Hari Murung di Bantimurung



Hari hujan cenderung digambarkan sebagai waktu yang murung. Langit kelabu di saat hujan membuat warna-warna cenderung terlihat muram. Basah dan becek juga membuat orang tidak bisa bergerak dengan leluasa.  

Namun, hanya diam selama musim penghujan justru bisa membuat rasa murung makin meraja. Sebab itu, sesekali kami tetap bepergian. Tentu saja, kami pergi dengan tetap berusaha mematuhi protokol kesehatan. Tempat yang minim kerumunan adalah salah satu faktor penting dalam menetapkan tujuan jalan-jalan.

Dengan sekian pertimbangan, akhir Januari lalu kami memilih Bantimurung sebagai tujuan jalan-jalan.  Senyampang masih tinggal di Sulawesi Selatan, sebisa mungkin kami mengeksplorasi berbagai destinasi unggulan. Dari tempat tinggal kami di (dekat) Makassar, Bantimurung berjarak kurang lebih 50 kilometer. Dengan rute jalan besar Makassar - Maros-Pangkajene, hanya butuh waktu berkendara sekitar satu jam.

Bantimurung, sebelumnya pengetahuan saya tentangnya hanya sebatas sebagai tempat konservasi kupu-kupu. Ah ya, binatang mungil dengan sayap-sayap yang cantik. Saat melihat keindahannya, saya bisa lupa jika dia adalah hasil metamorfosa. Sebelum menjadi kupu-kupu  indah menarik hati, dia adalah si ulat yang bisa jadi kita hindari.

Maka, perjalanan hidup kupu-kupu sering dijadikan metafora. Penggalan hidup yang tidak menyenangkan, barangkali serupa fase ulat atau kepompong. Kesabaran dan ketekunan akan membuat hidup beranjak ke fase kupu-kupu yang indah.

Namun, dari kupu-kupu kita juga bisa mengerti, bahwa sesuatu yang indah bisa jadi bakal musibah. Kupu-kupu memang cantik. Namun telur-telurnya menetas menjadi ulat yang bisa menghabisi dedaunan hingga meranggas.

***

Dalam musim seperti saat ini, akankah Bantimurung memperlihatkan keindahan kupu-kupunya kepada kami?

Kemungkinan besarnya adalah tidak. Namun, apa salahnya dicoba. Sebelum pergi, saya dan BJ mencari informasi operasional kawasan wisata Bantimurung. Pandemi Covid-19 memang membuat sebagian tempat wisata masih ditutup hingga hari ini. 

Ditambah lagi cuaca yang terkadang ekstrim. Kami pernah selintas membaca penutupan kawasan wisata Bantimurung akibat banjir. Dari laman Facebook Balai Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung, kami mendapat kepastian jika hari itu Bantimurung terbuka untuk tujuan wisata.

Dari Makassar, cuaca cukup bersahabat. Hari tidak hujan meski tidak terlihat sangat cerah. Pokoknya siapkan perlengkapan dan pakaian ganti. Juga tak usah terlalu banyak berekspektasi.

Perjalanan dari Makassar kami tempuh dengan santai dan lancar. Kondisi jalan  cukup bagus dan tidak macet. Mendekati kawasan wisata Bantimurung, terlihat penanda tulisan berwarna metalik. Dengan huruf-huruf segede gaban, sangat jelas terlihat dari jalan. Sayang sekali, obyek ini malah luput dari kamera kami.

Photo by Elshinta.com

Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung (sering disingkat TN Babul) adalah kawasan dengan luas mencapai 43 ribu hektar. Secara administrasi terbagi dalam wilayah Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep). 

Dengan luasnya area dan keragaman kondisi alam, sejatinya banyak wisata unggulan di TN Babul. Namun, bagi kebanyakan orang, Bantimurung mungkin masih/hanya identik dengan kupu-kupu. 

Keberadaan aneka kupu-kupu di Bantimurung memang sudah diketahui sejak lama. Naturalis asal Inggris, Alfred Russel Wallace (1823-1913) -penggagas Garis Wallacea- menjuluki Bantimurung sebagai kerajaan kupu-kupu (kingdom of butterfly).

***

Gapura kupu-kupu dari balik kaca mobil yang basah

Memasuki kawasan wisata Bantimurung, kami langsung disambut gapura kupu-kupu dan patung kera berukuran besar. Dari pos masuk kami mendapat informasi jika area konservasi kupu-kupu sedang direnovasi. Duuh, agak kecewa karena kunjungan kami ke sini lebih untuk wisata edukasi bagi Ale dan Elo. Apalagi di area konservasi kupu-kupu ada Helena Skybridge yang sepertinya akan menantang adrenalin untuk memanjatnya.

Tapi ya...bagaimana lagi, wong memang sedang ditutup. Masa memaksa masuk?

Tak apa. Masih ada alternatif tujuan kok. Setelah membayar retribusi parkir Rp 5.000 kami melanjutkan perjalanan ke dalam. Tidak terlalu jauh, kami tiba di tempat parkir yang saat itu terlihat lengang. Jumlah mobil bisa dihitung dengan jari sebelah tangan. Kalah dengan jumlah kios yang buka di seputar area parkir. Dari dalam mobil, bisa terlihat aneka barang yang terpajang di kios-kios. Tentu saja, yang menonjol adalah cenderamata dengan tema kupu-kupu.

Saat kami berkunjung, harga tiket masuk adalah Rp 30.000 per orang untuk wisatawan domestik dan Rp 150.000 untuk wisatawan asing. Sebelum masuk, kami menyempatkan diri ke toilet di dekat loket tiket. Mata saya langsung menangkap tulisan Angkasapura di dinding depan toilet. Begitu masuk ke dalam, memang serasa di toilet bandara!

toilet kualitas bandara


Kami masuk ke dalam diikuti seorang penjual cenderamata. Nanti kami akan tahu namanya, yakni Mas Alang. Awalnya memang ada sedikit rasa tidak nyaman, perasaan yang umum jika kita jalan-jalan dan diikuti penjual. Namun, sikap Mas Alang yang sopan dan bersahabat pelan-pelan menghilangkan rasa tidak nyaman itu.  Bahkan, selanjutnya kami merasa sangat terbantu.

Kami berjalan santai menuju air terjun Bantimurung, melintasi jalur jalan dengan kios-kios mungil yang bersih dan tertata rapi. Mungkin karena sedang wisatawan sedang sepi, tak banyak penjual beroperasi. Di sisi jalur jalan, ada spot-spot untuk berenang anak-anak. Ale dan Elo langsung girang. Pada musim yang tepat, air terjun Bantimurung memang terkenal untuk tempat mandi-mandi.

Namun, sayang, kondisi saat kami datang sedang tidak memungkinkan untuk bermain air. Tingginya curah hujan membuat volume air terjun berlimpah ruah. Kata Mas Alang, banjir beberapa hari sebelumnya  sampai merusak sisi-sisi jembatan. Air terjun Bantimurung memang tidak terlalu tinggi (misal jika dibandingkan Grojogan Sewu, Tawangmangu). Namun, derasnya air membuat suara air terjun terdengar  keras bergemuruh.


Pada hari ramai, banyak pengunjung mandi-mandi di sini

Secara harafiah, Bantimurung berasal dari kata benti murung yang berarti air bergemuruh. Namun, Ale memberi definisi tersendiri. Menurut dia, Bantimurung berarti membanting rasa murung. Haha, benar juga sih, dengan mandi-mandi ceria, otomatis rasa murung akan terbanting, lalu hanyut terbawa air. 😀

Namun, mandi-mandi dalam kondisi seperti saat itu? Cari masalah namanya.

Kami tak berlama-lama di air terjun. Mas Alang merekomendasikan tujuan ke Gua Batu. Selain Gua Batu, di kawasan tersebut juga terdapat Gua Mimpi. Dinamai Gua Mimpi konon karena ditemukan berdasarkan petunjuk dalam mimpi. Keduanya merupakan gua bebatuan karts dengan stalaktit dan stalakmit berusia sangat tua. Menurut Mas Alang, Gua Mimpi memiliki karst yang lebih indah (tampak berwarna-warni). Sayang, jarak ke Gua Mimpi lebih jauh dibandingkan dengan jarak ke Gua Batu.

Untuk menuju Gua Batu, kami harus menyusuri undakan tepat di sisi air terjun. Meski sudah diperkeras, musim hujan membuat permukaan jalan lembab bahkan sebagian licin. Dengan elevasi undakan yang cukup tinggi, juga suara gemuruh dan derai air terjun, ada rasa ngeri-ngeri sedap.  

Air terjun tepat di sisi undakan! Ada pembatas sih..


undakan tinggi, siapkan nafas :)


Beranjak menjauh dari air terjun, suara gemuruh melemah digantikan kesenyapan hutan. Datang di saat lengang wisatawan ternyata menjadi berkah tersendiri. Kami bisa berjalan dengan leluasa dan menikmati situasi. Sebagai taman nasional, TN Babul memiliki beragam jenis vegetasi. Ada jenis-jenis tumbuhan yang baru saat itu saya temui. Coba jalannya saya botanis ya, pasti kaya pengetahuan sepulang dari sini.

Kata pemandu, ini berry hutan. Apa ya nama nasional/latinnya?

Liana, batang kayu yang bisa jadi sumber air saat survival.

sukun hutan


 Sekitar 30 menit perjalanan, kami sampai di Danau Kassi Kebo. Danau tempat wisatawan akan berjumpa aneka kupu-kupu pada musimnya. Menurut Mas Alang, kemunculan kupu-kupu dalam jumlah besar biasa terjadi sekitar bulan Mei, yakni pada saat peralihan musim. Pada saat itu, ribuan kupu-kupu dari ratusan spesies bisa dijumpai di Bantimurung. Mereka bertebangan ke sana-kemari dan hinggap di sana-sini. Wisatawan yang mengenakan pakaian berwarna cerah bisa jadi sasaran hinggap kupu-kupu. Hhhmmmh... hanya bisa membayangkan betapa eksotiknya pemandangan seperti itu. Sayang sekali, kami datang pada waktu yang tidak tepat.

Gua Batu tak jauh dari danau. Berjalan bersama bocil, tetap harus hati-hati untuk menjangkau mulut gua. Bersyukur, saat itu kami tidak salah kostum, jadi bisa leluasa bergerak.



Kondisi dalam gua tanpa penerangan permanen. Namun, ada persewaan lampu di mulut gua dengan harga Rp 30.000 per lampu. Ale dan Elo sempat terkaget-kaget mendapati kelelawar-kelelawar kecil yang menempel di atap gua. Sebagian kelelawar beterbangan, tapi aman kok, mereka tidak menyerang.

Kami masuk dengan ditemani Mas Alang dan Mas Pardi (kalau saya tidak salah ingat). Mas Pardi, orang asli Bone juga bekerja menjual cenderamata. Nama Pardi yang khas Jawa ia dapatkan dari bidan keturunan Jawa yang menolong proses kehadirannya ke dunia.

Dengan bantuan lampu penerang, kami menembus kegelapan gua. Seperti di air terjun, di dalam gua juga tak banyak wisatawan. Padahal, saat ramai, dalam gua bisa memuat ratusan orang. Ada bagian lantai gua yang diperkeras untuk lajur jalan. Sangat membantu karena lantai gua terlihat basah, bahkan licin di beberapa bagian. Entah jika musim kemarau, bisa jadi kondisinya berbeda.

Dengan bantuan penerang, kami bisa melihat stalaktit dan stalakmit yang cantik. Rasanya ajaib memikirkan semua itu terjadi dalam rentang waktu yang sangat panjang. Ribuan tahun? Jutaan tahun? Entahlah. Meski benda mati, proses alam membuat stalakmit dan stalaktit itu terus "tumbuh" hingga hari ini.



Namun, kami tidak bisa berlama-lama dalam gua. Gelap dan lengang membuat Ale dan Elo merasa ngeri. Haha, masih anak-anak sih ya..  Suatu hari, mungkin mereka akan menyukai perjalanan semacam ini. 

Sekeluar gua, kami kembali lewat jalan yang sama. Hari sudah lewat tengah tengah hari. Menurut Mas Pardi, menjelang petang kadang ada hewan-hewan liar turun mencari makan. Di antara pepohonan, memang terliat jejak-jejak, yang sangat mungkin adalah jejak hewan liar.

Mendekati air terjun, awan menjelma hujan. Payung besar milik Mas Alang dan Mas Pardi sungguh sangat membantu. 

hujaaaaaan...


Tapi kami masih mampir ke museum kupu-kupu. Selain beristirahat dan berteduh, di sana kami bisa melihat aneka koleksi awetan kupu-kupu domestik maupun dari luar negeri. Untuk masuk museum, pengunjung harus membayar tiket Rp 5000/orang. Rrrrrr, sepertinya penataan koleksi kupu-kupu di tempat ini masih sangat sederhana sih. 


sebagian koleksi museum

sebagian koleksi museum

Hujan, pandemi, dan renovasi sebagian tempat membuat kunjungan kami ke Bantimurung tidak maksimal. Tapi siapa tahu akan ada waktu untuk kembali ke sana. Bertemu dengan kupu-kupu cantik pada musimnya.


Note :

Tips untuk berkunjung ke Bantimurung :

  • Gunakan pakaian dan alas kaki yang nyaman untuk bergerak.
  • Meski tidak berniat mandi-mandi, lebih baik tetap siapkan baju ganti.
  • Untuk bisa melihat kupu-kupu, agendakan waktu yang tepat (saat peralihan musim).
  • Berniat main ke gua? Bisa bawa tambahan penerang dari rumah.
  • Untuk update informasi, bisa hubungi media sosial Balai TN Babul  (*)   

24 comments:

  1. Nanti urung ini paket komplit ya mbk untuk. Selain ada air terjun juga ada gua nya. Ternyata kalo hujan, air terjunnya kayak banjir air ya mbk. Tapi tetep terlihat cantik banget air terjunnya

    ReplyDelete
  2. Saya baru sekali ke Bantimurung, dan itupun sudah 9 tahun yang lalu. Padahal sebetulnya ga terlalu jauh juga dari rumah saya di pinggiran Makassar. Tapi belum sempat juga ke sana lagi. Penasaran sama Helena Skybridge-nya.

    ReplyDelete
  3. belum pernah mak ke Bantimurung, membaca review ini jadi makin penasaran untuk mengunjungi dan merasakan langsung suasana di sana

    ReplyDelete
  4. Seru juga ke Bantimurung meski cuaca lagi hujan gini. Bagian air terjun, gua, sama kupu-kupunya menarik juga. Moga nanti ada kesempatan buat ke sana

    ReplyDelete
  5. Baru tau Bantimurung. Itu air terjunnya menggoda untuk mandi mbaa. Hihi.
    Anak2 pasti seneng. Museum kupu2, harga masuknya terjangkau ya mba

    ReplyDelete
  6. Kepengen masuk ke gua deh kalau suatu hari aku berkunjung ke Bantimurung ini. Koleksi kupu2nya kelihatan sederhana ya tapi bagus2 motifnya. Berarti kudu hati2 pas ke sini jangan pas mendung atau hujan. Wajib bawa baju ganti lengkap kalau ke sini, ga tahan main air hehehe. Gemes smaa foto2nya kepengen lihat lebih besar, mbak hehehe :D

    ReplyDelete
  7. Aduuhhhh, aku mupeeeng iki piye jal

    Filosofi kupu² emang mantuull bgt ya mbaa.
    Aku juga mauuu menjelajah Bantimurung yg kece abisss

    ReplyDelete
  8. Mbak Lisdha, berarti Mei nanti saat pergantian musim mesti balik lagi biar bisa menyaksikan ribuan kupu-kupu indah di Bantimurung ya...buat membanting rasa murung pas itu. Dan berpakaian warna cerah pastinya
    Senangnya bisa ke sini meski sempat murung karena ada tempat yang sedang tidak beroperasi.

    ReplyDelete
  9. Liburan, olahraga kaki dan eksplor alam nih. Satu pakey kalau datang ke Bantimurung. Pengen lihat juga gimana banyaknya kupu-kupu pas lagi banyaknya, tapi mesti lihat waktu yang pas, ya.

    Menjelajahi gua kayaknya petualangan yang seru. Memanh perlu banget nih persiapan bawa baju ganti, meski gak niat mandi atau lainnya, godaan kadang datang tiba-tiba.

    ReplyDelete
  10. Kadang-kadang saya suka malas jalan-jalan saat musim hujan tuh karena suka gak maksimal. Padahal di musim hujan biasanya suka banyak libur. Paling gak ada libur sekolah di bulan Desember. Mudah-mudahan nanti bisa ke Bantimurung lagi, ya :)

    ReplyDelete
  11. Sayang ya taman kupu-kupu sedang renovasi. Tapi masih bisa melihat koleksi kupu-kupu yang cantik di museumnya. Nikmat bernar baca cerita perjalanan di Bantimurung ini Mbak. Serasa ikut berdiri di samping Mas Alang, menikmati keindahan alam sekalipun cuaca sedang murung :)

    ReplyDelete
  12. Dulu waktu SD sering banget ke Bantimurung bareng keluarga besar bahkan main ke Toraja karena ada keluarga di sana menginap bareng sepupu, maklum keluarga besar..kangen..

    ReplyDelete
  13. Oh ada danau juga ya di Bantimurung, aku pengen banget bisa berkunjung ke sana. Semoga ada kesempatan bagi kami, udah lama terpesona dengan kecantikan air terjunnya.

    Liburan saat ini tempat wisata tetap sepi ya. Aku suka kasihan dengan penjual cinderamata, tempat makan di sana.

    ReplyDelete
  14. Wah sayang banget area konservasi kupu2 sedang direnovasi yah mbak, tapi untunglah masih bisa masuk ke museumnya yah jadi bisa sedikit terobati.

    Asyik sekali pastinya jalan2 ke Goa bahkan sampai lihat kelelawar segala. Nanti kalo cuaca sudah bagus harus diulang lagi wisata ke Bantimurung nih yah, supaya lengkap semuanya

    ReplyDelete
  15. Awal baca nama Bantimurung, bayangan saya itu tentang wisata dengan penuh suasana kemurungan. Ternyata arti murung tuh gemuruh ya, Mba. Tapi kalau dari cerita Mba Lisdha, pas berkunjung di saat pandemik memang jadinya murung ya, Mba. Nggak banyak yang bisa dinikmati sesuai harapan. Seperti mau lihat kupu-kupu pas bukan musimnya, mau mandi di air terjun lagi deras-derasnya air krn musim hujan, ke gua nggak bawa penerangan sendiri.. xixixi.. tapi seru sih jadi sebuah cerita. Sayang jauh kalau dekat mungkin saya juga akan mengajak anak-anak kesana.

    ReplyDelete
  16. Suka banget sama kupu kupu! Tapi percaya atau tidak saat ini sudah tidak ada kupu kupu lagi di tangerang.
    Memang kenyataannya, kupu-kupu di Indonesia pada saat ini mengalami ancaman kepunahan. Penyebabnya yaitu alih fungsi lahan, perburuan, dan penggunaan pestisida yang berlebihan, dan kalau di Tangerang so paasti karena polusi udara yang berlebihan (Tangerang kan tempatnya pabrik pabrik besar)

    ReplyDelete
  17. awalnya akupun mendefinisikan dengan kemurungan atau kesedihan, ternyata artinya bergemuruh gitu ya.

    tempat wisata banyak yang tutup, tapi kadang udah ada tulisan tutup, ternyata di buka sedikit pintunya.

    ReplyDelete
  18. Selama ini saya ngertinya di bantimurung itu lihat aneka macam kupu aja, ternyata ada air terjun, danau dan gua nya juga.
    hahaha... Ale bisa aja ya, bantimuring = banting murung. Hihi iya sih, lihat keindahan alamnya, apalagi kalau bisa mandi di bawah air terjun itu emang murungnya pasti hilang

    ReplyDelete
  19. Ah idem kirain juga all about kupu2, ternyata lokasi wisata ini menyuguhkan alam yang indah juga ya? Ada air terjun sampai gua.
    Kasihan ya enggak seramai dulu, tapi ya gmn lagi namanya jg saat ini sdng tak kondusif.
    Semoga segera ramai lg aamiin

    ReplyDelete
  20. Waduuh ..Ku jadi pengen Banting rasa murungku niih..
    bakalan langsung ceria kalo main ke Bantimurung ini, main air, cuci mata dengan pemandangan yang indah2.
    Aku familiar, sering denger tempat wisata yang hits ini, next kalo ada kesempatan pengen kesanaa.

    ReplyDelete
  21. Airnya kaya gitu yaa... di air terjun Bantimurung.
    Asa deras sekali alirannya. kok aku takut hanyut terbawa sampai ke laut.
    Huhuuu~

    ReplyDelete
  22. Seru banget main di bantimurung mbak, Duh kebayang air terjun yang bergemuruh lalu mandi6di Airnya yang dingin. InsyaAllah pengem ke sana kalau pandemi dah berakhir

    ReplyDelete
  23. Wah rindu banget traveling, dengar suara air, menghirup hawa pepohonan dan dan dedaunan MasyaAllah indahnya

    ReplyDelete
  24. Wah.. ceritanya komplit sekali mba.. kalau cuaca sedang cerah pastinya lebih mengesankan yaa..😍

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungannya. Mohon tidak meninggalkan link hidup dalam komentar ya :)