nama produknya juga sudah oke, menarik untuk di pasarkan. Btw, Mbak Lis produksi sabun, jual, tapi juga bagi2 cara membuatnya, paket lengkap banget Mbak. Bener-bener menginspirasi. Semoga lancar produksi dan pemasaran Sabun Jelco

    BalasHapus
  22. Masha Allah mbak, niatnya bagus bangett.
    Effortnya, niatnya, kegunaan nya, semoga dibalas Allah ya mbak. Keren deh

    BalasHapus
  23. Sabun jelco bermanfaat banget buat emak2. Bisa membersihkan pakaian anak2, bisa juga dapat ide untuk mengurangi limbah minyak jelantah yang tentunya banyak banget karena sering masak tiap hari. Semangat dan terus menginspirasi!

    BalasHapus
  24. Masya Allah, cakep Mbak, dari jelantah bisa menjadi sabun. Keren banget itu. Semoga dimudahkan pemasarannya ya Mbak.

    BalasHapus
  25. Ada temanku juga bebikinan sabun batang dari minyak jelantah
    Aku pun dikasih, sabunnya juga keset dan wangi sih

    BalasHapus
  26. Mbaa aku JD pengen beli jugaaaa 😄. Btw kalo untuk bersihin lantai kamar mandi, caranya diusrek langsung ke lantai mba? Soalnya drpd pake sabun kamar mandi yg biasanya keras, mending pakai ini.

    Kalo utk cuci baju2 sekolah yg putih begitu, habisnya berapa lama mba?beneran tertarik sih. Ntr belanja bulanan ku akhir bulan inj mau nyetok sabun cuci utk baju sekolah, mending aku pakai punya mba deh 👍.

    BalasHapus
    Balasan
    1. JELCOnya aku masukin botol dan kasih air dulu mbak...jd kayak pasta encer gitu, tuang ke lantai lalu sikat deh...

      Hapus
  27. Mba Lisdha emang super keren nih. Minyak jelantah biasanya aku buang aja. Kalau gak ya disaring-saring mpe bebing lagi.

    Info bagus nih ada sabun ramah lingkungan Jelcom karya Mba Lishda, memanfaatkan minyak jelantah.

    BalasHapus
  28. Mau ikutan bikin Eco Enzyme dan JELCO kayak tutorialnya kak Lis, tapi beneran yaa.. mengumpulkan modal pertama iniiii.. beuraat pisan. NIAT.
    Semoga dimudahkan belajar mencintai lingkungan dengan memanfaatkan minyak jelantah dengan baik.

    Aku suka diomelin mertua juga nih, karena minyak jelantah suka aku simpen dan endingnya, aku kasih ke pemulung.

    BalasHapus
  29. Mbaak keren banget!!! Biasanya minyak jelantah kan dipakai untuk bahan bakar, nah ini kita juga bisa rasakan manfaatnya. Saluuuut mbak dan semoga sukses teruuuus usahanya.

    BalasHapus
  30. Idenya inovatif sekali kak. Keren banget

    BalasHapus

Terima kasih atas kunjungannya. Mohon tidak meninggalkan link hidup dalam komentar ya :)