Mengajar Literasi Keuangan Dasar dengan Rekening Junio BRI


Menjelang akhir 2025 lalu rekening Junio BRI anak-anakku sudah berusia lima tahun. Aku tahu itu bukan karena menghitung usia tabungan, apalagi merayakan ulang tahunnya hahaha. Aku bahkan tidak ingat kapan persisnya membuat rekening tabungan itu. Aku jadi tahu karena mendapat notifikasi di aplikasi agar segera mengganti kartu ATM Junio yang sudah mendekati masa kadaluarsa. 

Lima tahun lalu, aku membuat rekening Junio di salah satu cabang BRI di Kota Makassar. Kenapa pilih BRI? Kan bank lain juga punya program tabungan anak. Jawabanku: karena aku punya rekening Simpedes BRI. Sesimpel itu alasannya. 

Tujuanku membuat rekening bank untuk anak-anak adalah untuk pengenalan literasi keuangan pada mereka. Salah satu hal sederhana tetapi penting diajarkan pada mereka adalah menabung. Walaupun belum bekerja atau punya usaha seperti Ryu Kintaro, banyak anak-anak memiliki “penghasilan” musiman lho.. 

Seperti umumnya anak-anak di Indonesia, mereka mendapatkan “penghasilan” saat hari raya. Dan karena keluarga besarku sebagian Kristen, sebagian Muslim, jadi anak-anakku selalu mendapat “penghasilan” di dua hari raya, yakni Natal dan Lebaran. Yeyyyy… 

Memberi/menerima uang saat hari raya, belakangan juga jadi pro-kontra. Yah, di era media sosial ini, apa sih yang tidak jadi pro-kontra? Urusan bubur diaduk dan tidak diaduk saja bisa ramai di lini masa. IMHO, aku tidak mengajarkan anakku untuk meminta/menagih uang hari raya. Jadi aku suka sebel kalau suamiku secara bercanda “menyuruh” anakku untuk meminta uang hari raya pada embahnya. Aku tahu sih suami cuma bercanda, tapi aku khawatir si bocah menanggapi dengan serius. 

Jangan minta, tetapi kalau memang diberi, ya terima aja. Aku tidak menutup mata bahwa bagi sebagian orang memberi yang pada anak-anak saat hari raya menjadi beban tersendiri. Namun, bagi sebagian lagi, bisa memberi adalah kepuasan yang akan genap ketika yang diberi menerima dengan terima kasih dan gembira. Mungkin, lebih perlu mengajarkan kebijaksanaan pada orang dewasa, jangan gengsi ketika memang sedang tidak mampu memberi. 

Bagi anak-anak, menerima uang saat hari raya sering menjadi kenangan manis. Privilege yang akan hilang begitu mereka beranjak besar๐Ÿ˜. Yang penting, aku ajarkan mereka mengelola “penghasilannya”. Dari sekian yang mereka terima, sisihkan sebagian untuk persembahan gereja/donasi, sebagian lagi untuk membeli sesuatu yang mereka mau (dengan budget yang dibatasi), dan bagian lainnya untuk ditabung. Aku juga memberi pengertian bahwa suatu hari nanti mungkin gantian mereka dalam posisi memberi. Intinya jadi manusia itu harus memberi dan menerima. Jangan maunya menerima terus. 

Nah, aku membuat rekening khusus untuk tempat mereka menabung uang itu. Ya sih, rekening bank bukan pilihan tempat yang bagus untuk menabung (apalagi jangka panjang). Apalagi saat ini ada banyak ragam produk keuangan yang bisa menjadi alternatif menyimpan uang di rekening. Tetapi ini kan pelajaran awal bagi anak-anak. Jangan langsung lompat.. Ntar bingung. 

Ini juga untuk memberi mereka kepastian bahwa uangnya tidak ditilep orang orangtuanya. Meme tiap hari raya tuh, orangtua adalah pengalaman pertama investasi bodong bagi anak-anak๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜

***

Untuk menyimpan uang di bank pun sekarang makin banyak pilihan. Di samping bank tradisional yang sudah lebih dulu ada, bank digital pun banyak bermunculan. 

Namun, menurutku membuat rekening di bank tradisional akan menjadi pembelajaran yang lebih konkret. Mereka bisa melihat bangunan kantor cabang dan para pegawainya, juga memegang buku tabungan serta kartu ATM. Bagi anak-anak, benda konkret lebih mudah dipahami ketimbang benda abstrak. 

Di era digital ini, membuka rekening bank tradisional pun bisa dilakukan dari rumah. Sepertinya, lima tahun yang lalu  juga sudah bisa. Yang pasti, karena tujuannya  edukasi, aku membawa anak-anak ke kantor cabang bank untuk membuat rekening langsung di tempat. 

Aku mengajak mereka ke salah satu cabang Bank BRI di Makassar (saat itu kami masih tinggal di -Gowa mepet- Makassar). Sejujurnya aku sudah lupa berkas-berkas yang saat itu aku bawa untuk membuat rekening Junio. Ini aku cek persyaratan terbaru di web BRI:



Kepemilikan rekening Junio ini cukup memenuhi tujuan, yakni mengedukasi tentang dasar menabung. Setidaknya dengan memiliki rekening, mereka memiliki rem dari kecenderungan menghabiskan “penghasilan musiman” untuk foya-foya (wwkkwk... foya-foya dong). Anak-anak juga belajar menetapkan tujuan menyimpan uang. Hasilnya, gabungan tabungan mereka sudah jadi laptop yang bisa dipakai untuk belajar dan main game (banyakan main game sih๐Ÿ˜). 

Dan sekarang, si sulung sekolah di luar kota. Kartu ATM-nya jadi terpakai untuk mengirim keperluan uang bulanan-nya. Bersyukur desain kartu ATM-nya tidak terlalu kanak-kanak. Masih oke-lah buat si bocah yang sudah SMA. 

Oh ya saat ganti kartu ATM, aku baru tahu kalau ternyata rekening anak-anak ini bisa diintegrasikan di akun BRImo-ku. Yaaah telat banget tahu-nya. Telat lima tahun loh…Dengan akun yang terintegrasi, aku bisa langsung melihat atau menunjukkan penggunaan rekening anak-anak dari aplikasi. 

Sejauh ini aku tidak mengalami kendala apapun sehubungan dengan rekening Junio. Satu-satunya yang kurang memenuhi ekspektasi adalah nama rekening saat mengirim ataupun menerima uang yang masih atas namaku. Aku pikir, karena mereka memiliki nomor dan rekening sendiri, maka setiap transaksi akan atas nama mereka sendiri. Ternyata, nama orangtua-lah yang tertera saat transaksi karena rekening itu di bawah perwalian orangtua. 

Bukan masalah penting kecuali saat mbahnya mau transfer uang saku dan aku perlihatkan notifikasi transfer ke mereka. “Lho kok dikirimnya ke rekening atas nama bunda? Kan aku sudah punya rekening sendiri?” Pertanyaan yang mudah dijawab dengan menunjukkan bukti. 

Jadi yaaa… bukan masalah besar. Cuma soal rasa aja sih๐Ÿ˜๐Ÿ˜


Posting Komentar untuk "Mengajar Literasi Keuangan Dasar dengan Rekening Junio BRI"