Makam dan Pengingatan

 

keterangan gambar di bawah*

Saat menunggu pesanan mie ayam pangsit disajikan, mataku mengitari dinding rumah makan. Dinding yang cukup “ramai” dengan bermacam tempelan, berbanding terbalik dengan lengangnya rumah makan. Siang itu, dari sekian meja hanya dua yang terisi pembeli. Satu meja tempat kami berempat : aku, suami, dan anak-anak. Di satu meja lagi, ada seorang bapak dan ibu berkerudung.

Salah satu yang mencolok dari tempelan dinding adalah daftar “nomor-nomor cantik” yang dicantumkan bersama harganya. Selain menjual makanan, rumah makan ini juga menyediakan nomor perdana dan (mungkin juga) pulsa. Tapi aku penasaran dengan “nomor cantik.” Hari gini, ketika orang gonta-ganti nomor telepon seluler demi program promosi, apakah nomor cantik masih dicari? Bisa jadi masih, aku saja yang tidak tahu tentang ini.

Orang-Orang Kaya yang Enggan Mewariskan Harta pada Anak-anaknya.

 

                                              video  Oppie (youtube)

Pengen punya mobil, mewah..
Lengkap dengan AC, tape dan sopir pribadi
(Wiih, kemana-mana tinggal minta anter deh. Pergi santai, sambil denger music sama temen-temen gw. Gak kepanasan lagi. Wuih.. dingin..)
Pengen punya rumah (gedong)
Lengkap dengan pelayan (perabotan lux, plus kolam renang. Kaya di film. Mau ini itu tinggal perintah. Hidup serasa di istana, trus kalo kepanasan, gw ajak temen-temen gw nyebur deh, basah..)

Tentang Harta Warisan

pic by word cloud generator


Pada Alkitab, terdapat kisah perumpamaan tentang seorang ayah yang punya dua anak. Suatu hari, si bungsu datang pada sang ayah untuk meminta harta bagiannya. Sang ayah memenuhi permintaan si bungsu. Kemudian, anak itu pergi jauh, berfoya-foya menggunakan harta pemberian ayahnya. Sampai kemudian hartanya habis total. Lebih buruk lagi, di kota tempat ia menjalani hidup extravaganza terjadi resesi  parah (kalau di Alkitab sih pakai istilah kelaparan ^-^)

Makam Raja-raja Tallo

 






Saya adalah seseorang yang dulu sempat berpikir, apaan sih belajar sejarah? Nggak penting. Terlebih, di masa sekolah dasar - menengah, penyampaian pelajaran sejarah di sekolah rasanya kurang menarik. Rasanya, sekedar dijejalkan informasi-informasi tentang masa lalu, menghafal nama-nama penting (nama lokasi, nama pahlawan etc), menghafal tanggal/bulan/tahun/periode sebuah kejadian, menghafal peristiwa-peristiwa, yaaaah semacam itulah.

Dalam Ayunan

pic by @bjluther


Entah mengapa, duet slow motion dengan slow music selalu berhasil membuatku melankolik. Paduan yang ampuh menggelitik sisi-sisi tersembunyi hingga merasa terusik.

Sejatinya, kalian berayun cepat dalam tawa, dengan bermandi matahari senja. Saat itu, dalam hati aku mendaraskan syukur dan harapan. Kalian yang dikandung dalam rahim yang sama, semoga selalu erat sebagai sahabat hingga akhir masa.