Biji, Benih, Bibit dan Cerita yang Berputar Lebih Dulu

 

Ilustrasi. Penyebutan benih mangga sebenarnya kurang lazim. Benih lebih banyak digunakan
untuk tanaman berukuran kecil (misal padi, jagung, dan sayuran) 


Mumpung sebelumnya menulis tentang tanaman, jadi sekalian nyambung posting dengan topik yang sama. Tulisan ini akan benar-benar membahas tentang perbedaan biji, benih, dan bibit. 

Aku ingin menulis ini karena ternyata, tiga hal ini sering salah penggunaan dalam perbincangan sehari-hari. Namun, sebelum ke inti pembahasan, tulisanku akan muter-muter lebih dulu. Jadi, buat yang mau to the point, skip puterannya, langsung ke sub judul di bawah (yang pakai huruf kapital).

Putaran cerita aku awali dari suatu hari, ketika seorang suami yang bekerja di perusahaan benih melempar pertanyaan ke istrinya. Katanya, kamu tahu tidak beda benih sama bibit? Bibir si istri langsung monyong. Pertanyaan  menghina nih. Masa, lulusan sekolah pertanian ditanya beda benih sama bibit.

Microgreen, Bertanam Sayuran Tanpa Lahan

BUKAN kebun microgreen saya ๐Ÿ˜€๐Ÿ™ˆ(foto : scarlux.com)


Ketersediaan lahan sering menjadi hambatan untuk melakukan hobi bertanam sayuran. Apalagi bagi orang-orang yang tinggal di perkotaan. Menghuni rumah minimalis yang mengacu pada ukuran lahan dan bangunan adalah keniscayaan. Bagaimana mau bertanam sayuran kalau halaman luas dan terbuka hanya ada di angan-angan?

Rasanya familiar mendengar alasan ketersediaan halaman sebagai alasan tidak menanam. Saya pun dulu demikian. Selain lahan, saya beralasan sinar matahari yang kurang bersahabat. Saat di Medan, saya tinggal di rumah yang menghadap ke barat. Alhasil, teras tidak pernah mendapatkan sinar matahari pagi, tetapi sinar matahari siang-sore yang panas. Entah karena faktor itu atau sebab lainnya, sayuran yang saya tanam cenderung kutilang (kurus – tinggi- langsing).

Ingatan Tentang Cokelat dan Kue Berbahan Cokelat

 

buah kakao. photo by agrotek.id

COKELAT.... Membaca kata ini, apa yang langsung terbayang di benak teman-teman? Cokelat batangan di kasir swalayan yang sering menggoda untuk ditambahkan ke keranjang belanjaan? Atau secangkir minuman cokelat panas yang harum dan beruap? Atau band lawas yang pernah hits dengan lagu Bendera?

Hihihi, mungkin teman-teman punya gambaran cepat tersendiri begitu mendengar kata cokelat yaaa...

Kalau saya, selain hal-hal di atas, cokelat selalu mengingatkan saya pada rumah yang kami tinggali di Kota Pematangsiantar. Kami tinggal di Jalan Halilintar yang tidak jauh dari jalan raya. Rumah tinggal kami berseberangan dengan sebuah sekolah swasta. Jadi, di hari dan jam sekolah situasinya lumayan ramai. Kontras dengan hari libur, suasananya lengang sekali.

Tujuh Plus Satu Kebaikan dari Rumah

 

alat berkebun
Paket dari @demfarm.id


Pandemi Covid-19 memunculkan berbagai tren sehubungan dengan perubahan ritme kehidupan. Salah satunya adalah tren plant-demi, yakni bertanam di rumah akibat pandemi. Hihi, bisa aja ya si pencipta istilah itu... Kreatif.

Pandemi memang belum usai. Lalu, bagaimana kabar plantdemi? Apakah masih pada rajin bertanam?

Setahun terakhir, saya juga lumayan rajin bertanam. Penggeraknya bukan karena pandemi, melainkan keberadaan halaman di tempat tinggal baru kami๐Ÿ˜€. Saat tinggal di Medan, dua rumah yang kami tempati bisa dibilang tidak punya halaman terbuka. Kondisinya tidak memungkinkan untuk banyak bertanam.