Makam dan Pengingatan

 

keterangan gambar di bawah*

Saat menunggu pesanan mie ayam pangsit disajikan, mataku mengitari dinding rumah makan. Dinding yang cukup “ramai” dengan bermacam tempelan, berbanding terbalik dengan lengangnya rumah makan. Siang itu, dari sekian meja hanya dua yang terisi pembeli. Satu meja tempat kami berempat : aku, suami, dan anak-anak. Di satu meja lagi, ada seorang bapak dan ibu berkerudung.

Salah satu yang mencolok dari tempelan dinding adalah daftar “nomor-nomor cantik” yang dicantumkan bersama harganya. Selain menjual makanan, rumah makan ini juga menyediakan nomor perdana dan (mungkin juga) pulsa. Tapi aku penasaran dengan “nomor cantik.” Hari gini, ketika orang gonta-ganti nomor telepon seluler demi program promosi, apakah nomor cantik masih dicari? Bisa jadi masih, aku saja yang tidak tahu tentang ini.

Tak terlalu lama mengamati nomor-nomor cantik, mataku kemudian tertumbuk pada peta di dinding sebelah pintu utama. Bukan peta detail, hanya peta wisata sederhana yang merupakan alat branding provider kartu selular. Terbuat dari kertas glossy ukuran A3 dengan warna biru tua (dari warnanya, kamu bisa menebak merk kartu selularnya). Aku beringsut menghampiri, sementara suami dan anak-anakku tetap berada di kursi.

Dengan cepat mataku menelusuri peta. Sesungguhnya aku termasuk golongan manusia yang susah memahami maupun menghafal peta. Suatu “kekurangan bawaan” yang belum bisa kusembuhkan (sigh). Bahkan, dengan menggunakan Google Map pun aku masih sering gagal menjadi navigator bagi suamiku yang memegang kemudi kendaraan. S-e-p-a-r-a-h—i-t-u 😖

Tapi aku ingin hanya membaca nama-nama tempat. Tak peduli pada alur jalan (kalau ada tempat yang menarik, rute urusan suami 😂). Dalam hitungan detik, mataku tertumbuk pada sebuah nama tempat yang bagiku terasa menarik : makam Pangeran Diponegoro!

Heiiii... makam Pangeran Diponegoro ada di Makassar, kawan! Sudah berapa lama pengetahuan ini hilang dari ingatan? Aku yakin, pada suatu hari di masa lalu, aku pasti tahu fakta ini. Sebagai bagian dari jejalan pengetahuan bernama “pelajaran sejarah.” Tapi sungguh mati, aku lupa. Ingatan itu terkubur bersama hal-hal lain yang tentu aku tak bisa sebutkan (kan aku lupa).

Dengan girang aku kembali ke meja. Memberi tahu suami mengenai makam itu, seolah sebuah informasi berharga tentang lokasi harta karun (iya sih, ini lebay hehehe). Makam sang Pangeran segera masuk wish list tujuan kunjungan. Dalam dua bulan tinggal di sini (Sulawesi Selatan), baru makam raja-raja Tallo yang sudah kami datangi.

Baca : Makam Raja Tallo

Menelisik jauh ke belakang, sesungguhnya mendatangi makam bukan suatu kebiasaan bagiku. Sedari kecil, aku tidak terbiasa dengan tradisi nyekar atau ziarah. Bahkan, setelah bapak dan simbah-simbah meninggal sekalipun. Sebenarnya, ini berbeda dengan tradisi umum di kampungku. Menjelang puasa, ada tradisi nyadran. Di saat itu, orang-orang mendatangi makam keluarga, juga membuat masakan spesial untuk diantar ke saudara. Ah ya, dulu aku bahagia sekali kalau mendapat antaran masakan nyadran. Biasanya akan ada ayam atau telur, menu yang mewah di kala itu. 

Tetapi, kebanyakan keluarga besar dari pihak ibuku beragama Kristen. Terlebih, kami tumbuh dalam ajaran Kristiani yang tidak mendoakan keselamatan orang-orang yang sudah lama meninggal.  Kehidupan setelah mati adalah rahasia Illahi yang terhubung dengan masing-masing pribadi selama dia hidup. Bisa jadi ini yang menyebabkan kami tidak terbiasa ikut dalam tradisi nyadran. Perbedaan yang diterima sebagai hal biasa di kampungku. (Oh ya, sependek pengetahuanku, dalam Islam pun ada perbedaan pemahaman soal nyadran dan tradisi sejenisnya).

Tentang hal ini, pengetahuanku sangatlah basic. Dari sekian aliran kekristenan pun, mungkin ada perbedaan pemahaman. Apalagi dengan agama/kepercayaan yang lain. Tapi aku tak ingin menjadikannya sebagai perdebatan. Buatku, berdebat tentang sesuatu yang dipercayai (atau tidak dipercayai) dengan iman justru sering kontraproduktif. Intinya, mungkin itu yang membuatku tidak akrab dengan kunjungan ke makam.

Uniknya, aku memulai tradisi ke makam karena keluarga suami, yang notabene berasal dari satu denominasi gereja. Datang ke makam, bukan untuk mendoakan yang sudah meninggal. Melainkan kembali menyegarkan setiap kenangan. Juga mengajarkan pada anak-cucu tentang sebuah pertalian keluarga. Ternyata ini berguna untuk kedua anak lelakiku, yang tak sempat mengenal simbah kakungnya. 

Setiap pulang kampung saat Natal, kami hampir selalu ke makam bapak mertua. Bapak yang tak sempat kujumpai karena beliau meninggal jauh sebelum aku menjadi menantu. Untuk ke makam bapak, kami harus menempuh jarak Klaten – Kulonprogo, yakni sekitar 2-3 jam perjalanan dengan kendaraan.

Supaya “adil”, setiap pulang kampung, suami juga mengajakku ke makam bapak kandungku. Iya, inisiatif justru dari dia, bukan dari aku. Makam bapak ada di pemakaman kampung yang tak terlalu jauh dari rumah. Makam itu berada di pinggiran desa, sekitar 20 meter dari jalan aspal. Makam kampungku dikelilingi kebun yang ditumbuhi aneka tanaman. Sebutlah kopi, sengon, melinjo, pisang, dan sebagainya. Dengan jalan kaki teramat santai pun hanya butuh waktu sepuluh menit untuk mencapainya. (Kecuali di jalan banyak berhenti karena bertegur-sapa dengan tetangga J).

Kebiasaan baru dari keluarga suami membuatku memiliki perhatian kepada makam.

Masa kanak-kanakku diwarnai dengan cerita horor tentang makam. Memang, makam-makam di Jawa (atau setidaknya di lingkungan masa kecilku) cenderung punya aura wingit. Pohon besar (kebanyakan beringin) seolah raja di sana, dengan bunga-bunga kamboja sebagai dayang-dayang. Pohon besar akan memberikan keteduhan pada teriknya siang. Tapi, di malam hari, bayang-bayang pohon akan membuat makam berselimut gelap.

Maka, makam-makam di masa kecilku berkelindan dengan cerita beragam hantu. Pocong, kuntilanak, genderuwo, ... dan teman-temannya. Sebab itu, makam bukan tempat untuk bermain bagi anak-anak. Jangankan bermain, melewati jalan dekat makam saat hari menjelang gelap saja sudah bisa bikin jantung berdetak lebih kencang.

Saat menjadi anak putih abu-abu, sekolahku tak terlalu jauh dengan makam Tionghoa. Makam terbuka di pinggir jalan raya, jauh dari kesan angker. Kadang aku melewatinya saat lari pagi,  kala jalan masih terasa sunyi. Meski sendiri, tak ada rasa takut menghampiri. Mungkin karena di masa itu, kadang tontonanku adalah film-film China dengan hantu vampir yang bertingkah lucu.

Semasa tinggal di Tanah Batak, aku kembali melihat makam dalam nuansa yang berbeda. Di kampungku, kami yang berbeda agama dikuburkan di lokasi makam yang sama. Namun, di tempat lain, aku melihat hal yang berbeda. Makam berdasarkan label agama adalah hal yang lumrah. 

Pada orang-orang Batak Kristen, bukan hal aneh jika makam berada di pekarangan. Maka, makam jauh dari kesan menyeramkan. Kalaupun tidak dekat rumah, makam berada di kebun atau sawah  milik keluarga. Makam dibangun seturut tingkat ekonomi keluarga.

Saat di Kabanjahe, Tanah Karo, gerbang komplek perumahan tempat tinggalku berada di dekat sebuah makam keluarga. Aku sempat takjub karena tempat itu lebih mirip monumen perjuangan. Taman yang luas dengan tugu megah berukir nama-nama almarhum/almarhumah. Di sudut “taman” ada rumah yang dihuni keluarga perawat makam. Saat hamil anak pertama, aku kadang jalan-jalan pagi di sana. Tanpa alas kaki, aku menapak di atas rumput taman yang masih berembun.

Bergeser ke Pulau Samosir, di sana juga banyak makam yang indah. Makam-makam bernuansa etnik dengan lanskap bukit-bukit dan Danau Toba yang super-cantik. Bagiku, itu seperti definisi harfiah dari “rest in peace.” Dengan pertalian suku yang erat, tak heran jika di manapun menghabiskan waktu untuk hidup, banyak orang Batak ingin “pulang” untuk dikuburkan.

Di sini, aku sabar menunggu waktu untuk bisa bertandang ke Tana Toraja. Tempat di mana makam akan kembali memberikan cerita yang berbeda. Baru dari foto aku melihat, orang-orang mati dikuburkan di tebing atau di goa. Juga jasad bayi-bayi diistirahatkan di badan pepohonan. Rasanya, itu akan lebih dari sekadar kunjungan turistik.

Mengapa aku mulai memandang makam dengan cara yang berbeda?    

Kupikir-pikir, mungkin ada dua hal yang menjadi pendorongnya. Pertama, karena aku mulai memiliki ketertarikan pada sejarah. Ah ya, yang kumaksud sebagai sejarah tidak harus cerita yang tercatat dalam buku-buku, cerita hebat yang mampu mengubah wajah dunia. Sejarah besar, toh juga tersusun dari keping-keping kecil. Bukankah tiap-tiap orang memiliki sejarahnya sendiri-sendiri? Tidakkah setiap nama yang tertabal dalam batu nisan punya sejarah masing-masing?

Siapakah Robert Crieve Scott??


Kedua, mungkin juga karena aku sudah menempuh lebih dari separuh perjalanan hidup. Itu berarti, jarak usia ke makam sudah semakin dekat. Aku menulis ini pernyataan ini dengan perhitungan manusia, yakni harapan hidup rata-rata perempuan Indonesia (2018) yang mencapai 73,06 tahun**. Sementara, tahun ini aku sudah mencapai 39 tahun. Bukankah itu sudah lebih dari separuh umur? Tapi iyaaaalah, umur manusia itu rahasia Illahi yang tak akan bisa kita mengerti.

Bagaimanapun, berada di makam membantuku benar-benar mengingat. Bahwa suatu hari, cepat atau lambat, aku juga akan “tinggal” di sana.


-------------------------------------------------------

* keterangan foto


** https://hellosehat.com/hidup-sehat/fakta-unik/angka-harapan-hidup-indonesia/#gref

 

 

 

 

   

 

 


23 komentar:

  1. Sampai sekarang aku masih horor kalau lewat makam, terutama kampung halaman karena posisinya pemakaman dulu baru kampung. Tetapi berbeda kalau jiarah atau nyekar ke makam para pahlawan auranya beda tidak semengerikan yang dibayangkan.

    BalasHapus
  2. Memang kesan makam itu agak-agak seram gitu hehe. Tapi kalau nyekar ke makam keluarga yg sudah meninggal, ya biasa saja, mungkin karena nyekarnya rame-rame, bareng keluarga.
    Yup, umur manusia memang rahasia Illahi yang tak bisa kita mengerti. Sampai umur berapa kita hidup di dunia, kita tidak tahu.

    BalasHapus
  3. Keluargaku non muslim tapi masih rajin nyekar sih mba. Memang betul ada perbedaan walau agamanya sama.

    Aku dibesarkan dari keluarga yg agamanya macam2 jd malah seru dan paham semuanya. True ziarah jg akrab banget di keluarga, jd tau sejarah keluarga yg sebelum2nya jg

    BalasHapus
  4. Hhhaaa iya memang benar, dari dulu keluargaku yang Jawa kejawen, memang rutin dibiasakan kalo ke Makan meski dari kecil tuh rasanya denger makan horor beserta cerita2nya.
    Tapi mengunjungi makam2 jaman now justru nyaman2 banget, cantik2 jadi kesannya homy banget

    BalasHapus
  5. Sama sih kayak aku ini, aku tipe orang yg suka takut kalo lewat makam, bayangannya serem aja gitu, krn dari kecil memang gak boleh ke makam sama orgtuaku :)
    Padahal kalo sedari kecil diedukasi mah gak ya :)

    BalasHapus
  6. Ku suka endingnya..."berada di makam membantuku benar-benar mengingat. Bahwa suatu hari, cepat atau lambat, aku juga akan “tinggal” di sana."
    Jleb banget.
    Kalau aku sebelumnya sama, ga terbiasa ke makam saat dah jauh dari ortu selepas SMA sampai menikah. Tapi setelah anak pertamaku meninggal dan dimakamkan di dekat rumah ortuku, tiap pulkam aku pasti nengok makamnya. Buat ngenalin anak-anak dia punya Mas di surga, juga buat mengingatkanku tentang kematian yang enggak pandng usia.
    Oh ya, ditunggu cerita kunjungan ke Makam Diponegoro dan Tana Toraja , Mbak Lisdha

    BalasHapus
  7. Benar, datang ke makan bisa menjadi bagian dari mengenal sejarah keluarga bagi yang belum pernah kita temui ya. Di samping itu, sebagai pengingat bahwa kita semua juga akan "tinggal" di makam.

    BalasHapus
  8. Di tempat tinggal orang tua ku dulu nya banyak makam atau kuburan Belanda karena memang itu kuburan orang-orang Belanda yang tinggal disana. Sayang kuburan-kuburan itu justru dijadikan rumah sekarang

    BalasHapus
  9. Suka serem klo lewat makam...
    Apalagi makam cina yg gede gede itu.
    Suka horor sendiri

    BalasHapus
  10. Aku kurang terbiasa berziarah ke makam. Tapi sejak menikah, hampir tiap Lebaran ikut keluarga suami berziarah. Di hari raya, berziarah itu sudah rutinitas setelah sholat Ied. bahkan sampai jauh-jauh ke kota kelahiran mertua hanya untuk nyekar pun dilakoni hehehe. Tapi ya menyenangkan juga jadi tahu sejarah keluarga. Bahkan karena kakek saya dan kakek suami dimakamkan di TMP yang sama kami jadi bisa cerita tentang kepahlawanan beliau-beliau kepada anak-anak kami.

    BalasHapus
  11. akhir-akhir ini aku mendapati berita duka dari sirkel terdekat dan memang nasihat kematian ini jadi cerminan buat kita selalu memberikan yg terbaik dan saling mengasihi ya mba..

    BalasHapus
  12. Iya, kok sama mbk. Waktu kecil horor banget kalo lewat makam. Ceritanya aneh aneh jadi kebawa sampe sekarang. Aku jarang nyekar, tapi sesekali nyekar bareng keluarga

    BalasHapus
  13. Kalau keluargaku, bapak ibuku termasuk rajin nyekar. Sekalian pas lebaran itu pas mudik biasanya nyekar makam mbah2. Kyk jd mengingatkan jg ttg kematian gtu kalau diajakin nyekar. Kdng jg iseng memperhatikan nama2 yang ada di makam, sama liatin tanggal lahir dan tanggal kematiannya. Ngliatin nama2nya sambil bertanya2 mereka dulu kehidupannya seperti apa...

    BalasHapus
  14. Di tempatku juga pemakaman berdasarkan agama ada, malah kuburan muslim dan nasrani sebelahan. Beda pintu masuknya aja. Tapi kuburan ya tetap kuburan sih, serem kalo disini hehe

    BalasHapus
  15. Hai Mbak, aku tuh sebenarnya punya hobi ke makam 😂 tapi masa pandemi kayak gini bikin ga bisa ke makam. Soalnya tiap ke makam jd ingat kalo kita bakalan meninggalkan semuanya di dunia, pokoknya ada rasa yang mengharu biru kalo ke makam padahal kadang makam-makam yang aku datengin juga kadang bukan makam keluargaku. Aku suka ke makam-makam belanda (kerkhoff), makam² pahlawan dan makam para raja di Jogja

    BalasHapus
  16. Iya, suatu saat kita akan tinggal di sana juga ya, Mbak. Dan ternyata beda daerah dan atau keyakinan, beda pula perlakuan terhadap makam, ya. TFS, Mbak :)

    BalasHapus
  17. Makam-makam di kampungku juga biasanya ditumbuhi pohon beringin dan pohon kamboja. Sama sih Mbak aku juga nggak terlalu sering nyekar ke makam dan malah nggak terlalu suka karena memang suasananya selalu menyeramkan dengan pohon-pohon yang besar.

    BalasHapus
  18. about good number. i am often till now get sms who some one buy the good number too. As like from XL or Indosat because i am Telkomsel. the prince so expensive too

    BalasHapus
  19. memang kita tidak boleh lupa kalau kita akan kembali pada-Nya di saat yang sudah ditetapkan. Karenanya kita harus selalu ingat yaaa

    BalasHapus
  20. Sebaik-baik pengingat kematian adalah dengan berkunjung ke makam seperti ini..
    Dan anak-anak sekalian bisa mengenal garis keturunan juga yaa...
    Sudah lama kami tidak berkunjung ke makam Bapak, karena lokasi yang di Jawa Timur.
    Rindu rasanyaaa..

    BalasHapus
  21. Di kampungku yang nuansa Islamicnya kental sekali, masih ada tuh mba tradisi nyadran. Di keluargaku, mbakku yang nomer 2 yang paling antusias nyekar ke makam suwargi bapak dan kakak laki-lakiku. Aku sendiri nggak pernah suka mendatangi makam. Bukannya ingin melupakan keluarga, tapi mendoakan mereka yang sudah tiada bisa dilakukan di mana saja.

    Mungkin yang paling bikin ga enak hati saat datang ke makam ya itu tadi, bayangan bahwa suatu saat nanti kita akan terbujur di sana makin merasuki hati. Bagus sih untuk pengingat agar tak lelah berbuat baik di dunia. Tapi tetap saja rasanya ada yang ngilu di hati ketika masuk ke makam.

    BalasHapus
  22. Terimakasih sudah mengingatkan mba.
    Aku juga kalau ada kematian langsung mak nyes, tinggal nunggu giliran semacam pengingat
    semoga kita semua dimudahkan dalam mengumpulkan ibadah dan amal

    BalasHapus
  23. Kebiasaan nyekar dilakukan saat Lebaran . Minggu pertama nyekar di Pekalongan. Minggu kedua ke Garut.

    BalasHapus

Terima kasih atas kunjungannya. Mohon tidak meninggalkan link hidup dalam komentar ya :)