Pengalaman Melunasi KPR Sebelum Waktunya

Melunasi-kpr-sebelum-waktunya
Ilustrasi rumah dari Canva



Beberapa waktu yang lalu, saya mendapati pertanyaan tentang melunasi KPR sebelum waktunya. Pertanyaan itu seolah menjadi pengingat bagi saya untuk berbagi mengenai topik tersebut di blog_DW. Mana tahu ada yang merasa terbantu dengan tulisan ini.

Melunasi KPR sebelum waktunya adalah hal yang memungkinkan ketika tersedia cukup dana. Meski demikian, melunasi KPR sebelum waktunya tetap harus mempertimbangkan untung ruginya. Pengalaman seseorang/satu keluarga tidak bisa dijadikan contoh mutlak oleh orang/keluarga lainnya.


Sebab, situasi dan kondisi seseorang/rumah tangga akan membedakan gambaran untung ruginya. Bagi keluarga pengusaha misalnya, ketika ada dana lebih, mungkin lebih menguntungkan untuk digunakan sebagai tambahan modal kerja ketimbang melunasi KPR. Sementara, bagi keluarga karyawan seperti kami, melunasi KPR sebelum waktunya bisa berarti kesempatan untuk mengalihkan pembayaran kredit ke tabungan/investasi lainnya.


Melunasi KPR sebelum waktunya perlu dihitung dengan matang, sebab jumlah uang yang dikeluarkan bisa jadi cukup besar (terlebih jika tenornya masih lama). Mempercepat pelunasan tanpa mempertimbangkan berbagai faktor kebutuhan bisa menghadirkan risiko masalah keuangan di dalam keluarga.


Pastikan untuk mencari info detail ke bank tempat pengambilan KPR. Bagaimanapun, pelunasan KPR sebelum waktunya akan membuat bank kehilangan potensi pendapatan dari total bunga. Sangat mungkin ada perbedaan aturan antara bank satu dengan bank lainnya. Bahkan, pada bank yang sama pun, bisa jadi akan terjadi perbedaan proses dan pengalaman pelunasan.


***


BJ dan saya mulai mengambil KPR pada tahun 2017 di Medan (tepatnya sudah masuk wilayah Deli Serdang tapi mepet dengan Kota Medan). Keputusan mengambil KPR ini sebenarnya tidak sungguh-sungguh bulat (sepakat sempurna).
Seperti umumnya keluarga muda lainnya, kami juga ingin memiliki rumah sendiri. Meski mungil dan sederhana, kalau sudah punya sendiri, pasti rasanya berbeda.

Namun, keinginan itu terbentur situasi kami yang masih pindah berkala sehubungan dengan pekerjaan BJ. Mana kapan pindahnya tidak bisa ditentukan periodenya, tergantung situasi dan kebutuhan perusahaan. Sejauh ini, kami sudah (atau baru?) mengalami perpindahan di empat kota. Ya belum banyak juga sih, tapi ini sangat memengaruhi keputusan kami dalam hal membeli rumah.

Ada perusahaan yang memberikan rumah dinas pada karyawan yang jauh dari rumah. Ada juga perusahaan yang menanggung biaya sewa rumah selama karyawannya pindah ke sebuah kota. Sedangkan di kami, setiap pindah ke daerah baru, perusahaan BJ memberi jatah uang kontrak rumah selama dua tahun saja. Jika selanjutnya masih kontrak rumah, maka kami harus bayar sendiri.


Sewaktu tinggal di Pematangsiantar, BJ sempat ingin beli rumah di sana. Ketimbang bayar kontrakan, mending buat bayar angsuran rumah sendiri. Namun, saat itu saya berpikir untuk jadi kontraktor saja (ngontrak rumah ~ maksudnya hehehe). Toh kami masih ada kemungkinan pindah-pindah kota. Ngapain juga beli rumah, ya kan?


Situasi berubah 180 derajat ketika kami tinggal di Medan. Kami bertukar posisi.
BJ ingin terus ngontrak, sebaliknya saya ingin beli rumah. Kalau nanti pindah, kan nggak apa-apa ditinggal, bisa dikontrakkan.

Huh, saya menjilat ludah sendiri.

Alhasil, sempat ada pertentangan yang cukup alot hingga tiba pada keputusan untuk mengambil KPR. Bisa dibilang, saat itu BJ mengalah pada istri yang mupeng sekali untuk beli rumah. Makanya, di awal tadi saya tulis kalau keputusan kami untuk mengambil KPR tidak bulat sempurna.


Kami mengambil KPR melalui di sebuah bank syariah. Loh, orang non muslim bisa ambil KPR dari bank syariah? Pernah lho saya mendapat pertanyaan demikian. Berdasarkan pengalaman kami sih nggak ada masalah. Sepertinya saat pengajuan tidak ada pertanyaan tentang agama (toh sudah bisa dilihat dari kartu identitas). Logikanya, sejak zaman dulu pun orang muslim berdagang/bisnis lintas budaya dan agama kan?


Kami memilih bank syariah dengan satu alasan, yakni angsuran bulanan yang tetap (flat) sampai lunas. Memang sih, kami mendengar info kalau pembayaran dengan sistem syariah jatuhnya akan lebih mahal dibandingkan KPR konvensional. Namun, pembayaran flat hingga habis masa tenor menghindarkan potensi dag-dig-dug kalau-kalau bunga KPR melambung. Anggap saja, kemahalan itu untuk “membayar” rasa lebih tenang.


Ini adalah pengalaman KPR pertama bagi kami. Jadi, apa yang saya tulis di atas hanya berdasarkan bacaan dan pengalaman orang-orang. Saya tidak bisa membandingkan pengalaman KPR syariah dengan KPR konvensional berdasarkan pengalaman pribadi.


Singkat cerita, pada 2018 pengajuan KPR kami disetujui dengan tenor tujuh tahun. Sesuai perkiraan, kami tidak lama tinggal di rumah itu. Awal 2020, BJ dipindah ke Sulawesi Selatan. BJ lebih dulu pergi di bulan Februari, sementara saya dan anak-anak menyusul di Juli 2020. Total jenderal, kami hanya menempati rumah itu sekitar 2,5 tahun. Selanjutnya, rumah di Medan kami kontrakkan, sementara di Makassar kami mengontrak rumah.


Bagi sebagian orang, utang adalah penyemangat kerja. Namun, BJ punya kekhawatiran tersendiri pada utang. Keberadaan KPR kadang memunculkan kekhawatiran, nanti kalau ada sesuatu sehingga tidak bisa lanjut bayar bagaimana?  Mungkin seperti kekhawatiran yang berlebihan, tapi sekali waktu itu terucapkan. 

Akhirnya, di kepala saya jadi terbersit pikiran, ini dulu gara-gara saya memaksa. Ya memang, banyak yang beralasan, kalau tidak KPR, kapan bisa punya rumah? Alasan yang pasti langsung ditepis oleh orang yang kontra-kredit (dengan alasan masing-masing). 

Apapun itu, pasti lebih nyaman kalau tidak punya utang kan? Saya berandai-andai, bisa melunasi KPR sebelum waktunya. Namun, beberapa kali menghitung-hitung keuangan, kok tetap belum memungkinkan. 

Saya biasa mereview kondisi finansial  keseluruhan secara berkala. Pada akhir 2020, saya mendapati beberapa tabungan nilainya naik signifikan.  Di tengah perjuangan untuk adaptasi, terkena Covid, dan sebagainya, kondisi ini terasa sebagai blessing in disguise. Benar-benar berkat dari Atas, tak terduga dan nggak nyangka bisa mengambil langkah ini.

Harga emas melonjak sehingga tabungan emas online kami nilainya meningkat. Demikian juga tabungan saham, meski portfolio keseluruhan merah (minus), tapi ada saham yang hijau royo-royo (plus). Ditambah dengan tabungan lain,  saya melihat kemungkinan untuk mempercepat pelunasan KPR.



Setelah melewati beberapa diskusi, BJ dan saya condong pada keputusan untuk mempercepat pelunasan KPR. Saat itu, posisi kami sama sekali belum tahu bagaimana prosedurnya. Pertama, kami cek salinan surat perjanjian dengan bank (sekarang surat itu terselip/hilang entah di mana). Di sana ada klausul tentang melunasi KPR sebelum waktunya. Saya lupa redaksionalnya, intinya melunasi KPR sebelum waktunya bisa dilakukan dengan mengikuti kebijakan dari bank. Hanya seperti itu, tidak ada penjelasan detail kebijakannya.


Jika hanya menghitung total sisa pembayaran, uangnya cukup. Puji Tuhan. Tapi tunggu dulu… mana tahu ada pinalti ya kan? Langkah paling tepat tentunya meminta penjelasan dari bank. Namun, kami tak bisa serta merta datang ke bank tempat pengajuan KPR. Kmai mengajukan KPR di Medan, sementara kami sudah tinggal di Makassar. Kalau mengurus langsung, mau berapa biaya akomodasinya ya kan...

Jadi, BJ menghubungi petugas bank di kantor cabang (kancab) Medan yang dulu menangani KPR kami. Ternyata, petugas itu sudah resign sehingga kami diarahkan ke rekannya. Oleh rekannya, kami dialihkan ke bagian yang menangani pelunasan.


Hehe…agak ribet yaaa…. Apalagi, semua komunikasi tidak bisa dilakukan secara langsung (eh kalaupun tidak jarak jauh, masih COVID juga sih waktu itu). Tapi, demi tercapainya tujuan, masa nggak mau sedikit lebih ribet?

Per Januari 2021, urusan kontak dengan bank saya yang mengerjakan. Waktu itu, saya bisa kontak intensif dengan staf bank yang menangani pelunasan (sebut saja Pak A). Timeline proses waktu itu kurang lebih seperti di bawah ini dengan komunikasi melalui pesan (WA)/telepon/email.


Januari 2021

๐Ÿ’ฐKami mendapat informasi jumlah sisa pembayaran yang harus kami bayarkan. Entah ada pinalti atau tidak (saya tidak memastikan), yang pasti ada selisih dua digit (juta) dibandingkan jumlah total angsuran. Buat saya, worth it untuk diupayakan. (Edit karena ada beberapa komen yang salah tangkap : xx juta atau sekitar 15 persen dari total sisa angsuran)


๐Ÿ’ฐKami harus mengisi form percepatan pelunasan, dikirim via email beserta identitas.


๐Ÿ’ฐKami harus membuat surat permintaan pengiriman dokumen (sertifikat) dari kancab bank di Medan ke kancab bank di Makassar. Surat dibuat rangkap dua. Surat asli dikirim ke Medan sedangkan salinannya ditembuskan ke cabang bank di Makassar. Jadi, kami juga datang ke kantor cabang di Makassar.


๐Ÿ’ฐBank mendebet uang untuk pelunasan.


Februari 2021

๐Ÿ’ฐKami mendapat informasi bahwa pengiriman sertifikat Rp 100.000 sedangkan asuransi Rp 3 juta. Kami protes karena biaya sebesar itu tidak diinformasikan sejak awal. Lagipula, asuransi Rp 3 juta kok tampak tidak masuk akal ya? Kami mengajukan alternatif pengambilan oleh orang lain dengan surat kuasa. Namun, menggunakan surat kuasa pun ternyata ribet karena harus pakai akta notaris. Akhirnya, saya dan BJ “menyerah” untuk menggunakan pengiriman berasuransi yang mahal itu. Hitungannya masih lebih murah ketimbang terbang ke Medan.


Maret 2021

๐Ÿ’ฐTidak ada progres berarti.


April 2021

๐Ÿ’ฐUpdate info mengenai kepastian pengiriman sertifikat ke kancab Makassar. Biayanya tidak sampai jutaan.


Mei 2021

๐Ÿ’ฐKami harus menandatangani surat pengambilan dokumen. Dokumen dikirim via email untuk selanjutnya kami print, tanda tangani di atas materai, lalu dikirim ke Medan.


๐Ÿ’ฐPenandatangan dan pengambilan bundel berkas di kancab Makassar. Adapun berkas yang kami terima terdiri dari Sertifikat Hak Milik, Surat Hak Tanggungan, Surat Roya, dan Surat Keterangan Lunas.


***


Puji Tuhan. Lega…Akhirnya selesai juga urusan yang makan waktu hingga lima bulan. Kalau mengurusnya masih satu kota, mungkin tidak selama itu yaaa… Di kasus kami, komunikasi terbatas hanya via pesan/telepon/email dan melibatkan dua kantor cabang. Selain itu, komunikasi dan pengurusan sempat terpending karena gantian terkena COVID.


Secara formal tidak ada biaya tambahan di luar biaya pengiriman. Tapi memang, kami mendapat permintaan uang THR dari petugas yang menangani urusan itu (waktunya pas menjelang hari raya). Sebenarnya, tanpa diminta pun kami berniat untuk memberi tanda terima kasih. Toh saya
 memang sangat terbantu ketimbang mesti mengurus langsung ke Medan.  Namun, tadinya saya mau tanya dulu, takutnya melanggar etik, ya kan? Eh ternyata malah duluan diminta… ya sudah.


Saya menulis bagian ini bukan untuk menjelekkan atau maksud negatif lainnya. Hanya untuk sharing, supaya tidak ada keterkejutan ketika orang lain menemukan hal serupa.


***


Demikian pengalaman kami melunasi KPR sebelum waktunya. Kalau-kalau ada teman_DW yang sedang berupaya melunasi KPR sebelum waktunya, semoga dilancarkan usahanya yaaa….









44 komentar untuk " Pengalaman Melunasi KPR Sebelum Waktunya"

  1. Kalau memang diizinkan melunasi sebelum waktunya, mending diambil dan rajin kumpulin dananya. Karena idup dengan utang itu rasanya ga nyaman

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju mbak. Tp mmg saya ketemu bbrp orang yang kalau punya dana mending buat modal krn bunga KPR relatif rendah dibandingkan kredit lain

      Hapus
  2. Setau saya (ini info dari temen yg ambil KPR) ada asuransi. Jd misalnya saya ambil rumah atas nama saya. Ada asuransinya (mungkin yg begini2 jg hrs ditanyakan ya?), jd amit2 saya meninggal, maka pihak keluarga yg ditinggalkan tidak kena beban. KATANYA SIH BEGITU.
    Urusan sama bank memang ribet, cenderung bikin kesel. Mau tutup kartu kredit aja dillempar ke sana kemari apalagi ini mau membayar cicilan lebih cepat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, ada mbak. Pas pengurusan KPR ada biaya asuransinya. Tapi kadang urusan asuransi itu ribet. Pernah skali dibikin kecewa asuransi tp di askes.

      Hapus
  3. Wah, lengkap sekali cerita pengalaman mbak Lisdha melunasi KPR ini. Memang pengalaman setiap orang ga bisa diterapkan begitu saja. Oh, jadi kalau pakai bank syariah, pembayaran cicilan per bulan itu tetap ya (flat)? Jadi ga bikin sport jantung karena sudah tahu nominalnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak. Flat sampai akhir. Tapi memang diperkirakan bisa jd lebih mahal (dg asumsi bunga tidak melambung tinggi)

      Hapus
  4. Saya gak punya pengalaman ttg KPR. Tapi, orangtua yang punya. Mamah saya juga beberapa kali cerita pengalaman melunasi KPR lebih cepat. Ya, memang sebaiknya kalau udah ada dananya dilunasis ecepat mungkin kata mamah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepakat sama Mama, Mbak. Dan kalau memang bisa, bagusan gapakai KPR sih ya๐Ÿ˜€

      Hapus
  5. Lega banget kalau udah lulus KPR mba. Smoga aku bisa menyusul. Amiin.
    Perjalanan yg berliku2 tapi beres juga ya mbaaa. Oh ternyata udah diminta duluan ya ๐Ÿ˜ nggak melanggar kode etik

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kayaknya sih "jalur lain" hehehe. Tadinya saya yg takut kenapa2 ke pekerjaan dia ya kan..

      Hapus
  6. Alhamdulillaaah ikut lega Mak baca cerita pelunasan KPR ini. Semoga suatu hari nanti kalo memang aku bisa ambil KPR, bisa lunas tanpa harus nunggu waktu belasan tahun juga. InsyaAllah hidup lebih tenang tanpa hutang ya Mak :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mak. Lebih tenang itu sih memang tujuannya

      Hapus
  7. LEGA bangetlah pokoknya bisa melunasi hutang KPR itu, ini yang terjadi sama aku juga bisa melunasi lebih cepat dari waktunya. Jadi berkurang juga beban dalam hidup ya mak.

    BalasHapus
  8. Sekarang jadi lebih tenang ya Mbak karena KPR lunas meski rumah gak ditinggali sendiri. Baru tahu juga kalau bank syariah melayani siapa saja, bukan berdasarkan agama. Btw, aku pun sebenarnya bakal mikir banyak kalau tinggal bepindah-pindah. Beli rumah dan gak ada yang ninggalin, khawatir gak terawat dan malah terbengkalai. Kan sayang ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya jg jadi tau gara2 KPR ini. Tapi memang pas dijelasin pakai istilah2 syariah kami yayaya aja sih hehehe

      Hapus
  9. Pati kebayang banget leganya lunas KPR rumah ya mbak. Memang, kalau punya uang yang lbh dari cukup, pilihan baik melunai KPR rumah, kalao udah lunas tinggal mikir yang lain untuk ditabung uangnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tadi malah baru lihat short video yg bilang beli kpr bisa jd lebih menguntungkan drpd cash... pastinya S dan K berlaku hehehe.

      Hapus
  10. Pengalaman mba sama seperti kami nih, tapi untunglah cepat selesai dan sertifikat sudah ditangan. Kadang pihak bank juga membuat bahasa yang sulit kita mengerti jadi seakan akan dipersulit. Intinya sabar dan berani ya mba hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin karena besa kota trus komunikasi hanya lewat sinyal...jd lamaaa

      Hapus
  11. Selamat akhirnya lunas juga KPR . Pilihan pakai bank syariah dengan tarif flat kayanya boleh juga di coba nih

    BalasHapus
  12. Aku dulu mikirnya melunasi KPR sebelum waktunya tuh gak sulit, dan cepet. Ternyata gak semudah itu ya..
    Btw selamat ya Mbak sekarang udah lunas, surat2 sudah komplit.
    Sharingnya pasti bermanfaat banget nih buat yang punya kasus serupa :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin karena kami beda kota, bahkan beda pulau sih. Jd komunikasinya ga bisa langsung.

      Hapus
  13. Ikut bahagia mbaa KPR lunas lebih cepat, rasanya plong yah. Entah kenapa setiap punya utang itu kepikiran terus.
    Walau prosesnya bulanan dan ada biaya kejutan tapi semua terlewati.
    eh aku penasaran 3 juta itu asuransi untuk biaya pengiriman sertifikat? bukan asuransi rumah kan? jadi curiga deh soalnya kalau asuransi ekspedisi itu nominalnya kecil.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya sempat sampai mendesak pakai ekspedisi apa, kok bisa semahal itu. Juga sempat mau pakai opsi pakai surat kuasa untuk diambilkan teman. Tapi ujungnya ga jadi sih yg 3 juta itu.

      Hapus
  14. selamat ya mbk sudah melunasi KPR semoga kita dimudahkan semua ya untuk memberli rumah dan melunasi KPR/keuangan rumah

    BalasHapus
  15. Seru juga ya kalau bahas KPR. Bikin degdegan kalau pas menemukan hambatan. Saya mau KPR tapi masih maju mundur karena penghasilan suami bukan yang menentu tiap bulannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau ada rezeki beli rumah lagi sih saya maunya ga KPR. Karena dg KPR harganya mmg jdi berlipat, apalagi beli rumah dr developer kan.. Tapi ya sikon dan preferensi beda2 sih..

      Hapus
  16. Ah keren sekali bisa mempercepat pelunasan KPR
    semoga aku juga bisa seperti itu
    KPR ku masih 7 tahun lagi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berkat tak terduga sih mbak.. Kalau sudah berkat dr atas yg tak mungkin jd mungkin ya..

      Hapus
  17. Kalau pedagang memang pastinya memilih untuk tambahan modal, kalau karyawan atau freelancer mending lunas secepatnya meski ada selisih. 2 juta lumayan tapi setara dengan perasaan sudah selesai. Kebetulan saya setipe gini, karena 2x beli motor, peluncuran dipercepat juga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    2. Maksud saya dua digit tp dalam satuan juta alias 8 digit hehehe. Sekitar 15 persen dari total pembayaran kalau tidak dipercepat. Jd worth it sih diperjuangkan

      Hapus
  18. Oh..aku jadi paham mengenai pelunasan KPR sebelum waktunya begini.Bener juga ya, kak Lis.. Dengan pertimbangan berbagai hal, enaknya kalau sudah lunas, jadi gak ada beban membayar bulanan plus bunga lagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau di satu kota, mana tau bisa lebih enak komunikasinya yaa kan..

      Hapus
  19. kupikir kalau melunasi sebelum waktunya bakalan kena pinalty yang lumayan, tapi ini selisih 2 jutaan ya Mak. oh ya Mak, kalau boleh tahu ini bank syariah apa ya Mak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukan 2 juta mba..tp dua digit tambah nol 6. Kalau dihitung sekitar 15 persen dari total yang masih harus dibayar seandainya ga dipercepat. Bank ungu mbak..

      Hapus
  20. Alhamdulillah selamat ya mba.. pasti tenang dan lega sekali tidak ada cicilan KPR lagi. Akupun merasa kalau urus ini itu ribet sendiri mending serahkan saja pada ahlinya, nanti kita bisa memberi ucapan terimakasih.

    BalasHapus
  21. Aku salut sama pak BJ - pertimbangan "NAnti kalau ada apa-apa gimana?" sehingga melunasi KPR sebelum waktunya!


    Setuju banget, situasi dan kondisi seseorang/rumah tangga akan naik turun juga, jadi kalo bisa lunas sebelum waktunya bagus

    BalasHapus
  22. Waah memang sebaiknya begitu ya mbak . Jika ada uang lebih mending dilunasin jadi nggak terasa beban. Kami dulu juga lunas pas anak pertama usia 8 bulan. Jadi nggak ada beban. Suami ambil KPR sebelum menikah.

    BalasHapus
  23. Cukup lama ya pengurusannya mba padahal mau pelunasan, insya Allah aku mei nih selesai cicilan KPR Alhamdulillah setelah 15 tahun semoga lancar dan sehat semuanya aamiin

    BalasHapus
  24. menarik banget ini mba pengalamannya untuk melunasi KPR sebelum waktunya, aku langsung marked karena aku juga sebagai pejuang KPR hihi

    BalasHapus

Terima kasih atas kunjungannya. Mohon tidak meninggalkan link hidup dalam komentar ya :)