Staycation Dua Jilid



Duluuu banget, saya pernah heran dengan cerita seorang teman, yakni sekali waktu dia dan keluarga kecilnya liburan dengan cara menginap di hotel dalam kota (Medan). Dalam hati saya mikir, ini antara kelebihan bujet atau kurang kerjaan sehingga menginap di hotel dalam kota (aja). Lha itu kan namanya pindah tidur doang. Secara hotel sama rumah masih dalam satu area. Beda cerita kalau tempat menginapnya agak jauhan sedikit, di Berastagi misalnya. FYI, dalam lalu lintas normal Medan – Berastagi bisa tempuh dalam waktu 2-3 jam.


Waktu berlalu dan saya makin sering ketemu kosakata staycation. Apa sih staycation, demikian waktu itu bertanya dalam hati.  Meski bisa menduga dari artikel yang memuat kata staycation, saya buka kamus (online) buat memastikan artinya. Merujuk dictionary.com, staycation is a vacation spent at home or near home, doing enjoyable activities or visiting local attractions.  Google Dictionary punya definisi lebih panjang (tapi senada) dengan tambahan istilah “menjadi turis di kota sendiri.”

Oke...Baiqlah, definisi yang mudah dipahami. Konsep liburan-menginap-jarak-dekat ini muncul di awal 2000-an saat Amerika Serikat mengalami krisis keuangan. Yang kemudian saya tahu, staycation adalah tren tersendiri di samping vakansi domestik maupun luar negeri. Jadi kalau memang ada alasan nggak bisa travelling jauh-jauh, ya staycation aja.

Staycation menjadi alternatif liburan dengan berbagai alasan. Nggak melulu urusan menghemat budget, staycation juga menjadi pilihan karena lebih fleksibel. Dengan staycation, orang nggak perlu sibuk pilih-pilih destinasi wisata (dan menyusun itinerary dengan ketat). Selain itu, juga hemat waktu dan barang bawaan. 

Meski demikian, secara pribadi saya sih tetap merasa, kok kurang kerjaan banget yah nginep di hotel dalam kota. Kalau cuma mau jadi turis di kota sendiri, kan tetap bisa dengan start and finish di rumah. At least, hemat biaya hotel. Harus membayar untuk "pengalaman tidur" (jangan diartikan konotatif yaak) adalah sesuatu yang nggak ada di list rencana liburan saya. Beda cerita kalau ada kerja sama dengan hotel atau voucher-gratis-entah- dari- mana untuk menginap.  Makanya, waktu tempo hari ada email tawaran kerja sama (tapi masih diseleksi) dari sebuah hotel di Medan, saya mengabaikannya. 

Daripada nginep dalam kota, ya mbok nginap di jarak yang agak jauh sedikit gitu... Pinjam istilah penggolongan bus : Antar Kota Dalam Provinsi pun boleh. Pokoknya asal jangan dalam kota aja. Titik. 

Bersyukurnya, perasaan itu saya simpan dalam hati saja. Saya nggak koar-koar kemana-mana. Juga nggak sampai mengeluarkan nyinyiran di status/tulisan tentang staycation.  Coba sampai kejadian seperti itu, mesti menjilat ludah sendiri deh. Bagaimana tidak menjilat ludah sendiri kalau akhirnya saya, suami, dan bocils menjajal staycation.

Kejadiannya waktu liburan Imlek Januari lalu.

Sebenernya nggak sengaja-sengaja amat mau staycation sih. Awalnya karena ada “angin surga” yakni family gathering perusahaan BJ di Bandung. Wah asik nih, kan pas libur Imlek lima hari jadi nggak perlu bolos sekolah. Tapi ternyata, event itu batal (bersyukurnya belum ngomong serius sama Ale Elo, jadi mereka nggak perlu kecewa). Lalu, kami ganti rencana untuk menginap di di sebuah resor di Sibolangit (nggak seberapa jauh dari Medan, yakni sebelum Berastagi).  

Meski perjalanannya nggak sampai dua jam ke sana, buat saya menginap di resor itu bukan stay-cation. Kan sudah minggir sedikit hahaha. Tapi  namanya juga lagi peak season, rate hotel-nya alamaak. Saya nggak akan sebutkan nominalnya. Yang pasti untuk ukuran kami, rasanya nggak rela ngeluarin duit segitu cuma buat nginap semalam haha.

Kami sempat memikirkan beberapa alternatif bepergian lain. Tapi mengingat saat itu liburan panjang, kami agak nggak yakin dengan kelancaran lalu lintas. Ujung-ujungnya jadi memutuskan untuk staycation di Medan saja :D

Ya sudah deh, daripada nggak kemana-mana sementara anak-anak pengin banget keluar rumah. Terlebih anak-anak beralasan : ayah curang,  ayah sering tidur hotel sementara kami enggak. Haha, padahal si ayah tidur di hotel karena urusan kerja tapi mereka menggunakan istilah curang.


Yang paling diingat anak2 dari staycation : berenang sampai puasss 


Singkat cerita, kami staycation di sebuah hotel di Medan. Saya nggak sebutin nama hotelnya karena ini bukan artikel endorse (hahaha.....just kidding). Ternyata benar, meski hanya “pindah tidur”, tapi sudah bisa memberikan suasana yang berbeda. Terutama buat anak-anak yang belum banyak pengalaman menginap di hotel. Mereka sangat enjoy dengan vacation ala-ala ini. Mereka antusias dengan berbagai hal sampai kadang terlihat .......norak haha. Tapi  yo ben #norakhaksegalausia :P. Yang penting, nggak sampai menimbulkan kerusakan dan kekacauan.

Bonus staycation kali itu adalah  melihat atraksi barongsai di salah satu mal yang kami kunjungi di malam hari (kan dalam suasana Imlek). Buat anak-anak, ini untuk pertama kalinya melihat barongsai dalam jarak dekat dengan durasi cukup lama. Jadi mereka antusias banget. Kami sempat lari-lari dari lantai enam (atau tujuh) setelah sayup-sayup mendengar tabuhan pengiring barongsai dari lantai satu. Haha, beneran merasa “turis di kota sendiri.” (Ya meski Medan bukan bener-bener “kota sendiri” sih ^-^)


nonton dari belakang :D


Tapi itu baru staycation jilid satu. Masih ada jilid duanya ^_^

Kalo yang kedua sih sebenernya accidental staycation. Menyebutnya sebagai staycation sebenernya buat lucu-lucuan aja. Karena se-enak apapun staycation jilid dua ini, tetap lebih enak di rumah. Ceritanya, seminggu setelah staycation beneran, BJ terbang ke Jakarta (seminggu) lalu lanjut Makassar untuk urusan pekerjaan. BJ pergi Senin pagi. Waktu itu Elo sudah mulai demam sehingga dia absen sekolah.

Singkat cerita, sampai Kamis malam, demam Elo nggak juga reda. Bahkan malam itu sering muntah. Sejak hari pertama demam, saya sudah bilang ke Elo : "jangan sampai ke rumah sakit lagi ya Nak, karena ayah lagi nggak ada." Tempo hari saya nulis, kalau rawat di RS memang "hobi" Elo huhuhu. Tapi, harapan itu nggak terwujud. Jumat pagi Elo masuk RS (lagi!!) :D. 

Puji Tuhan, mungkin karena sudah “terbiasa” dengan situasi Elo opname, jadi saya maupun BJ nggak terlalu panik.  Lagian, intuisi saya mengatakan, ini bukan sakit serius. (Nantinya, diagnosa dokter adalah sakit campak). Saat itu, saya cuma berpikir untuk menghindari  dehidrasi. Sebab, seberapapun asupan yang masuk selalu keluar (muntah). 

Barang-barang bawaan saya ke RS terbilang well-prepared. Karena kan nggak ada BJ yang bisa bolak-balik ambil barang ke rumah. Persoalan saat itu hanyalah Ale juga mesti ikutan absen sekolah karena nggak ada orang lain di rumah. Plus, dia nggak mau ketika ditawari tinggal sementara di keluarga teman sekolahnya.

Pagi itu, saya, Ale, dan Elo meluncur ke RS Murni Teguh Memorial Hospital (MTMH) dengan naik Gocar. Saya dan BJ memilih MTMH karena Elo sudah tiga kali opname di sana. Jadi, administrasinya akan lebih simpel (catatan Elo sudah ada di database RS). Selain itu, karena sudah beberapa kali opname di sana, suasananya nggak asing lagi.

Selama Elo di IGD, saya mengurus pendaftaran. Ternyata, kamar yang sesuai dengan plan asuransi kami dalam kondisi full. Seperti lazimnya kebijakan RS, kami dititipkan sementara di kamar yang sedang kosong. Baru nanti dipindahkan ke kamar yang sesuai kelasnya.



kamar yang seluas rumah :D


Dan ternyata, kamar sementara kami adalah executive suite yang begitu kami masuk langsung ...... berasa di hotel hahaha (norak lagi..emang yah, orang kampung sih).  Padahal, di hotel aja kamar kami nggak segede ini.  Yahaa, kamar eksekutif ini luasnya sebelas dua belas dengan rumah kami :D (serius!). Desainnya dan interiornya seperti apartemen. Plus jendela dengan view rel layang kereta api (Railink) Bandara Kualanamu (kalau opnam di RS, view luar itu pentiiiing untuk membunuh jenuh). Opname sebelumnya di MTMH, belum pernah loh kami dapat view ini.


bonus view Railink  dari jendela kamar


Ale excited, seperti lupa kalau ini bukan liburan tapi menunggui adik yang sakit (phewwww). Bahkan, Elo sebenarnya juga excited. Hanya saja, tubuhnya lagi nggak fit untuk ikut mas-nya room-tour :D. Tapi tegas saya  bilang, kita cuma sementara di sini, ntar kita pindah. Sebab itu, baju-baju dan perlengkapan lainnya saya biarkan dalam koper.
Saya cek website MTMH, rate kamar eksekutif sekitar aja dua jutaan per malam. Nggak terjangkau lah kalau bayar sendiri hihihi.




space luas buat foto-foto after bezoek :D


Etapi satu hari, dua hari, tiga hari, kami nggak dipindah-pindahkan juga. Bahkan sampai hari kelima (pulang), kami masih di situ saja. Puji syukur J. Saya percaya ini bukan kebetulan. Di saat Elo mesti opname ketika BJ nggak ada, upgrade kamar ini saya anggap sebagai suatu bentuk berkat kenyamanan. Memang sih, nggak bisa kemana-mana sebagai turis-di-kota-sendiri, tapi bolehlah saya anggap sebagai staycation :D.


mana yang sakit? ^_^


Etapi, Elo jadi makin nggak kapok ke RS karena kamarnya kan bagus huhuhu.

46 komentar:

  1. Hahaha sama mba. Aku juga mikirnya gitu. Kenapa cuma pindah kamar doanng rasanya bisa begitu menyenangkan untuk orang lain. Padahal tetep aja lebih enak rumah sendiri karena lebih bebas ya, lebih privacy juga dan ruang lingkup atau gerak kita besar. Bisa mengelilingi semua ruangan dengan santai. Tapi kalau staycation paling cuma kamar tidur doang yang privacy ya. Tapi mba jangan staycation juga k rumaj sakit ya. Yang sehat2 aja kita hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya memang menyenangkan sih mbak...sesekali beda suasana. Yang ga menyenangkan itu menghadapi billnya hahahaha

      Hapus
  2. Hahhaaaa.. staycation di RS emang lagi musim yaa. Soalnya di Bandung pun ku pernah di ajak keliling tourism hospitaldan emang roomnya kek di hotel lux, bahkan dibilangin "sini aja nginepnya kalo kamu sakit" ku bilang amit2 hihii.

    Pokonya mendingan staycation hotel dalem kota, sama keluarga mager, istirahat, leyeh2..

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak nchie..skrg rumah sakit premium mmg berlomba menawarkan suasana bak hotel :)

      Hapus
  3. Waduh nyaman dan luas banget ini mb kamar rumah sakitnya. Hehhe. Smoga si kecil selalu sehat ya mba :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. amin. makasih mak alida. iya tuh..luasnya 11 12 sama rumah hahaha

      Hapus
  4. Semogaaaaa kalopun staycation di hotel aja lahh, jangan di RS "rasa hotel" :)))
    Semogaaaa semuanya sehat2 yaaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. ini kok ya pas waktunya berdekatan mak nurul hehehe

      Hapus
  5. Sama kok mbak. Kalau saya sih karena belum pernah ke hotel aja waktu dulu jadi ndak ngerti gimana rasanya staycation. Semoga sehat selalu ya mba. Semoga bisa staycation di hotel bukan di hospital biar bisa berenang sampe puas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. eh di medan ada bekas hotel yang dijadiin RS lho mbak..tp memang bukan RS premium sih. Tapi mungkin ini satu2nya RS yang ada bangunan kolam renangnya (meski tidak difungsikan)

      Hapus
  6. Sehat sekalu kakak Elooo... Biar nggak balik-balik lagi opname RS meski berasa staycation yaaa, eh tapi itu rejeki banget juga ya mbak 5 malam di room executive 😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. dirasa sebagai rezeki aja mbak..
      biar nggak sumpek hehehe
      makasih yaaa

      Hapus
  7. Mbaaa...itu persis seperti fikiran suamiku kalau aku ajakin staycation katanya dih ngapain sih cuman pindah tidur doang wkwkwk...

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha...ya setidaknya geser sedikit gitu sih mbak herva. nggak dalam kota banget :D

      Hapus
  8. waduh staycation jilid dua di RS. Bagus banget yaa kamarnya. Tapi sebagus apapun itu kan rumah sakit. Yang jenguk mungkin enak, tapi yang sakit ya tetep aja sakit. heheh

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener mbak...terutama kalo kami buat yang menjaga. Yang sakit sih enjoy beneerrrrr :D

      Hapus
  9. aku udah beberapa kali staycation di dalam kota. yg pertama krna menang voucher hotel. yg kedua karna mendadak ada kamar kosong dan suamiku jd panitia acara. kamar kosong ga bisa dicancel krna peserta yg ga jadi datang. jadilah aku n anak2 nginep di kamar itu. malah besok paginya berangkat sekolah dr hotel :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. opnam yg lalu-lalu kan ada misua mbak, jd anakku slalu berangkat pulang skul dr RS :D

      Hapus
  10. Sehat selalu ya Elo, aku pernah tuh mbak, staycation di hotel terus mendadak anak sakit dan dirawat huhu..sedih..

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih mbak dedew... wah itu deketan bener waktunya yaa..kalo ini selang semingguan :)

      Hapus
  11. Lhooo malah accident ga dapat kamar memberikan pengalaman baru ya untuk Elo, meskipun tentu ga mau kan ya kalau sakit lagi. :)

    Staycation mah intinya membebaskan diri sesaat dari rutinitas cuci masak setrika mba. Manusiawi jika sesekali orang butuh hiburan dan terlepas dari rutinitas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener mbak uniek. Ini anak2 jadinya tuman staycation hahahah

      Hapus
  12. ternyata staycation jilid dua nya di RS ya, mba? seenak-enaknya RS masih mending staycation di hotel beneran ya, mba :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahah bener mb yessi..asal hotel yang bener tapinya ya kan

      Hapus
  13. Haha sama Mbak. Dulu saya heran banget ada teman nginapnya di resort dekat rumah saya dan membayar hingga ratusan ribu padahal rumah dia sama-sama aja di Batam juga. Ternyata memang liburan ke hotel atau resort itu merupakan kebutuhan bagi sebagian orang. Baru menyadari akhir-akhir ini saja saat sering main ke hotel-hotel. 😅

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak Lina..
      tren tersendiri kan ya...
      jadi ngarep voucher hotel hahaha (mentalvoucher :D)

      Hapus
  14. Sehat sehat ya nak. Jangan sakit lagi jangan mau masuk hotel rumah sakit hihihi

    Tapi enak juga ya masuk kamar yang perawatannya bagus jadi suster yg nerawatpun baikkkkkkk banget biasanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. huhuhu..dia mah keenakan di RS mak echa. Ini sampai "kuancam", kalau sampai sakit lagi bakalan masukin kelas 3 hahaha

      Hapus
  15. Semoga sehat terus ya keluarga kita mbak. Meskipun pelayanan RS nyaman tapi sehat tetap lebih baik

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih mak irul. Yupp bener banget ituuu

      Hapus
  16. Saya pernah staycation di kota sendiri saat memakai voucher menginap. Keluarga juga sempat heran, kenapa gak menginap di rumah orang tua aja, padahal memanfaatkan voucher menginap untuk staycation hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau ada voucher sih lain cerita ya kan mbak..ga berkurang nikmatnya karena bill hahahha

      Hapus
  17. Wah, kalau kamarnya seperti itu ga berasa di rumah sakit ya. Jogja juga ada, rumkit yang kamarnya kayak hotel gitu. Tapi tetep milih di rumah sih ya, meskipun kamarnya berantakan...hihi .

    BalasHapus
    Balasan
    1. betull mb sapti. Tapi anakku ini memang masih "hobi" ke RS huhuhu..

      Hapus
  18. Karena tulisan kaka, aku tahu istilah stay-cation dan arti sebenarnya.
    Hihii...aku pikir, asal nginap di hotel, boleh pakai istilah stay-cation.

    BalasHapus
    Balasan
    1. orang korea sering staycation juga gak ya mbak lendy>? hihihi

      Hapus
  19. Elo sehat selalu ya nak. Jadi ingat temenku yang mau lahiran, dikasih kamar yang bagus juga, karena yang sesuai kelasnya malah full. Aku yang ikut jaga, jadi nyaman juga, hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. memang biasa gitu di RS ya kan mbak..drpd kosong.

      Hapus
  20. Ya ampun dr nginep di hotel jd di RS. Eh aku pernah jg waktu itu pas liburan anakku juga suami sih pernah KO jg, mana di kota lain heuheu. Moga2 gk kejadian lagi yaaa, gak enak lho sakit itu walau RSnya kamarnya enak hehe sehat2 selalu. Aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener mbak. Tapi kalau anak bungsuku ini memang unik dalam hal perawatan kesehatan..betah di RS :D

      Hapus
  21. jadi hotel yg kedua itu terpaksa karena si kecil sakit. kaget dg kamar bak hotel, yah lumayan lah rasanya anak happy dan berasa semangat karena kayak berasa liburan, hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha iya mbak artha..accidental staycation :D

      Hapus
  22. Waduh, staycation-nya bener-bener dah. Kalau di hotek Mah, enak gak enak terasa masih enak. Kalau di RS meskipun kamar VIP ya tetep aja gak enak ya, Mbak.Sehat-sehat buat Elo.

    BalasHapus
  23. Waah Elo dirawat. Kasian banget senang-senang endingnya dirawat. Jadi ilmu buat saya nih, Mba. Jadi lebih memperhatikan kondisi anak kalau mau staycation

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe..beda waktu sih mbak. semingguan setelah nginep di hotel baru sakit. etapi nggak tahu juga sih kalau kena virus pas di hotel :)

      Hapus
  24. Meski kamar bak hotel bintang lima kalau rumah sakit mah jangan lagi-lagi ya. Mending sehat dan bisa halan-halan lagi.
    Sehat selalu aamiin

    BalasHapus

Terima kasih atas kunjungannya. Mohon tidak meninggalkan link hidup dalam komentar ya :)