Drama Menabung Emas

 

pic by pixabay

Sudah lamaaa saya tidak menulis dengan label duwit. Nah, beberapa hari ini teringat lagi gojekan* yang sudah berulang-kali saya lontarkan, yakni tentang (e)mas. Bahwasanya “simpanan” emas saya itu buanyaaak, kalo ditotal sudah lebih dari satu kuintal.

Horang kayaaaah....

Pulih, Perjalanan Bangkit dari Masalah Kesehatan Mental

 



........Pagi ini, menghadapi anak perempuanku yang bangun tidur lalu rewel membuatku naik pitam untuk kesekian kalinya. Anak kelas dua SD ini mengujiku lagi. Aku pun gagal lagi. Ibu macam apa aku ini? Aku menyetir mobil dengan amarah. Aku membawa kedua anakku melaju kencang dengan mobil manual yang mulai akrab kupakai beberapa bulan terakhir.

“Bunda tabrakin mobilnya ke mobil depan situ,” teriakku lantang di dalam mobil sambil menunjuk  mobil di depanku, tanpa mengganti persneling yang membuat deru mobil menggeram, menyeramkan.

(Pulih, halaman 1-2)

Cogelo Ergo Sum*

 

Bunda,

Kenapa mata ada dua?

Kenapa bulan bisa berjalan?

Kenapa kanguru kakinya dua?

Kenapa kucing kakinya empat?

Kenapa foto itu ada di kertas?

Kenapa kipas angin itu baling-balingnya selalu bergerak?

 

Makam dan Pengingatan

 

keterangan gambar di bawah*

Saat menunggu pesanan mie ayam pangsit disajikan, mataku mengitari dinding rumah makan. Dinding yang cukup “ramai” dengan bermacam tempelan, berbanding terbalik dengan lengangnya rumah makan. Siang itu, dari sekian meja hanya dua yang terisi pembeli. Satu meja tempat kami berempat : aku, suami, dan anak-anak. Di satu meja lagi, ada seorang bapak dan ibu berkerudung.

Salah satu yang mencolok dari tempelan dinding adalah daftar “nomor-nomor cantik” yang dicantumkan bersama harganya. Selain menjual makanan, rumah makan ini juga menyediakan nomor perdana dan (mungkin juga) pulsa. Tapi aku penasaran dengan “nomor cantik.” Hari gini, ketika orang gonta-ganti nomor telepon seluler demi program promosi, apakah nomor cantik masih dicari? Bisa jadi masih, aku saja yang tidak tahu tentang ini.

Orang-Orang Kaya yang Enggan Mewariskan Harta pada Anak-anaknya.

 

                                              video  Oppie (youtube)

Pengen punya mobil, mewah..
Lengkap dengan AC, tape dan sopir pribadi
(Wiih, kemana-mana tinggal minta anter deh. Pergi santai, sambil denger music sama temen-temen gw. Gak kepanasan lagi. Wuih.. dingin..)
Pengen punya rumah (gedong)
Lengkap dengan pelayan (perabotan lux, plus kolam renang. Kaya di film. Mau ini itu tinggal perintah. Hidup serasa di istana, trus kalo kepanasan, gw ajak temen-temen gw nyebur deh, basah..)

Tentang Harta Warisan

pic by word cloud generator


Pada Alkitab, terdapat kisah perumpamaan tentang seorang ayah yang punya dua anak. Suatu hari, si bungsu datang pada sang ayah untuk meminta harta bagiannya. Sang ayah memenuhi permintaan si bungsu. Kemudian, anak itu pergi jauh, berfoya-foya menggunakan harta pemberian ayahnya. Sampai kemudian hartanya habis total. Lebih buruk lagi, di kota tempat ia menjalani hidup extravaganza terjadi resesi  parah (kalau di Alkitab sih pakai istilah kelaparan ^-^)

Makam Raja-raja Tallo

 






Saya adalah seseorang yang dulu sempat berpikir, apaan sih belajar sejarah? Nggak penting. Terlebih, di masa sekolah dasar - menengah, penyampaian pelajaran sejarah di sekolah rasanya kurang menarik. Rasanya, sekedar dijejalkan informasi-informasi tentang masa lalu, menghafal nama-nama penting (nama lokasi, nama pahlawan etc), menghafal tanggal/bulan/tahun/periode sebuah kejadian, menghafal peristiwa-peristiwa, yaaaah semacam itulah.

Dalam Ayunan

pic by @bjluther


Entah mengapa, duet slow motion dengan slow music selalu berhasil membuatku melankolik. Paduan yang ampuh menggelitik sisi-sisi tersembunyi hingga merasa terusik.

Sejatinya, kalian berayun cepat dalam tawa, dengan bermandi matahari senja. Saat itu, dalam hati aku mendaraskan syukur dan harapan. Kalian yang dikandung dalam rahim yang sama, semoga selalu erat sebagai sahabat hingga akhir masa.

Antara Tongkol, Cakalang, dan Tuna

 

foto dari bacaterus.com

Menulis ini sebagai ekspresi menertawakan diri sendiri. Bisa menertawakan diri sendiri itu perlu lho untuk kesehatan jiwa. Kayaknya, lebih enak ditertawakan diri sendiri deh daripada ditertawakan orang lain. Tapi tidak berhenti dengan menertawakan diri sendiri dong. Pengetahuannya saya share di blog supaya sedikit banyak saya menjadi bagian dari orang yang solutip (masih kena pengaruh Bu Tejo wkwkwkw). 

Kita Semua adalah Bu Tejo

 

 

Hai hai hai...sudah pada nonton film Tilik belum??

Haha, ini mungkin pertanyaan yang sangat telat yaaa. Lha wong filmnya sudah viral dari kemarin-kemarin.  Makanya di sini saya nggak akan bahas lagi tentang film-nya. Kan sudah pada nonton... Kalau belum, silakan klik video di atas atau langsung ke youtube. 

Makang Ikang di Mangkasa

 

Kalau ini mancing cari ikan sih, gambar pengantar yang nggak nyambung haha


Dalam tulisan sebelum ini, saya mencatat niat untuk menceritakan pengalaman makan di Rumah Makan Paotere. Tapi, saya gagal mengingat-ingat nama ikan yang kami pesan di sana (hahaha, iya, serius). Aneh kan kalau fokus cerita makan di suatu tempat tapi lupa nama spesifik hidangannya. Selain itu, dalam rentang waktu setelah makan di Paotere hingga menulis ini, saya berkesempatan makang ikang di rumah makan lain. Tapi tulisan ini tak akan menjadi review tempat makan, melainkan gado-gado cerita seputar makang dan ikang.

Siang di Paotere


Siang teramat terik. BJ, saya, Ale, dan Elo tiba di kawasan Pelabuhan Paotere. Bersyukur, dari rumah telah bersiap dengan pakaian serba panjang. Juga masker yang menutup dari bawah dagu hingga dekat garis mata. Jika tidak, sinar matahari pasti akan membuat banyak area kulit terasa tersengat. Kami memang datang pada waktu yang tidak tepat.

Angin, Listrik, dan Pesawat Kertas

 


Sesungguhnya, perjalanan menuju Pembangkit Listrik Tenaga Bayu Tolo, Jeneponto, medio Juli lalu bukanlah agenda utama. Sabtu, semestinya adalah hari libur bagi BJ. Tapi di hari itu, ia mesti pergi ke Bantaeng untuk sebuah urusan kerja. Dengan status hari libur,  kami bertiga bisa diajak serta. Setidaknya, ini pergi keluar kota bersama untuk kali pertama setelah long distance sekian bulan.

Mengurus Pindah Sekolah Antar Provinsi

Ale (paling kanan) dengan teman2 sekolah di Medan
lagi praktik belanja di sebuah supermarket :)


Pertama kali mendapat kabar tentang mutasi kerja BJ, pikiran saya langsung tertuju pada satu hal : sekolah Ale! Pindah tempat tinggal berarti Ale pindah sekolah (LAGI!). Rrrrrrrrr.... bagaimana ya? Saat naik kelas empat (SD), dia baru saja pindah sekolah. Lalu, naik kelas lima harus pindah lagi? Itu berarti hanya setahun di sekolah baru (dan karena COVID-19, sebagian besar semester dua harus dijalani secara daring).

Pengalaman Terbang Saat Pandemi COVID-19

Selamat datang di Bandara Sultan Hasanuddin



Menepati janji di tulisan “Pindah Lagi”, di sini saya akan membagikan pengalaman naik pesawat terbang saat pandemi Covid-19. Transportasi udara sudah menjadi hal lumrah bagi banyak orang. Tapi, kita tahu, pandemi Covid-19 mengubah banyak hal. Termasuk dunia penerbangan yang mau tak mau harus mengikuti protokol new normal.

Pindah Lagi : When Laughter and Tears Collide

pic from bisniswisata.co.id (karena kemarin kami naik Lion Air)

      Judul ini terinspirasi dari lagu “When Love and Hate Collide”, hits lawas punya Deff Leppard. Laughter, ada tawa bahagia yang meruah karena kepergian ini mengakhiri kondisi lima bulan terpisah sebagai keluarga. Di sisi lain, ada air mata kesedihan karena mesti berpisah dengan orang-orang yang telanjur dekat.
Sebelum memublikasikan ini, saya mengecek tanggal artikel terakhir. Sekedar memastikan hal yang sudah pasti bahwa saya cukup lama hiatus ngeblog. Daaan....sudah lebih dari sebulan saya enggak menengok “rumah” ini. Fiuuuuh, sapu-sapu, lap-lap, pel-pel dulu biar rada bersih hehehe.

Mengumpulkan Cashback dari Pomona

pic by pixabay


Sudah dari beberapa bulan lalu saya membaca tentang Pomona, yakni sebuah aplikasi advertising tech yang bisa diinstall  di gawai. Baca sekedar baca, meski terbersit keinginan, tapi saya tak juga menginstallnya. Lalu, datanglah masa pandemi Covid-19. Eh apa hubungannya pandemi Covid dengan install aplikasi?

Hubungannya : situasi gabut saat ini membuat sebagian kita merealisasikan niat-niat yang sebelumnya tidak kunjung dilaksanakan. Iya nggak? Toss kalau iya hehehe. Mungkin ada yang berhasil mengeksekusi pekerjaan besar. Atau mungkin sekedar menggenapi niat receh seperti memasang sebuah aplikasi hihihi.

Terima kasih Ninja (Cerita Paket Nyasar)



pic from www.ninjaxpress.co

Belanja online sudah menjadi hal biasa dalam kehidupan di masa sekarang. Perubahan budaya yang memakan waktu tak terlalu lama. Coba ingat-ingat sepuluh tahun lalu, mungkin kita masih antara percaya tak percaya untuk melakukan transaksi tanpa mengenal siapa penjual/pembeli. Sekarang? Orang sudah merasa biasa untuk transfer uang pada orang tak dikenal ketika barang belum di tangan.

Hayo...siapa yang rajin belanja online? Ngacuuuung!!!

Mengurangi Keterikatan

pic by pixabay



Masih dua bulan lagi menuju Juli. Bulan (yang jika tak ada aral adalah) waktu kepindahan kami ke Makasar (tarik nafassss). Memang belum ada tanggal pasti, tapi jika semuanya lancar, kemungkinan pertengahan Juli kami berangkat. Mei-Juni-Juli. Masih lama atau tinggal sebentar?

Mengenai durasi waktu, jawaban favorit saya adalah : relatif. Waktu seperti mengandung dualisme. Secara angka, waktu terukur secara matematis. Tapi persepsi tentang cepat-lambatnya bisa berbeda, tergantung situasi. Juga tergantung cara/siapa melihat sang waktu. Satu ukuran waktu, bisa dirasa cepat, bisa juga dirasa lambat.

Laron, Jomblo Berarti Mati

pic by takimzone.com


Dalam postingan sebelum ini, saya cerita tentang alergi ikan lele pada Elo. Saya juga sedikit menyinggung alergi laron yang terjadi pada saya di masa kecil. Penampakan alerginya berupa gatal dan merah di sekujur badan. Sejak kejadian itu, saya nggak pernah lagi makan laron. Kalau sekarang,  di usia yang sudah berlipat dari masa itu,  apakah saya tetap alergi jika makan laron?

Saya serahkan pada Wanda untuk menjawab.

Elo dan Alerginya

cat and fish (not catfish^-^), pic by pixabay



Ale, si sulung gemar makan ikan lele (goreng). Cocok ya sama rima namanya... Le, Ale ...sukanya ikan lele. Sudah cukup lama saya nggak masak ikan lele. Jadi, kemarin, dengan sangat memohon, Ale minta saya menggoreng ikan lele. Harusnya bukan permintaan yang susah, mengingat  ikan lele mudah didapatkan. Harganya pun tergolong murah untuk  ikan segar.

Ikan dengan nama internasional catfish ini juga mengandung banyak nutrisi. Dilansir dari sehatqu.com, manfaat ikan lele antara lain sumber lemak omega-3, sumber vitamin B12, sumber vitamin D, dan sumber protein. Sebagai ikan air tawar yang mudah diternakkan, ikan lele juga sedikit kemungkinan mengandung merkuri.

Tips Makan Snack Saat Social Distancing

Hayoo..telurnya di manaaa?


Warning : ini tips receh banget nget nget.  Dari judulnya saja sudah....ini apa’an seeeeh? Makan snack saja perlu pakai tips hehehe. Tapi sah-sah saja dong buat update blog haha. Lagipula, buat saya tips ini so far terbukti berfaedah. Jadi, mana tahu ada manfaatnya juga bagi sidang pembaca (ahahaa...berasa aneh pakai istilah sidang pembaca).

Tips receh tapi bisa menciptakan keriangan. Riang, situasi yang secara umum berkurang drastis sejak pandemi Covid-19 ini. Pada orang-orang dewasa sudah jelas sih ya... Social distancing bikin gabut. Di anak-anak, kegabutannya mungkin nggak segawat orang dewasa. Ya kan, mereka belum mikir kerjaan, keuangan, dan lain sebagainya. Tapi pandemi bikin mereka nggak bisa leluasa main di luar seperti sebelumnya. Jadi melakukan aktifitas yang bikin mereka tetap hepi itu penting banget.

Makasar, Seperti Apa Sih?

satu-satunya foto dengan keyword Makasar yang saya temukan di Pixabay,
yakni di akun tiann-ann
jujur,, saya nggak ngerti ini lokasinya di mana :)



Beberapa hari lalu, saat hujan deras tinggal gerimis, Oom Usman -office boy kantor BJ di Medan-datang ke rumah. (Jika sudah berusia dewasa, apakah sebutan office boy bisa diganti menjadi office man? –serius nanya). Oom Usman datang mengangkut setumpuk  karton bekas bungkus rokok. Kartonnya tebal dan ukurannya besar. Cocok buat packing barang pindahan.

Sebelumnya, BJ memang sudah pesan pada Oom Usman untuk membelikan karton tersebut.  Di Medan, kotak karton rokok seperti ini relatif mudah didapatkan di toko-toko daerah Jalan Dr. Mansyur. Daerah kampus USU, banyak kos-kosan mahasiswa. Mungkin karton besar sudah jadi kebutuhan umum untuk pindahan kos atau balik kampung. Sampai hari ini, karton-karton  itu masih tertumpuk rapi. Setiap kali mata tertuju ke situ, langsung terpikir.... hmmmh, bakalan nggak lama lagi tinggal di sini.

Menjelang P.I.N.D.AH (Lagi)

pic by pixabay


Setelah sekian ribu hari di kota ini, akhirnya “waktu” itu akan tiba kembali. Waktu untuk kembali mengemas barang dan kenangan. Waktu untuk kembali menempuh lintasan jarak. Waktu untuk kembali menyesuaikan diri dengan berbagai perbedaan. Waktu untuk tetap melanjutkan hidup dengan segala kemungkinan.

Menulis ini mengingatkan saya pada buku Raditya Dika, Manusia Setengah Salmon. Bacanya sudah duluuuu banget, jadi saya lupa keseluruhan isi tulisannya. Di sana, ini pun jika tak salah ingat, Radit menulis : hidup adalah serangkaian perpindahan.  Seperti ikan Salmon, yang dalam periode hidupnya mengalami berkali-kali proses migrasi.

Social Distancing dan Social Media Distancing

foto nggak nyambung, lagi pengen narsis aja :D
pakai efek ini biar kayak kolom
di surat kabar :P



Hampir sebulan saya hiatus ngeblog (huhuhu). Daaan...sebenernya bukan hanya hiatus ngeblog aja sih. Tapi juga agak hiatus di media sosial. Saya bilang agak karena memang nggak sepenuhnya, at least sesekali saya masih bikin status di Whatsapp. Jadi, sebulanan ini saya nggak hanya social distancing tapi juga social media distancing.

Hah? Apa nggak jadi asosial tuh?

Waspada Overdosis Paracetamol




Akhir  Februari saya mengalami hari yang emosional. Bukan emosi dalam bentuk kemarahan, tapi empati mendalam atas kesedihan yang dialami oleh keluarga teman. Meski bukan sahabat dekat (kami hanya teman segereja), tapi saya benar-benar turut berbela sungkawa. Kehilangan anak yang masih balita –usianya belum genap dua tahun- secara tiba-tiba. Terbilang tiba-tiba karena dari sakit hingga meninggal terhitung cepat. Saya rasa, siapapun bisa memahami kesedihan mendalam yang mereka alami.

Staycation Dua Jilid



Duluuu banget, saya pernah heran dengan cerita seorang teman, yakni sekali waktu dia dan keluarga kecilnya liburan dengan cara menginap di hotel dalam kota (Medan). Dalam hati saya mikir, ini antara kelebihan bujet atau kurang kerjaan sehingga menginap di hotel dalam kota (aja). Lha itu kan namanya pindah tidur doang. Secara hotel sama rumah masih dalam satu area. Beda cerita kalau tempat menginapnya agak jauhan sedikit, di Berastagi misalnya. FYI, dalam lalu lintas normal Medan – Berastagi bisa tempuh dalam waktu 2-3 jam.

Elo, Biyung, dan Rumah Sakit

Yang penting tampak tulisan Ngesti Waluyo ^_^

Libur Natal kemarin diwarnai dengan Elo opname di rumah sakit Ngesti Waluyo, Parakan. Yup, Parakan –bukan Medan. Sama-sama berakhiran –an, tapi jarak di antara keduanya jauh terbentang. Elo opname di sana karena, seperti biasanya, libur Natal adalah pulang kampung. Dalam posisi itu, rumah sakit terdekat adalah Ngesti Waluyo, Parakan.