Operasi Caesar Didampingi Suami


 # Masih seputar operasi caesar yang saya jalani Oktober 2014 lalu.


pinjam gambar dari SINI

Di tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang "sedihnya gagal melahirkan normal". Tapi it's ok, sedihnya kan nggak berlarut-larut. Down beratnya hanya di pagi hingga siang ketika masih belum bisa menerima situasi. Maklum, dengan adanya flek plus sempat kontraksi teruatur (yang mana dua tanda ini sama sekali tidak saya alami di partus pertama), rasanya saya seperti diberi harapan palsu :D. Tapi dengan mengamalkan *pinjam istilah penataran P4* teknik-teknik hypnotherapy plus berdoa, dari kondisi down perlahan up (Puji Tuhan).

Sempat nangis-nangis bombay, akhirnya saya bisa berangkat ke meja operasi dengan senyum-senyum *tapi mata masih bengkak sih* Senyum saya makin lebar karena berhasil "memaksa" suami untuk menemani masuk ke ruang operasi. Puji Tuhan, semua kondisi juga mendukung. Atas berkat Tuhan, si Mas Ale tumben-tumben tertidur siang itu. Kalau tidak tidur, dia pasti lengket sama ayahnya.  Puji Tuhan juga, ada saudara-saudara kami yang bisa jaga Ale di kamar. Puji Tuhan lagi, dokter mengizinkan suami masuk ruang operasi.

Flash back ke operasi caesar pertama tahun 2010 di RS Amanda Berastagi. Saat itu suami tidak bisa menemani. Tidak bisa atau tidak mau ya? Mungkin dua-duanya. Karena ketika dokter bilang tidak bisa, ya sudah saya tidak memohon-mohon. Suami juga berbahagi karena dokter bilang tidak boleh. Malah pas detik-menit-jam saya dibedel, suami dan emak saya cabut ke rumah (kontrakan) karena ada beberapa perlengkapan yang belum terbawa.

Saya ditinggalkan sendirian.



Ups, sebenarnya tidak sepenuhnya sendirian sih. Ya tentu, di dalam ruang operasi ada dokter beserta timnya. Trus, di luar ruangan operasi, ada tetangga-tetangga yang dengan sukarela datang ke rumah sakit untuk memberikan dukungan (terima kasih ya mamak-mamak Perum Sarinembah Kabanjahe #smile). Tapi, mereka kan di luar. Sementara, di kamar, saya sendirian menghadapi segala perlakuan operasi itu.

Saya ingin ditemani bukan karena saya takut dioperasi. Sudah OK dioperasi, ya sudah, berserah saja. Berdoa agar tidak terjadi malpraktik. Berdoa agar tubuh saya juga tidak neko-neko. Selain itu, pengalaman kelancaran operasi pertama jelas menyumbang keberanian saya untuk kembali dibedah.Tapi saya ingin ditemani suami karena saya tak ingin sendirian menyambut di bayi. Yeaaa...proses buatnya berdua. Menyambutnya juga berdua dooong :)

Sayang deh, nggak bawa kamera. Saya sih kepengin proses operasinya didokumentasikan walau hanya via handphone. Tapi si ayah tak mau. Ya sudah, dia mau menemani saja sudah bersyukur bangeeet. Karena sebelumnya si ayah juga nggak mau dan sempat meminta bu bidan tetangga kami yang menemani. Eitttsss... ini kan bukan persoalan sekedar ditemani. Tapi "siapa yang menemani", yaitu si ayah. Dari raut mukanya, si ayah takut dan cemas (bener nggak Yah? :P). Tapi saya nggak mundur untuk minta si ayah ikut masuk.

Karena nggak bawa kamera, jadi nggak ada fotonya yaaa.. Jadinya pinjam gambar situasi yang serupa dari sini (maaaf tidak izin dulu). Ini gambar pinjam yaa, bukan foto kami. Kira-kira begini deh penampakannya. Si ayah ada di sisi atas saya sedangkan dokter dan tim ada di sisi bawah. Ngobrol apa saja sepanjang operasi? Sayangnya saya lupa hehehe.




Peluk cium untuk kesediaan si ayah bersama-sama menyambut bayi kedua kami fresh from the womb. Cerita-cerita dengan beberapa teman/saudara, suami mereka tidak mau menemani ke kamar operasi. Wajar sih kalau takut. Tidak semua orang berani menghadapi adegan berdarah-darah, walaupun di keseharian mereka adalah laki-laki yang gagah :D. Dioperasi dengan "melihat operasi", sensasinya pasti beda. Sebenarnya, saya sendiri pengin lihat loh step by step operasi. Tapi khawatir juga kalau nantinya nggak kuat, malah berabe.

Bagi ibu-ibu yang sedang galau mau operasi caesar, bisa nih mulai meminta pasangan untuk menemani ke ruang operasi. Pengalaman tidak ditemani dan ditemani, jelas terasa sekali bedanya. Dengan ditemani, saya merasa lebih tenang dan lebih kuat. Kelak, ketika besar, si adik bayi juga akan mendapat cerita heroik tentang si ayah yang berani melawan ketakutan dan keengganannya. Siapa tahu bisa jadi inspirasi dia untuk lebih menyayangi istrinya kelak.

Kalau suami tidak bersedia, gunakan jurus-jurus rayuan pulau kelapa sampai rayuan maut. Tapi kalau suami memang ada potensi pingsan melihat adegan berdarah, ya tidak bijaksana juga sih untuk memaksa. Di luar itu, pastikan rumah sakitnya memperbolehkan suami ikut masuk. Capek kan kalau kita sudah payah-payah merayu, ternyata kebijakan rumah sakit tidak mengizinkan. Soal boleh tidaknya ditemani ini sebenarnya tergantung kebijakan rumah sakit atau bagaimana sih? Ada yang bisa bantu jawab?

 







Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman Menutup Polis Asuransi

Pakai Popok Tali Dua Sampai Usia Berapa?