Sedikit Kubaca tentang Arung Palakka

21 Oktober 2022



Sebelumnya, nama Arung Palakka hanya menempati titik teramat kecil dalam ingatanku. Aku tahu nama itu dari pelajaran sejarah. Namun, aku sekadar tahu nama, tak lebih. Sedikitpun tak ada memoriku tentang kisah hidup Arung Palakka dalam lintasan sejarah Nusantara.

Arung Palakka, tokoh penting dari Bone, Sulawesi Selatan di abad 16. Aku baru terpantik untuk membaca tentangnya setelah dua kali perjalanan melewati Bone. Btw, Bone adalah daerah kelahiran Jusuf Kalla. Tahu dong siapa beliau...

Bandara Arung Palakka

Lewat kali pertama adalah pada Juni 2021, yakni ketika BJ mengajak aku dan duo Al-El ke Tanjung Bira dengan rute memutar. Rute normal dari Makassar adalah mengarah ke timur dengan menyusur daerah-daerah di pesisir selatan. Namun, BJ lebih dulu memutar ke utara karena ada urusan pekerjaan. Sebagai #pejalannumpangpindahan, sebisa-bisa manfaatkan kesempatanπŸ˜€


Baca : 

Perjalanan yang lebih jauh, tentu saja. Tapi kami jalani dengan santuy. Start dari Makassar, menginap satu malam di Kota Sengkang, Kabupaten Wajo, baru melintas Bone dan Sinjai menuju Tanjung Bira di Bulukumba. Dalam perjalanan ini, kami sempat mampir ke Bandara Arung Palakka yang berlokasi di Desa Mappalo Ulaweng, Kecamatan Awangpone. Bandara kecil ini berjarak sekitar 10 km dari Kota Watampone.

Kami belok ke bandara, meninggalkan jalan utama gara-gara melihat papan penunjuk arah. Waktu itu, jalur bandara menuju Bandara Arung Palakka belum mulus. Di beberapa bagian jalan, masih ada aspal rusak. Entah kalau sekarang sudah diperbaiki dan dilebarkan. Logikanya, jalan menuju bandara, pasti mendapat prioritas pembangunan/perbaikan.



Kami tak punya kepentingan apapun selain melihat-lihat bandara. Kami berempat belum pernah main ke bandara perintis. Masuk gerbang bandara, kami minta izin pada petugas yang berjaga. Petugas mengizinkan dengan batas kunjungan ke halaman bandara saja, tak boleh masuk area landas pesawat. Peraturan umum sih…. Jadi, kami cuma foto-foto (harus banget ini hihihi) dan ngobrol-ngobrol sama petugas.

Bandara perintis, tentu jauh dari stereotipe bandara yang megah. Tak terlalu banyak bangunan. Di kanan kiri masih terlihat area persawahan. Waktu itu, tak ada satu pun pesawat terlihat di landasan (memang belum digunakan untuk perjalanan komersial). Petugas mengatakan, bandara Arung Palakka masih dalam pengembangan. 

Monumen Arung Palakka


Perjalanan melewati Bone kali kedua juga menginap di Sengkang. Tak lagi untuk main pantai di Tanjung Bira, tetapi kami sempat mampir di satu sisi Danau Tempe. Danau yang namanya pertama kali aku baca dalam pelajaran sekolah dasar. Danau Tempe...apakah ada hubungannya dengan fermentasi kedelai? Ada jawabannya di SINI.

Dari Bone, kami tak lagi lewat jalur ke arah bandara. Sebab kami langsung kembali ke Makassar dengan memotong arah ke Maros, melewati Taman Kupu-Kupu Bantimurung yang dulu pernah kami kunjungi.



Kota Bone kembali mengingatkan tentang Arung Palakka. Tepatnya ketika kami melintasi patung Arung Palakka yang berdiri kokoh di pinggir jalan. Kami tak berhenti di sana. Bahkan foto pun aku ambil sembari kendaraan melaju pelan. Google menambahkan informasi, bahwa patung Arung Palakka juga berdiri di Kota Buton.

Kisah Arung Palakka

Hmmh..seberapa besar nama Arung Palakka? Sehingga ia sampai dikenang dalam monumen patung dan nama bandara.

Kemudian kubaca tentang dia. Baru kutahu tentang "status" Arung Palakka yang "rumit". Bagi orang Bone, Arung Palakka adalah pahlawan. Namun, dalam konteks penjajahan kolonial, Arung Palakka justru dicap sebagai pengkhianat. Penyebabnya, karena ia bekerja sama dengan Belanda (VOC) untuk mengalahkan Kerajaan Gowa.

Arung Palakka di antara Gelar Pahlawan dan Pengkhianat

Demikan judul artikel yang diangkat oleh laman tirto.id. Arung Palakka (juga ditulis sebagai Aru Palakka) lahir pada 15 September 1634, masa ketika Nusantara masih berbentuk kerajaan-kerajaan. Ada kerajaan-kerajaan yang saling bekerja-sama, ada juga kerajaan yang saling berperang.

Arung Palakka merupakan putra mahkota Raja Bone ke-13, yakni La Maddaremmeng Matinro’e Ri Bukaka. Arung Palakka lahir dalam suasana konflik antara Kerajaan Bone (suku Bugis) dengan Kerajaan Gowa (suku Makassar). Saat itu, Kerajaan Bone sudah takluk pada Kerajaan Gowa, tetapi kedudukan raja Bone masih diakui. 

Namun, ketika Arung Palakka berusia 10 tahun, Kerajaan Bone benar-benar takluk pada Kerajaan Gowa. Kedudukan raja tidak diakui lagi. Bahkan, keluarga raja Bone menjadi tawanan dan diangkut ke Gowa. Hal serupa juga dialami rakyat Bone. Lebih miris lagi, mereka ditawan, diangkut ke Gowa, dan dijadikan pekerja paksa yang hidup dalam kesengsaraan.

Sebagai bangsawan, Arung Palakka dan keluarganya bernasib "lebih baik." Mereka dijadikan pelayan di kediaman Perdana Menteri Kerajaan Gowa, Karaeng Pattinggaloang. Meski diperlakukan dengan baik, Arung Palakka tetap merasakan pedihnya hidup tanpa kebebasan. Harga dirinya juga terluka akibat penaklukan oleh Kerajaan Gowa.

Darah Bugis yang mengalir tubuh dalam Arung Palakka mendorongnya untuk memulihkan siri’ (harga diri/rasa malu) dan pacce (rasa pedih/solidaritas atas penderitaan saudaranya). Di bawah kekuasaan Kerajaan Gowa, ia menyimpan tekad untuk mengembalikan kedaulatan Kerajaan Bone.

Hingga suatu hari, Arung Palakka bisa memberontak pada Kerajaan Gowa yang saat itu dipimpin Sultan Hasanuddin. Ia memimpin kawanan pemberontak bersama Tobala, yakni pejabat Bugis yang ditunjuk Kerajaan Gowa untuk memimpin Bone. Namun, pemberontakan itu berhasil diredam oleh Gowa. Arung Palakka berhasil melarikan diri ke Kesultanan Buton.

Pada tahun 1660 (saat berusia 26 tahun), Arung Palakka kembali menyerang Gowa. Ia membentuk pasukan dengan bantuan eks-petinggi Kerajaan Bone yang masih setia. Dalam serangan tersebut, pasukan Arung Palakka berhasil membebaskan orang-orang Bone yang menjadi pekerja paksa di Gowa. Namun, keberhasilan itu masih jauh dari cita-cita untuk mengembalikan kedaulatan Kerajaan Bone. Bahkan, Tobala tewas dalam peperangan tersebut.

Paska kejadian itu, Arung Palakka dan para pengikutnya bergabung dengan VOC. Mereka berlayar ke Batavia untuk lari dari kejaran pasukan Gowa sekaligus membuktikan niatnya untuk bergabung dengan VOC. Kedatangan Arung Palakka dan pasukannya menjadi asal-usul Kampung Bugis di Jakarta Utara.

Arung Palakka memilih untuk bekerja sama dengan pihak yang dipandang bisa membantunya mengalahkan Kerajaan Gowa. Bersama Cornelis Speelman yang berasal dari Belanda, serta Joncker Jouwa de Manipa (Kapiten Jonker) dari Maluku, Arung Palakka mencatatkan peran penting dalam keberhasilan VOC menaklukkan berbagai daerah di Nusantara. Salah satunya kiprah Arung Palakka bersama VOC adalah menundukkan perlawanan rakyat Minangkabau.

Setelah tiga tahun membantu VOC, Arung Palakka kembali ke Sulawesi untuk meruntuhkan kekuasaan Gowa. Pada tahun 1666, armada Arung Palakka dan VOC berlayar dari Batavia ke ke Celebes.

Arung Palakka memiliki kepentingan untuk merebut kembali kedaulatan Kerajaan Bone. Sementara VOC punya tujuan untuk memonopoli perdagangan di wilayah timur. Pertempuran akbar selama dua tahun itu berakhir dengan kekalahan Kerajaan Gowa. Kemenangan ini Arung Palakka dan VOC ditandai dengan Perjanjian Bongaya yang menjadi titik balik keruntuhan Kerajaan Gowa.

Dengan bantuan VOC, Arung Palakka berhasil membebaskan Kerajaan Bone dari kekuasaan Kerajaan Gowa. Ia dinobatkan sebagai Sultan Bone pada tahun 1672. Dalam kepemimpinannya, Kerajaan Bone kembali berdaulat dan berjaya. Raja yang disegani ini mangkat pada tahun 1696 dan dimakamkan di Gowa.

***

Bagi orang Sulawesi atau penggemar sejarah, Arung Palakka mungkin adalah adalah kisah yang sudah dihafal di luar kepala. Namun, buatku yang dulu suka jemu saat pelajaran Pendidikan Sejarah dan Perjuangan Bangsa (πŸ˜€πŸ˜€~penanda umur), cerita ini terasa baru.

Perjalanan Nusantara telah mengubah dan menyatukan Gowa dan Bone dalam bingkai kesepakatan politis bernama Indonesia. Sebutan pahlawan nasional di masa kini adalah bagi mereka yang berjuang melawan penguasa kolonial. Meski perjuangan itu bisa jadi dilatari alasan pribadi/golongan (toh, Indonesia memang belum ada). 

Aku bersyukur untuk kesempatan melewati Bone. Perjalanan singkat yang memantik keinginan untuk membaca Arung Palakka. Walau bukan bacaan yang mendalam, tetapi bisa kutangkap sekeping cerita dalam perjalanan bangsa. Di sini, aku kemudian bercerita. (DW)



























27 komentar

  1. Langitnya aja masyaallah, bagus banget pemandangannya apalagi di monumen Arung Palakka. Baru tahu tentang kisah Arung Palakka selama ini jarang terdengar para pahlawan seperti ini. Sampai merasa asing sama patung pahlawan yang dijadikan monumen. Terima kasih informasinya!

    BalasHapus
  2. Mbaaaaa, aku jadi paham cerita arung Palakka ini. Jujur aja sempet denger namanya juga, tapi blaaaas lupa dia siapa. Kayaknya pas belajar sejarah ttg kerajaan Gowa dan Bone ga terlalu detil dijelaskan.

    Naaah jadi ambigu Yaa UTK menyatakan dia pahlawan atau pengkhianat 😁. Harus diliat dari sisi berbeda. Dan baru tau kalo kampung Bugis di JKT asal usulnya dari keturunan arung Palakka ini.

    BalasHapus
  3. Makasih cerita yang menarik hati dan menambah wawasan

    BalasHapus
  4. Hi bu Lisdha
    Wah seru sekali yaa jalan-jalannya..
    aku jadi ikutan jalan2 virtual nih sambil baca sejarahnya..

    Semangat terus nulis blognya buuu

    BalasHapus
  5. Saya pun pernah dengar nama Arung Palakka, tapi nggak tahu juga gimana sejarahnya. Alhamdulillah, membaca artikel di sini jadi tahu, jadi memang Rumit ya, di satu sisi dia adalah pahlawan bagi masyarakat Bone, tapi pengkhianat bagi kerajaan Gowa

    BalasHapus
  6. Aku malah baru tauu kisah Arung Palakka ini. Duh jadi bingung ya, antara Pahlawan atau Pengkhianat, ahaha.
    Walau begitu, akhirnya tetap bersatu untuk menjadikan Nusantara terwujud πŸ‘πŸ»

    BalasHapus
  7. Saya baru tau tentang kisah Arung Palakka. Memang terkadang segala sesuatu gak bisa dilihat secara hitam putih, ya. Contohnya Arung Palakka ini. Bisa jadi dianggap pahlawan, tetapi di sisi lain sebagai pengkhianat. Tergantung dari sudut pandang mana melihatnya

    BalasHapus
  8. Aku baru tahu Arung Palakka. Mungkin karena lahir dan tinggal di Jawa. Jadi pembahasan sejarahnya beda, pilih yang Jawa dulu

    Btw, agak peluk ya kisah Arung Palakka ini. Dia sebenarnya ingin memperjuangkan kerajaan Bone, tapi karena kerja sama dengan VOC, dianggap pengkhianat deh

    BalasHapus
  9. Cuma pernah denger Bandara Arung Palakka. Tapi ngga tau sejarahnya ternyata sedalam ini. Nambah wawasan banget mba, meskipun mungkin banyak yang masih bingung antara gelar pahlawan atau pengkhianat.

    BalasHapus
  10. Sering denger tentang Arung Palakka ini. Ya tahunya memang sebatas nama bandara. Ternyata ada kisah di baliknya ya. Aku juga kudunya kayak gitu. Lewat, atau pernah singgah, jadinya penasaran dengan sejarah di balik suatu tempat atau nama. Sejauh ini tahunya sebatas sejarah di Jawa Barat aja. Payah nih. Huhu dulu emang gak terlalu suka sejarah. Sekarang ini baru suka, karena ternyata menarik ya sejarah itu.

    BalasHapus
  11. Aku sangat menikmati artikel ini, Mbak. Jadi nambah pengetahuan. Aku mulai mencari tahu tentang Gowa ini saat pandemi. Masih ingat beritanya, kan? Semoga suatu saat aku bisa sampai Bone juga, ya.

    BalasHapus
  12. Aku baru tahu tentang kisah Arung Palakka dari postingan ini lho, makasih banyak atas share-nya yag mbak. Ternyata banyak yang masih ambigu akan gelar pahlawan yang diberikan yah, emang katanya sejarah tuh selalu ada dua sisi yang berbeda dan kita harus bijak menyikapinya yaaah. Asyik sekali jalan2nya nih mbaaak

    BalasHapus
  13. wah begitu ya ternyata cerita tentang Arung Palakka ini. aku kayaknya baru dengar nih kisahnya tapi pernah dengar tentang perjanjian Bongaya itu waktu pelajaran sejarah dulu

    BalasHapus
  14. Yashh senangnyaaaaa klo BW ke Mak Lisdha.
    Dapat pengetahuan baruuuu
    Soal sejarah yg banyak POV nya.
    Tingkyuuuuu πŸ‘πŸ˜

    BalasHapus
  15. Baru tahu kisah lengkapnya Arung Palakka nih. Pernah muncul sih dalam materi Sejarah. Tapi ya gitu, umur tak bisa bohong. Jangankan kisah Arru Palakka yg nan jauh di sana. Sejarahnya Kerajaan Majapahit saya pun udah lupa.

    BalasHapus
  16. Baca pertama lansung teringat Pantai Bira yang indah sekali. Aku ngeh pantai itu karna liputan teman. Untuk kisah Arru Palakka ini jujur baru tau. Semoga semangatnya masih tetap terjaga

    BalasHapus
  17. Aku baru tahu tentang Arru Palakka. Aku juga baru tahu kalau dijadikan nama Bandara. BTW Arru Palaka ini berasa dua sisi maya pedang. Satu sisi disanjung oleh rakyat Bone. Disatu sisi dianggap penghianat oleh rakyat Gowa. Lah bagaimana lagi. Dia nyerang Kerajaan Gowa dengan dibantu VOC

    BalasHapus
  18. Kisah seperti Aru Palaka ini sangat saya sukai. Penyampaian yang mengalir bikin saya mudah memahami dan langsung mengerti jalan ceritanya. Terimakasih saya jadi tahu sejarah bagaimana ia dianggap pahlawan sekaligus pengkhianat

    BalasHapus
  19. Sampai sekarang apakah ada rasa 'berbeda' antara orang keturunan Bugis dengan Makassar, Mbak? Semoga aja enggak yaa.. persatuan Indonesia tetap di atas segalanya.
    Aku tuh suka dengan kisah mengandung sejarah gini. Coba dulu pas pelajaran Sejarah gurunya menggunakan metode yang menarik, pasti akan nyimak sepenuh hati.

    BalasHapus
  20. Nama Arung Palakka ini gak asing buatku, cuma aku lupa2 ingat detailnya tentang sosoknya huhu. Wuah ternyata sempat kerjasmaa dengan VOC demi mempersatukan kembali kedua kerajaan yaa. Aku kok jd ssamar2 inget baca di RPUL apa yaaa, "kitab suci" anak sekolahan pada zamannya hehe.
    Ternyata namanya diabadikan sebagai nama bandara ya mbak. TFS pengetahuannya.

    BalasHapus
  21. Pas banget sama pelajaran sejarah anakku pas kelas 5 SD, kak Lis.
    Rasanya zaman dulu menghapal timeline serta nama-nama yang rumit tuh begitu sulit.
    Sekarang alhamdulillah, setelah gak ada beban akademik, jadi terasa lebih membekas ketika bermain dan menelusuri jejak sejarah Arung Palakka dari Bone.

    BalasHapus
  22. Sejarah yang selalu diceritakan kakek rahimahullah semasa hidupnya. Sayangnya waktu itu aku cuma mendengar tapi tidak meresapi akhirnya lupa dan sekarang teringat kembali cerita kakek

    BalasHapus
  23. Seruu maklis perjalanannya...wisata sejarah yaa ini, anak2 traveling sekaligus belajar sejarah mumpung stay di makasar explore dituntasin mak.

    BalasHapus
  24. Saya baru tahu tentang Arung Palaka ini. Ingetnya sih cuman Sultan Hasanuddin aja. Ternyata sosok Arung Palaka ini bisa dibilang pahlawan tapi dia juga membantu VOC meruntuhkan Gowa.

    BalasHapus
  25. Aku termasuk pecinta sejarah nih mb. Seneng banget bisa dapat ilmu tentang sejarah Arung Palakka di blog ini. Nambah wawasan dan juga ilmu baru buat aku

    BalasHapus
  26. Ending hubungan Arung Palakka dengan VOC apakah tetap bekerja sama? Jadi VOC menguasai perdagangan di Indonesia Timur dg bantuan Arung Palakka gitu kah?

    BalasHapus
  27. Oh iya kalo arung palakka kaya belom pernah denger, aku malah lebih familiar dengan aru palakka.. ternyata punya kisah pahlawan dan pengkhianat ya maaak.. menarik banget niiih

    BalasHapus

Terima kasih atas kunjungannya. Mohon tidak meninggalkan link hidup dalam komentar ya :)