Main Sebentar ke Selayar (2)

7 Juli 2022

kota benteng selayar
Pagi mendung, jalan utama masih lengang

Selamat pagi Selayar. 


Tidur cukup nyenyak mampu mengusir lelah perjalanan kemarin. Yuhu…kami siap untuk

jalan-jalan. Tapi, sepertinya kami harus bersiap dengan risiko musim pancaroba. Hujan deras semalam sepertinya tidak menuntaskan air di awan-awan.


Pagi berpayung mendung.


Soal mendung, generasi saya mungkin lekat dengan judul lagu duet Deddy Dores dan penyanyi Malaysia, Ella : Mendung Tak (selalu) Berarti Hujan ~hihi, langsung berasa jelang manula yak😀. Jelas saja, kondisi itu yang kami harapkan. Tapi mesti siap juga kalau yang terjadi tak sesuai harapan kan?


Saya sedikit berbincang dengan Ibu Linda, pengelola penginapan. Hari-hari itu, Selayar masih sering hujan. Ah…apakah kami datang pada waktu yang kurang tepat? Tapi sudahlah, toh memang tak pasang ekspektasi tinggi. Tak akan terlalu kecewa kalaupun hanya sedikit tempat yang bisa didatangi.


Keluar dari penginapan, kami berkendara pelan seputar Kota Benteng. Melihat-melihat kota dalam situasi sudah terang. Kota kecil dan cukup rapi, mengingatkan saya pada kota kelahiran. Sama-sama kecil dan rapi meski beda jauh dalam hal ketinggian. Temanggung di pegunungan, sedangkan Benteng di tepi lautan.


Di jalan tak jauh dari pasar, kami melihat kapal bertulisan "We Bridge The Nation" sedang berada di dermaga. Oow…rupanya ada pelabuhan di sini. Pelabuhan Benteng atau juga dikenal dengan nama Pelabuhan Rauf Rahman.


Kami foto-foto sebentar. Lalu mesti cepat-cepat masuk mobil karena…… hujan. Wiuww, secepat itu mendung berubah jadi hujan.


Museum Nekara


Museum Selayar
Tampak depan Museum Nekara

Tujuan pertama kami adalah Museum Nekara. Hujan belum reda saat kami tiba di sana. Staf museum menyambut kedatangan kami dengan sangat ramah. Semula, BJ hendak parkir di halaman samping saja. Namun, salah satu petugas mengarahkan BJ parkir di bawah panggung sehingga terlindung dari hujan.


Saya dan anak-anak sudah duluan naik ke atas sehingga tidak mendengar obrolan awkward antara BJ dengan petugas museum. Intinya, sebelum kami tiba, ada orang telepon dari orang dinas mengabarkan kalau mau datang.


Hihihi…ternyata kami dikira orang dari dinas (pariwisata?). Pantesan dikasih parkir VIP. Pasti mereka juga bingung, orang dinas kok macam begini penampakannya? Saya aja pakai celana santai selutut, tas selempang, dan sandal. Ibu Kadis dari Hongkong?😀😀


Dengan bangunan berbentuk rumah adat panggung, kami mesti naik tangga untuk masuk ruangan pamer. Benda-benda bersejarah ditaruh dalam lemari-lemari kaca dengan keterangan singkat. Di antaranya koin uang dan keramik kuno dari Tiongkok yang katanya diambil dari kapal karam di perairan Selayar.  Sebagian benda yang menjadi penanda Selayar sebagai salah satu titik penting lalu lintas pelayaran di masa lalu.


Pakaian adat selayar
Baju adat Selayar

Membandingkan tinggi badan dengan panjang katana😁


Sejauh mengingat pelajaran sejarah, nama Selayar tidak ada disebutkan di buku sekolah (atau saya aja yang kurang ingatan?😅). Ternyata, Belanda sudah menempatkan residen di Selayar sejak tahun 1700-an. Tak heran jika Selayar punya gedung-gedung peninggalan era kolonial (tapi kami tidak sempat masuk-masuk ke situ sih). Selayar juga tak luput dari konflik bersenjata di seputar revolusi kemerdekaan.


Seperti nama museum ini, benda ikonik bagi wisata sejarah Selayar adalah gong nekara. Sayangnya, nekara kuno Selayar justru tidak berada di museum. Menurut staf museum, tidak ada petugas yang stand by di lokasi nekara. Kami mesti menelepon petugas untuk bertemu di lokasi. Pertimbangan waktu dan cuaca membuat kami memutuskan untuk tidak melihat nekara.



Jangkar Raksasa


jangkar selayar
Jangkar dan meriam kuno


Dengan mengandalkan google map, kami melanjutkan perjalanan ke lokasi jangkar tua raksasa sekaligus Bandara Aroepala. Bukan karena mau pulang naik pesawat, tapi karena nama kompleks tempat tinggal kami saat ini mengandung nama Aroepala (di Makassar dan Gowa, ada beberapa kompleks yang menyematkan nama Aroepala). Beliau adalah keturunan  bangsawan Selayar yang menjadi merupakan walikota Makassar di era 1950-an. 


Sempat dibingungkan oleh titik g-map, akhirnya kami bisa menemukan lokasi jangkar raksasa. Jangkar kuno ini bisa ditemukan di Kampung Padang, Kecamatan Bontoharu yang masih searah dengan bandara Aroepala. Kecuali plank di pertigaan sebelum bandara, kami tidak melihat lagi penunjuk jalan mengarah ke lokasi (mungkin terlewat dari pandangan?). 


Kami bisa menemukan bangunan tempat jangkar setelah bertanya pada penduduk. Bangunannya memang tak mencolok. Lebih mirip rumah berdinding tembok dengan ukuran sekitar 5x5 meter. Letaknya di antara rumah penduduk dengan penanda berupa papan kecil di bagian depan.


Bangunan itu terkunci. Seorang warga memanggil Pak X (hehe, saya lupa namanya) yang menyimpan kunci bangunan. Di dalam, ada dua jangkar dan tiga meriam kuno. Konon, jangkar itu merupakan peninggalan abad 17-18 dari saudagar Tiongkok bernama Gowa Liong Hui yang sering singgah di Pelabuhan Padang. Sedangkan meriam merupakan peninggalan dari era yang sama dari saudagar keturunan Tiongkok dari Gowa bernama Baba Desan.


Panjang jangkar di Kampung Padang lebih dari dua meter. Lebih panjang dari umumnya tubuh orang dewasa. Terbuat dari logam berat, entah berapa bobotnya. Dalam benak awam saya, di masa lalu teknologi seperti apa dan perlu berapa orang untuk menaik-turunkan jangkar ini?


Jujur, saya nggak tahu berapa sih ukuran lazim untuk sebuah jangkar kapal besar di masa sekarang? Ukuran dua meter, apakah memang termasuk raksasa?


Kampung Tua Bitombang


kampung tua bitombang
Salah satu rumah tua di Bitombang


Kami sempat berkendara ke arah Pantai Sunari, tapi di perjalanan kehilangan sinyal sehingga tak ketemu titiknya. Ya sudah…lagipula cuaca kurang mendukung untuk mantai (main ke pantai). Kami sempat turun di pinggir pantai yang bukan titik wisata. Aslinya cantik…tapi sampahnya ituuuu huhuhu. Jangan-jangan itu termasuk sampah saya :D.


Mungkin kita berkontribusi pada keadaan seperti ini😔

Hingga tengah hari, cuaca masih tidak cerah. Matahari sesekali tampak, tapi kemudian mendung lagi. Sempat terpikir untuk ke pantai lain, ke Selayar kan mestinya wisata bahari yak…  Namun, karena cuaca kurang bersahabat, kami memutuskan untuk pergi ke Kampung Tua Bitombang. 


Kampung di Kelurahan Bontobangun, Kecamatan Bontobaharu ini berjarak sekitar 7 kilometer saja dari Kota Benteng. Jalur jalannya sempit dan menanjak, lumayan menantang.


Kami tertarik datang ke Bitombang karena kampung ini punya sejarah panjang. Keunikan Bitombang adalah pada rumah-rumah panggungnya. Di Sulawesi, rumah panggung mudah ditemukan. Namun, rumah-rumah tua di Bitombang punya keunikan, yakni bagian belakang rumah didirikan di atas lereng curam. Kaki rumah/penopang terbuat dari kayu dengan panjang belasan meter. Tiang-tiang itu dibuat dari kayu holasa (bahasa Selayar) atau kayu bitti (bahasa Bugis).


Jalan utama kampung terletak di bawah lereng. Jadi, posisi rumah-rumah tua itu membelakangi jalan. Dari jalan, rumah-rumah itu terlihat sangat menjulang. Berselang-seling dengan rumah yang dibangun belakangan. Hebatnya, rumah-rumah tua itu masih dihuni lho… 


Fixed, penghuninya tidak takut ketinggian.👍


Kami datang tepat saat shalat Jumat. Kampung sepi dan kami tak berkesempatan berbincang dengan para penghuni rumah-rumah itu.  Dari pengeras suara, sayup-sayup terdengar khotbah Jumat yang diikuti pesan pengembangan wisata. 


Puncak Tana Doang


Tana Doang Selayar
Laut di kejauhan


Dari Bitombang, kami kembali ke penginapan untuk sejenak beristirahat. Menjelang sore, kami kembali keluar dengan tujuan Puncak Tana Doang. Ini adalah obyek wisata di atas ketinggian dengan jarak sekitar 11 km dari Kota Benteng.


Kalau cuaca bagus, pengunjung bisa melihat sunset  plus pemandangan laut. Sayang sekali, hingga sore pun cuaca tetap tak cerah. Sudah bersyukur karena kami sampai Puncak Tana Doang tanpa diguyur hujan. Tak ada sunset yang cantik, hanya pemandangan laut dan darat/gunung di kejauhan.


Kami duduk-duduk di cafe terbuka yang tatanannya lumayan apik. Petang itu tak terlalu banyak pengunjung. Tapi, kata pengelola, malam Minggu dan hari libur biasanya ramai. Sebagai obyek wisata yang relatif baru, akses dan fasilitas sudah lumayan. Sudah ada fasilitas dasar seperti mushola, tempat parkir, dan toilet. Juga ada homestay dan camping ground bagi pengunjung yang ingin melewatkan malam di Puncak Tana Doang.


Pulang


Hanya itu tempat yang bisa kami kunjungi selama di Selayar. Kocak sih, jalan-jalan ke Selayar tapi sama sekali tak ada sesi nyebur-nyebur di pantai. Padahal, main-main ke pulau kan identik dengan wisata air. 


Tapi ya gimana…memang cuaca tak mendukung. Bersyukurnya, dari awal memang tak pasang ekspektasi muluk-muluk. Jadi ya oke-oke saja. Bersyukur juga tak ada cuaca ekstrim. Menurut Ibu Linda dari penginapan, bisa saja tak ada penyeberangan ke Bira kalau cuaca potensial berbahaya. 


Subuh baru lewat ketika kami meninggalkan penginapan. Kami mesti berangkat gasik untuk mengejar kapal pukul delapan. Tiba di Pamatata, pelabuhan sudah cukup ramai. Perempuan-perempuan tangguh menawarkan sarapan dan oleh-oleh khas Selayar, seperti emping melinjo yang dilumuri gula merah. Kami membeli sarapan nasi kuning dengan lauk ayam dan telur dengan sambal merah.


Langit timur pelahan berubah warna. Dari jingga keemasan menjadi biru terang dihiasi awan-awan. Pagi itu, kami meninggalkan Selayar membawa kenangan. (*)














22 komentar

  1. Aku jadi pengin ke museum nekara menarik koleksi bendanya, ternyata di sana suasana klasik dan kuno. Jadi pengin ke sana tetapi jauh, terima kasih sharingnya!

    BalasHapus
  2. Itu aku banget kalo ke pulau2 tapi ga ada berenangnya 🤣. Ga bisa juga soalnya mba 😅. Jadi kalo udh ke daerah pantai atau pulau, yg aku incer itu seafood nya, Krn biasa enak2 dan segar 😄👍.

    Tapi memang cuaca akhir2 ini ga bgus yaaa. kemarin pas ke Sibolga, aku ga banyak kemana2 Krn cuaca hujan badai seringnya..

    Itu jangkarnya gede bangetttt 😱. Ga kebayang giman cara orang dulu nuruninnya dan naikin lagi 🤣

    BalasHapus
  3. Saya 20 tahun tinggal di Makassar, tapi belum pernah sekali pun menyeberang ke Selayar huhuhu. BTW, iya lho, tadi pas baca di awal, kirain bakal ada sesi nyebur di pantai. Tapi gak papa, bisa pergi dan pulang dalam keadaan selamat, padahal cuaca lagi kurang bersahabat gitu aja udah syukur. Next time aja nyebur-nyeburnya.

    BalasHapus
  4. Itu museum neraka menarik banget namanya jadi kepo. Belum pernah ke Makassar padahal pengen banget, bokap dari kawasan sana. One day semoga bisa 'mudik' dan ini dijadiin patokan, insya Allah

    BalasHapus
  5. Hehehe... ada untungnya juga kan di kira rombongan dari dinas, bisa dapat parkir VIP dan sambutan ramah.

    Seingat saya, dulu juga dipelajaran sejarah nggak pernah tahu tentang selayar mbak. Dengar ada daerah bernama selayar karena ada yang menang di kontes pencarian bakat di TV yang berasal dari selayar.

    Pantainya tuh cantik, tapi banyak jerawatnya ya, alias banyak banget sampahnya

    BalasHapus
  6. Penasaran deh sama Kampung Tua Bitombang, pengen lihat rumah panggungnya. Bagian belakang rumah didirikan di atas lereng curam tuh aman ngga sih mba? Bayanginnya ko ngeri heheh.

    BalasHapus
  7. Wah, menyusuri Selayar dengan mendatangi tempat-tempat bersejarah. Aku salut, kak.. dengan kunjungannya ke museum. Biasanya kalau ke suatu tempat, ingetnya wisata alam atau entertain lain. Tapi ka Lis dan keluarga memilih ke museum Nekara, Kampung Tua Bitombang dan jangkar raksasa.

    Dan beruntung banget karena dikira Bu Kadis, hahaha..
    Untungnya petugas museumnya gak terlanjur berfoto yaa, kak Lis.

    BalasHapus
  8. Jangkarnya super duper WOooowww

    Aselik mupeng bgt utk cuss ke siniii

    Bagus pol ya mbaaa, dan mau bgt explore maksimal 🙏

    BalasHapus
  9. Lumayan lah mba, sudah ada beberapa destinasi yang didatangi meskipun tidak bisa main air. Senang loh baca cerita perjalanan Mba Lis beserta keluarga.

    BalasHapus
  10. Janggarnya gede juga ya, aku juga salfok nih tiduran demi membandingkan ukuran hehe... seru banget ngajak anak ke Museum-nya ya Mbk. Nambah ilmu juga refreshing.

    BalasHapus
  11. aku nih termasuk tipe yang kalo berkunjung ke pantai atau ke pulau-pulau gitu males banget berenang, basah-basahan atau sekedar main air

    BalasHapus
  12. Bagian sampah bikin ngeness dan sedih, kemarin juga aq ngalami mak pulau dan tmp akirnya di tutup krn pada buang sampah sembarangan.

    Semoga masyarakat sadar ya bukan hanya untuk konten aja tapi ikut menjaga dan melindungi.

    BalasHapus
  13. Sungguh perjalanan yang berkesan klasik banget ya, mbak. Melihat museum yang bagian depannya bagus banget, rumah yang bisa berdiri kokoh dengan kayu2 sebanyak itu. Mengenang masa lalu sekali ini, seperti merasakan kehidupan jaman dahulu tuh bagaimana.

    BalasHapus
  14. Nama museumnya ngeri amat 😀. Duh sedih lihat sampahnya, kepedulian sampah sebagian masyarakat masih rendah

    BalasHapus
  15. Next mau juga main ke Selayar nih kurang seru memang mba klo main kesana tuh gk nyebur mainan air... Next jadwslkan lagi mba biar lbih seruuu

    BalasHapus
  16. Museumnya menarik buat dikunjungi ya mba. Sayang di pantainya itu sampahkan ya 😔.

    BalasHapus
  17. Aku juga termasuk yang suka risih kalo lihat tempat wisata banyak sampah plastik yg berserakan. Sudah saatnya setiap wisatawan punya kesadaran untuk bertanggungjawab dengan sampahnya masing-masing.
    Sedih banget lihat wisata alam yang sejatinya cantik namun terkotori oleh tumpukan sampah.

    BalasHapus
  18. Pemandangannya bagus ya. Sayang ada pemandangan lain yang mengiris. Tumpukan sampah di pinggir pantai. Itu ulah kita juga. Hiks

    BalasHapus
  19. Ya Allah pengen banget ke Selayar ternyata banyak hal menarik ya di sana mulai kampung kuno sampai Museum sejarahnya tahu kota ini karena waktu SD ayah selalu tugas di sana dari Makassar

    BalasHapus
  20. Melihat foto jangkar, woow ga disangka ternyata jangkar sebesar itu ya? Baru kulihat di foto ini loh Mba. Paling minim pengetahuan tentang transportasi laut aku tuh.

    BalasHapus
  21. Aku udah baca yang part 1 dan ini yang part 2 jadinya lengkap sudah ya berasa jalan-jalan virtual ke selayar jadinya, secara aku kayaknya belum tentu bisa beneran kesana, thanks sharingnya mba

    BalasHapus

Terima kasih atas kunjungannya. Mohon tidak meninggalkan link hidup dalam komentar ya :)