Didatangi Petugas PLN untuk Ganti kWh Meter (Bukan Penipuan)

28 Juli 2022


Pagi masih gelap saat jam weker berbunyi. Mata masih berat, tapi saya harus segera bangkit dari kasur. Anak-anak berangkat sekolah pagi,  ibu mesti bangun lebih dini. Weker saya matikan, tapi masih terdengar suara serupa alarm. Ah, pasti kWH meter di teras menjerit minta diisi. Terakhir diisi sebulan lalu, jelas saja setrumnya sudah menipis.

Hari itu, saya tidak ikut mengantar anak-anak ke sekolah. Selepas si ayah BJ dan anak-anak pergi, saya cek kWh meter. Masih tersisa 4kWh. Angka yang cukup buat seharian asal jangan menyalakan aneka perlengkapan elektronik yang butuh banyak daya.

Tapi ya jangan sampai kehabisan banget dong. Saya pun membuka marketplace ijo untuk beli token. Laah… kok nomor pelanggan tidak terdaftar? Saya coba nominal pembelian yang berbeda, nomor pelanggan tetap invalid. Ganti marketplace oren, kondisinya tetap sama. Ganti pakai fitur go-bills di aplikasi “guyon”*, lha kok idem.

(Dalam bahasa Jawa, kata guyon sinonim dengan gojek yang berarti bercandašŸ˜€)

Waini…. Pasti ada samthing error.. Saya kontak BJ. Dia pun mengirim beberapa tautan tentang gagal top-up token listrik. Beberapa di antaranya adalah :

* Ada tunggakan tagihan. Ini sih nggak mungkin karena listrik pra-bayar.
* Ada penyesuaian tagihan listrik. Kayaknya sih nggak ada berita penyesuaian tarif listrik di beberapa waktu belakangan.
* Kesalahan di sistem PLN. 

Kalau saya sih langsung ingat kejadian beberapa hari lalu. Waktu petugas PLN datang ke rumah untuk mengganti kWh. Saat itu, si bapak petugas bilang kalau kWh meter tidak diganti maka akan terjadi kendala dalam pengisian token. Tapi sikap over-waspada membuat bapak pemilik rumah tempat tinggal kami menolak penggantian kWh meter –kami tinggal di rumah kontrakan. Cerita selengkapnya ada dalam tautan di bawah ini :


Kalau dibaca sekarang, memang terasa banget kalau tulisan tersebut sangat kental prasangka buruk. Meski memang, kewaspadaan yang berkelindan dengan prasangka itu muncul karena suatu alasan. Maka itu, saya mesti menulis ini sebagai pengakuan atas prasangka buruk, permintaan maaf, sekaligus saran supaya kejadian serupa tidak terulang. Mungkin ini cara "mengaku dengan gaya" hehehe.

Saya bersegera ke rumah bapak-ibu pemilik rumah. Ibu bilang akan telepon tetangga yang kebetulan pensiunan pegawai PLN. Sepulang ke rumah, saya telp call centre PLN di nomor 123. Sebenernya malas telepon call centre, tapi tak ada salahnya sambil menunggu info dari bapak-ibu. 

(Apa yang bikin males telepon call centre? Kalau saya, karena lamanya waktu menunggu tersambung dengan operator. Mending kalau bebas pulsa, kalau enggak? Pulsa habis buat dengerin musik ninu-ninu).

Tapi pengalaman kemarin telepon 123 cukup menyenangkan. Saya cepat tersambung dengan operator untuk mengutarakan persoalan. Setelah itu, tak berapa lama, saya dikontak petugas yang mengaku dari PLN wilayah Makassar (atau Gowa? – saya kurang tahu pembagian wilayah kerja PLN). Intinya, tunggu saja nanti petugas akan datang ke rumah. 

Wah..lumayan gercep nih. Saya pikir, petugas juga akan segera tiba di rumah dong.

Tapi sampai siang, belum juga ada petugas. Hingga saya tinggal jemput sekolah, petugas tetap belum datang. Bahkan, menjelang sore, kondisi masih sama. Saya yang semula tenang-tenang saja dengan sisa kWh mulai mikir. Duh, gimana kalau petugas enggak datang juga. Bisa-bisa kami gelap-gelapan nanti malam. Mana di kulkas ada bahan makanan berbahan daging. 

Saya kembali kontak petugas yang tadi pagi telepon. Oleh beliau malah disuruh telepon 123 lagi. Ealaaaa…. Tapi yasud-lah, daripada nanti gelap-gelapan.

Sekitar satu jam setelah kembali melapor, datang dua petugas mengendarai sepeda motor. OmaiGod… salah satunya adalah petugas yang beberapa hari lalu datang dan berdebat sama bapak dan BJ. Duuh, bakalan awkward momet nih. Meski waktu itu saya tidak ikut nimbrung berdebat, saya sempat berada di luar rumah.

Oke, rendahkan hati. Sembari salah satu petugas mengganti kWh meter, saya sampaikan maaf, juga alasan kecurigaan dan penolakan waktu itu. Bersyukur sih, si bapak petugas menjalankan tugasnya dengan baik. Si bapak juga menyampaikan komplain dengan penolakan tempo hari tanpa nada nge-gas.

Oh iya, terima kasih untuk PLN yang mengganti kWh meter dengan cepat. Bahkan, sebenarnya malah sudah diganti sebelum dikeluhkan. Kalau baca di internet, banyak keluhan tentang lamanya penggantian kWh meter.

Case-closed.

Saya jadi perlu deh belajar dari kejadian di atas. 

Pertama, waspada tetaplah penting. Bagaimanapun, modus penipuan itu macem-macem dan sangat umum mendompleng/mencatut nama institusi resmi. 

Kedua, cek and ricek pada sumber yang tepat. Waktu itu, saat bapak empunya rumah dan BJ berdebat dengan petugas, saya memang browsing internet dengan tujuan ricek. Tapi karena pikiran sudah terpola ke arah curiga, jadi hasil pencariannya seperti ini :


Pasti akan beda situasinya kalau saya langsung telepon 123. Bisa jadi, hari itu kWh meter langsung diganti dan selanjutnya kami tak perlu kaget karena kWh meter tak bisa diisi. Plus tak perlu awkward moment karena si petugas itu yang datang kembali.

Ketiga, rendah hati untuk minta maaf dan mengakui kalau sempat berburuk sangka.

Tapi, untuk menghindari kejadian serupa, rasanya perlu peningkatan komunikasi antara PLN dengan pelanggan. Bagaimanapun, berbagai modus penipuan memang membuat sebagian orang memilih untuk sangat-waspada. Beberapa poin yang menjadi dasar kecurigaan waktu itu adalah :

Petugas tidak bisa bisa (atau tidak mau?) menunjukkan daftar rumah di kompleks yang kWh meternya perlu diganti. Kan jadi terpikir kalau orang itu random menyasar target penipuan. Mana waktu itu pakai sepeda motor biasa (bukan kendaraan operasional berlogo PLN). Kalau soal surat tugas dan ID-card, hari gini, bisa saja dibikin toh?

Petugas tidak langsung memberitahukan bahwa penggantian kWh meter 100 persen gratis. Padahal, poin ini yang biasanya menjadi pokok kekhawatiran. Tahu-tahu ditagih sekian ratus ribu atau sekian juta. Kan jengkel…

Tidak ada informasi pra-penggantian kWh meter. Mungkin memang beda kasus dengan info tagihan atau pencopotan instalasi. Tapi, seingat saya, pada instalasi listrik paska bayar, ada pemberitahuan jika menunggak tagihan yang mengakibatkan pencopotan kWh meter. Awal masih tinggal di tempat sekarang, saya pernah menerima surat pemberitahuan gara-gara lupa bayar air (PDAM). 

Andai waktu itu si petugas info dulu ke ketua RT/RW tentang penggantian kWh meter. Hidup di masa sekarang, rata-rata kompleks/RT-RW punya grup Whatsapp. Setidaknya, warga yang kWh meter-nya harus diganti sudah mendapatkan informasi (walau dikata penggantian KwH-meter adalah informasi umum di dunia kelistrikan, faktanya masih banyak yang belum tahu). __Ya sih ini ribet, tapi daripada kena drama penolakan di rumah-rumah, kan lebih ribet__

Atau andai waktu itu bapak petugas menyarankan untuk cek and re-chek ke 123 (call centre resmi PLN). Manipulasi telepon memang bukan hal yang tidak mungkin. Namun, kontak ke nomor call centre resmi memperkecil kemungkinan itu.

Intinya, yang terjadi pada waktu itu adalah kesalahpahaman dari ketidaktahuan plus komunikasi yang kurang jelas. Pengandaian di atas bukan untuk mencari pembenaran, tapi lebih untuk pembelajaran. Dan nggak harus menunggu hari raya untuk saling memaafkan bukan? (DW)


Gambar ilustrasi dari web.pln.co.id
 













 

15 komentar

  1. ya, mestinya dibetahu duluan, baru petugas datang....

    # Kalau di neighborhood kami, petugas apapun nggak berani, kalau tuan rumah nggak ada di rumah....

    BalasHapus
  2. Di rumah saya sudah setahun lebih ganti kWh resmi dari PLN ini. Sebelumnya ada pemberitahuan sih. Gratis memang. Hanya say akasih rokok dan kopi aja
    Kasihan hehehe

    BalasHapus
  3. Kalau mpo ada masalah suka nge dm di twitter pln. Cepat juga responnya

    BalasHapus
  4. Iya mending kalau cuma ditolak. Kalau sampai dimaki-maki kan kasihan juga petugasnya. Jadi memang gak salah juga kalau bersikap waspada. Harusnya memang petugas koordinasi dulu dengan RT atau RW di lokasi yang akan didatangi

    BalasHapus
  5. akupun juga bakal curiga, mbak, apalagi ini kan listrik yaah termasuk kebutuhan pokok.
    syukurlah masalah udah selesai tanpa huru-hara dan mbak sudah berbesar hati meminta maaf. Realy great!

    BalasHapus
  6. Kuduu ati ati ya mak jaman sekarang, waspada banyak mencari info dari mbah google. Listrik itu riskan soale kalau bukan ahlinya takut konslet.

    BalasHapus
  7. Wah iya, jadi inget nih KWH di rumah udah jelek. Dulu ada penggantian massal di tempatku. Tapi akunya lagi gak ada. Nah giliran sekarang ditunggu-tunggu, petugas PLN-nya gak dateng-dateng. Udah ngajuin juga sih, tapi belom ada aja. Dulu pun di tempatku pada protes waktu ada penggantian. Soalnya bayar lagi. Tapi karena harus, ya pada ganti. Lha ku skrg pengen ganti, gak ada aja. :(

    BalasHapus
  8. Menarik banget mbak ceritanya

    BalasHapus
  9. Pikiran udah kemana2 ya, mbaak. Xixixii. Jadi lebih tahu deh sekarang. Buat pelajaran kita semua, ya.

    BalasHapus
  10. Namanya juga waspada,akupun juga bakal lakuin hal yang sama mba kok mba hehehe. Semoga PLN lebih baik kedepannya.

    BalasHapus
  11. Pernah temen cerita begini juga, tapi aku saranin telpon 123, dan aku bantu dengan DM Twitter. Alhamdulillah semua aman. Sekarang memang harus waspada ya mba. Harus banyak tanya juga.

    BalasHapus
  12. Ya siapapun pasti curiga Kak kalau petugasnya tidak memberitahu sebelumnya bahwa listrik rumah harus diganti. Soalnya banyak banget yang tipu-tipu kan sekarang. Alhamdulillah kalau casenya sudah closed. Perbaikan komunikasi juga penting banget nih buat PLN walaupun udah ada aplikasi PLN Mobile.

    BalasHapus
  13. Yaampun mba jadi petugas yang tempo hari mau ganti Kwh itu beneran dari PLN? Kasian juga bapaknya ditolak mentah-mentah waktu itu. Wkwk
    FYI, Kalau untuk petugas yang ganti Kwh biasanya dari vendor dan beberapa diantaranya ngga pakai seragam PLN.

    BalasHapus
  14. Macam-macam ya modus penipuan sekarang. Kita memang harus selalu waspada dengan berbagai aktivitas mencurigakan di sekitar kita

    BalasHapus
  15. Hehe iya sekarang rawan penipuan jadi wajar kita waspada mana ngga pakai seragam PLN pula kan makin curiga ya untungnya bapaknya ngga baper dan mau memasang tanpa ngomel hehe

    BalasHapus

Terima kasih atas kunjungannya. Mohon tidak meninggalkan link hidup dalam komentar ya :)