Saat Anak Remaja Masih Ngompol

Sudah lewat umur 11 tahun kok malah sering ngompol? Itu beneran ngompol atau mimpi basah? 

Sekitar dua bulan lalu, saya mendapati si bungsu  "rajin" mengompol saat tidur malam. Tentu sebuah kondisi yang tak wajar dan menganggu. Dia bukan bayi lagi jadi volume pipisnya sudah banyak. Dan karena sudah bukan bayi lagi, adalah hal aneh untuk mengenakan popok (kalaupun diusulkan, sudah pasti dia akan menolak๐Ÿ˜๐Ÿ˜). 

Mungkin mengompol di usia ini tidak akan mengkhawatirkan jika hanya SESEKALI dan penyebabnya bisa diduga, misal kecapekan atau terlalu banyak minum sebelum tidur malam. Namun dalam kasus anak saya, frekuensi mengompolnya tidak wajar. Dalam seminggu, dia bisa dua hingga empat kali mengompol. 

Terbayang betapa "harumnya" aroma kamar kaaan... ๐Ÿ˜ต‍๐Ÿ’ซ๐Ÿ˜ต‍๐Ÿ’ซ. Tambah lagi keribetan mengganti sprei dan menjemur kasur. 

Menurut WHO, remaja adalah golongan penduduk usia 10-19 tahun. Beda tipis dengan Peraturan Kementrian Kesehatan RI, remaja mencakup usia 10-18 tahun. Dengan usia 11 tahun, si bungsu sudah masuk usia remaja (laki-laki). 

Beneran ngompol? Bukan mimpi basah? ~saya ulang pertanyaan di awal tulisan. Namanya remaja laki-laki, meski kesehariannya masih tampak sangat anak-anak, kemungkinan mimpi basah tetap ada. Namun, saya 1000 persen yakin si bungsu ngompol, bukan mimpi basah. Dari "jejak" di kasur saja sudah sangat jelas๐Ÿ˜๐Ÿ˜

Pertanyaan lanjutannya adalah: mengapa si bungsu jadi rajin mengompol? Sesuatu yang tidak sewajarnya biasanya dilatarbelakangi sebuah masalah. Ngompolnya si bungsu karena masalah psikologis atau fisiologis? 

Hari gini, bisa saja anak tampak baik-baik saja tetapi ternyata stress dan salah satunya termanifestasi menjadi ngompol di malam hari. Entah itu stress karena masalah di dunia nyata maupun dunia maya. 

Di era internet seperti sekarang ini, anak bisa saja stress karena menjadi korban cyber bullying oleh orang-orang yang bahkan tidak dia kenal langsung di dunia nyata. 

Namun, saya cukup dekat dengan si bungsu. Saya condong pada dugaan bahwa ada yang tidak beres pada tubuhnya. Saya memutuskan untuk membawanya ke dokter. Namun, sebelum itu, saya lebih dulu mencari informasi melalui chat-GPT. 

Berawal dari pertanyaan ini, chatGPT memberikan beberapa kemungkinan penyebab mengompol pada anak remaja. Setelah beberapa tanya-jawab, dugaan saya mengerucut pada kemungkinan hubungan amandel dengan ngompolnya si bungsu. 

Beberapa tahun lalu, saya memang pernah membawa si bungsu periksa ke dokter THT (saya lupa waktu itu dia sakit apa). Dalam pemeriksaan saat itu, dokter sempat mengecek amandel si bungsu dan menyatakan kalau ada sedikit pembengkakan. Namun, seingat saya, dokter tidak menyebutnya sebagai masalah serius yang harus segera ditangani. 

Dan hingga sebelum kejadian sering mengompol itu,  saya masih nggak berpikir kalau ada masalah terkait apapun dengan saluran tenggorokan dan hidung. Padahal, kalau saja saya punya cukup pengetahuan medis, si bungsu sudah menunjukkan beberapa gejala. Saat itu, saya sudah melihat beberapa hal yang terlihat "tidak biasa" tetapi saya tidak menganggap "bisa seserius itu kalau dibiarkan menerus tanpa penanganan." 

Beberapa gejala yang sudah terlihat sebelumnya antara lain:
▶️ sering mengorok saat tidur (mulut terbuka) 
▶️ kadang henti nafas sesaat saat tidur (sleep apnea) 
▶️ sering mengeluh gerah meski AC pakai suhu dingin (bahkan saat berangkat tidur sering harus menyalakan kipas angin juga - dobel AC) 
▶️ posisi tidur berantakan/tidur tidak tenang. 

Seperti saya tulis tadi, saya tahu itu semua tidak biasa. Tetapi, karena kurangnya pengetahuan, saya tidak menganggap semua itu bisa berdampak serius jika dibiarkan dalam jangka panjang. Jadi, saya bersyukur sih dengan kejadian sering ngompol itu. Sebab, hal tersebut mendorong saya untuk cek ke dokter. 

Kalau menurut chatGPT hubungan amandel & sleep apnea pada anak kurang lebih seperti ini:

Amandel membesar
Menyumbat jalan napas saat tidur
Terjadi sleep apnea (napas terhenti-henti saat tidur)
Tidur jadi tidak nyenyak & otak sulit mengatur sinyal tubuh
Kontrol kandung kemih menurun saat tidur
Terjadi mengompol (enuresis nokturnal)

"Pre-konsultasi" dengan ChatGPT bukan untuk sok-tau dan self-diagnosis, tetapi lebih untuk pijakan pertanyaan/diskusi saat periksa ke dokter. Terlebih, tidak semua dokter punya waktu dan kesabaran ekstra untuk memberi penjelasan detail pada pasien. 

****

Tiba saatnya saya membawa si bungsu ke spesialis THT di salah satu rumah sakit di Kediri. Saat saya bilang, "anak ini sering ngompol," dokter langsung menimpal, "tidurnya ngorok ya?" 

Hari itu, si bungsu harus menjalani foto rontgen leher lateral. Berhubung antri foto cukup lama, penjelasan tentang hasil foto baru bisa saya saat kontrol di minggu depannya. Ternyata, penyebab ngorok si bungsu bukan pembengkakan amandel seperti dugaan saya sebelumnya, melainkan pembengkakan jaringan adenoid atau adenoid hypertrophy. 

Adenoid sendiri adalah jaringan limfoid (yaitu jaringan yang berperan penting pada sistem pertahanan/imun tubuh), terletak di dalam rongga (belakang/atas) hidung, dan berfungsi membantu menangkap kuman yang masuk melalui hidung. 

Penyebab utama adenoid membesar adalah infeksi virus atau bakteri yang berulang, alergi kronis, iritasi lingkungan, serta faktor pertumbuhan fisiologis pada anak. Adenoid membengkak karena bekerja keras melawan kuman, namun terkadang tetap membesar meski infeksi sudah sembuh. 

Hubungan adenoid dengan mengompol, sama seperti amandel tadi. Bengkak adenoid mengganggu jalan nafas sehingga menyebabkan sleep apnea. Bahkan, bengkak adenoid bisa lebih mudah mengganggu jalan nafas karena letaknya di rongga hidung. 

Karena pembengkakan dinilai cukup besar, dokter merekomendasikan tindakan operasi untuk si bungsu. Saya meminta waktu untuk menimbang-nimbang. Pikir saya, kalau-kalau bisa tidak usah operasi. 

Ternyata suami saya punya pemikiran serupa. Atas rekomendasi seorang mitra kerja suami, kami membawa si bungsu ke klinik dokter spesialis THT-KL untuk mencari second opinion. Di klinik ini, pemeriksaan dilakukan dengan nasoendoskopi sehingga kami juga bisa ikut langsung melihat kondisi pembengkakan adenoid si bungsu di layar monitor. Bagi awam medis seperti kami, penampakan seperti ini tentu lebih mudah dipahami ketimbang melihat hasil foto rontgen. 

Ternyata, bengkak besar di rongga hidung kanan kiri sehingga hampir menutupi jalan nafas. Pantesan kalau tidur nggak bisa bernafas pakai hidung. Bersyukurnya, sesuai harapan kami, untuk kondisi si bungsu dokter bilang tidak perlu operasi. Cukup terapi obat. Menurut dokter, setelah operasi bisa saja adenoid membesar kembali. Artinya, operasi bukan jaminan sembuh. Selain itu, tanpa operasi pun, pada umumnya jaringan adenoid akan menyusut dan hilang sendiri seiring pertambahan usia dan meningkatnya sistem imun tubuh. 

Senang ya kalau dapat dokter informatif begini, jadi tambah pengetahuan. 

Hingga saya memosting tulisan ini, si bungsu masih menjalani terapi dari dokter berupa obat oral dan spray. Bersyukur, tidurnya sudah normal (bernafas lewat hidung, tidak ngorok, dan tidak henti nafas sesaat). Dan sesuai harapan, perbaikan kualitas tidur juga langsung membuat frekuensi mengompolnya turun drastis. 

Dari kejadian ini, jadi bertambah deh pengetahuan saya. Walau memang, ini hanya seujung kuku dari luasnya ilmu tentang kedokteran dan tubuh manusia. Ajaib ya anatomi tubuh kita. Soli Deo Gloria๐Ÿ˜‡๐Ÿ˜‡

Posting Komentar untuk "Saat Anak Remaja Masih Ngompol"