Elo, Biyung, dan Rumah Sakit

Yang penting tampak tulisan Ngesti Waluyo ^_^

Libur Natal kemarin diwarnai dengan Elo opname di rumah sakit Ngesti Waluyo, Parakan. Yup, Parakan –bukan Medan. Sama-sama berakhiran –an, tapi jarak di antara keduanya jauh terbentang. Elo opname di sana karena, seperti biasanya, libur Natal adalah pulang kampung. Dalam posisi itu, rumah sakit terdekat adalah Ngesti Waluyo, Parakan.


Rumah sakit ini, entah kenapa, buat saya terasa betul brand-nya. Mungkin karena setiap ada kabar sakit dari keluarga-teman-tetangga (siapapun yang dari tempat asal saya), umumnya terhubung dengan Ngesti Waluyo. Dengan bangunan yang menjulang di pinggir Kali Galeh serta berlatar birunya Gunung Sumbing dan Sindoro,  rumah sakit ini bisa disebut sebagai salah satu landmark Kota Parakan.

Sebelum kejadian kemarin, saya berkali-kali ke Ngesti Waluyo hanya untuk bezoek (bahkan, dulu saat almarhum bapak opname, saya pun tidak menginap untuk menunggui). Kemarin kami dapat kamar di lantai empat. Kamar 418 yang memberikan bonus pemandangan gunung di teras belakang. Ah Elo.... kalau saja dia tidak keterlaluan anti-obat. Plus, kalau saja dia tidak menyukai rumah sakit. Iya, “menyukai”....sebab itu saya menjuluki Elo : “Hospital Lover” :D

Fakta pertama : Elo sangat sulit diberi obat oral. Soal obat, dia termasuk golongan anomali. Yakni, ia lebih memilih “minum obat lewat tangan”. Ini adalah bahasa Elo untuk infus, baik infus cairan maupun injeksi obat-obatan. Bagi dia minum obat oral jauh lebih mengerikan daripada proses menyuntikkan jarum. Proses memberikan obat oral senantiasa menjadi drama yang menyedihkan. Sebaliknya, saat perawat mengeluarkan jarum suntik dan menusukkan ke pembuluh darah, dia santuy saja.

Baca : Balada Anak Susah Minum Obat


Infus?? Santuy ajahh

Terbalik dengan situasi kebanyakan, ya kan?

Itulah sebabnya, hingga usianya kini (belum juga ulang tahun ke-enam), dia sudah lima kali opname. Opname pertama memang karena sakit yang cukup serius (I'll never forget it). Sedangkan opname selanjutnya adalah karena penyakit yang sebenarnya tidaklah akut, semacam masalah pencernaan atau flu yang disertain demam tinggi. Masalahnya, selain anti-obat (oral), saat sakit Elo juga sangat tidak selera makan dan minum. Situasi yang rawan membikin dia dehidrasi. Kalau sampai dehidrasi,  sakit yang sebenarnya tak gawat pun bisa jadi fatal. Mau tak mau, rawat inap di rumah sakit masih menjadi jalan keluar.  

Ada orang-orang yang trauma dengan rumah sakit. Sebagian lain mungkin tak punya trauma tertentu, tapi tetap sebisa mungkin menolak perawatan di rumah sakit (barangkali karena faktor biaya, tidak ingin merepotkan, sudah tak punya harapan, atau entah apa sebab-sebab lainnya).

Sedangkan Elo adalah kebalikan. Fakta kedua, adalah dia sama sekali tak punya perasaan negatif tentang rumah sakit. Dia bahkan cenderung menyukai pengalaman menginap di rumah sakit. Dirasa seperti  hotel kali ya... Suatu kali dia demam sampai tiga hari, lalu dia menghitung periode demamnya dan bertanya, “kok kita nggak ke rumah sakit?” Wo-laaaaa....

Elo "suka" rumah sakit karena : 

Pertamakamarnya bagus (kebetulan fasilitas asuransi dari kantor ayahnya bikin dia bisa berada di kamar yang privat, dan itu lebih cantik daripada kamar di rumah :D).

Keduatempat tidurnya bagus (fiuuuuh, buat dia tempat tidur yang bisa dinaik-turunkan dan dimiringkan baik secara otomatis maupun manual adalah mainan yang menyenangkan).

Ketigapemandangannya bagus (di Ngesti Waluyo ada keindahan gunung, sedangkan di rumah sakit “langganan” di Medan ada bagian yang menghadap ke stasiun kereta api).

Keempatboleh nonton Youtube meskipun bukan hari Minggu (aturan kami memang hanya membolehkan anak-anak nonton Youtube –online- di hari Minggu).


Elo dan rumah sakit mengingatkan saya pada almarhumah Biyung.

Pada tradisi Jawa, biyung adalah panggilan untuk ibu. Sejauh pemahaman saya (yang mungkin saja kurang tepat), biyung adalah setara simbok, yakni panggilan untuk ibu yang lazim dipakai di level rakyat jelata. Saya belum pernah nemu cerita seorang anak priyayi memanggil ibunya dengan sebutan biyung. Kalau di lakon ketoprak, panggilan biyung juga sering digunakan oleh putri-putri keraton pada emban pengasuhnya.

Tapi Biyung bukanlah ibu saya, melainkan ibu emak saya. Pendeknya, Biyung adalah nenek saya. Biyung adalah panggilan dari anak-anaknya (emak dan lima saudara kandungnya). Jadi, seharusnya kami para cucu memanggilnya Mbah Biyung. Tapi kebiasaan bertutur lisan membuat “mbah” tak terucap dan tinggal biyung saja. Akhirnya, anak dan cucu sama-sama memanggilnya Biyung. Memang jadi agak rancu. Tapi sepertinya kerancuan seperti ini adalah biasa dan tak menjadi masalah.

Ki-ka : Mbah Kung, saya, Mbah Biyung

Jika Biyung adalah simbah saya, maka beliau adalah buyut Elo. Foto di atas adalah sedikit dokumentasi yang tertinggal. Saya bertiga dengan Biyung dan Mbah Kakung (suami Biyung/kakek saya). Foto yang sudah sangat lama karena seingat saya, Biyung meninggal tahun 1999.

Ada rentang waktu yang cukup panjang di antara kelahiran Elo dan kematian Biyung. Jadi, keduanya sama sekali tak pernah bertemu muka. Berbeda dengan saya, yang sempat cukup lama menyaksikan kehidupan Biyung. Bahkan di masa kecil, saya tinggal bersama Biyung sebagai sebuah keluarga besar, sebelum akhirnya emak dan bapak pindah rumah yang letaknya persis di sebelah rumah Biyung dan Mbah Kung.

Tapi toh, kenangan saya tentang Biyung banyak yang hanya tinggal samar-samar. Saat menulis ini, bayangan kuat yang muncul adalah bayangan Biyung yang biasa mengenakan kain dan kebaya dengan rambut diundel seadanya. Biyung yang biasa memasak di pawon (dapur) dengan tungku tanah liat berlubang dua.

Hal lain dalam ingatan saya adalah masa tua Biyung yang sering sakit. Biyung mengalami hipertensi, kondisi yang kini juga Emak alami. Pada saat sakit, beliau termasuk “rewel.” Memanggil Mantri Kesehatan (karena dokter adalah layanan yang mewah) menjadi kebiasaan.  Lalu, ketika merasa sakitnya payah, ia akan meminta untuk dibawa ke rumah sakit. Sepertinya, Biyung punya sugesti yang kuat pada rumah sakit.

Sepintas saya merasa kalau Biyung dan Elo sama-sama “menyukai” rumah sakit. Meski tidak dengan alasan serupa dan juga tidak dengan kondisi yang sama, Elo seolah “mewarisi” kebiasaan dari Biyung,  pendahulunya yang telah lama pergi.

Saya jadi merasa, rumah sakit adalah persambungan di antara keduanya. Dua manusia dalam satu jalur silsilah tapi berbeda masa dan sama sekali tidak saling mengenal. Jelas saja..... ini bukan film Coco, di mana seorang cucu atau cicit atau bahkan generasi sesudah itu bisa berjumpa dengan leluhurnya dalam dunia orang mati.

Saya jadi kembali berefleksi. Tentang hubungan seseorang dengan mereka di jalur atas silsilah keluarga yang telah lama pergi. Dalam hal rumah sakit, Elo saya bilang, “mirip mbah buyutnya.” Kita juga lazim mendengar pendapat serupa. Semisal, “dia tinggi mirip kakeknya”, atau “pemurah seperti buyutnya”, atau “pintar menari turun dari eyangnya.” 

Kalau punya catatan silsilah keluarga yang cukup panjang dan lengkap, pendapat itu mungkin bisa terkait dengan leluhur yang lebih jauh lagi. Menulis ini membuat saya membuka wikipedia tentang sebutan untuk garis keturunan dalam Bahasa Jawa yang mencakup hingga 18 tingkat ke-bawah.

Berikut saya kutipkan di sini mulai dari keturunan pertama hingga ke-18 :
1. anak – 2. putu/cucu – 3. buyut/cicit – 4. Canggah – 5. Wareng – 6. Udhek-udhek – 7. Gantung siwur – 8. Cicip moning 9. Petarangan bobrok – 10. Goprak senthe 11. Gropak waton – 12. Cendheng – 13. Giyeng – 14. Cumpleng - 15. Ampleng – 16. Menyaman – 17. Menya-menya – 18. Trah tumerah.

Bisa hafal? Kalau saya sih enggak hahaha. Ini baru urutan silsilah di Jawa, beda budaya akan beda lagi sebutannya. 

Keluarga besar saya tidak memiliki catatan silsilah. Hubungan satu sama lain hanya direkam dalam ingatan lalu diceritakan turun temurun. Dengan cara seperti ini, sebuah informasi rawan terkurangi atau bahkan hilang.  Saya pribadi merasa “terputus” hanya sampai orang-orang yang saya ketahui secara langsung. Sungguh, saya tidak punya memori cerita sedikit pun tentang buyut saya (dari pihak ibu). Pengetahuan saya mandeg hanya sampai tingkat nenek/kakek. Beda halnya dengan keluarga BJ yang masih ada raden-radennya. BJ punya "serat kekancingan" yang memuat alur silsilah keluarga.

BJ punya lembar silsilah seperti ini, saya enggak :)


Lembar depan serat kekancingan. Jujur saya belum membacanya hahaha

Beberapa tahun sebelum Mbah Kung meninggal, saya pernah “mewawancarai” beliau tentang saling silang garis silsilah keluarga besar kami. Tapi, obrolan dengan Mbah Kung itu pun hanya mentok sampai Mbah Buyut. Entah “wawancara” saya yang gagal mengorek keterangan, atau Mbah Kung memang tidak punya memori/informasi tentang garis penurunnya. Saat itu saya mencatat cerita Mbah Kung. Sialnya, saya tidak menyimpannya dengan baik. Saat ini, catatan itu entah di mana sementara bertanya ulang adalah kemustahilan.

Hal-hal seperti ini mungkin tidak penting (bagi sebagian orang). Saya pun, meski memiliki ketertarikan, tapi tidak pernah sungguh-sungguh mencari layaknya para sejarawan menelusuri hal-hal yang telah lama berlalu. Tapi menarik untuk berpikir, bahwa saya mungkin “mewarisi” beberapa hal, entah itu hal penting ataupun kurang penting, dari leluhur yang sudah lama pergi. Orang-orang yang tidak saya tahu namanya, juga tak bisa saya bayangkan wajahnya. Entah itu simbah buyut, simbah canggah, simbah wareng, atau bahkan lebih jauh dari itu.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas kunjungannya. Mohon tidak meninggalkan link hidup dalam komentar ya :)