Salah Satu Pencapaian Besarku di 2025

Warning: tulisan ini memuat gambar-gambar ular dalam bentuk nyata. Tadi aku membaca cara untuk mengaburkan foto dan foto baru jelas saat diklik. Namun, cara yang kutemukan adalah menggunakan CSS dan Javascript, yang mana aku buta tentang hal itu. Ada sih tutorialnya, tapi nanti malah kelamaan nyoba tutorial (yang belum tentu berhasil), dan malah nggak jadi menulis. Jadi, aku putuskan tetap pakai foto seperti apa adanya.   

Bagi yang tidak nyaman dengan gambar ular, silakan skip (kecuali tetap mau lihat). Yang pasti dalam postingan ini aku bercerita tentang tahapanku belajar mengatasi ketakutan pada beberapa hewan hingga akhirnya berani menggendong ular.




History is written by the victor (sejarah ditulis oleh pemenang). Demikian ungkapan populer mengenai sejarah.  Kutipan ini sering dikaitkan dengan sejarah bangsa, negara, atau dunia. Namun, ada lagi ungkapan lain yaitu everyone is a historian (semua orang adalah sejarawan).

Ungkapan kedua membuatku merasa sangat ya-queen๐Ÿ˜€untuk membagikan cerita ini. Diriku memang bukan politisi, tokoh berpengaruh, inspirator, motivator, atau apapun itu yang akan ditulis dalam catatan sejarah nasional, apalagi internasional. Namun, aku termasuk dalam himpunan everyone, dan aku mencatat sejarahku sendiri, yakni BERANI MENGGENDONG ULAR.๐Ÿ๐Ÿ 

Kejadiannya pada Sabtu, 15 November 2025 saat aku, suami, dan si bungsu Elo jalan pagi ke Simpang Lima Gumul (SLG) Kediri. Tempat ini adalah salah satu spot olahraga masyarakat yang populer di Kediri. Elo mengajak ke SLG karena dia janjian dengan teman sekolahnya. Di sana, sedang berlangsung event bazar Ekspresi Santri 2025. Seperti umumnya bazar UMKM, ada bermacam produk dijual di sana, kebanyakan sih makanan/minuman dan pakaian.

Salah satu tenda "memajang" produk-produk yang berbeda dari tenda lainnya, yakni peralatan penanganan ular. Di tenda itu juga ada ada beberapa ekor ular besar yang dilepas maupun di dalam kotak. 

Ularnya bukan untuk dijual yaaa... Tapi pengunjung boleh berfoto bersama ular dengan membayar seikhlasnya. Aku dan anakku menghampiri tenda itu lalu ngobrol dengan bapak-bapak yang menjaga tenda. Ternyata mereka adalah "Tantular", yakni tim Banser yang bergerak dalam evakuasi dan edukasi terkait ular, serta membantu masyarakat menangani ular yang ditemukan oleh masyarakat. 

Bagi warga Kediri yang "kebetulan" menemukan ular (dan tawon) di sekitar tempat tinggal dan takut untuk menanganinya, selain kontak Damkar juga bisa lho memanggil relawan Tantular. Ada beberapa nomor kontak dan lokasi posko yang bisa dilihat di akun FB Tantular.

Ini bukan perjumpaan pertama kami dengan ular (selain di kebun binatang). Beberapa tahun lalu Elo pernah berfoto bersama ular di CPI Makassar yang terletak di kawasan Pantai Losari.  Aku pun menawarinya untuk mengulang hal yang sama. Motivasiku mampir benar-benar hanya memfasilitasi Elo. Aku tidak berpikir bahwa aku juga akan mencoba. Anak berani, bukan berarti emaknya juga berani kan... ๐Ÿ˜‚

Ternyata Elo tidak langsung mau foto. Pengalaman yang dulu tidak menjamin dia langsung berani lagi. Namun, lama- kelamaan dia enjoy. Apalagi ada teman sekelasnya (Arnold) yang menyusul datang ke tenda. Tak butuh waktu lama dua bocah ini langsung asik bermain dengan ular. 

Wah... dalam hal seperti ini, bocil-bocil memang sering beberapa langkah lebih maju dibandingkan emak-emaknya.

Lama-lama aku jadi pengin juga deh. Berawal dari menyentuh ular dengan ujung jari sedetik-dua detik, lama-lama bertambah durasinya. Lalu meningkat dari menyentuh, aku berani memegang ular dengan telapak tangan. Relawan dari Tantular sangat sabar dalam menghadapi reaksi takut para pengunjung. Pasti mereka sudah biasa melihat respon seperti itu. 

Dan gongnya, aku berani menggendong ular!

Meskipun yang kugendong adalah ular jinak, tetap saja itu sebuah sejarah bagiku. Sebuah pencapaian besar karena selama ini aku takuuut sekali pada pada ular. Jangankan menggendong dan bermain, saat melihat ular versi close-up di layar televisi atau di media cetak saja aku bisa merinding sebadan-badan. Mungkin, itu tidak masalah karena ular bukan hewan yang biasa dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Beda dengan kucing atau anjing, misalnya. Bagi umumnya orang, bertemu anjing atau kucing liar tidak akan membuat lari lintang pukang (kecuali anjing gila yang ngejar yaa๐Ÿถ๐Ÿถ). Namun, sekadar melihat ular dari jarak yang terlalu dekat saja sudah  bisa membuat orang gemetar dan cepat-cepat kabur menjauh.

Menurutku,  bukan hal aneh jika seseorang takut pada ular. Dalam dongeng dan legenda, ular sering digambarkan sebagai sosok yang licik dan jahat. Sedangkan dalam kehidupan nyata, beberapa jenis ular memang sangat berbahaya, entah dari ukuran tubuh atau bisanya. Jika bertemu dengan ular-ular jenis itu, nyawa bisa menjadi taruhannya.

Faktanya, memang banyak juga jenis ular yang tidak berbahaya. Mereka berukuran kecil dan tidak berbisa. Masalahnya, otak manusia bisa menjadi perekam ulung dalam beberapa hal, di antaranya pada ular dan hewan-hewan lainnya. Jangkan pernah punya pengalaman langsung, manusia bisa menjadi sangat takut "hanya" karena paparan cerita dan informasi tentang bahaya ular, baik merupakan fakta maupun fiksi. Aku pernah membaca bahwa secara evolusi manusia diwarisi kecenderungan untuk berhati-hati pada mahluk yang merayap. Mungkin karena duluuuuu, saat banyak manusia masih tinggal di gua-gua atau alam terbuka, banyak jatuh korban karena digigit/dimakan ular.

Foto itu aku share di facebook. Tentu saja, banyak komen yang salut dengan "keberanianku." Tetapi aku jawab, bahwa aku mengerahkan semua stok keberanian untuk melakukan itu. Plus, kalau suatu hari diminta melakukan hal serupa, belum tentu aku langsung berani. 

Bagiku, itu bukan hanya tentang menggendong ular. Namun juga tentang melawan ketakutan yang aku miliki sekian lama. Tidak hanya takut ular, aku juga takut pada ulat dan cacing. Sebagai anak kampung yang dulu mainnya di kebon, kalen (parit), dan sawah, aku merasa aneh dengan ketakutanku pada ulat dan cacing. Seharusnya aku tidak takut karena pasti sering ketemu mahluk-mahluk itu kan.. 

Tetapi aku tidak punya memori masa kecil dalam hal pertemuan atau relasi dengan ulat dan cacing. Yang pasti, saat dewasa, aku merasa takut (atau campuran antara rasa takut+geli+jijik) pada mereka, bahkan pada cacing kecil dan ulat petai/sayur sekalipun. Aku bisa merinding saat menemukan ulat kecil di dalam petai atau di antara batang brokoli.

Aku pikir itu  hal yang wajar. Kan banyak juga orang yang mengalami ketakutan serupa.  

Namun, suatu kejadian membuatku merasa perlu untuk mengatasi (setidaknya mengurangi) ketakutan itu. Kejadiannya bertahun-tahun lalu ketika aku hamil anak pertama. Suatu hari aku (maaf)  BAB di kamar mandi yang sekaligus toilet jongkok.  Dalam kondisi hamil, BAB jongkok merupakan perjuangan tersendiri. Sesaat setelah jongkok aku melihat ada cacing melekat di tembok yang berhadapan dengan mukaku. Aku langsung takuuut. Namun, aku tidak bisa langsung lari mengingat saat itu sedang hamil dan pastinya harus cebok duluan kan๐Ÿ˜๐Ÿ˜

FYI, di kamar mandi kontrakan saat itu memang sering terdapat cacing yang keluar dari saluran pembuangan air. Namun, peristiwa saat itulah yang paling memorable buatku. 

Sejak saat itu, aku bertekad untuk mengurangi ketakutan pada cacing. Aku tanamkan mindset sekuat-sekuatnya bahwa ketakutan pada cacing adalah hal yang tidak wajar. Sebab cacing tidak buas seperti singa atau harimau, jadi dia tidak berbahaya. Tentu saja, maksudnya adalah kalau ketemu face to face cacing tidak akan menyerang kita seperti cacing monster di film fantasi. Beda cerita kalau cacingnya sudah menginvasi dalaman tubuh kita ๐Ÿ˜„

Saat melihat cacing, aku kuatkan pikiran itu dan berusaha tidak menghindar atau men-cuthik/menyingkirkannya. Aku pandangi saja si cacing itu. Pandangi 10 detik, 20 detik, 30 detik... Baru aku cuthik.

Dan itu bukan cuma latihan sekali/satu hari. Pokoknya tiap ketemu cacing, tambahkan durasi waktu memandangnya. Lama-lama, aku jadi agak chill. Agak yaa...itu pun kalau cacingnya sesekor dua ekor. Kalau ketemu rombongan cacing aku tetap masih merinding. Meski demikian, bagiku itu sudah merupakan pencapaian. 

Hal serupa aku terapkan pada ulat. Aku mulai berlatih dengan ulat pete/sayuran. Latihannya juga diawali dengan hanya memandang, lanjut sedetik dua detik menyentuh, lalu lama-lama berani pegang. Tapi ini juga untuk ulat kecil, soliter, dan tidak berbulu. Kalau ulat besar atau bergerombol, aku juga masih takut siih. Namun, itu juga kuhitung sebagai pencapaian๐Ÿ˜‡

Apalagi sekarang aku senang berkebun di halaman yang luas itu (kebalikannya). Aku jadi tidak panik ketika melihat ulat di antara tanaman sayuran di halaman. Bahkan, aku juga beberapa kali mengisolasi ulat ke dalam toples untuk mengetahui proses metamorfosanya (jadi seperti praktikum IPA). Aku jadi tahu kalau tidak semua ulat berubah menjadi kupu-kupu, melainkan menjadi ngengat.

***

Nah tentang ular... Level ketakutanku padanya jelas di atas level ketakutan pada cacing dan ulat. Seperti aku tulis di awal tadi, sekadar melihat foto/video ular dalam ukuran close-up sudah bisa membuatku langsung berdesir ngeri. Bisa dibilang phobia nggak ya? 

Aku  ingin "sembuh" dari ketakutan yang berlebihan itu. Nggak apa-apa masih takut, tapi setidaknya jangan berlebihan gitu lho. Namun, berlatih mandiri menghadapi ketakutan pada ular jelas tidak mungkin. Pertama, ular relatif lebih sulit dijumpai ketimbang cacing atau ulat. Kedua, kalaupun ketemu, aku jelas tidak akan berani menerapkan langkah yang sama dengan cacing dan ulat. 

Didampingi pawang/relawan ular adalah sebuah hal yang sangat penting. Tapi aku tidak punya kenalan komunitas ular, jadi keinginan untuk berlatih mengatasi ketakutan pada ular aku simpan saja. Jadi, ketika bapak relawan Tantular bilang, kadang mereka menggelar pelatihan untuk mengenal ular, aku langsung antusias. Ya semoga saja waktunya memungkinkan untuk ikut.  

Tujuanku bukan jadi pawang ular, juga bukan jadi penari ular ๐Ÿ.  Aku cuma kepengin tidak terlalu phobia sama ular. Itu saja. 




Posting Komentar untuk "Salah Satu Pencapaian Besarku di 2025"