Pura-Pura Bahagia

14 Oktober 2022

Karena (kalau tua) sudah pura-pura capek to Oma... (Beda dengan) kita yang masih muda, masih punya banyak energi untuk pura-pura. Pura-pura bahagia, pura-pura ndak kesepian, pura-pura hidup baik-baik saja. Tapi...padahal Oma...aduuuuh...

Alinea di atas adalah petikan dialog antara Ningsih (tokoh pembantu diperankan Michelle Ziudith) dengan Oma (peran majikan oleh Ninik L Karim) di film Calon Bini (2019). Beberapa hari lalu, aku memang sempat sekilas nonton ini. Tepatnya ikut nonton pakmisua, BJ, yang lagi gabut sehingga random ngeklik judul film. Setelah beberapa adegan, jadi inget, rasa-rasanya pernah nonton. Ternyata memang pernah, jadi aku nggak nonton yang duduk diam menyimak gitu. Tapi sambil wira-wiri mengerjakan ini itu.

Toh, itu film ringan yang nggak butuh keseriusan untuk mencernanya. Cerita ala-ala Cinderella zaman now, yakni pembantu cantik yang jadian sama majikan ganteng. Menurutku, kayak cerita FTV yang naik ke layar lebar. Nggak ada alur njelimet ataupun plot twist. 

Namun, dialog di atas mencuri atensiku. Aku sampai perlu mengklik ulang film itu, mencari adegan percakapan Ningsih dengan Oma demi menyalin dialog tersebut.

PURA-PURA BAHAGIA...

Kadang, aku merasa begitu padahal bukan bermaksud begitu. Ihiii...kok susah sih bahasanya. Begini maksudnya, aku tipe orang yang susah untuk menye-menye di kehidupan nyata maupun di media sosial. Menye-menye di sini maksudnya mencurahkan kesedihan secara gamblang gitu ya.. 

Kan ada ya orang yang mudah bikin status curhat dengan jelas. Atau mungkin tidak pernah menceritakan kesedihannya di dunia maya, tetapi bisa cerita kepada orang tertentu di dunia nyata. Sementara aku kok susah mau melakukan hal seperti itu.

Sampai-sampai ada temen yang berpikir, kalau aku tuh selalu happy. Dan dia bilang "ah masa!!" ketika aku mengaku sering nangis. Dia nggak tahu kalau aku punya skill menangis otomatis ketika sedang merasa sangat galauwwww. Air mata mengalir gitu aja tanpa bisa kutahan.

Ya namanya hidup, kayaknya mustahil nggak ada moment-moment sedih atau moment-moment ada problem yang terasa berat. Ya nggak? Nah, temen itu nggak tahu karena memang bukan teman yang deket banget. Juga sudah lama nggak ketemu. Kami hanya sesekali chat, paling-paling kami saling " tahu kabar" dari update status masing-masing.

Sementara, aku tipe orang yang nggak bisa curhat secara gamblang di dunia maya. Kalaupun curhat, biasanya tipis-tipis dengan kata-kata bersayap (burung kali yak...) atau status galau tapi ditutup dengan candaan. Jadi seolah-olah bukan beneran lagi galau.

Bahkan, kalau lagi galau aku suka "ngilang" dari medsos. Karena, kalau lagi kayak gitu, aku gampang ketrigger hanya karena baca-baca status orang. Haha..

***

Dulu, aku merasa agak gimana (semoga paham lah dengan kata "agak gimana") pada orang yang suka curhat menye-menye di media sosial. Orang-orang yang akunnya tidak privat tapi dia/mereka menceritakan problem pribadinya dengan cukup detail (setidaknya begitu menurutku). Alhasil, orang-orang yang hanya mengenal dia di medsos pun jadi tahu masalahnya.

Dulu aku bikin asumsi begini : "Ini orang kok nggak malu ya mengumbar masalah pribadinya ke dunia maya. Orang-orang jadi tahu persoalan dia. Lagipula, jejak digital itu nyata lho..."

Belakangan, aku berpikir beda. 

Pasti memang ada golongan orang-orang yang dikit-dikit posting galau dengan tujuan menarik perhatian atau bahkan keuntungan. Hari gini, media sosial bisa menjadi pasar potensial untuk menjual segala hal....termasuk kesedihan. Entah itu cerita sedih yang real maupun fake... Kesedihan jadi duit... itu fakta.

Namun, ada juga orang-orang yang bener-bener posting cerita sedihnya sekadar untuk melepaskan beban. Menulis terbukti menjadi salah satu cara untuk healing kan? Terlepas dari pertanyaan sinis yang bisa saja muncul : "ngapain mesti dipublikasi di dunia maya?" Mungkin bagi mereka, rasanya lebih lega aja ketika bisa bercerita di dunia maya. Toh, sebuah cerita yang menurut pembaca sudah cukup detail, mungkin bagi dia sudah di-cut di sana-sini. Apalagi kaum perempuan ya...yang punya stereotipe udah lega aja hanya dengan sekadar cerita. Soal solusi mah lain perkara๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€

Terkait hal di atas, aku ingat almarhumah Novia Widyasari yang kasusnya sempat viral beberapa waktu lalu. Kebetulan (atau bukan kebetulan?) aku membaca tulisan-tulisan Novia sebelum dia viral karena sad-endingnya.๐Ÿ˜ฅ๐Ÿ˜ฅ

Itu juga sih salah satu penyebab aku jadi berpikir beda tentang tulisan curhat di dunia maya. Siapa tahu memang dia sudah sangat tertekan, nggak ada orang untuk curhat langsung, jadi dia menulis di medsos. Itu menjadi jalan ninja dia untuk bertahan, sukur-sukur kemudian bangkit.

Karena..... susah curhat itu bisa jadi salah satu kesulitan tersendiri. Kalau orangnya memang bener-bener setrong dalam memendam dan menyelesaikan masalah sendiri.. ya bagus bangeeet malah. Nggak "ngrepotin" orang lain.

Masalahnya, mendem masalah (tanpa kemampuan menyelesaikan) itu akhirnya sering berdampak negatif, entah itu dampak jangka pendek atau jangka panjang. "Sakit karena pikiran"... familiar kan dengan pernyataan itu?

***

Eh kok kayak jadi menyimpang dari judul ya... Poinnya, kadang ketidakmampuanku untuk bercerita (baik secara langsung maupun melalui tulisan yang dipublikasikan) membuatku "merasa tertuduh" dengan ungkapan "pura-pura bahagia."

Apalagi sekarang sudah lazim istilah pencitraan,  branding, jaga image.  Orang-orang melakukan pencitraan demi .... apapun itu (tak harus tujuan ekonomis atau politis).

Merasa tertuduh itu beda dengan dituduh ya kan.. Merasa tertuduh berarti tuduhan berasal dari dalam diri sendiri. Sejauh ini, aku malah nggak pernah mendengar orang menuduhku demikian. Lagipula, sesungguhnya aku bukan pura-pura, tapi lebih ke tidak bisa (atau tidak mau?) menunjukkan.

Kupikir-pikir, mungkin karena aku takut terlihat rapuh. Padahal, saat ini, hampir tiap bulan ada periode aku merapuh tidak jelas. Tapi aku masih sulit menceritakan problemku pada orang lain. Belum-belum sudah merasa, ah problem gini doang. Kok cemen amat... Merasa cemen membuat nggak bisa cerita (khawatir ketemu orang yang merespon dengan adu nasib๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€). 

Dulu pernah ada masa-masa aku kepengin banget ke psikolog, tapi aku khawatir kalau-kalau nanti malah nggak bisa cerita apa-apa saat konsultasi (haha, sudah negatif thinking dooloo). Sekarang juga masih berpikir demikian sih๐Ÿ˜€

Bahkan untuk menulis pengakuan semacam ini saja butuh keberanian buatku. Terutama karena aku menulis dengan rencana untuk memublikasikan di blog (jadi orang lain bisa baca). Nah kan...beraninya juga "cuma" post di blog, bukan di akun medsosku (karena aku yakin di blog akan lebib sedikit yang baca ketimbang post jadi status FB atau IG๐Ÿ˜).

Setidaknya, buatku ini menjadi salah satu cara untuk self-therapy atas kegalauan periodikku belakangan ini. Salah satu cara untuk "lega aja walaupun baru sekadar cerita." Mungkin aku belum tahu akarnya apa/bagaimana. Mungkin juga ini bagian dari prosesku untuk lebih mengenali diri sendiri. Seperti pernah kutulis : ....diri sendiri pun tidak pernah tuntas dikenali. (DW)




















1 komentar

  1. Ini yang dilakukan orang-orang di zaman sekarang, tapi memang begitulah dunia sekarang ya diminta kuat. Agaknya sedih dikit udah dibilang lemah, baperan, dan lainnya. Kalau enggak hanya ke orang terdekat lebih baik pura-pura bahagia saja. :)

    BalasHapus

Terima kasih atas kunjungannya. Mohon tidak meninggalkan link hidup dalam komentar ya :)