Minggu, 15/2/26, saya dan si bungsu Elo diajak ayah ke sebuah event pekerjaan di Tanggunggunung, Tulungagung. Tempatnya tidak terlalu jauh dari jalur pantai selatan Tulungagung. Jadi, siang seusai acara, kami bertiga langsung meluncur ke jalur lintas selatan (JLS) Tulungagung.
Tujuan utamanya adalah ke pantai. Namun, berhubung cuaca masih cukup panas plus belum makan siang, kami singgah dulu di Rumah Makan Tiga Bidadari (TGB) yang letaknya persis di tebing pantai. Entah mengapa disingkat TGB, bukan TB aja gitu.. Apa biar nggak dikira toko besi atau toko buku? ๐
Saya nggak akan review makanan dan restorannya yaaa... Komentar singkat: masakannya enak (ini subyektif yaa) dan pemandangan lautnya bagus. Worth it lah..
Hingga selesai makan, kami belum menentukan pantai yang akan kami tuju. Di sepanjang JLS Tulungagung memang banyak spot wisata pantai. Berbeda dengan pantai utara Jawa yang lebih "industri" dan ekonomis, pantai Selatan Jawa yang berombak besar memang lebih menonjolkan keindahan alam. Sejak pindah ke Kediri dua tahun silam, saya baru mengunjungi pantai Widodaren, Gemah, dan Pasir Putih. Itu berarti masih banyak spot pantai lain yang belum saya datangi.
**"
Sedikit membahas tentang JLS yang belakangan ramai di kalangan pelancong. Selama puluhan tahun, jalur utama Pulau Jawa lebih berkembang di jalur utara (pantura).
Wilayah selatan Jawa relatif tertinggal karena:
▶️ Medannya berbukit dan bertebing
▶️ Banyak hutan dan kawasan karst
▶️ Infrastruktur terbatas
Padahal, wilayah selatan memiliki:
✳️ Pantai indah
✳️ Potensi wisata besar
✳️ Potensi hasil pertanian dan kelautan
Oleh karena itu, sejak tahun 1980-an pemerintah menggagas JLS untuk membuka akses ekonomi,
mengurangi ketimpangan utara–selatan, serta mendukung pertahanan dan logistik nasional. Jalur ini direncanakan membentang dari Banten hingga Banyuwangi.
Terhitung sebagai proyek besar dan luas, pengerjaan JLS dilakukan secara bertahap dan sudah dimulai sejak tahun 2000-an. Hingga saya menulis ini, JLS belum selesai, bahkan jalur Jatim pun belum sepenuhnya tersambung. Namun, jalur ini sudah relatif ramai dikunjungi wisatawan serta meningkatkan aktifitas ekonomi warga.
***
Keluar dari Tiga Bidadari, kami masih tanpa tujuan pantai yang pasti. Nggak masalah sih, sebab JLS sendiri sudah menawarkan pemandangan indah. Sekadar menyusuri jalan aspal lebar dan masih relatif bagus dengan pemandangan pantai di satu sisi dan perbukitan atau tebing di sisi lainnya sudah merupakan wisata tersendiri.
Tapi yaa... Kami tetap harus ke pantai karena sudah janji ke si bocil. Bagi dia, hal paling menarik dari diajak-ayah-kerja kali ini adalah mandi di pantai. Baiklah... kami berkendara sambil memilih-milih pantai (hahaha, seperti milih barang dagangan aja nggak siii). Saat melihat jalan masuk Pantai Dlodo, kami sempat hendak belok kanan. Namun, akhirnya kami memutuskan untuk lanjut menyusuri JLS.
Kami akhirnya belok kanan di perempatan Mekah. Eheeei nama yang unik. Kalau serambi Mekah ada di Aceh, perempatan Mekah ada di Tulungagung gessss๐๐. Entah siapa yang kasih nama perempatan Mekah. Mungkin karena suasana kering dan gersang serta dinding baru di seputaran perempatan sepintas mirip suasana di Timur Tengah? Sayangnya kami tidak berhenti untuk mengambil foto melainkan langsung melipir ke pantai Kedung Tumpang yang tidak jauh dari perempatan.
Dilarang Membawa Jeruk
Saat masuk area pantai Kedung Tumpang, kami sedikit kurang yakin. Sebab,,berbeda dengan pantai-pantai lain di JLS, area laut tidak langsung terlihat dari parkiran. Tapi sudah kadung belok, lanjut masuk aja lah...
Saat masuk, hanya ada kutipan biaya parkir mobil Rp 10.000 (tanpa tiket wisawatan). Sudah ada warung-warung makanan permanen layaknya tempat wisata, tapi mana pantainyaa?
Kami pun berjalan menuju jalur bertangga ke arah pantai. Di mulut jalan ada plang berisi tata tertib untuk pengunjung pantai. Poin yang langsung menjadi perhatian kami adalah dilarang berenang dan dilarang membawa jeruk.
Pantesan dilarang berenang karena pantai Kedung Tumpang merupakan sisi bawah tebing dengan "kolam-kolam" batu karang, bukan pantai dengan hamparan pasir yang luas. Selain ombak yang keras dan besar, lanskap seperti ini memang tidak renang-able, terlebih untuk anak-anak๐.
Tetapi tentang larangan membawa jeruk??
Hmmh, jujur saya baru tahu soal larangan membawa jeruk di (salah satu) pantai selatan. Saat ke Gemah, Widodaren, maupun Pasir Putih, saya tidak mendapati larangan itu.
Menarik. Selama ini, saya hanya tahu mitos larangan mengenakan pakaian warna hijau saat berkunjung ke pantai selatan, khususnya pansel area Yogya.
Pengin tanya-tanya ke pedagang atau petugas parkir tapi hari sudah menuju sore. Kami bahkan hanya sedikit menuruni tangga ke pantai karena kondisi yang tidak renang-able tadi. Akhirnya kami cuma foto-foto sebentar tanpa turun ke bawah, lalu segera keluar supaya bisa ke pantai lainnya.
Soal mitos larangan bawa jeruk? Ah nanti bisa browsing hehehe. Kami akhirnya belok ke Pantai Dlodo dan main-main air di sini. Cuma bocil sih yang nyebur air, saya dan suami hanya menemani.
Saat si bocil selesai mandi dan kami minum teh di warung, saya bertanya tentang mitos jeruk tadi ke bapak-bapak di situ. Tampaknya beliau warlok (warga lokal) sih, layak ditanya gitu.
Beruntung, dugaan saya tidak salah. Menurut si bapak, larangan membawa buah jeruk sudah ada sejak dulu. "Sejak saya kecil, larangan itu sudah ada," kata si bapak. Jeruk, kata si bapak, tidak disukai penguasa pantai selatan. Sehingga pengunjung yang membawa jeruk dianggap bisa mengundang ombak besar. "Itu tidak (berlaku) di Kedung Tumpang saja, tetapi di daerah sini memang begitu," tambah si bapak.
Hmmh... Sepertinya kebanyakan mitos lainnya, sulit diterima akal yaa.. Namun, kalaupun tidak percaya, buat saya sih tidak ada salahnya menghormati kearifan lokal. Pertama, mitos lokal merupakan bagian dari aneka warna budaya nusantara. Kedua, kalau kemudian ada ombak besar atau kejadian yang tidak diinginkan, jangan sampai kemudian dipersalahkan hanya gara-gara iseng ingin membuktikan.
Ada mitos yang baru teman-teman tahu? Boleh bagi di komen yaaa... (*)
Posting Komentar untuk "Dilarang Membawa Jeruk ke Pantai Kedung Tumpang! "
Terima kasih atas kunjungannya. Mohon tidak meninggalkan link hidup dalam komentar ya :)