Cogelo Ergo Sum*

 

Bunda,

Kenapa mata ada dua?

Kenapa bulan bisa berjalan?

Kenapa kanguru kakinya dua?

Kenapa kucing kakinya empat?

Kenapa foto itu ada di kertas?

Kenapa kipas angin itu baling-balingnya selalu bergerak?

 

Bunda,

Kenapa magnet itu lengket?

Kenapa kalau berjalan itu harus berdiri?

Kenapa jagung selalu kuning?

Kenapa pohon selalu ada daunnya?

Kenapa bumi itu bulat?

 

Bunda,

Masa lalu itu apa?

Kutu buku itu apa?

Apakah kucing punya lutut?

Apakah di masa depan semua (hal) bisa terbang?

Apakah yang lebih tinggi dari burung?

Apakah yang lebih tinggi dari pesawat?

Apakah yang lebih tinggi dari roket?

Apakah yang lebih tinggi dari Tuhan?


 ***


Itu adalah sebagian dari sekian pertanyaanmu yang sempat aku catat. Sebagian pertanyaan langsung terasa aneh dalam logika pikir orang dewasa. Tapi itulah pertanyaan-pertanyaan yang kudapat dari kamu.

Kamu, ya kamu, seorang manusia kecil dengan bank pertanyaan yang seperti tak pernah defisit. Seharusnya ini tidak mengejutkan, karena berbagai buku maupun sumber pengetahuan lainnya telah memberitahu, bahwa anak-anak adalah seperti filsuf kecil. Anak-anak adalah kelompok manusia yang masih bisa memandang banyak hal sebagai sesuatu yang baru, yang menarik. Anak-anak adalah mahluk dengan antusiasme yang murni dan berlimpah.

Sekilas, pertanyaan-pertanyaanmu terdengar sederhana. Tapi faktanya, tak selalu bisa kujawab dengan mudah (atau aku yang berpikir terlalu kompleks?). Aku tahu, kadang kamu tidak puas dengan jawaban-jawabanku. Tapi kelak kamu akan tahu, bahwa kami bukan ayah-ibu-yang-serba-tahu-segala-sesuatu.

Sejujurnya aku menyukai pertanyaan-pertanyaanmu. Aku berharap, ini adalah bakal dari sikap kritis sebagai seorang manusia. Sebab itu, aku berusaha untuk tidak sekali-kali mematikan hasrat ingin tahumu. Walau sejujurnya dalam hatiku ada juga kekhawatiran jika pada suatu masa kamu terjerat sendiri oleh pertanyaan demi pertanyaan. Seperti yang pernah aku alami dahulu....

Suatu masa, ketika hidupku akrab dengan tiga kata. Berawal dari : mengapa? Lalu aku mencari dan gagal menemukan jawaban sehingga sering berteman dengan : entah. Semua itu membuat aku merasa : absurd.

Tapi kamu adalah anak panah**, yang akan memiliki jalur lesat sendiri. Pertumbuhanmu, perjuanganmu, jatuh bangunmu. Sedekat apapun kamu dengan kami, kamu adalah utuh sebagai kamu. Mungkin suatu hari kamu akan lebih tangguh mencari penjelasan. Atau justru lebih cepat memahami, bahwa tidak semua pertanyaan tidak (atau belum) memiliki jawaban. Dan menerima (accept), kadang adalah pamungkas yang sakti ketika banyak hal terasa ruwet.

Suatu hari mungkin kamu akan membaca ini, mungkin juga tidak. Jikapun tidak, aku telah mencatatnya dalam hati dan mungkin sesekali akan mengingatkanmu tentang ini. Pertanyaan-pertanyaan masa kecil yang suatu hari mungkin akan terasa lucu bagimu. Namun hari ini, aku secara khusus merangkumnya di sini. Sebagai catatan untuk genap enam tahun usiamu. ELO. Ernest Ladiant Ozora.

Puji Gusti. Sembah Dalem.

----------------------------------------------------

*pelesetan dengan nama Elo dari cogito ergo sum (aku bertanya maka aku ada), ungkapan terkenal dari filsuf prancis, Rene Descartes (1596 – 1650).

** dari puisi Kahlil Gibran, Anakmu bukan Milikmu

 

2 komentar:

  1. Yaaa, anak kecil kerap sekali bertanya hal-hal yg kita anggap sepele. Murid saya kadang bertanya, "apa itu nomor absen?" "apa itu melampaui" dsb..

    BalasHapus
  2. Saya pernah mengajukan pertanyaan yang similar dengan yang kedua. "Bu, kenapa bulan selalu mengikuti kita?" tatkala mbonceng naik sepeda ama emak.

    Emak saya menjawab "itu karena posisi bulan yang jauh" (menjelaskan secara sepintas hukum persepsi)

    BalasHapus

Terima kasih atas kunjungannya. Mohon tidak meninggalkan link hidup dalam komentar ya :)