Seminggu ini dua kali aku mengoordinasi pengumpulan uang duka.😢😢
Pertama adalah pengumpulan uang duka untuk Mas Bos, yakni kakak pendamping persekutuan mahasiswa Kristen di masa aku kuliah di UNS. Sebetulnya beliau juga kakak tingkat, tetapi beliau sudah lulus saat aku menjadi mahasiswi baru.
Setelah sekian tahun tidak pernah berjumpa, Juli 2026 aku bertemu beliau di acara retreat alumni mahasiswa Kristen se-Surakarta di Batu, Malang. Aku tidak banyak berbincang dengan Mas Bos. Satu momen yang sangat aku ingat adalah ketika sarapan pagi. Mas Bos memilih omelet dan antrinya lama sekali. Kami yang duduk makan sampai ngguyoni beliau kalau ayamnya masih bertelur sehingga lama sekali.
Lalu, pada 28 September aku membaca pesan ajakan dukungan doa di WAG karena Mas Bos terkena serangan stroke. Fast forward, 1 Oktober malam, saat aku merem menemani si bungsu tidur, suamiku bilang "Mas Bos meninggal."
Aku langsung melek dan bangkit dari kasur. Mengecek grup WA walaupun aku yakin kabar dari suami benar adanya. Rest in Christ's peace Mas Bos.
Kedua, Senin 5 Oktober. Siang-siang aku membaca pesan di grup WA kelas si bungsu. Pesan yang sangat mengagetkan: papa seorang anak di kelas meninggal. Aku langsung membayangkan si anak ini, inisialnya J. Saat menjemput si bungsu, aku sering menyapa dia. Anaknya ramah dan sering bercanda dengan anakku. Dan hari itu.... J mendadak kehilangan papanya. J juga masih punya adik yang berusia balita.
Aku langsung ingat mama J. Dia adalah salah satu dari sedikit orangtua murid yang aku kenal langsung. Kami beberapa kali bertemu muka dan chat personal di WA. Jadi, kabar itu ikut mengguncangku. Sebagai sesama mama-mama di kelas, aku sungguh-sungguh berbela rasa.
***
Sehari setelah kabar duka dari Mas Bos, aku membuat pengumuman di grup whatsapp tentang pengumpulan uang duka. Lalu aku menerima transfer, mengecek, menghitung, dan menitipkan kumpulan uang itu untuk keluarga yang berduka karena posisi keluarga di Solo.
Hal serupa aku lakukan setelah kabar kepergian Papa J. Bedanya, kali ini aku ikut datang langsung saat ibadah pemakaman.
Saat mengumpulkan uang duka, selintas aku berpikir, suatu hari seseorang mungkin akan melakukan hal serupa itu untuk aku. Ini bukan harapan, hanya dugaan yang aku pikir tidak berlebihan.
Bagi sebagian orang membicarakan kematian akan dianggap tabu, pamali, ora ilok. Tetapi tidak buatku. Aku memilih untuk membicarakan itu semasa masih hidup.
Di mana aku akan dikuburkan dan seperti apa pakaian yang aku ingin kenakan (tetapi soal yang kedua belum fixed😊).. Dua hal ini hanya contoh. Esensinya tentu bukan pada hal-hal seperti itu.
Mau dibicarakan atau tidak, toh kematian adalah kepastian. Hanya saja, tanggal kematian kita tidak diberi tanda khusus di kalender. Mungkin seseorang pernah menantang ketentuan itu dengan cara mengakhiri hidup pada hari yang dipilihnya. Namun, jika Pemilik Hidup belum berkehendak, apapun yang dia lakukan belum tentu bisa membuat nyawanya lepas.
Sebab itu aku memilih untuk percaya bahwa seperti halnya kelahiran ke dunia, kematian juga adalah ketetapan-Nya. Dan kita tidak tahu kapan itu akan datang.
Sebab itu, bagiku membicarakan kematian justru menjadi pengingat bahwa saat membicarakannya berarti masih hidup. Masih punya "hari ini" untuk dicecap dan dinikmati. Karena sebenar-sebenarnya waktu yang kita miliki adalah hari ini. Bukan dulu, kemarin, besok, atau nanti.
Membicarakan kematian bukan berarti mengharapkan kematian. Buatku, ini adalah cara antisipasi ketika salah satu tidak bisa lagi mendampingi keluarga, yang ditinggalkan tidak harus menghadapi kesedihan yang tidak pernah dibicarakan.
Antisipasi memang bukan jaminan mengurangi kedukaan. Tetapi kemungkinan besar akan sedikit lebih melegakan jika dibandingkan sama sekali tanpa pembicaraan. Setidaknya aku berusaha melakukan apa yang bisa kami lakukan, selebihnya..... berserah.
Eh benernya sih harus dibalik ya... berserah sembari melakukan apa yang bisa dilakukan.
Memento Mori, Memento Vivere.
Posting Komentar untuk "Membicarakan Kematian"
Terima kasih atas kunjungannya. Mohon tidak meninggalkan link hidup dalam komentar ya :)