20/11/17

Ketika Anak Ingin Memelihara Binatang



kucing mampir di sudut teras - dok pribadi



Tempo hari, senyampang adek Elo boci, aku berniat mengutak-utik blog. Emak-emak dengan batita begini, buat ngeblog mesti nunggu bocil tidur. Tapi, sebelum update, aku malah memanggil  Ale dan menunjukkan foto Miong di tulisan ini. Itu foto lama. Saat itu, sepertinya Elo belum genap setahun. Bahkan, foto itu sudah terhapus dari gallery telepon seluler. Aku pun mendapatkan foto itu setelah mengaduk-aduk unggahan foto di facebook. Jadi aku nggak punya maksud tertentu dalam menunjukkan foto itu selain nostalgia  : “ini lho foto Miong sama dek Elo.” 

14/11/17

Sebuah Rumah, Seekor Anjing, dan Bunga Matahari

Foto Lis 'Lisdha' Dhaniati.
Si Miong dan Elo

Duluuu, rangkaian kata di atas adalah sebuah rancangan judul novel. Tapi ternyata rancangan masih sebatas rancangan. Buatku, melahirkan novel jauh lebih susah daripada melahirkan bocah. So sorry, bukan bermaksud mengatakan bahwa melahirkan anak itu mudah. Terlebih terjadinya seorang anak adalah  proses yang rumit dan kompleks. Tapi aku menjalani dua kali operasi sesar yang lancar. Tinggal "tiduran" dan bayi sudah (di)keluar(kan) hanya dalam waktu 30 menitan.

02/11/17

Provokator Kehamilan

saya, ale, dan elo (dalam perut😍), foto tahun 2014



Entah siapa yang dulu menemukan istilah “kalkulator kehamilan”. Saat pertama kali kenal istilah ini, saya merasa lucu. Maklum, sebelumnya hanya mengenal kalkulator untuk hitung-hitungan saat sekolah atau pekerjaan. Eh ternyata, ada juga istilah kalkulator kehamilan. Saya sudah lupa rumusnya. Mesti guling-guling gugling dulu untuk mengingatnya.

18/10/17

AC Hemat Energi? Ya Daikin!

Pic : www.rumah162.blogspot.com


        Sewa rumah yang kami tinggali saat ini bakalan habis April 2018. Maunya  sih, setelah pindah rumah, duo Alelo mulai tidur di kamar sendiri. Sebenarnya, di tempat yang sekarang ini mereka juga sudah punya kamar. Masalahnya, saat ini rumah kami hanya ada satu pendingin ruangan (AC - Air Conditioner). AC itu terpasang di kamar utama (kamar kami). Padahal, namanya Kota Medan yaa...gerah banget kalau tidur tanpa AC. Masalah lainnya, saat ini saya merasa belum siap pisah kamar sama anak-anak (hihi, syndrom yang menghinggapi sebagian orangtua nih kayaknya). Tapi mau tak mau, harus mau kan.. Masa mau tidur bareng anak terus sih. Mudah-mudahan, momen pindah rumah bisa sekalian jadi titik awal pisah kamar.

28/09/17

Belajar Imaji dan Realitas Bersama Bolt


 
pic : youtube & pinterest


Sebenarnya sudah lama ingin menulis topik ini. Tapi rupanya perlu trigger post yang bikin saya merealisasikan keinginan. Masih ingat film Bolt? Jangan-jangan lupa kalau Bolt adalah judul film. Begitu membaca kata “Bolt”, ingatan malah otomatis nge-link ke Usain Bolt, atlet yang pernah digelari “manusia tercepat sejagad”. Atau, kalau bukan ke Usain, nge-linknya ke paket internet “Bolt” (#BukanPromo😊).

26/09/17

Hari-hari Menjelang Akadku


pic : www.sewa-apartemen.net


Minggu-minggu ini, aku dan Mas J semakin mendekati hari akad. Jadwal pastinya sih belum ada. Tapi kalau lihat situasi dan kondisi, kemungkinan besar akad dilaksanakan selambatnya akhir bulan Oktober 2017 ini. Sekarang sudah tanggal September tanggal tua. Jadi benar-benar tinggal menghitung hari.

22/09/17

DIY : Tips Hemat Dengan Sabun Cair Ala-ala


pic : dok pribadi



Buat emak-emak lain, ini mungkin ide yang super duper konyol. Tapi buatku, ini adalah ide yang cukup cemerlang untuk tujuan penghematan. Umumnya emak-emak suka yang hemat-hemat kan? Emak-emak yang tidak perlu berhemat, adalah emak-emak yang mendapat hak istimewaπŸ˜….

Entah ini ide siapa, aku tidak (merasa) mencomotnya dari kata orang, kata artikel, kata tivi, kata apapun atau siapapun itu. Tapi tetap saja aku merasa ini bukan ide orisinalku. Mungkin saja suatu hari aku pernah dengar dari seseorang/sesuatu, tapi aku lupa.

15/09/17

DIY : Kasur Mobil Dari Kotak Kayu Bekas

dok pribadi


Sebenarnya sih kami belum punya mobil pribadi. Belum merasa butuh untuk punya sendiri karena ada mobil kantor yang bisa digunakan untuk kepentingan pribadi hihihi. Tentu saja ada S & K-nya, tapi setidaknya boleh buat jalan-jalan. Jadilah kami butuh benda satu ini : KASUR MOBIL! Iyes, ini benda yang penting saat kami pergi jalan keluar kota. 

Namanya keluar kota, jaraknya pasti lumayan jauh sehingga waktu perjalanannya cukup lama. Butuh benda itu karena ada dua bocah kecil yang suka terkantuk-kantuk dalam perjalanan panjang. Terkantuk-kantuk dan selanjutnya tertidur-tidur hehehe.

08/09/17

Misteri Ingatan





Beberapa tahun lalu, saya menonton talk show wawancara tokoh di tivi. Bintang acaranya adalah mantan ketua Mahkamah Konstitusi, Bapak Mahfud MD. Entahlah, tepatnya tahun berapa, di stasiun tivi apa, judul talk show-nya apa, pembawa acaranya apa, saya lupa semua. Dan memang nggak perlu semua data itu untuk tulisan yang bercerita tentang LUPA ini hihihi.

10/08/17

Mimpi Tenggelam dan Les Berenang

foto pribadi




Beberapa bulan lalu, suamiku a.k.a ayah Ale Elo bermimpi buruk. Dalam mimpi ayah, Ale berenang dan tenggelam. Tragisnya, Ayah tak bisa menolong saat Ale tenggelam. Memang hanya mimpi, tapi ada rasa tak nyaman hingga bangun tidur. Kami berdua bukan tipe orang yang suka menerka-nerka makna mimpi atau membawa-bawa mimpi dalam kehidupan nyata. Tapi soal mimpi tenggelam itu, rupanya agak berbeda. Si ayah begitu waspada tiap kali dua bocah itu bermain air. Dia juga tak bosan mengingatkan aku kalau tenggelam tak harus terjadi di air dalam. Di tempat yang terbilang dangkal pun, bocah bisa tenggelam mengenaskan.

04/08/17

Surat Kecil Untuk Emak


Hasil gambar untuk surat jaman dulu
pic : serubareng.net



Sudah (me)nonton film “Surat Kecil Untuk Tuhan?” (Bagi yang nggak tahu), itu loh film nasional yang dibintangi Bunga Citra Lestari dan Joe Taslim. Hehehe, seolah aku tahu saja ya pakai kata “bagi yang nggak tahu”. Padahal, aku sendiri enggak nonton. Aku cuma lihat iklannya plus baca resensinya hahaha. Jadi, aku jelas nggak akan cerita soal film itu ataupun cerita soal nonton film itu.

28/07/17

Dee dan Zee

Hasil gambar untuk tears image
 pic : www.dayoftears.com





Sebenarnya, aku agak ragu menuliskan ini. Aku khawatir yang bersangkutan tidak berkenan, sementara aku segan meminta izin. Jadi, jalan tengahnya, aku menyamarkan nama dan tempat kejadian saja. Yang terpenting adalah pelajaran yang bisa aku (dan mudah-mudahan kita) ambil dari peristiwa ini. 

26/07/17

Akhirnya, Dia Bisa Bicara!!

Ale (merah), Elo (biru) di tepi embung lereng Gunung Sindoro


Si bungsu kami, Elo, bisa dikatakan terlambat bicara. Tahun lalu, saat ulang tahun yang kedua, Elo belum mengucapkan satu pun kata yang sempurna. Jangankan sempurna, penggalan kata yang merujuk ke satu kata utuh pun belum. Padahal, lazimnya anak-anak di usia tersebut sudah bisa bercerita meski dengan kalimat pendek dan kosakata sederhana.

22/07/17

Salam Template


aneka pilihan template dari gooyaabitemplates.com




Menulis ini sebagai “perayaan” karena berhasil menemukan solusi dari persoalan template blog. Saya yakin, template adalah persoalan mudah bagi buanyaak blogger lainnya. Tapi buat saya, template sempat jadi masalah yang bikin saya mau menyerah (trus terngiang lagunya D’Masiv deh. Jangan menyerah..jangan menyerah...uoouoo).

Meski sudah mulai ngeblog dari bertahun-tahun silam (sampai malu nyebutin angkanya), blog saya nggak juga berkembang. Kalau mau diurai, bisa deh masalahnya terburai dari A to Z. Tapi intinya sih, nggak konsisten menulis. Ketidakkonsistenan yang tak semata karena masalah teknis, tapi juga mental. Eh, menulis butuh mental gituh? Buat saya sih iya. Kadang kebanyakan mikir mau nulis sesuatu. Eh, ujungnya jadi nggak Pe-De (percaya diri) trus nggak jadi nulis. Pun saya sempat bikin blog-blog yang lain hingga akhirnya memilih CLBK dengan blog ini. Tapi, di sini pun saya sering stagnasi. Ibaratnya, orang Amerika sudah ke bulan, saya ke Amerika saja belum.

18/07/17

Selamat Tinggal Catatan Bakul Lombok

catatan bakul lombokku ^-^

Sejak jadi ibu-rumah-tangga (kurang lebih delapan tahun lalu) saya sok-sok berniat mencatat keuangan rumah tangga. Dalam idealita saya, catatan keuangan itu pentiiing. Sebab, tiadanya catatan berpotensi menimbulkan kekagetan demi kekagetan. Kaget yang bisa muncul dalam aneka varian ekspresi tapi kurang lebih intinya seperti begini : “kok duit cepet banget habis sih, buat apa aja ya?” 

Ada yang suka kaget macam begini?? Boleh ngacung sambil senyum. Percayalah, kamu nggak sendirian #HoreeBanyakTemannya πŸ˜€. Sewaktu masih lajang, saya nggak merasa penting punya catatan. Duit sendiri, dipakai sendiri, suka-suka lah ya... Tapi setelah memutuskan jadi stay-at-home-wife, rasanya butuh catatan itu. Ecek-eceknya menteri keuangan, idealnya punya dokumen buat laporan ke presiden hahaha.

16/05/17

Mantan Sebelum Jadian





Ketemu kalimat judul dari pemberitaan rangkaian bunga untuk Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok beberapa waktu lalu. Duuuh, pas betul dengan yang barusan saya alami. Ini bukan soal pilkada, atau cinta-cintaan antar anak-manusia. Tapi soal jodoh-jodohan dengan (bakal) rumah.

Seperti saya kisahkan di sini (Jodohku, Kapan kan Ketemu), bahkan hingga saat ini kami belum berjodoh dengan yang namanya "rumah milik pribadi" alias masih berstatus kontraktor (ngontrak rumah). Dan saya ceritakan di sini (Alkisah Nama-nama Perumahan), kami sudah berupaya blusukan seputar Medan untuk mencari-cari perumahan. Hasilnya : sampai sekarang belum ada keputusan final. Posisi kerja suami yang pindah-pindah kota, itu faktor besar yang bikin kami maju-mundur soal rumah. 

11/05/17

Alkisah Nama-Nama Perumahan


iklan rumah di koran. (dok pribadi)
 
Hampir setahun tinggal di Medan, salah satu acara keluarga saat liburan adalah blusukan lihat-lihat perumahan. Maklum, kami masih terhitung sebagai “kaum kontraktor” alias “rumah masih ngontrak”. Blusukan yang ini tentu ada maksud dan tujuan. Tapi, sejauh ini belum ada juga keputusan final. Ada beberapa hal yang membuat kami belum bisa melabuhkan hati ke salah satu perumahan yang sudah kami kunjungi.
Aiiih, pilih rumah apa pilih pasangan sih? Hehehe, seperti saya tulis di sini, suasana cari rumah itu seringkali seperti cari jodoh. Ada yang dengan mudah dapatnya, ada juga yang mesti melalui proses berliku. Dan kami sepertinya termasuk golongan yang menempuh proses agak panjang. Rasa-rasa sudah cocok dan mau deal, eh karena sesuatu hal, jadi batal. Tapi tak apalah, kami nikmati saja prosesnya, termasuk menikmati jalan-jalan blusukan lihat perumahan. Rupanya, ini jadi alternatif kegiatan liburan yang menyenangkan juga. 

14/04/17

Kaget dan Curhat Malam Ini

Salah satu ulah iseng anak-anakku, Ale dan Elo


Mungkin sudah menjadi kelaziman jika banyak “orangtua”  terkaget-kaget melihat perilaku “anak-anak zaman sekarang”. Saat menjadi “anak zaman sekarang”, saya merasa aneh dengan reaksi shock para orangtua. Tapi akhirnya saya mengalami juga fase terkaget-kaget itu. Setelah melahirkan dua anak dan otomatis masuk golongan “orangtua”, ternyata saya juga shock dengan beberapa perilaku anak-anak kekinian. Shock yang berlanjut menjadi kekhawatiran, “duuuh, bagaimana dengan anak-anakku nanti?”

Ada kasus-kasus yang membuat saya shock dan ngeri dalam jangka waktu cukup lama. Beberapa di antaranya akan saya sebut di tulisan ini. Pertama, saya sempat shock dengan kekejaman  Hafidt dan Asyifa, pasangan remaja pembunuh Ade Sara. Saya masih teringat foto ekspresi senyum Asyifa saat diperiksa di kantor polisi. Hah, diperiksa polisi karena kasus pembunuhan kok masih bisa senyum-senyum. Bersyukurnya, ada pelajaran sangat indah yang bisa dipetik dari kasus ini. Yakni keluasan hati Elizabeth Diana dan Suroto, orangtua Ade Sara, untuk memaafkan pasangan pembunuh tersebut. Buat saya, mereka adalah pribadi luar biasa. Semoga Tuhan senantiasa memberkati Ibu Diana dan Pak Suroto.

06/04/17

9 Ide Memanfaatkan Nasi Sisa


 
sisa nasi campuran beras merah dan beras putih dijemur depan rumahπŸ˜ƒ
Nasi sisa. Bagi sebagian orang mungkin dibuang begitu saja. Lain hal-nya dengan orang-orang yang merasa sayang untuk "begitu saja" membuang nasi sisa. Sebelum akhirnya tersisa yang benar-benar sisa, nasi sisa diolah dulu menjadi makanan lain. Saya salah satunya. Hal yang sering saya lakukan adalah menjemur nasi sisa untuk dibuat cemilan.

25/03/17

Rantangan oh Rantangan

Minggu ini, apa yang saya pikirkan beberapa waktu belakangan akhirnya terlaksana. Bukan suatu rencana besar nan penting, melainkan cuma soal rantangan. Yeiih.. bukan rencana besar dan bukan rencana penting tapi mikirnya lama. Timbang sana-sini pakai macam-macam timbangan, dari timbangan gantung sampai timbangan elektrik.... (apaan seeeh? Hehehe)


Hasil gambar untuk rantangan masakan medan
foto ilustrasi, pinjam dari www.kateringmedan.com




Berawal dari kebutuhan untuk mengurangi item pekerjaan rumah tangga. Sesama emak-emak, pasti paham lah ya, bagaimana kerjaan emak-emak itu seperti enggak ada habisnya. Kalau nggak percaya, silakan saja survey emak-emak dengan jumlah responden semaksimal mungkin ^_^

Waktu tinggal di Pematangsiantar, lumayan banget ada Si Mbah yang cuci-gosok dan bersih-bersih rumah. Datangnya pagi dan sore. Saya cuma perlu masak, cuci piring, dan ngurus bocah. Pun saat itu, Ale masih TK dan Elo masih banyak tidurnya. Mas J juga sering ke luar kota. Pokoknya masih ada lah waktu buat me-time.

Berhubung sekarang semua di-handle sendiri, jadilah semua waktu rasanya tersita untuk tetek-bengek urusan rumah tangga. Pun sekarang Ale sudah kelas satu SD dan Elo sudah dua tahun (tidur siang cuma sekali). Tugas merangkap-rangkap, antara lain tukang masak, tukang cuci-setrika, tukang ojeg, guru privat, baby sitter (dan lain-lain yang tak perlu  disebutkan πŸ˜ƒπŸ˜ƒπŸ˜ƒ).

Bisa sih bisa, tapi rasanya jadi nggak ada waktu untuk diri sendiri, untuk me time. Sebenarnya kerjaan rumah itu simpel. Tapi jadi nggak simpel kalau kita nggak bisa konsen ngerjain karena selalu ditarik-tarik si kecil untuk menemani main. Di sisi lain, saya nggak mau ngasih gadget ke bocah hanya demi dia anteng sementara kita bisa konsen pada kerjaan. Di sisi lainnya lagi, saya juga pengin punya waktu untuk diri sendiri. Minimal, saat bocah tidur, saya bisa konsen baca buku, nonton film, update blog, atau menulis buku yang sejauh ini masih berupa kerangka saja (hiks). Yang terjadi saat ini, saat bocah melek, saya nggak bisa fokus urus pekerjaan rumah tangga, Saat mereka tidur, saya  harus cepat-cepat merampungkan pekerjaan rumah. Dan nanti, saat malam, saya sudah kecapekan.

Hellooo... saya juga manusia yang butuh waktu untuk diri sendiri. Waktu untuk re-charge setelah memberikan diri sepenuhnya untuk anak-anak dan suami #tsaaaah.

Lagipula, kredo saya adalah “Supermom Is Dead” (terima kasih untuk grup musik Superman Is Dead yang namanya mengilhami). Tak perlulah jadi supermom yang bisa melaksanakan segala urusan rumah, suami, dan anak-anak jika itu ternyata menyedot seluruh energi seorang ibu dan menjadikannya layu (perhatikan kata yang di-bold). Mungkin ini sindrom yang sering melanda perempuan. Tuntutan eksternal yang saking halus merasuk akhirnya menjelma menjadi tuntutan internal. Sebagai seorang ibu harus bisa melakukan segala-segala. Pendek kata merasa harus menjadi superwife dan supermom.

Saya sudah angkat tangan dulu deh. Hihihi..cemen atau rasional?

Nah, di Medan ini, saya memutuskan untuk nggak pakai asisten rumah tangga lagi. Takut nggak cocok, sementara saya orangnya nggak enakan kalau nanti mesti berhentikan dia. 

Awalnya, saya memutuskan untuk mengurangi pekerjaan cuci-gosok dengan cara mendelegasikan ke laundry kiloan. Tapi rupanya ribet soal antar jemput pakaian. Juga baju yang jadi bolong-bolong kecil karena pemasangan label nama.

Jadilah mencuci dan setrika kembali jadi urusan rumah. Pikir-pikir, apa ya kerjaan yang bisa dikurangi? Pilihan jatuh ke urusan makan. Aslinya juga karena saya memang nggak hobi masak. Kalau pakai rantangan, segala keribetan memasak, mulai dari belanja hingga mencuci perkakas akan terminimalisasi. Paling-paling saya cuma perlu menyiapkan makanan bagi bocah-bocah karena saya yakin menu rantangan bakalan nggak cocok buat lidah mereka.

Tapi sungguh, meski sudah menjatuhkan pilihan, tapi eksekusinya tak bisa segera. Sewaktu di Siantar, saya pernah pakai rantangan. Tapi saya nggak selalu cocok dengan masakannya. Sehari-dua hari masih oke, tapi lama-lama bosan juga makanan masakan luar. Padahal, bayar harus sebulan full. Dan kalau kami pergi keluar kota, tidak ada diskon untuk periode hari selama pergi. Rugi bandar 😁😁😁😁

Jadilah, sebelum memutuskan untuk langganan rantangan, saya sesekali beli masakan di warung (yang mana sebagian besar warung melayani rantangan). Saya sampai mencoba-coba beberapa warung untuk menemukan yang cocok. Tapi rupanya enggak ketemu. (Mungkin memang lidahnya yang susah kompromi). 

Pun urusan beli makan ini pun kadang ribet karena belinya sekalian saat menjemput Ale sekolah, yang mana saya sudah ribet membawa duo bocil dan bawaan-bawaan anak sekolah. Mau keluar khusus buat beli makanan kok males... Beda kalau rantangan, delivery, nggak perlu repot keluar rumah. 

Tapi ya sudahlah, memang sulit untuk mendapatkan situasi yang “sempurna”. Akhirnya, tiga hari lalu, saya memutuskan untuk pesan rantangan ke tetangga. Keputusan saya ambil setelah dua hari sebelumnya si tetangga ini bikin pesta ulang tahun dengan hidangan buatan dapur sendiri. Hmmmmh...kayaknya sih rasanya lumayan cocok. 

Jadilah saya mulai rantangan. Saya pilih rantangan ini karena bisa suka-suka kapan dan berapa lama pesannya. Bisa harian, mingguan, atau bulanan. Nggak dipatok bayar sebulan seperti kebanyakan jasa rantangan. Jadi di awal ini, saya pesan hanya untuk tiga hari dulu. Pas hari H, harap-harap cemas (hahaha, kayak  nunggu pacar yang datang-datang aja). Gimana nih masakannya, cocok nggak sama lidah. Bagaimanapun, enak nggak enaknya makanan itu kan sering relatif. Enak buat saya, belum tentu buat orang lain. Dan sebaliknya.

Tiga hari ini, lumayan lah...baik dari segi rasa maupun kuantitas. Not bad. Sepadan sama harganya. Suami juga nggak protes ketika makan malam kembali menghadapi masakan luar, bukan masakan istrinya. Tapi justru saya sendiri yang rasa-rasanya nggak bakalan sanggup kalau setiap hari mesti makan menu rantangan. Mungkin ke depan, saya tinggal atur, dalam seminggu berapa hari rantang dan berapa hari masak sendiri. Bukan situasi yang sempurna. Tapi untuk beberapa situasi, memang  perlu ada kompromi.  

25/02/17

Penjelasan Paling Gampang Tentang Reksadana





Hasil gambar untuk investasi reksadana
pic source : www.klikmania.net

Walaupun sudah dua kali posting dengan topik reksadana, tapi saya malah belum pernah membuat tulisan tentang "apa itu" reksadana". Soalnya merasa belum punya kapasitas untuk menjelaskan, dalam level paling basic sekalipun. Tapi cukup sering, saat ngobrol sama temen, mereka bener-bener sama sekali belum mengerti "mahluk macam apa sih reksadana" itu? Dan beberapa waktu lalu, saya ikut Bareksa Fund Academy, yakni kelas online (di Whatsapp) bertema penjelasan dasar reksadana. 

Buat temen-temen yang tertarik ikut kelas Whatsapp dengan Bareksa, tinggal klik aja Bareksa.com. Cari deh menu Bareksa Fund Academy lalu isi data-data. Nanti kita akan dikirimi email konfirmasi dan nomor Whatsapp kita akan diundang ke kelas tersebut. Kelas berisi orang-orang baru yang mendaftar pada periode tertentu. Jadi bukan seperti kita masuk ke grup yang sudah berjalan.

22/02/17

Pengalaman Mencairkan Deposito

Hasil gambar untuk deposito
pic : www.tips-cepat.blogspot.com

Beberapa bulan lalu saya mencairkan deposito saya di Bank BCA. Saat ini, saya juga sedang dalam proses mencairkan deposito di bank Mandiri. Tampak keren ya punya deposito sampai dua biji. Padahal isinya mah minimalis semuaπŸ˜ƒπŸ˜ƒπŸ˜ƒπŸ˜ƒπŸ˜ƒ

Yang penting kan pernah punya deposito, jadi bisa cerita berdasarkan pengalaman. Kalau dianggap pamer pasrah aja, niatnya bukan begitu ^_^
Saya membuka dua rekening deposito tersebut saat masih tinggal di Pematangsiantar. Pas bikin enggak nanya detail tentang pencairan deposito. Saya pikir sama saja seperti rekening tabungan biasa yang bisa dicairkan di mana saja.

Pengalaman Membuka Rekening Deposito




Hasil gambar untuk deposito
pic : www.kreditgogo.com


Duluuuu, kalau dengar kata deposito, yang terbersit dalam pikiran saya adalah uang yang buanyaaak. Ya sih, banyak itu relatif. Jadi saya perjelas kuantitas praduga saya tentang deposito yakni bilangan ratusan juta atau miliar rupiah hingga tak terhingga.

Jumlah uang yang hanya bisa saya sebut dan bayangkan hahaha.

Punya duit buanyaak, taruh di deposito. Then tiap bulan bisa santai-santai hidup dari bunga deposito. Aaah... kalau pinjam lirik lagu lawas milik Oppie Andaresta, ini cuma khayalan :)


18/02/17

Solusi (Atau Bukan?)


#Menepati janji  kemarin lusa untuk menulis tentang solusi atas situasi “garing” akibat diet HP.

   

Lihat gambar gadget di atas... ada yang pernah punya? Pernah pakai? Atau bahkan sekarang masih pakai? HP QWERTY yang terbilang keren pada masanya. Cukup mampu membetot perhatian para pengguna gadget, sehingga sampai mendapat sebutan “HP sejuta umat.”  Harga beli waktu itu tak jauh beda dengan harga beli HP android saya. Sekarang kalau dijual, Nokia ini laku berapa yah? Pasti sudah jatuuh banget dari harga belinya.

Maka itu, meski sempat beralih ke Blackberry dan android, si hitam mungil ini nggak saya jual. Mungkin karena itu gadget yang cukup lama saya pakai, jadi ada keterikatan, jadi ada rasa sayang untuk melepasnya, baik untuk dikasihkan maupun dijual.

Lagipula, kondisinya memang sudah kurang oke. Kotak kemasan sudah nggak ada, fisik barang sudah lecet, juga sudah sering mati sendiri walaupun baterai sudah diganti baru dan dalam kondisi penuh. Di masa Elo kecil, ini adalah HP yang banyak merekam foto-foto maupun videonya. Juga HP yang sering dia banting. Jadi, masih bisa menyala itu sudah suatu prestasi tersendiri.  Kalau dia sudah kurang oke, ya wajar lah. Pasti dia sudah lelah ^-^

Sebenarnya sebelum kembali memakai si Nok ini, saya juga sudah pakai dua gadget. Satu android, satu lagi Blackberry Curve yang tidak diisi paket BB. Pakai BB sekedar untuk telepon dan SMS kalau-kalau si android lagi dipakai bocil. Pakai dua gadget bukan karena sibuk atau gaya-gayaan (toh juga HP jadul semua hehehe). Terlebih si HP android sebenarnya sudah dual SIM. Tapi ya karena itu tadi, si HP android sering dipakai bocils.

Eh, kok ya ndilalah si BB ilang...

Beli HP baru lagi? Duh, rasanya kok sayang budgetnya. Karena dibilang penting ya penting, dikata nggak penting juga memang nggak terlalu penting. Keputusannya, pakai lagi si hitam yang kemarin-kemarin sudah tidur manis di laci. Hari-hari siang tanpa di android membuat saya berpikir untuk kembali internetan pakai Nokia. Coba-coba kembali install whatsapp dan opera mini, juga cek sambungan WLAN-nya. Eh ternyata masih oke.. Cuma masih sering mati sendiri nih.. Jadi saya niatkan untuk menservisnya. Tapi sebelum itu, HP kembali dikembalikan ke factory setting. Begitu dimasukkan ke tukang servis, dia bilang HP ini baik-baik saja. Nggak ada error sama sekali. Dan memang betul, kok jadi nggak pernah mati-mati sendiri lagi. Mungkin karena disetting pabrikan itu yah..

So far so good sih. Entah ini solusi atau justru akan menimbulkan masalah baru. Jangan-jangan nanti saya jadi keasyikan online sampai-sampai sama saja dong, nggak bisa kasih contoh membatasi pemakaian gadget sama anak-anak. Tapi, sejauh ini sih rasanya masih jadi solusi. anak-anak nggak pengin merebut si HP. Tapi, saya juga tak bisa terlalu asyik online karena gadgetnya nggak secanggih android. Setidaknya masih bisa lah sedikit-sedikit browsing (kebanyakan browsing ga bakalan nyaman karena tampilan layar yang terbatas). Setidaknya juga masih bisa juga chatting via Whatsapp (hanya sampai Juni nanti :D) meski hanya dengan orang-orang dan grup tertentu. Di nomor WA satunya, saya masih seorang silent reader dan slow responder πŸ˜€
 

Entri Unggulan

Hari-hari Menjelang Akadku

pic : www.sewa-apartemen.net Minggu-minggu ini, aku dan Mas J semakin mendekati hari akad. Jadwal pastinya sih belum ada. Tapi kalau...

Postingan Terpopuler