Cara Agar Anak Mau Minum Obat



Orang tua millenial lazim mencari jawaban atas berbagai pertanyaan seputar perawatan anak di internet. Termasuk saya dan BJ. “Cara agar anak mau minum obat” saya ketikkan di mesin pencari ketika kami mengalami permasalahan itu. Elo si anak bungsu memang sempat sangat amat susah minum obat.

Tulisan ini tidak hanya fokus pada cara agar anak mau minum obat. Tapi juga “pengakuan dosa” berlanjut ending yang melegakan. Sebagai orangtua, kita bisa belajar dari kesalahan orangtua lain, bukan? Tetapi mungkin ada pembaca yang terdampar ke sini gara-gara anak tidak mau minum obat? Jangan khawatir, saya akan tetap berbagi tips tentang cara agar anak mau minum obat.   

Jujur, saya termasuk dalam barisan gagal menjalankan tips agar anak mau minum obat. Kalau berhasil, saya tak akan berbagi cerita ini dong. Namun, gagal diterapkan oleh satu atau dua orang bukan berarti tips itu tidak berguna bukan? Gagal saya lakukan, bisa jadi berhasil dilakukan orang lain demikian juga sebaliknya. 

Berikut beberapa tips agar anak mau minum obat yang pernah saya baca di laman kesehatan : 

⛑️ Memberikan obat-obatan yang mudah diterima anak. Ini sudah lazim kita lakukan sih, di antaranya dengan memberikan obat dalam bentuk sirup yang lebih mudah diterima ketimbang bentuk tablet. (Tapi kemudian para orangtua dibikin syok ketika ditemukan adanya zat berbahaya dalam beberapa obat sirup yang berakibat gagal ginjal fatal).

⛑️ Memberikan pengertian pentingnya minum obat pada anak. Memang sih, langkah ini akan lebih efektif dilakukan pada anak di atas usia dua tahun, yakni ketika kemampuan komunikasinya sudah lebih berkembang. Tapi tetap bisa kok dilakukan pada anak yang lebih kecil. 

⛑️ Tidak membohongi anak. Misalnya saja, jangan membohongi anak dengan mengatakan obat rasanya manis, padahal faktanya si obat terasa pahit. Awalnya bisa jadi si anak mau, selanjutnya dia akan menolak karena merasa tertipu.

⛑️ Membiarkan anak memilih/menentukan obat mana yang akan ia minum lebih dulu. Anak juga bisa dibiarkan memilih kalau ada pilihan rasa untuk obat yang sama (misal rasa jeruk dan rasa strawberry).

⛑️ Mencampur obat dengan makanan favorit. Tentunya dengan memerhatikan bahan makanan campurannya. Beberapa jenis obat tidak boleh dicampur dengan susu karena bisa bisa terjadi reaksi yang mengurangi khasiatnya.

⛑️ Membuat suasana menyenangkan. Memberikan obat bisa dibarengi dengan bercerita, membaca buku, menonton televisi, dan sebagainya.

⛑️ Apresiasi ketika anak mau minum obat. Dengan apresiasi positif dari orangtua anak merasa mampu dan dihargai oleh orangtua.

⛑️ Tidak memaksa anak minum obat. Mungkin banyak orangtua familier dengan istilah “cekok.” Cekok yang berarti memasukkan obat secara paksa bisa membuat anak trauma sehingga selanjutnya menolak minum obat. Ketika anak menolak, beri waktu sejenak, kemudian bujuk kembali untuk minum obat.

Tips vs Realita

Membaca tips memang mudah. Namun, pelaksanaannya bisa jadi sangat menantang. Saya bahkan tak menyangka akan mengalami persoalan itu pada Elo. Sebab, sebelumnya Ale ~si anak pertama, tak kesulitan minum obat. Si kakak lancar-lancar saja minum sirup. Lancar juga ketika ia beralih dari sirup ke tablet/kapsul.

Sedangkan pada Elo, sesi minum obat selalu menjadi drama. 

Saat sakit di usia bayi, meminumkan obat pada Elo masih relatif mudah. Kemudian, ia melewatkan ulang tahun pertama dengan rawat inap sepuluh hari di rumah sakit. Perawatan yang berujung pada diagnosa penyakit hirschprung, yakni penyakit akibat kelainan bawaan pada usus. 

Sekarang, saya jadi berpikir kalau trauma Elo terhadap obat bisa jadi berawal dari kejadian itu. Sakit selama beberapa waktu membuat dia harus minum aneka obat. Dalam kondisi sakit, dia pasti malas makan, apalagi minum obat. Sayangnya saat itu ia belum bisa diajak bicara. Apalagi Elo juga mengalami kelambatan bicara (speech delayed ). Di sisi kami sebagai orangtua, saya dan BJ sangat khawatir, bahkan stress. Sebisa mungkin kami menyuapkan obat-obatan yang sudah diresepkan untuk kesembuhannya. 

Bukannya mau memaksa, kami hanya ingin si anak ini cepat sembuh!!

Trauma Berkepanjangan

Tampaknya pemaksaan demi pemaksaan minum obat membuat Elo trauma berkepanjangan. Ketidaksabaran, ketidakbecusan, juga kesalahan itu kami tuai dalam bentuk antipati Elo terhadap obat. Dia menolak semua jenis obat, bahkan obat sirup dengan rasa manis sekalipun. Ketika obat dicampur dengan makanan/minuman, dia cepat menyadari dan langsung menolak makanan itu. Beberapa kali terjadi, dia harus menyaksikan pembuatan makanan/minuman untuk memastikan tidak dicampur dengan obat.

Penolakan Elo sering terjadi dengan :

๐Ÿ˜ญ Mengulur waktu, dengan bilang tunggu sebentar, tidur sebentar, tapi tak berujung๐Ÿคญ

๐Ÿ˜ญ Menutup mulut rapat-rapat dengan menggunakan dua tangan. 

๐Ÿ˜ญ  Badan telungkup dan menolak dibalikkan

๐Ÿ˜ญ Dan ketika kami sudah mulai tidak sabar, dia akan menangis. Dari awalnya menangis pelan hingga meraung-raung. Kalau istilah sekarang ngereog kali ya..๐Ÿ˜€


Termasuk drama yang mengaduk emosi dan menantang batas kesabaran tidak?  Katakan itu lebay. Tapi kurang lebih memang seperti itu. 

Kebuntuan saya dan BJ dalam hal memberikan obat ketika Elo sakit pernah saya ceritakan di tulisan ini. Saya bilang buntu karena saat itu memang seolah tidak ada jalan keluar. Aneka tips minum obat dari internet maupun dari teman-teman tak ada yang mempan. 

Kalau hanya demam ringan sih tidak masalah. Dengan kompres dan balur-balur, demamnya masih bisa turun. Namun, ketika demam tinggi dan berlanjut, mau tak mau kami harus membawanya ke rumah sakit. Di RS, saya meminta supaya semua obat diberikan lewat injeksi.

Berkebalikan dengan disuruh minum obat, dia malah santuy kalau ditusuk jarum untuk cairan infus atau injeksi obat. Padahal, banyak anak memilih minum obat ketimbang disuntik. Anomali kan?

Enjoy di RS๐Ÿซข


Elo juga malah terlihat menikmati kalau dirawat di RS. Dulu ketika tinggal di Medan, ia biasa dirawat di RS Murni Teguh. Kami beberapa kali mendapat kamar di lantai atas dengan pemandangan langsung ke stasiun kereta. Pemandangan yang menyenangkan buat Elo. 

Di usia itu, dia sudah mulai menyerap perkataan orang, termasuk dokter. Beberapa kali kejadian,  ketika demam sudah lewat tiga hari, dia tanya : "kok kita nggak ke rumah sakit?" 

"Family Staycation" ๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…


Hedewww...  buat dia opname di RS itu dirasa staycation kali ya?

Ada kejadian lucu (tapi ngenes) gara-gara anti minum obat. Yakni ketika Elo khitan di akhir tahun 2020. Ale dan Elo khitan berdua di rumah (bukan kami yang pergi tapi ahli khitan yang datang). Tak ada acara khusus, toh waktu itu masih pandemi. Elo bersemangat menyambut momen tersebut. Dia bahkan mau dikhitan lebih dulu ketimbang kakaknya. 

Menjelang detik-detik khitan, tak ada ketakutan atau kekhawatiran tergambar di wajahnya. Malah dia bisa bercanda-canda ketika proses khitan berlangsung. Masalah baru terjadi ketika efek obat bius mereda sementara dia tak bisa minum obat penahan nyeri. Huwaaaaaaaa…… tangis membahana. Rasa sakit bentrok dengan kengerian minum obat. Masa khitan itu benar-benar perjuangan dalam urusan minum obat. 

Bersyukurnya, selama pandemi dia tak pernah sakit parah. Sepanjang fase itu dia tak pernah sakit yang sampai harus opname di RS. Puji Tuhan atas penjagaan dan karunia kesehatan dari-Nya. 

Akhirnya Mau dan Bisa Minum Obat

Kebuntuan soal minum obat berakhir pada Agustus 2022. Suatu hari, kaki Elo tergores pinggiran pot bunga yang runcing karena pecah sebagian. Saat tergores, dia tak menangis. Dia bahkan baru bilang usai mandi. Memang hanya luka gores yang kecil, jadi saya pikir hanya luka biasa. Tindakan saya sekadar membubuhkan obat merah di luka tersebut.

Ternyata dugaan saya salah. Mungkin, sebelum akhirnya dibubuhi obat merah, luka itu terlanjur terpapar kuman. Dalam beberapa hari, luka kecil itu bukannya sembuh tapi malah melebar. Elo juga demam yang saya yakini akibat lukanya. Saya segera membawa Elo ke klinik. Dokter meresepkan beberapa obat, di antaranya tablet antibiotik. Saya minta tablet karena sudah yakin kalau sirup nggak bakalan masuk. Tapi sejujurnya saya juga nggak yakin kalau tablet bakalan masuk. Hhmmh…sudah langsung mikir, siap-siap opname kalau-kalau demam berlanjut.

Tapi, saya tetap mencoba untuk memberinya obat.

Seperti biasa, proses memberi obat diawali dengan kesabaran dan kelemahlembutan.๐Ÿ˜‡ Namun, berjalannya waktu, sikap manis tadi tak juga membuahkan hasil. Elo tetap menolak minum obat. Kesabaran habis, berganti rupa menjadi kemarahan.๐Ÿคฌ 

Saya pura-pura mengancam, akan pergi keluar dengan Ale kalau dia tak mau minum obat. Iya, saya salah! Itu bukan contoh yang baik ya ges yaa… Tapi waktu itu saya sudah sangat kesal dan putus asa. BJ sedang keluar kota, kalau mesti ke RS (untuk pertama kalinya sejak tinggal di Makassar) terbayang repot ini-itunya.

Maafkan Bunda ya Nak…

Eh tapi …….

Ancamannya mempan dong.๐Ÿซฃ

Saya jelas tidak membenarkan tindakan pura-pura mengancam. Untuk hal ini, saya sudah minta maaf secara langsung pada Elo. 


Tapi memang, pada waktu itu Elo mau mencoba minum obat. Syaratnya, tablet harus dipotong keciiiil-keciiil (tapi bukan digerus ya..), lalu sediakan minum yang banyak, juga wadah untuk antisipasi kalau-kalau dia mendadak munt*h. Oke!! Apapun permintaannya saya kabulkan demi dia mau minum obat. Saya belum melihat hasilnya, tetapi mendengar dia mau mencoba minum obat saja rasanya sudah legaaaa banget. Setidaknya sudah mau mencoba ketimbang anti sama sekali, ya kan?

Waktu itu, dosis obatnya setengah tablet. Dia minta supaya setengah tablet itu dipotong jadi empat. Sudah tentu kecil-kecil banget ya kan?

Coba minum obat pakai air putih : gagal. 
Pakai pisang, gagal. 
Pakai nasi, gagal. 
Pakai roti, gagal. 
Akhirnya coba balik pakai air putih……

Saya ingat sekali waktu itu kami berdua bersama-sama berusaha melakukan sugesti dengan mantra (haha..mantra) berbunyi : mulut-mulut, bantu Elo sembuh dong (maksudnya biar  mulut ~lebih tepatnya kerongkongan bisa menelan si obat ๐Ÿ˜‡). 

Langkah yang berhasil. Sebuah pencapaian besar meski obatnya harus dipotong keciiiil-keciiil dan tak selalu berhasil sekali teguk. Setelah bertahun-tahun ribet soal obat, hari itu layak dirayakan dalam catatan. Sebuah milestone (tonggak perkembangan) bagi seorang anak bernama Elo, yakni bisa minum obat menjelang usia delapan tahun. 

Pencapaian masih berlanjut.

13 Maret 2023. Kali ini dia batuk berkepanjangan. Saya sudah memberinya obat batuk tablet, juga ramuan tradisional, tapi batuknya tetap awet. Kami pun ke dokter dengan layanan BPJS (terima kasih BPJS). Dokternya masih muda, baik, dan ramah. Kami pulang dengan membawa beberapa jenis obat yang ternyata salah satunya berbentuk kapsul.

Waduuh…bagaimana memotong kapsul? Nanti malah ambyar deh isinya.  Tantangan saya sampaikan pada Elo, berani minum kapsul? Ternyata dia menerima tantangan itu. Lalu, glek…kapsul bisa masuk dalam sekali teguk. Tablet yang lain juga tak perlu lagi dibikin kuecil-kuecil, cukup dipotong dua.


Milestone Baru

Saya terharuuu..Mungkin hanya perkara minum obat, yang jelas tak akan masuk rekor MURI, apalagi Guinnes. Tetapi menjadi orangtua memang sering berarti bangga pada pencapaian-pencapaian pertama. Hal yang kelak terasa biasa, tapi jangan tanya bagaimana kekaguman orangtua ketika melihatnya saat pertama.

Bertatap dengan mata bayi pertama.
MPASI pertama.
Langkah pertama.
Kata pertama.
Sekolah hari pertama.
Menginap di luar pertama.
Dan seterusnya….

Mencatat ini adalah untuk mengawetkan rasa syukur atas suatu hal yang kelak mungkin akan terasa biasa. “Hanya” perkara bisa minum obat, tetapi saya mengapresiasi sebagai sebuah prestasi. Bukankah prestasi bukan soal akademis melulu, atau tentang menang lomba ini itu? Prestasi juga berarti kemampuannya untuk mengatasi ketakutan dan hal-hal yang selama ini dianggap sebagai ketakutan yang sangat besar.

Kelak, cerita ini mungkin akan membuat dia tersenyum kecut atau tertawa lucu. Dulu kamu setakut itu untuk minum obat. Dulu ayah, bunda, dan Mas Ale sebuntu itu untuk membuatmu mau minum obat. 

Dalam satu-dua hal, mungkin kami merasa sudah berusaha demikian keras untuk merawat anak-anak. Bahkan, sedemikian keras upaya itu, sehingga justru membuat anak terluka/trauma. Orangtua sebisa mungkin berusaha sebagai bentuk tanggung-jawab. Tetapi Tuhan memiliki waktu dan cara tersendiri untuk menumbuhkan manusia. 

Soli Deo Gloria

________________________

Referensi : 

https://www.klikdokter.com/ibu-anak/kesehatan-anak/anak-sakit-tapi-susah-minum-obat-ini-cara-mengatasinya

https://www.alodokter.com/jangan-dipaksa-ini-7-cara-membujuk-anak-untuk-minum-obat

35 komentar untuk "Cara Agar Anak Mau Minum Obat"

  1. Seru ya perjalanannya, setiap anak punya cerita masing-masing, ketiga anak saya juga gitu
    kalau dari pengalaman saya bisa juga disiasati dengan kemasan puyer yang lucu, kadang dari dokter sudah dikemas dengan kemasan bergambar lucu
    Ada juga yang saya beri gula, ini untuk obat yang dihancurkan ya karena biasanya kan pahit

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget mbak..setiap anak punya cerita masing2. Gampang di A, mungkin ribet di B dst hehehe

      Hapus
  2. Kalau anakku malah gampang minum obat. Kebalik sama aku yang sampe hari ini susah nelan tablet. Tapi kalau namanya pas hamil dan melahirkan obat aku minum dengan cara dihaluskan, xixixi. Sepertinya aku juga perlu tips ini. Thx ya Mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah anak pertama mudah minum obat, yang kedua syulit hihihi

      Hapus
  3. Ceritanya mengaduk emosi ya kak, periode anak sakit dan GTM dikasih obat atau makan itu jadi drama buat para ibu. Ibu maunya apa anak maunya apa. Idealnya kita memang tidak boleh memaksa anak, tapi kadang realitanya mengharuskan kita memaksa anak. ๐Ÿคญ

    BalasHapus
    Balasan
    1. Realita tak semudah membaca tips ☺️

      Hapus
  4. Duh, emang drama banget makan obat ini, ya, Mba. Kalo saya suka mecahin obatnya dalam beberapa bagian sebelum diminum biar cepet ilang di mulut. Hahhah, padahal pahit sangat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Apalagi kalau sempat ga tertelan ya mbak..pahiiit sangat

      Hapus
  5. Huaaa drama banget ya mbak. Aku bacanya ikut merasakan emosi naik turun, hihi. Aku ngerasain juga soalnya anakku usia 2 tahun dari bayi susah banget minum obat. Sekarang malah dilepeh padahal menurutku masih manis sih cuman namanya obat ada bau yg gak enaknya ya. Kalau vitamin masih bisa masuk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener mba..ada bau (apalagi kalau antibiotik) dan manisnya pun beda

      Hapus
  6. Anakku masih minum sirup mbaa, klo tablet atau yg digerus dia malah gak suka karena pahit sekali. Sepertinya anakku harus belajar minum obat tablet nih, coba dulu ah potong2 kayak tipsnya mba ๐Ÿ˜

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo mau sirup sih gapapa. Ini dulu anakku sirup malah ga mau blasss

      Hapus
  7. Anakku waktu kecil gak susah minum obat klo obatnya manis. Yg susah klo puyer.. Itu biasanya setengah dipaksa sih biar puyernya mau ditelan. sambil dibujuk² gitu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sementara dokter kadang kasih puyer ya kan

      Hapus
    2. Sementara dokter kadang kasih obat puyer ya kan mbak.

      Hapus
  8. Perkara minumin obat ini emang perlu banget buat tahu caranya si. Jadi ingat sama anak kecil yang dicekoki obat sampai habis. Dianya sampai keselek. Kasian liatnya.

    BalasHapus
  9. untunglah akhirnya dia mau minum obat ya. Memang tiap orang beda2 sih dalam hal ini, jd tidak bisa mengambil patokan si anak A kok santay2 aja minum obat tp yang ini bikin esmosi jiwa

    BalasHapus
  10. Hehehe Elo ternyata bnyk pengikutnya niy yaitu mending diinfus dp harus nelen obat Di uyut bunda juga sama.paling susah kl hrs nelen obat. Yg seru ketika menyaksikan cucu disunat. Dokter bilang gak sakit kan di laser. Tetapiii...ketika ternyata sakit sama deh nangisnya mungkin sama anak2 lain yg meraung raung. Lucunya si cucu malah marah2 tuh ke dokter karena merasa dibohongin hihihi jdlah drama.

    BalasHapus
  11. Anak kecil memang susah-susah gampang kalau mesti minum obat. Paling cocok obat berupa cairan seperti sirup. Itupun yang manis. Kalau masih terasa pahit, ngambek wkwkwkw. Ukuran tablet yang agak besar tentu sulit ditelan, jadi kudu dibelah2 jadi potongan kecil. Nah, paling enak kapsul aja ya kan permukaannya licin jadi mudah ditelannya. Bener, jangan membohongi anak soal obat2an, supaya dia ga trauma.

    BalasHapus
  12. Hal yang disebutkan diatas pernah aku alami dengan anak-anak ketika mereka masih balita. Bahkan aksi bohongin juga pernah, ha...ha...ha...untungnya mereka tidak trauma ya. Dulu anakku paling susah minum obat berbentuk pil/ kapsul

    BalasHapus
  13. Selamat ya mbak, selamat juga buat Elo, akhirnya mau minum obat, walau harus melewati tahapan-tahapan yang tak mudah. Bahkan pakai emosi segala. Tenang mbak, aku juga pernah mengalami dan menyesal karena itu. Tapi alhamdulillah aku sudah minta maaf ke anak, sudah mengaku, dan anakku memelukku karena penyesalanku itu.

    Anakku yang laki mudah minum obat. Sejak kecil sampai gede sekarang, mau pil atau kapsul, dia telan. Kalau yang cewek, paling susah. Maunya yang cair-cair saja (sirop). Pas udah agak gedean (mulai SMP), baru mau minum obat tablet dan kapsul. Persis kayak Elo, obatnya mesti dipotong dulu sampe kecil. Kadang diremukkan, ditarok disendok, trus disuapin kemulutnya sendiri. Berhasil. Kalau kapsul kudu dibuka, dikeluarin isinya, tarok sendok, trus disuapkan ke mulut kayak makan gula, padahal pahit ๐Ÿคฃ Biasanya pas minum ibat gitu anakku minta air madu, pisang, permen, teh manis... banyak hihi

    BalasHapus
  14. saya juga agak kesulitan mbak memberi obat tablet ke anak soalnya selama ini dia obatnya sirup terus. tapi kalau sama ibu yang jagain dia bisa minum obat tablet tapi kayaknya digerus gitu obatnya trus ditambah sirup

    BalasHapus
  15. Kalo aku sih dari awal gak berbohong ya. Misal "ini manis de" padahal pahit. Jadi aku bilang aja, de waktunya minum obat ya. Kalo misal banyak ya aku coba sedikit2 dulu tanpa paksaan pastinya

    BalasHapus
  16. Waktu masih kecil, anak-anak saya juga agak sulit kalau disuruh minum obat dalam bentuk tablet atau kapsul. Mereka lebih memilih minum obat sirup.
    Sekarang sudah besar, mau gak mau dibiasakan untuk bisa minum obat dalam bentuk kapsul atau tablet. Meskipun dalam prosesnya memang gak mudah. Kesulitan menelan obat. Sampai minum bergelas-gelas baru bisa tertelan, hehehe

    BalasHapus
  17. Hehehe Elo masa ke rumah sakit jadi kayak staycation, gara-gara rumah sakitnya nyaman dan dapat pemandangan bagus dari kamar ya.

    Drama khitan dan si bocah jadi meraung saat khasiat obat bius habis tuh saya alami juga mbak. Terus si bocah juga nggak bisa minum obat tablet. Jadi heboh deh seisi rumah

    Ngomongin soal minum obat, saya sampai sekarang nggak bisa lho mbak minum obat menggunakan air, harus pakai pisang.

    BalasHapus
  18. MasyaAllah, baca ini terasa sekali perjuangannya mbaak. Ngerasain banget membersamai anak melawan ketakutannya kayak Elo yang takut minum obat gini ya. Emang harus sabar, karena insyaAllah akan membuahkan hasil.

    Tapi ada bagian lucu juga sih, Elo malah seneng disuntik dan dirawat di RS, ahaha. Semogaa abis ini gak usah sampai dirawat di RS ya Elo, staycationnya di hotel beneran ajaa, hehe

    BalasHapus
  19. jadi inget pengalaman saat anak - anak masih kecil dan hebohnya kalau mau minum obat ya mba. Harus cari cara agar mereka mau.. dari sirup, permen, sampai pisang hehe

    BalasHapus
  20. Ah, selalu mengasikkan kalau menikmati tulisan Mak Lisdha!
    Storytelling-nya itu lho.
    Juaraaak!
    Makan apa sih, Maaak?

    Kalau putriku Yasmin, memang agak unik.
    Hihihi.
    Melihat kami makan obat, dia malah pengen coba.
    Hahaha.

    Alhamdullillah, giliran doi sakit, minum obat alhamdullillah lancar jaya.
    Apalagi kalau sirupnya wangi dan manis.
    Ya ampun, dosisnya pengen ditambah.
    Hahaha.

    Aku sebisa mungkin selalu minta obat dalam bentuk sirup.

    Kalau terpaksa harus tablet biasanya, aku sering langsung minta digerus saat masih di dokter dan saat ritual minum, harus sedia air putih yang banyak. Hahaha.

    Yasmin juga sangat tidak nyaman kalau sakit, karena biasa aktif ke sana kemari, jadi doi termotivasi sendiri agar cepat sembuh harus minum obat, biar cepat bisa aktif kembali.

    Apalagi kalau dokter yang menyampaikan sendiri, it works!

    Well, tapi memang jarang sekali minum tablet, seringnya sirup!

    Congratulations, Elo!

    BalasHapus
  21. Aku nih yang termasuk bersyukur banget karena anakku tak susah minum obat. Jadi dari kecil kalau sakit dan harus minum obat dia langsung mangap kalau disuruh minum obat mak. Tapi kalau tablet yang gede-gede biasanya aku gerusin dulu sih.

    BalasHapus
  22. Alhamdulillah mak lis anak2ku gak susah minum obat dan yang model tablet aku halusin alias gerus emang sih pahit banget.

    Kayak aku dulu kuliah tu masih belum bisa minum obat tablet semua kudu di gerus di saat punya asma sering konsumsi obat baru deh lama2 belajar bisa...

    BalasHapus
  23. Aduh iya ya, kasih anak obat itu kadang penuh drama ya mbak
    Harus cari cara yang bisa buat mereka mau minum obat
    Kalau obat puyer jadi makin drama

    BalasHapus
  24. Huhu...aku jadi terwakilkan oleh Elo.
    Mari kita bergandengan tangan, Elooo..

    Aku juga tim yang susah minum obat, pliiss..
    Duluuuu pas kecil, kalo ada tablet begini, purak-puraknya uda aku minum, tapi aku cepet lari ke bawah meja makan dan aku muntahin di sana.. Tau banget bakalan ninggalin bekas, aku cepet-cepet ambil tisu.. soalnya meja makanku dialasin karpet sama ibuk.

    Pasti ibuk marah bukan hanya karena aku susah minum obat, tapi karena karpetnya jadi kotor.

    Huwaaa~
    Dibilang trauma, enggak. Pokoknya gak suka aja..

    Tapi sejak jadi Ibu, aku kudu kuat.
    Jadi, skarang, vitamin segede jempol juga ketelen aja tuh..

    Masak nunggu Elo dewasa ya, nak?

    BalasHapus
  25. sama dramanya dengan anakku mbak, anak yang nomor 4. ada aja alasannya supaya gak minum obat, padahal dia udah payah banget harus diobati. Antara gemes dan cemas jadi satu, emang kudu sabar sih yaa. ini anak padahal dah gede udah kelas 3 smp tapi belum bisa nelen obat tablet atau kapsul

    BalasHapus
  26. Memang kalau dipaksakan minum obat tablet dengan cara menutup hidung itu membuat anak trauma, bisa saja tersedak, obatnya masuk ke jalan nafas hiyy ngeri. Lebih baik tunggu anaknya siap betul baru di ajak minum obat tanpa paksaan

    BalasHapus
  27. Ngasih obat ke anak tuh butuh perjuangan, aku pernah hlo sampai maksa anaknya waktu masih di bawah 2 tahunan, pas anaknya gedean sih enggak perlu maksa karena tahu, minum obat biar sembuh.

    BalasHapus

Terima kasih atas kunjungannya. Mohon tidak meninggalkan link hidup dalam komentar ya :)