Mencicipi Sisi Danau Tempe

17 Oktober 2022

Danau Tempe. Nama danau ini ditulis dan dibaca persis seperti bahan makanan berbahan kedelai yang sangat populer di negeri ini. Siapa sih yang tidak tahu tempe? Kalaupun ada orang Indonesia yang tidak tahu tempe, mungkin hanya sedikit dari total populasi. Nah, bagaimana dengan Danau Tempe? Apakah juga sepopuler makanan tempe?

Mungkin tidak ya... Tidak dalam artian, jauh lebih banyak orang yang sudah pernah "ketemu" tempe, dibandingkan orang yang sudah pernah berkunjung ke Danau Tempe. Haha... absurd banget sih perbandingannya. Ya gimana, dengan wilayah yang begini luas, tidak semua orang Indonesia bisa mengunjungi Danau Tempe kan...

Pertama kali aku tahu nama Danau Tempe adalah dari pelajaran IPS di sekolah dasar. Saat itu, aku merasa lucu. Lha..nama danau kok tempe. Tidak terpikir kalau suatu hari bisa mampir di mari✨️✨️

Aku bisa kesana juga gara-gara BJ pindah penempatan kerja di Sulawesi Selatan. Sebagai #pejalannumpangpindahan, tiap ada kesempatan, BJ menyempatkan mengajak aku-Ale-Elo jalan-jalan. Mencicipi sisi Danau Tempe merupakan bagian dari  jalan-jalan dengan rute Makassar -  Maros -Pangkep - Barru - ParePare - Wajo - Soppeng - Maros - Makassar lagi.

Ini pengalaman keduaku keduaku melintasi daerah Wajo. Bukan jalan-jalan yang baru selesai sih. Aku cek detail foto untuk memastikan waktu perjalanan. Tertulis Oktober 2021. Wih...udah setahun aja, padahal seperti belum lama. Kalau membandingkan waktu, jadi agak kocak nih.  Dalam pembuatan tempe, fermentasi kedelai cuma butuh waktu satu sampai dua hari. Beda jauh dengan tulisan Danau Tempe ini,  yang butuh setahun untuk "fermentasi"😀😀😀. 

Sejarah dan Lokasi Danau Tempe

Danau Tempe merupakan salah satu danau purba di Indonesia. Menurut taksiran ilmiah, Danau Tempe sudah terbentuk sejak jutaan tahun yang lalu. Berbagai sumber menyatakan, danau tektonik ini terbentuk bersamaan dengan daratan Sulawesi di atas lempeng Asia dan Australia. Bisa bayangin gak sih, kondisi alam semesta jutaan tahun lalu itu kayak apa? Imajinasiku kok gak nyampe ya...😀😀

Secara administratif, Danau Tempe diapit tiga wilayah kabupaten yakni Wajo, Sidenreng Rappang (Sidrap), dan Soppeng. Dengan kecepatan normal, Makassar - Wajo butuh waktu sekitar enam jam perjalanan kendaraan darat. Selain untuk danau, Tempe juga merupakan nama sebuah kecamatan di Kabupaten Wajo. Bayangkan kamu membeli tempe di tepi Danau Tempe yang terletak di Kecamatan Tempe. Haha, jadi permainan kata yang unik ya...

Kalau lihat peta Sulsel, rute perjalanan kami ke Danau Tempe kurang lebih seperti di bawah ini. Danau Tempe berupa spot warna biru di dekat lokasi B (Sengkang).


Luas Danau Tempe kurang lebih 350 km persegi, menjadikannya sebagai danau terluas kedua di Sulsel setelah Danau Towuti di Luwu Timur. Sedangkan kedalaman Danau Tempe tercatat "hanya" 5 meter. Aku sematkan kata "hanya" karena di Sulsel terdapat Danau Matano yang merupakan danau terdalam di Indonesia (590 meter). Aku belum pernah nih ke Matano...mudah-mudahan suatu hari sempat kesana.

Danau Tempe merupakan muara dari 23 jalur sungai. Konon, di masa lalu Danau Tempe merupakan salah satu jalur perdagangan yang cukup penting.  Ada kapal-kapal besar yang berlayar hingga ke sana. Hal ini diketahui dari peninggalan jangkar besar yang ditemukan di dasar Danau Tempe. Kini, jangkar tersebut dipajang di depan Museum Saoraja Mallangga. Kami sempat mampir ke museumnya, sayangnya sedang tutup. Jadi aku cuma foto Ale-Elo di depan museum.

 

Menurut berbagai artikel di internet, ada berbagai daya tarik wisata di Danau Tempe, seperti rumah apung, festival budaya, pemandangan danau, pemandangan aktifitas nelayan, dan sewa perahu ketinting. Sayangnya, waktu kami terbatas. Jadi ya itu tadi, kami hanya sekadar mencicip. Terlebih, sebenarnya kami tak secara sengaja berkunjung ke Danau Tempe. Soalnya, waktu itu kami sudah melihat sebagian sisi danau dari dalam mobil. Terus, tadinya mau "sudah aja", nggak niat mampir gitu.

Kami lebih fokus untuk hunting peternakan ulat sutera. Waktu itu, Ale-Elo kan masih homeschooling, jadi maunya aku ajak trip tipis-tipis ke peternakan ulat sutera. Nah,  ibukota Wajo, yakni  Sengkang terkenal sebagai sentra kerajinan sutera (meski faktanya kerajinan sutera tidak hanya terpusat di Kota Sengkang). Jadi, aku berasumsi, di daerah ini pasti juga banyak peternak ulat sutera. 

Kami mencari informasi ke beberapa teman yang merupakan warga lokal. Menurut mereka, peternak ulat sutera sudah sangat jarang. Sekarang, para pengrajin banyak menggunakan serat sutera sintetis dari China. Benar-tidaknya informasi ini wallahualam ya... soalnya yang kasih keterangan bukan pengrajin.

Namun, kami tak cepat patah arang. Hari itu, kami sempatkan menyusur Desa Pakkana, Kecamatan Sitolo yang merupakan salah satu sentra kerajinan sutera. Siapa tahu ketemu peternak ulat sutera di sana.

Jadi ya....sisi yang kami datangi bukanlah spot Danau Tempe yang perlu tiket masuk dan ada fasilitas wisata. Sebagai sentra sutera, di desa ini malah ada beberapa toko kerajinan sutera. Di beberapa titik terlihat plang desa wisata yang disponsori sebuah bank BUMN. Berhubung tak ada niat beli sutera, kami tak masuk ke toko. Masih keukeuh fokus cari peternak ulat sutera. Upaya yang nihil. 

Entah memang tak ada, atau pencarian kami kurang maksimal. Yang jelas, kami tak menemukan warga yang beternak ulat sutera. Eh, malah ketemu sisi Danau Tempe di tepi desa. Semacam blessing in disguise dari kegagalan kami menemukan tempat ternak ulat sutera.

BJ memarkir kendaraan di dekat sebuah rumah panggung. Kami lanjut menyusur jalan beton ke arah tepi danau. Kanan-kiri jalan beton diapit air dari danau. Ada beberapa perahu kecil tertambat di sana. 

Jalan beton mentok ke sebuah bangunan panggung terbuka dari kayu. Bukan rumah, mungkin semacam tempat persinggahan? Entahlah... Siang itu suasananya sepi. Hanya seorang pemancing ikan yang kami lihat dan sempat kami sapa. Dia bilang, kalau hujan lebat dan lama, air bisa merendam jalan beton. Hmmh...bersyukur kami datang ketika cuaca cerah.

Cuaca yang mendukung untuk photo-shoot ala keluarga BJ. Walau nggak banyak juga sih foto yang kami ambil. Tentang panorama yang kutangkap saat itu, mending nggak usah dideskripsikan dengan kata-kata deh. Bisa teman_DW lihat dari foto di bawah ini : 


Mungkin karena bukan titik tempat wisata-nya, jadi yang kami lihat bukan spot terbaik. Namun, teknologi kamera handphone plus kejelian BJ mencari angle menghasilkan gambar-gambar yang jadi kenangan indah. Birunya itu lhooo... Biru cerah gini sih nggak cucok buat idiom I am feeling blue  yang sering dipakai untuk menggambarkan suasana galau atau tak nyaman. Ya nggak? Hehehe

Nama Danau Tempe

Setiap tempat pasti punya cerita. Nah, bagiku, hal yang paling mengusik rasa penasaran adalah tentang nama danau itu. Mengapa sih namanya Danau Tempe? Apakah ada hubungannya dengan tempe?

Ada teman_DW yang punya rasa penasaran serupa?

Baca :

Berhubung aku tidak punya narasumber untuk kutanyai, jadi aku mencari jawaban menggunakan Google. Aku mendapatkan satu versi sejarah nama Danau Tempe di laman porosnusantara.co.id. Di sana disebutkan,  pada abad ke-8 hingga abad ke-14, daerah seputar Danau Tempe merupakan penghasil kacang merah (red beans) berukuran besar.  Dalam bahasa Bugis kuno, kacang merah disebut CEMPE. Berjalannya waktu, sebutan cempe berubah menjadi tempe.

Dari cempe menjadi tempe... apakah aneh? Bisa saja kita pikir demikian. Namun, bahasa memang elastis. Bisa berubah bentuk seiring perkembangan waktu. Banyak lho kata-kata di masa sekarang yang sudah jauh berubah dari kata aslinya.

Begitulah cerita singkat dari blog_DW tentang Danau Tempe. Ada yang jadi pengen mbolang ke Danau Tempe?

------------------------------------------------------------------------

Referensi :

https://kelloggsnyc.com/danau-tempe/
https://porosnusantara.co.id/2019/10/sejarah-penamaaan-danau-tempe-di-kabupaten-wajo/










44 komentar

  1. Yahhh ssmoga kapan2 bisa sua peternak ulat sutera...pasti seruuuu bgt lihat prosesnya ye kan

    Btw, bener dah mbaaa, birunya baguussss bgt. Eikeh sukaaaa langit cem gt, pertanda minim.polusi yakkk (?)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tq maak..iya nih masik penasaran sama ulat sutranya :D

      Hapus
  2. Langit biru dan awan putih yang mempercantik foto mbak bersama keluarga di Danau Tempe ini istimewa sekali :) Aku sih belum ngeh ternyata ada ya danau diberi nama seperti makanan kita hehehe :D Peternak ulat sutra sudah jarang di sana ya. Padahal kalau ketemu, seru juga ya bisa lihat langsung proses pembuatannya. Sepi di danau ini, kayaknya banyak yang belum mengenalinya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dulu aku sudah pernah lihat budidaya ulat sutera (tapi kecil) di bandung. Lucuk..makanya pengin lihatin ke anak2.

      Hapus
  3. Dulu saat pertama kali denger nama danau ini imajinasiku mengatakan di dalamnya banyak tempe, pas udah tahu oh ternyata karena ini namanya gitu. Indah banget danaunya bisa jadi healing terbaik ini mah, terima kasih sharingnya!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Namanya mmg memancing imajinasi sputar tempe ya mb nisa hehehe

      Hapus
  4. ini dekat Sengkang ya mba.. aku punya tenun dan sarung dari Sengkang, jadi inget saat baca tntang Danau Tempe ini. bagus tempatnya mbaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyup mb indah. Benerr bgt. Sisi yg ini pun letaknya di salah satu desa sentra sutera Sengkang

      Hapus
  5. Bukan spot destinasi tapi karena teknologi HP dan kejelian fotografer dah keren begini. Aku baru ngeh sejarah danau tempe, dari Cempe ke Tempe hm, nyambung juga sih
    Ku suka kalau mencicipi dari berbagai sisi tempat begini, aku dan suami sering cari spot yang bukan daerah wisata dan beneran jadi blessing in disguise

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo spot wisata-nya malah kadang mainstream banget ya mbak..Nampak uda dipoles2 gitu ^_^

      Hapus
  6. Aku kayaknya pernah ke Danau Tempe - waktu itu masih tinggal di Kaltara jadi ke mana mana kan harus naik kapal ya, waktu itu naiknya KM apa ya lupa (yang jelas bukan Tampomas) jadi seru sih, bisa jalan jalan sana sini sensasional

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waah senengnya ngapal dr kaltara (bukan kalut ya makneng hehehe) ke sulawesi. Pengen euy..

      Hapus
  7. Bagus fotonyaaaa mbaa. Danau Tempe, jujur aku lupa pernah belajar nama2 danau . Cempeee yaa. Trus jadi tempe.
    Ku kira karena banyak tempe di sana 😆
    Seru bgt mba dapat pengalaman gini.. udaranya jg pasti masi fresh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mak Ucig, kalo zamanku SD ngetop banget buku RPUL. Nah Danau Tempe ada di dalamnya hahaha

      Hapus
  8. Aaaah suka banget dengan tulisannya Mbak. Runut. Aku salah satu orang yang penasaran dengan Danau Tempe ini. Iya betul samaan kita dulu waktu SD juga saya pertama mengenal nama danau ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih mb Lina. Nama yg sama dg nama makanan mmg bikin gampang diinget meski mungkin lupa letaknya ya..

      Hapus
  9. Danau Tempe ini mengingatkanku akan danau di Surabaya yang kemudian menjadi tempat wisata air. Selain pemandangan danau, apakah ada tempat kuliner dan tempat membeli oleh-oleh di sekitar Danau Tempe?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau di spot wisatanya mgkin ada. Kalu di tempat yg kami kunjungi sih enggak hehehe..etapi di desanya ada toko sutera sih

      Hapus
  10. Baru tahu ada danau tempe. Indah bgt tempatnya. Nanti kapan ke sana, molly juga mau berjalan2 ke sini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mudah2an Danau Tempe ramah difabel ya Molly..aku ga tau soal ini di spot wisata Danau Tempe

      Hapus
  11. Aku juga baru tahu donk ada danau Tempe ini, dari membaca postingan ini pastinya. Hahaha... gimana ceritanya tu dari cempe jadi tempe. Apa awalnya orang nyebut dengan lidah cadel gitu kali ya, jadi pensaran di bagian ini deh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin berevolusinya juga pelan2 kali ya mbak hehehe

      Hapus
  12. Baru tau nama Danaunya mbk, Danau Tempe. Memang gitu ya, unik sekali dari Cempe jadinya Tempe.
    Indah sekali danaunyq

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banyak kata berubah dr awalnya, termasuk cempe ke tempe ini

      Hapus
  13. Ya ampun aku baru tau mbak ada danau tempe, tapi viewnya kerena banget, kadang aku pengen ajak anak-anak ke tempat yang pemandangannya seperti ini, tapi belum jadi terus, makasih sharingnya mbak, aku jadi berasa ikut jalan2.

    BalasHapus
  14. Aku sudah sering dengar nama danau tempe ini mbak
    Tapi baru kali ini lihat keindahannya
    Danau tempe bisa jadi tempat wisata andalan ya mbak

    BalasHapus
  15. Dulu waktu SD aku pun penasaran mba kok ada danau namanya Tempe gitu. aaahh ternyata dari kata Cempe gitu... Dulu mikirnya di danau itu banyak orang jualan tempe hehehee...
    Semoga ada rejeki bisa jalan2 ke Sulawesi bareng keluarga, bisa sampai ke Danau Tempe ini juga. Jauh yaaa dari Makasar rupanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku aminkan semoganya Mb Uniik..iya nih, mayan jauh dr MKS

      Hapus
  16. Aku kyknya udah dengar obyke wisata ini sejak zaman kecil, dari Bobo apa yaaa heheh.
    Owalah ternyata begitu asal mula kata tempe, bukan dari kedelai tapi kacang merah :D
    Menarik sekali obyek wisatanya ya, masih sangat asri.
    Wah ntr kira2 balik buat nemiun peternakan ulat sutranya gak? :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mudah2an ketemu mak..soalnya lucu deh ulat suteta itu. Meski kasian juga karena diambil seratnya

      Hapus
  17. Waktu tinggal di Makassar, belum sempat ke Danau Tempe ternyata indah banget ya mana langitnya biru banget Masya Allah cantiknya...ada sisi lainnya ya yang perlu tiket masuk dan jadi tempat wisata

    BalasHapus
  18. Hadeuhhh, saya 20an tahun tinggal di Makassar, malah gak ke mana-mana. Kayaknya ke Bantimurung doang deh, eh ke Jeneponto juga. Gak lebih jauh dari itu sepertinya. Belum pernah ke Danau Tempe juga..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ke jeneponto dan maros (bantimurung) termasuk ke mana2 dong kak andy

      Hapus
  19. Meskipun enggak menemukan ulat sutera, tetap asyik moment jalan2nya ya, Mak. Kebersamaannyaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyes mak..malah itu sih point utamanya. Kebersamaan

      Hapus
  20. Dari cempe jadi tempe 😁. Okelaaah bisa diterima, masih agak mirip 😄.

    Dari foto nya ya mba, aku langsung ingat pinggiran danau lut tawar di Takengon ❤️. Selalu suka Ama danau. Krn sejuk biasanya. At least beberapa danau yg aku pernah visit, hawanya sejuk semua.

    Dangkal juga yaaa 5 meter kedalaman. Dan aku baru tau danau terdalam di Indonesia danau Matani. Merinding kalo ngebayangin sedalam apa itu. Jadi ingat danau Toba yg waktu ada kecelakaan kapal, dan tidak bisa ditarik ke atas Krn kedalaman 400 meter sangat bahaya. Apalagi 500 lebih 😣

    Eh btw, berarti telaga sarangan di Magetan salah kali yaaa klaim kedalaman, Krn di pinggir danaunya di tulis kedalaman 1400 meter 😂😅. Jangan2 itu ketinggian lokasi di atas laut 🤣

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di inet ada debat netizen ttg danau paling dalam, antara Toba dan Matano kan Mba.. Tapi banyak referensi bilang Matano sih. Wah..ada di Sarangan tulisan itu? Aku uda luamaaa banget ke Sarangan. Ga inget lagi gimana pemandngannya hahah. Bisa jd emag ditulis mdpl biar tampak bombastis. Kayak puncak Lolai yg ditulis 5000mdpl tp dalam satuan kaki/feet hehehe

      Hapus
  21. Aku pikir danau tempe punya kisah sejarah tentang tempe di sekitar situ. Indah banget ya mb, sekitar danau cuaca begitu memanjakan mata, dan udara juga pasti masih sangat segar

    BalasHapus
  22. Waah aku dengar Danau Tempe juga pas pelajaran SD. Ternyata sekarang lihat foto aslinya. By the way foto langit birunya cakeeeep.

    BalasHapus
  23. Wah seru sekali mba ceritanya. Aku baru tau lho Danau Tempe.. jadi penasaran juga kesana

    BalasHapus
  24. Saya sudah pernah ke sana pas masih manten baru
    Ke Danau Tempe itu reward dari panitia di Wajo karena saya sudah sharing soal blog di salah satu sekolah SMA di sana
    Senang tapi degdegan karena perahunya kecil, haha

    BalasHapus
  25. Kalau makan tempe, udah sering sih. Nah ke Danau Tempe ini yang belum pernah. Semoga suatu hari nanti ada kesempatan untuk liburan ke Sulawesi Selatan dan berkunjung ke danau ini :))

    BalasHapus

Terima kasih atas kunjungannya. Mohon tidak meninggalkan link hidup dalam komentar ya :)