Dalam Ayunan

pic by @bjluther


Entah mengapa, duet slow motion dengan slow music selalu berhasil membuatku melankolik. Paduan yang ampuh menggelitik sisi-sisi tersembunyi hingga merasa terusik.

Sejatinya, kalian berayun cepat dalam tawa, dengan bermandi matahari senja. Saat itu, dalam hati aku mendaraskan syukur dan harapan. Kalian yang dikandung dalam rahim yang sama, semoga selalu erat sebagai sahabat hingga akhir masa.

Bukankah banyak terjadi, katanya bersaudara, tapi hati berjarak seperti air dengan minyak. Bahkan, juga banyak terjadi, katanya bersaudara, tapi gampang meledak seperti seperti api dengan petasan. 

Menyedihkan. Tapi itu kenyataan.  
 
Tiba di rumah, aku usil mengutak-utik gambar. Dengan kemampuan amatir untuk bermain-main menggunakan aplikasi gratisan. Sekedar melambatkan gerak, melenyapkan tawa, lalu mengisi gambar senyap dengan lagu yang sendu. Editan yang kasar tapi kuputar beberapa kali, sampai kemudian kusadari apa yang terjadi : aku terseret dalam melankolia.

video by me

Barangkali, hidup terkadang seperti bergerak dalam ayunan.
Maju-mundur, tapi tidak cantik.
Hanya maju-mundur, seolah dinamis, tapi sesungguhnya statis.
Hanya di situ-situ saja, tak ada lompatan yang jauuuuuh dari tempat semula.

Tapi haruskah ini membuat sedemikian sedih?
Setidaknya, tanpa lompatan jauh ke depan, tapi 
juga tiada kemunduran jauh ke belakang

Mungkin aku harus seperti kalian berdua,
menikmati setiap detik ayunan
dalam tawa riang gembira
toh, hidup tak melulu tentang
seberapa jauh kamu telah melompat (*)

-------------------------------------------------------------
Location : Royal Spring by BSA Land, Gowa (I don't live there btw 😊)
Song : Life's alright by Silicon Estate









38 komentar:

  1. sedih ya kalo sama sodara sedarah, se-dna tapi malah gak dekat selayaknya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. banyak juga kejadian kayak gitu kan mak..bersyukur sekali jika kita rukun dg sodara

      Hapus
  2. Itu benar sih Mbak. Ada bandqyak di antara kita, yang sama saudara kandung malah bertengkar mulu. Sama orang lain malah akur

    BalasHapus
  3. Kalau masih kecil, bertengkar dengan saudara kandung itu memang seninya ya, berantem lalu akur lagi. Tapi kalau sudah dewasa, Banyak saya temui saudara kandung yang berantem lalu lama saling mendiamkan. Dan kebanyakan gara-gara perkara harta warisan

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah ini mbak..saya sampai tpikir utk nggak kasih warisan ke anak2. optimalkan di pendidikan mereka

      Hapus
  4. hihi perumpamaanya boleh juga.. ya itulah kehidupan penuh dengan hal hal yang tidak kita duga sebelumnya dan memang harus bersiap untuk segara kemungkinan yang akan terjadi ya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. kemunduran kadang nggak bisa ditolak sih mbak :)

      Hapus
  5. Aku lihat videonya jadi ikut melankolis dong, Mbak Liiiiiiis T^T. Jadi kangen masa kecil dulu masih main-main sama adek. Walaupun sering banget berantem, sebenernya aku sayang banget sama adekku waktu itu. Untuk adekku: I love you pokoknya. Semoga aja kita berdua bisa akur terus menerus. Begitu juga dengan Ale dan Elo, semoga terus jadi saudara yang saling menyayangi. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin mba Rowm. Makasih doanya. Dan ikut senang baca pesan Mbak Roem buat adek. Semoga terbaca :)

      Hapus
  6. Nah setuju dengan lompatan lebih jauh membuat kita akan semakin penasaran dengan hasil lompatan berikutnya ya.

    Semmoga makin hari kita dapat melangkah lebih baik dari sbelumnya

    BalasHapus
  7. Aku sama sodaraku untungnya akur banget sih. Kalau zaman piyik dulu hobi berantem memang sama kakak.

    Skrg anak2ku hobinya rebutan dan berantem, suka pusing. Semoga gedenya aman2

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku sama kakakku, berantem enggak. tapi deket bangeeet juga enggak...hehehe

      Hapus
  8. Mak Lisdha bisa banget bikin tulisan yang bikin orang merenung. Kereen.
    Semoga anak-anak akur terus yaa. Saya gak tahu ini sedang berayun di tempat atau gimana hehehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe..makasih Kak Niar
      Saya memang lg merasa terayun di tempat saja nih. Ini tulisan curcol hahaha

      Hapus
  9. aplikasi gratisannya canvakah mbak? hehe.. kalo itu aku juga sering banget maininnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. aplikasi inshot mbak Moly. Tadinya pakai Viva tp entah kenapa error jd pindah ke inshot

      Hapus
  10. Huhu sedih banget rasanya kalo ada saudara yang saling menjelekkan, bahkan saling menyindir.

    BalasHapus
    Balasan
    1. rupanya banyak kejadian seperti itu. Merasa sodaranya sbg orang yg toxic

      Hapus
  11. Jadi mirip sinteron ya pertikaian saudara kandung, mungkin diambil dari versi nyata. Semoga rukun-rukun aja ya kita sama saudara

    BalasHapus
    Balasan
    1. banyak sih kejadian beneran, sodara malah jd berasa orang lain

      Hapus
  12. what a beautiful poem.. atau ini bukan puisi? hhe. tapi kata2nya indah.

    sedih pas baca kalimat2 awal. soalnya keluargaku ada yang pernah mengalaminya

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe...rasanya sih sedang enggak buat puisi mbak. Mungkin karena mellow jd agak2 puitis

      Hapus
  13. Saya empat bersaudara, anak terakhir. Sering banget nano nano sama tiga kakak (mana cewek semua pula). Hahaha.. Tapi syukurnya ya gitugitu aja, gak parah banget dan berkepanjangan. Semoga kedepannya bisa lebih baik deh hubungan persaudaraan kami. Mbak juga dengan keluarga yaa :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. amiin. Saya cuma dua sodara mbak...keluarga kecil memang. bersyukur baik2 saja dengan kakak meski nggak yg seperti soulmate gitu

      Hapus
  14. Hmmm banyak yg sebenarnya adik-kakak tapi hubungan gak harmonis sih, kayak air dan minyak, dan ini fakta.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
  15. Love bangeett..
    Terkadang, kita hanya perlu menikmati setiap momen yang hadir, saat ini, detik ini dan melewati waktu begitu saja.
    Membiarkan angin menghembus...lembut kulit dua saudara yang sedang berayun bersama.

    BalasHapus
    Balasan
    1. celebrating every moment ya teh lendy :)

      Hapus
  16. semoga hari yang keras dapat dilembutkan ya mba... dan semua persoalan dapat diselesaikan... doa terbaik bagi kota semua...

    BalasHapus
  17. Semoga kta semua akur2 saling menghargai satu sama lain karena waktu ini sangat berharga hanya buat marah dan berdebat

    BalasHapus
  18. semoga selalu akur ya mba dengan saudara tapi terasa sekali oleh aku dimana justru saudara yang memilih bikin hubungan ga baik hehhee

    BalasHapus
    Balasan
    1. at least bukan kemauan kita utk tdk berhubungan baik ya mbak.

      Hapus
  19. Aku mengalaminya
    Semua karena uang bisa saja ga baik
    Seperti saat ini
    Aku memilih menjauh karena miskin

    BalasHapus
  20. Aku bersyukur kami b4 dididik untuk saling support satu sama lain. Mama slalu bilang, darah itu slalu LBH kental drpd air. Jgn prnh berantem hanya Krn warisan ato masalah2 duniawi lainnya ke saudara kandung. Bersyukur kami saling sayang dan srg komunikasi 1 sama lain. Malah kdg kangen, Krn masing2 terpencar, aku dan adek kedua di Jakarta, adek ketiga di Sibolga dan yg bungsu di Medan.

    Rasanya selesai pandemi ini, kota domestik yg pertama bakal aku datangin Medan sih. Sekalian mudik ke Sibolga :) udh kangen banget

    BalasHapus

Terima kasih atas kunjungannya. Mohon tidak meninggalkan link hidup dalam komentar ya :)