Tentang Harta Warisan

pic by word cloud generator


Pada Alkitab, terdapat kisah perumpamaan tentang seorang ayah yang punya dua anak. Suatu hari, si bungsu datang pada sang ayah untuk meminta harta bagiannya. Sang ayah memenuhi permintaan si bungsu. Kemudian, anak itu pergi jauh, berfoya-foya menggunakan harta pemberian ayahnya. Sampai kemudian hartanya habis total. Lebih buruk lagi, di kota tempat ia menjalani hidup extravaganza terjadi resesi  parah (kalau di Alkitab sih pakai istilah kelaparan ^-^)

Dari semula bergelimang harta, kini si  bad boy mencoba bekerja apa saja.  Yang penting bisa mengisi perut. Tetapi situasi sangatlah parah (mengingatkan saya pada kondisi pandemi ini). Ia bahkan harus makan makanan babi untuk memenuhi rasa laparnya. Tak tahan menanggung derita, ia memutuskan untuk pulang kepada ayahnya.

Sukuriiiiiin. Anak durhaka, tak tahu diuntung, kurang ajar, bla bla bla.. Andai dia hidup di masa sekarang, si bungsu akan menjadi sasaran empuk dari netijen yang “selalu benar” :D. Tapiiiiii,  masih ada lanjutan kisah yang justru merupakan inti pesan dari cerita tersebut. Plot twist ending, jauh dari harapan pemirsah. Namun, cerita saya cut sebelum pamungkas karena fokus saya adalah pada si bungsu.

pic by komikalkitabanak

Saya menuliskan ini setelah beberapa komentar dalam tulisan saya justru fokus pada soal warisan daripada inti tema yang saya tuliskan. 

Baca : Dalam Ayunan

Juga baca : Makam Raja-raja Tallo

Tidak...mereka tidak salah berkomentar. Justru  itu menegaskan bahwa warisan memang sering jadi persoalan sedari duluuuuu hingga sekarang. Heboh perkara warisan yang terakhir saya baca di media nasional adalah gugatan salah satu anak pendiri Sinar Mas Group*. Ya gimana nggak heboh di media, lha wong total nilai aset peninggalan mendiang Eka Tjipta Widjaja mencapai Rp 737 triliunKrik-krik-krik, bagemana angkanya nggak bikin jiwa missqueen meronta?  :P 

(Makanya jangan berjiwa missqueen, Bogeng**)

Gara-gara warisan, banyak hubungan darah jadi berantakan. Ada anak kandung menggugat orangtua ke pengadilan, ada antar-saudara saling bermusuhan. Bahkan, lebih parah lagi sampai ada kejadian yang menghilangkan nyawa.

Kisah yang sering kita dengar bukan?

Sebentar kembali ke cerita si bungsu. Seperti dalam kisah perumpamaan tersebut, saya juga terlahir sebagai bungsu dari dua saudara. Ada perasaan related meski dalam cerita tersebut dua bersaudara laki-laki, sedangkan saya dan kakak sama-sama perempuan.

Lebih related lagi ketika saat pulang kampung dua atau tiga tahun lalu (sungguh saya lupa tepatnya), saya mengajak emak untuk berbincang serius tentang warisan.  Sebab, spendek pengetahuan saya, dalam kekristenan tidak dipakai aturan/hukum agama tentang warisan.**

Anak bungsu kurang ajar, orangtua masih segar bugar kok sudah diajak ngobrol tentang warisan. Rrrrrr...seandainya saya jadikan status di media sosial, mungkin saja ada yang merespon demikian (entah di komentar atau dalam hati saja). Share di blog (lalu lanjut share di medsos) memang juga memungkinkan untuk dibaca siapa saja. Tapi tahu kan kalau tingkat keterbacaan blog tidak semasif status media sosial. 

Saya bukan si bungsu yang sedang meminta bagian warisan. Entah bijak atau tidak menurut orang lain, tapi bagi saya ini adalah tindakan antisipatif.  Saya menyampaikan pada emak, tentang harta warisan sebaiknya dibicarakan sejak awal. Umur seseorang, kita tidak pernah tahu. Jadi, jangan sampai beliau pergi sebelum meninggalkan pesan apapun pada saya dan kakak. 

Tiga poin saya utarakan. Pertama, saya akan menerima apapun keputusan emak. Kedua, selama emak masih hidup, semua aset itu tetap milik emak dan untuk keperluan emak. Ketiga, jika ada suatu hal yang menyebabkan perubahan, emak tinggal menyampaikan lagi kepada kami berdua.

Bersyukur, emak bisa menerima usulan saya. Kakak juga sepakt. Long short story, kemudian ada perbincangan antara emak, kakak, dan saya. Beliau menyampaikan pembagian aset di antara kami berdua. Jadi, pesan emak bukan wasiat tertutup baru boleh dibuka kelak kemudian hari. 

Saya dapat berapa triliun? Ah kejauhaaaaan...Oke deh, berapa miliar? Ah ternyata juga masih kejauhaaan hahaha.

Almarhum bapak hanyalah petani dengan kepemilikan tanah yang tak jauh dari rata-rata nasional***. Sedangkan emak hanya pedagang kecil-kecilan (itu pun dulu, saat tenaganya masih prima). Jelas saja, warisan material mereka sejarak earth to the moon and back dengan harta mendiang  founder Sinar Mas (haha, belum move on gara-gara angkanya) :P.

Tapi saya tidak fokus pada masalah angka/jumlah. Saya juga tidak fokus pada masalah keadilan pembagian. Seperti pada poin pertama, saya akan menerima apapun keputusan emak. Sebab, bagi saya, bapak-emak sudah bersedia membiayai kuliah (S1) sudah merupakan “warisan” yang mahal.  

Dengan kemampuan ekonomi mereka, rencana pendidikan orangtua untuk saya dan kakak hanyalah lulus sekolah menengah.  Itu sebabnya kami berdua sama-sama masuk sekolah kejuruan. Namun, selulus SMK, saya benar-benar memohon supaya bisa kuliah. Meski dengan syarat dan ketentuan, beliau berdua menyanggupi. Meski kampus negeri, tetap saja orangtua harus berjuang keras (to be honest, saya berkaca-kaca menuliskan bagian ini...huuuft, sisi melankolik saya memang mudah terpantik).

Jadi saya fokus pada sesuatu yang saya pikir sebagai langkah antisipatif.  Umur memang rahasia Tuhan. Tapi jangan sampai, jika Tuhan lebih dulu memanggil emak, beliau sama sekali belum meninggalkan pesan. Jangan sampai kami dua bersaudara bingung menentukan keputusan. Lebih buruk lagi, jangan sampai kami berkonflik hanya gara-gara harta warisan.

“Tak kusangka, kami berani mengatakan itu pada Ma’e,” demikian respon kakak saya. Tentunya dalam bahasa Jawa ^-^. Lupa sih bagaimana persisnya kata-katanya. Pokoknya kurang lebih seperti itulah.  

Aslinya sih saya agak-agak takut juga mengutarakannya. Bagaimanapun, ada rasa “nlunjak” (ngelunjak) untuk membicarakan warisan di saat orangtua sama sekali belum menyinggungnya.  Tapi saya menepis perasaan ragu dengan keyakinan, niat saya baik kok. Puji syukur untuk respon emak yang sangat akomodatif.

Keluarga Suami

Dalam hal ekonomi, keluarga saya dan suami tak terlalu jauh berbeda. Ibu mertua dan mendiang bapak mertua hanya guru sekolah dasar sementara suami saya empat bersaudara. Dengan gaji guru SD di masa lalu, jelas perjuangan berat untuk menyokong semua anaknya hingga bangku kuliah. 

Empat tahun lalu, ibu terserang stroke yang membuat beliau lumpuh sebelah badan. Tak hanya lumpuh anggota gerak (tangan dan kaki), tapi stroke juga membuat ibu kesulitan bicara. Sampai saat ini, ibu berbicara dengan isyarat atau tulisan (dengan tangan kiri). Tapi tulisan pun terbatas karena stroke juga menggerogoti banyak ingatan beliau.

Sebagai pegawai negeri, ibu berhak atas uang pensiun ibu dan juga bapak. Itulah yang ibu gunakan untuk biaya hidup sehari-hari. Yang mana, jumlahnya tak lagi cukup setelah ibu jatuh sakit. Tapi inilah waktu bagi anak-anak untuk menunjukkan bakti.

Setahu saya, ibu tak punya aset material yang berharga selain rumah tinggal saat ini. Namun,  terdorong kerinduan untuk memberi, ibu mengajukan pinjaman dengan agunan pensiunnya. Pinjaman itu beliau bagikan ke anak-anaknya. Lalu beliau mencicil dengan potong langsung dari uang pensiun.  

Bukan nominal yang wah. Juga, bukan tindakan yang akan disetujui semua orang. Tapi saya melihat dari niat ibu. Sedemikian ingin beliau memberi kepada anak-anaknya, sampai-sampai ibu melakukan itu. Soal rumah, dulu ibu belum menyinggungnya. Tapi saya bersyukur untuk suami, yang juga tak repot memikirkan peninggalan orangtua. Kami senada dalam sikap : diperjuangkan untuk kuliah sudah merupakan warisan yang sangat berharga.

Menuliskan ini membuat saya kembali bersyukur. Saat ini saya tidak berada dalam pusaran konflik akibat harta peninggalan. Selain itu,  dengan cerita yang sudah saya bagikan di atas, secara matematis kecil kemungkinan akan terjadi konflik warisan.

Tapi memang tak boleh jumawa. Di dunia ini, banyak hal yang terasa tidak mungkin, tapi menjadi kenyataan. Tetap berdoa untuk hari-hari baik di masa depan. (LSD)

---------------------------------------------------------------------

Referensi :

* https://www.cnbcindonesia.com/market/20200812140324-17-179263/gokil-anak-pendiri-sinarmas-gugat-lagi-harta-warisan-rp737-t

** mungkin suatu hari saya ketemu suatu referensi yang lebih jelas

*** sapaan khas dalam kanal youtube MAQ

** https://media.neliti.com/media/publications/48877-ID-analisis-sosial-ekonomi-petani-di-indonesia.pdf

 

  

19 komentar:

  1. Dari dulu sampai sekarang, persoalan harta gono gini, warisan selalu menjadi masalah. Sampai ada yang nyelesaiinya di pengadilan ya mbk.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba Iis..makanya saya nggak ingin yg kayak gitu juga kejadian di kami

      Hapus
  2. Warbiyasaakk kamu Mbaa!
    Memang sebaiknya warisan ini dibicarakan secara terus terang antara berbagai pihak yg terlibat.
    Karena bisa aja, dalam satu keluarga, ortu atau anak saling berseteru
    Trus jadi bubraaahh deh urusan warisannya kalo sama sekali ga pernah dibicarakan

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha..salah satu ide nulis ini gara2 komentar mak nurul ttg keluarga pengusaha es krim di sby

      Hapus
  3. Soal warisan memang kadang jadi sumber konflik bersaudara, untuk itulah harus dibicarakan saat orang tua masih hidup untuk menghindari sengketa di kemudian hari.

    BalasHapus
    Balasan
    1. itu tadi ya mbak..umur nggak ada yg tahu

      Hapus
  4. Kalau dalam Islam, yang namanya warisan itu adalah harta yg diberikan setelah seseorang meninggal. Kalau sebelum meninggal bukan warisan, tapi wasiat. Nanti setelah meninggal, wasiatnya dulu yg diutamakan, sisanya tetap menjadi harta warisan yg dibagi2. Kebanyakan org bertengkar itu krn merasa tidak adil dan mengingkari aturan yg telah dibuat, efek dari sifat serakah. Kalau semua baik2 dan menerima apa adanya sepertu keluarga Mba, ga akan ada pertengkaran soal warisan. Ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. thanks pengayaan istilahnya mbak ade. Saya kurang jelas dalam membedakannya ya...Memang sih, ada aturan pun banyak yg nabrak karena itu tadi...keserakahan

      Hapus
  5. Saya setuju dengan Mbak Lisdha jika warisan sebaiknya dibicarakan sebelumnya. Bukan apa-apa sih, kuatir jika ternyata tidak ada wasiat maka anak keturunan yang ditinggalkan akan berebutan. Saya pernah usul ke Ibu Mertua (Bapak sudah meninggal) untuk membuat wasiat ke notaris, jadi tertulis, mumpung Beliau masih sehat. Masalahnya saat ini di keluarga suami sudah meributkan masalah ini. Tapi usul saya ditanggapi Bumer dengan santuy.."suk wae"...lha kalau Beliau tiba=tiba meninggal, ada perang saudara saya rasa, meski suami sudah jauh-jauh hari bilang akan melepaskan hak warisnya tapi pasti dia akan terlibat juga wong naanya saudara...duh!

    BalasHapus
    Balasan
    1. itu juga mbak. kadang kita melepas hak waris, belum tentu dengan keturunan kita. Ada soalnya kejadian kayak gini. Si anak ga nuntut warisan orangtua, tapi suatu hari (entah salah didikan atau gimana), si cucu menuntut ke neneknya. Katanya itu harusnya dulu bagian orangtuanya

      Hapus
  6. Di keluargaku juga begini. Jadinya lega karena setelah para tetua wafat, anak-anaknya tidak bingung mempersoalkan apa dapat apa, atau cara pembagiannya bagaimana. Orang tua sudah menetapkan di saat mereka masih hidup dan kami menerima ketetapan tersebut dengan lapang dada.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ketika dibicarakan semasa masih hidup, kalaupun ada yg nggak sreg , masih ada waktu untuk dibicarakan

      Hapus
  7. Sensitiiiiif sekali kalo udah menyangkut uang ato harta ya mba. Sodarapun bisa ribut kalo udh soal duit ..

    Aku memang ga prnh membicarakan masalah warisan ke ortu. Papa mama Alhamdulillah msh ada dan sehat. Papa msh aktif juga mengelola bisnis2 nya. Tapi mama prnh ngomong, jgn prnh berantem dengan sodara kandung. Semua harta papa mama udh diatur oleh pengacara dan sesuai hukum Islam. Buatku sih, warisan itu ga aku masukin ke dlm list income yg akan didapat. Semuanya bakal aku serahin ke papa mama utk membaginya. Itu hak mereka.

    Syukurnya kluarga suami juga ga neko2. Papa mama mertuaku udh ga ada, dan semua harta mereka dibagi adil ke suami dan Kaka ipar yg memang cuma berdua. Kaka iparku itu baik luar biasa. Dia dan suami selalu saling support dari dulu. Even pas mama meninggal mendadak , mereka sepakat harta2 orang tua, rumah dan apartmen, semuanya dibagi rata. Jadi ga ada pertengkaran dan rebutan. Aku jg percaya itu hasil didikan dari ortu yang mendidik anak2 mereka supaya ga gila harta :).

    Akupun bertekad mendidik anak2ku seperti itu. Jgn mengharapkan warisan. Utamakan ilmu yg didapat, dan usaha dari situ. Jadi mau diletakkan di manapun, ga akan kesusahan hidupnya Krn terbiasa mandiri.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepakat Mbak fanny. Waktu itu aku bahkan berpikir, aku ga masalah kalau emak mau menghibahkan kepemilikannya pada lembaga tertentu (mungkin wakaf kalau di islam ya). Buatku, dibiayai sekolah itu lebih berharga dari warisan harta

      Hapus
  8. Paling ngeri saya kalau udah mikirin konflik karena warisan. Makanya sebagai orang tua, saya suka mikir gimana caranya jangan sampai anak-anak jangan sampai ribut seperti itu. Ya meskipun hartanya seadanya, tetap aja kalau anak-anaknya gak akur bakal ribut

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener mbak..maka sedari sekarang pun saya berpikir malah berfikir untuk tidak meninggalkan warisan harta bagi anak2. Kepenginnya maksimalin buat pendidikan mereka. itulah warisan kami

      Hapus
  9. Eh kemana aja ya aku kok kudet dengan berita anak keturunan generasi pertama Sinar Mas yang menggugat warisannya. Tapi bener deh warisannya jumlahnya bikin takjug, segitu duit semua ya,meski kebanyakan termasuk harta tak bergerak juga kaan.

    Kalo aku dan suami sama sih, nggak mau ngurusi warisan orang tua. Kita cari sendiri harta untuk dunia dan sedekah atau bantuin orang yang belum beruntung

    BalasHapus
  10. Soal warisan sebenernya harus dibahas ya dgn keluarga. Aku pernah agak terlibat konflik dgn ipar gara² membahas soal warisan..

    BalasHapus
  11. warisan ini emang tricky things ya. selama ini aku pegang prinsip keluarga mamaku aja yang penting ngga ngarepin warisan, sukses sendiri, apapun yang dikasi ortu diterima dan begitu ada warisan bisa diwakafin buat tabungan ortu di akhirat... tapi ya ngga memungkiri emang urusan duit itu sensitif banget. sodara aja bisa pecah karena uang

    BalasHapus

Terima kasih atas kunjungannya. Mohon tidak meninggalkan link hidup dalam komentar ya :)