Nostalgia Kertas Karbon



Beberapa waktu lalu, kelas si bocah bungsu dijadwalkan membuat prakarya gambar dekoratif. Untuk prakarya tersebut, ibu guru menugaskan anak-anak membawa beberapa bahan, salah satunya KERTAS KARBON.

Wiiih…kertas karbon. 

Sudah berapa lama nggak pernah ketemu kertas karbon ya? Berasa printhilan dari zaman baheula hehehe. Buat yang belum tahu, kertas karbon adalah kertas dengan lapisan tinta dan dilapis lilin pada satu sisinya. 

Kertas karbon lazim digunakan untuk membuat salinan tulisan atau gambar. Caranya, kertas karbon disisipkan di antara dua lembar kertas, dengan bagian sisi tinta di bagian bawah. Jangan sampai terbalik. Kalau terbalik hasil salinan malah akan menempel di kertas pertama (yang atas). 

Hari gini, rasanya kertas karbon sudah jarang digunakan. Apalagi, untuk urusan kuitansi dan dokumen yang butuh salinan langsung, sudah ada NCR alias kertas non carbon required. Kalau kita belanja baju ke mall atau ke rumah sakit, sering kan dapat salinan kuitansi warna-warni? Menulisnya sudah nggak perlu pakai kertas karbon karena sudah menggunakan NCR.

Meski demikian, aku percaya benda ini belum punah sepenuhnya. Jadi, sebelum hari H bikin prakarya aku mampir ke toko fotokopi plus alat tulis. Toko yang agak besar, yang jualan beraneka alat tulis dan kantor (ATK).

Dan terjadilah situasi yang membuktikan bahwa kertas karbon adalah printhilan dari masa lalu. Urusan kertas karbon bisa menunjukkan gap antar generasi hihihi.

Begini ceritanya :

Begitu masuk toko, aku dilayani oleh seorang pria muda, kutaksir usia kuliahan. Ketika aku menyebut benda yang mau kubeli (si kertas karbon), si penjaga toko nggak paham. 

Aku berusaha menjelaskan bagaimana bentuk dan kegunaan si kertas karbon dan si anak muda tetap nggak paham. Dia malah nunjuk kertas karton lah, kertas marmer lah.

Haha..buntu.

Akhirnya si penjaga tanya ke seniornya (mungkin pemilik toko) yang tengah berada di ruang dalam. Si anak muda pun keluar dan langsung menuju sebuah rak. Cari-cari di situ, tetap nggak ketemu. Akhirnya si senior turun tangan. 

Baru deh ketemu :D 

"Belum pernah tahu kertas karbon ya?" tanyaku pada si penjaga sambil tertawa.

"Iya kak..baru tau ini," jawabnya juga tertawa.

"Kalian pasti ga pernah pegang mesin ketik. Pakainya komputer, tinggal copy paste, makanya nggak tau kertas karbon," lanjutku.

"Iya kak..benar," jawab si anak muda terkekeh.

Harga selembar kertas karbon Rp 1.500, aku beli dua buah. Transaksi sore itu pun beres dengan menyisakan rasa lucu di hatiku.

Gambar di bawah adalah salinan gambar pesawat setelah aku menunjukkan cara kerja kertas karbon ke bocilku (doski juga baru pertama kali tahu apa itu kertas karbon). Haha,  jauh dari mirip yaa..soal menggambar diriku memang embuh :D 


****

Kupikir-pikir, zaman belum terlalu jauh berlari, tapi sudah banyak printilan yang tersisih karena kemajuan teknologi. 

Ketimbang kertas karbon, si anak muda itu mungkin lebih kenal sama istilah emisi karbon :D . 

Seketika jadi ingat potongan lirik lagu Masalah Masa Depan punya Hindia : 


Lawan resesi modalku hanya pas-pasan

Lawan emisi pun aku hanya figuran

Tak cukup penting 'tuk bikin perubahan

Nasibku tak karuan, tidak digenggam tangan


Balik lagi ke cerita soal kertas karbon.

Lembaran kertas karbon itu juga membuatku teringat zaman ngampus, yakni ketika semester-semester awal di  Faperta UNS. Memang kami nggak pakai kertas karbon, tapi benda ini sangat berkaitan dengan peralatan yang harus kami gunakan waktu itu. 

Waktu itu menjelang millenium 2000, di mana komputer dan laptop sudah bukan barang baru (tentunya dengan tingkat kecanggihan di masa itu).  Sepengetahuanku, anak-anak fakultas lain sudah biasa bikin tugas/laporan pakai komputer. Zaman itu, masih banyak mahasiswa/i yang belum punya komputer/laptop pribadi. Jadi, mengerjakan tugas di rental komputer adalah hal biasa.

Namun, kami anak-anak pertanian yang belum punya komputer/laptop tak perlu ke rental komputer. Soalnya, kami justru WAJIB BIKIN LAPORAN PAKAI KETIK MANUAL. 

Alasannya apa lagi kalau bukan untuk menghindari kopi paste? Mau coba copas pakai KERTAS KARBON? Secara teknis sih bisa, tapi kan kelihatan yaa… Sudah pasti akan langsung didiskualifikasi (hehe, macem lomba aja…).

Satu sisi bagus sih untuk memaksa mahasiswa/i benar-benar mengerjakan tugas. Walaupun menyalin, kalau pakai mesin ketik kan setidaknya tetap membaca lalu mengetik. Bukan sekadar sorot, kopi, lalu paste ala komputer yang bisa dilakukan tanpa membaca detailnya. 

Di sisi lain, ribet sih. Apalagi kalau sudah biasa pakai komputer. Duuuh, berasa banget tombol delete/backspace mesti diganti tip-ex, tombol enter diganti tuas putar, papan huruf mesti ditekan keras, dan lain-lain. 

Taktik taktik taktik tiiiiing… baru asik-asik ngetik, eh sudah sampai batas kanan aja wkwkkw. 

Gara-gara laporan dengan mesin ketik, kami suka jadi bahan ceng-cengan kampus lain. Bullying ringan lah wkwkkw. Pokoknya kalau ada  terdengar suara ketak-ketik khas mesin ketik dari sebuah kos-kosan, bisa diduga kalau ada anak faperta di dalamnya hehehe. 

Seingatku (bisa jadi salah), kami pakai mesin ketik hanya sampai semester tiga atau empat. Selanjutnya sudah bisa pakai komputer. Skripsi pun full komputer. Kok dulu nggak terpikir ya, bagaimana itu para sarjana di masa yang lebih doeloe bikin skripsi. Kalau ada koreksi di awal/tengah, terus kudu ketik ulang seluruhnya? Kan pasti berubah seluruhnya ya...

Waktu itu, aku sih nggak terlalu kesulitan sih. Sebab, aku sudah punya mesin ketik sejak zaman putih abu-abu. Mesin ketik merk Brother (hai…brooo) yang aku beli pakai beasiswa Supersemar (yohoooo…beasiswa legend banget ga sih ini..).

Sampai sekarang, mesin ketiknya masih ada di rumah emak. Mungkin masif berfungsi kalau dibelikan pita baru. Naaah lhoo…masih ada nggak nih pita mesin ketik di toko-toko? Jangan-jangan, kalau mau beli pita mesin ketik, penjaga tokonya juga nggak tahu.

Ketika aku membuat status tentang kertas karbon di FB, komentarnya agak rame. Maklum, FB kan didominasi kalangan middle up (dalam hal usia hehehe). Rentanh usia yang nggak merasa terlalu asing dengan mesin ketik. 

Coba post di lapak lain, mungkin banyak yang kayak adek-adek penjaga toko itu. Mungkin masih ngerti sih bentukan mesin ketik. Kan sekarang juga ada font ala mesin ketik. Terus mesin ketik juga sering jadi dekorasi di kafe/tempat wisata bergaya vintage. Tapi soal kertas karbon, bisa lain ceritanya.

Ada komen yg bilang kalau sampai sekarang masib ada tugas kuliah atau kerjaan notaris yang pakai mesin ketik. Hmmh…berarti memang belum benar-benar punah ya…

Kalau kalian bagaimana? 

Ada cerita dengan mesin ketik dan kertas karbon? Yuk share di kolom komentar.

Terima kasih sudah membaca. Have a good time.





38 komentar untuk "Nostalgia Kertas Karbon"

  1. Antara lucu melihat anak2 milenial dan terharu mengenang kisah2 mamak jaman skrg yg sempat merasakan mesin ketik. Mesin ketik kita samaan maak... 🤭 . Dlu wktu jaman SMU dipake buat ngetik tugas dan buat tulisan u.mading. smpe kuliah pun kami masih pake mesin ketik loh...

    BalasHapus
  2. sudah puluhan tahun rasanya tidak melihat kertas karbon....
    😁👍

    BalasHapus
    Balasan
    1. jd lihat kan pak tadi...meski cuma di gambar pengantar hehehe

      Hapus
  3. Wih .. kutak menyangka masih ada yang jual karbon. Kok bisa ya, apakah masih ada yang pakai? Btw, ada toko ATK besar di jalan Pettarani, Mbak Lis, dekat UNM. Mbak Lis tahu? .... Siapa tahu butuh, bisa ke sana ... murah2 harganya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. oh iya kadang lewat tp malah blm pernah masuk. Saya salah sebut sih ini, tokonya ga besar2 amat, menengah lah hehehe

      Hapus
  4. Saya tadi hampir lupa, Kak dengan bentuk kertas karbon ini seperti apa hihi. Memang sudah lama sekali tidak menggunakannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya kan mba nisa...sudah juarang orang pake oertas krbon

      Hapus
  5. Hitam Bun hati hati jari pada hitam kalau salah pakai kertas karbon. Untungnya mudah di cuci air sabun

    BalasHapus
    Balasan
    1. iye mpo.. harus hati2 pegang kertas karbon

      Hapus
  6. Huaaa, ceritanya unyu2 yg di ATK. Kalau yg jaga anak zaman now kayak gitu ya biasanya. Di toko ATK sini jg masi muda semua hanya ada 1 kasirnya yg udah tuwir alias nenek2 gitu. Heheu. Biasanya kalau nggak tau barang yg dimaksud langsung tanya si nenek.
    Oh iya tempat les anak aku masi pakai copyan kertas karbon mba..

    BalasHapus
  7. hahahaaaa, aku adaaa mba.
    jadi pas masih SMP, aku menang lomba nulis, hadiahnya naik.pesaat tempur TNI 😁 Ternyataaaa, pusiingg bgt boss, aku berasa mau muntah!

    di kantong kursi pswt ada benda warna hitam. Wahhnpasti tas kresek nihh. kuambil utk siap2 menampung muntahanku..dan trnyataaa itu kertas karbon!!! hitaaammm semua badan awaakk hahahaah

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya ampun mak..epic sekali pengalamanmuu... wis ditulis kah?

      Hapus
  8. Aku ngga merasakan mesin ketik, cuma pernah liat aja punya tetangga tapi ngga tau cara pakainya, heheu. tapi kayaknya kalau dipakai lagi mesin tik kayaknya seru juga, walau kadang aku takut salah pakenya, karena ga bisa didelete hehe

    BalasHapus
  9. Sang penjaga toko senior tahu kalau Mbak Lisda sangat butuh kertas karbon, makanya dijual mahal. Padahal harganya hanya Rp. 1000/lembar kalau beli di toko alat-alat jahit karena itu masih dipakai sampai sekarang bahkan saya kurang piawai menggunting/menjahit baju kalau kainnya belum dirader dan pakai kertas karbon.
    Kalau suatu saat Mbak Lisda butuh kertas karbon, datang saja ke Toko Harapan di Sentral Makassar, di sana kertas karbon tersedia aneka warna.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ah iya...saya kalau jahit ga pakai pola sih, jd ga pake kertas karbon bun hihihi

      Hapus
  10. terakhir ketemu kertas karbon... kapan ya. kayaknya pas dapet print an apa gitu yg dilapis kertas karbon. kalo terakhir pegang kertas karbon ya pastinya waktu sekolah jaman jiplak menjiplak :D

    BalasHapus
  11. Kertas karbon untuk ngetik, pakai mesin ketik merk Brother, dan beasiswa Supersemar, aah... semua juga saya alami.
    Fix deh, sepertinya kita satu angkatan ya, Mbak hihihi

    BalasHapus
  12. Aih baca ini kok jadi ingat jaman sekolah dulu.
    Terus aku jadi kepikiran juga buat ntar coba cari kertas karbon di toko peralatan tulis dekat rumah. Semoga masih bisa nemu juga

    BalasHapus
  13. Ya Allah inget banget jaman pas saya jadi sekre rohis. Ngetik dan fotokopinya di mushollah sekolah pakai kertas karbon. Sampe tangan kadang ikutan item.. Dan kita ga boleh banget salah ketik, soalnya kudu ganti kertas baru. Jadi boros.. Xixixi

    BalasHapus
  14. Membaca tulisan Mbak Lisdha ini, kertas carbon ikut membetot kenangan saya ke masa lalu. Waktu SMA saya ikut kursus mengetik 10 atau 11 jari ya, saya lupa. Nah waktu ada test, kami harus membuat surat dengan copy kertas karbon. Mengetik dengan mesin ketik apa lagi ada kertas carbon di bawah kan gak boleh salah banget ya. Jadi saya sambil mengetik sambil ketakutan agar tidak typo, karena menghapus ketikan dengan kertas karbon itu sungguh pekerjaan yang akan menjatuhkan nilai :)

    BalasHapus
  15. Ya hampir lupa pernah gunakan kertas ini buat ngetik pakai mesin tik manual kalau mau buat dia tangkap maka belakangnya dikasih kertas karbon hehe

    BalasHapus
  16. jadi inget banget sama kertas karbon ini, selalu kulihat di tumpukan pola jahitan ibuku

    BalasHapus
  17. aku jugaa waktu kuliah semester 1 ini tugas laporan disuruh pakai mesin ketik. hahaha. asli deh sama tetangga kos saingan bunyi mesin tik kalau malam-malam karena sama-sama ngerjain lapora

    BalasHapus
  18. Aku dulu sering lihat almarhum papaku ngetik pakai mesin tik
    Aku juga pernah nyobain ngetik pakai mesin tik
    Mengganti kertas karbonnya

    BalasHapus
  19. ih kayaknya aku mah pakai kertas karbon tuh pas kuliah deh, waktu test mengetik menggunakan mesin tik yang jadul itu

    BalasHapus
  20. Ya ampun kertas karbon, kayaknya aku sudah lama gak lihat deh. TErakhir tuh lihat kertas karbon kalau lagi belanja dan pakai nota ya, karena ada salinan yang menggunakan kertas karbon sebagai bantuannya.

    BalasHapus
  21. Kertas karboooon. Aku sudah lahir nih pas masa itu. Dulu di rumah ada mesin tik, sewaktu aku kecil. Tapi dulu aku nggak tahu fungsinya kertas karbon di mesin tik itu harus digimanain. Yang kuingat adalah, kakakku pernah mendemokan cara pakai kertas karbon untuk menjiplak gambar. Lalu aku "WOW!!!!" takjub sekali. Kakakku pintar banget, kataku dalam hati. Hahaha. Duh, aku jadi nostalgia juga, nih.

    BalasHapus
  22. Jadi terkenang kenang masa awal kuliah, lembur bikin laporan dg mesin ketik....seruu ya maak lisdhaaa

    BalasHapus
  23. Kita sepertinya segenerasi ya mom Lis walaupun beda usia. Zamanku seru deh dengan kertas karton. Nyetok banyak. Apalagi saat ngetik dengan manual, taro karton dibelakangnya, tembus, lumayan jelas

    BalasHapus
  24. Samaan kak aku juga dulu lagi jaman SD sering pakai kertas karbon buat jiplak gambar..hasilny bisa lebih bagus..

    Tapi disini di depok ternyata kertas karbon buat bungkus belimbing biar buahnya bersar dan warnanya kuning

    BalasHapus
  25. Sekarang uda zaman AI, ChatGPT, huhuh.. kertas folio aja keknya uda jarang yang make deh..
    Sungguh ajaib kalau ada guru zaman sekarang yang kasih tugas pake kertas karbon. Huhuhu.. gurunya uda sepuh kah?

    Tapi anak sekarang jadi tau makna, kalo salah.. kudu ngulang dengan penuh kesabaran yaa.. gak bisa delete, copas, enter.

    BalasHapus
  26. ah iyaaa pantesan kayak udah pernah baca ternyata di status FB ya. Berarti aku kalangan middel up, LOL...
    aku belajar mesin ketik waktu SMP meski udah ada komputer di sekolah. Di sana jadi terpaksa belajar mengetik 10 jari dan alhamdulillah terpakai sampai sekarang buat ngetik komen ini pun pakai 10 jari, tanpa lihat keyboard. hehe...

    BalasHapus
  27. Hahahahaha, bisa aku bayangin muka si adek penjaga toko. Ini mungkin sama pas aku ke kantor pos, dan minta kartu pos..si petugas yg masih muda ga tau apa itu kartu pos, untungnya ada penjual senior 🤣

    Aku cuma punya pengalaman Ama kertas karbon mba. Soalnya dulu sering dipake untuk copy gambar pas pelajaran kesenian.

    Tapj mesin tik aku ga ngalamin nih, walopun di zaman itu mesin tik masih kepake banget. Cuma memang aku ga ngerasain rasanya, makanya ga terbiasa juga Ama tuts nya. Pas aku SMP THN 97an papa udh bawa PC ke rumah tapi Taulah yg pentium 1 atau 2, mbuhlaah. Aku sendiri ga pake itu PC. Yg pake papa kok 😂. Cuma diajarin cara ngetik darj situ gimana. Itu aja.

    Makanya mesin tik aku samasekali buta zaman itu 😅

    BalasHapus
  28. Yaampun, kalau dipikir pikir, bener ya, anak muda mungkin gak tau kertas karbon karena gak ada kesempatan pakainya, ahaha. Aku juga pernah pakai kertas karbon, tapi lupa untuk apa, sepertinya yang jelas bukan untuk mesin tik.

    BalasHapus

Terima kasih atas kunjungannya. Mohon tidak meninggalkan link hidup dalam komentar ya :)