Membuat MOL dari Limbah Dapur (Praktikum “The Series”)

 

MOL belum jadi (belum semua bahan mengendap)

Hallo teman DW, dalam tulisan ini saya akan melanjutkan cerita tentang PRAKTIKUM. Kali ini praktikum tentang “membuat MOL dari sampah dapur.” MOL ya, bukan MALL. Meski pengucapannya sama, artinya beda jauuuuh. MOL yang mau saya ceritakan ini adalah singkatan dari MikroOrganisme Liar.

Eh praktikum?? Macem anak sekolah saja. Memang biar berasa anak sekolahan hahaha. Saya cerita alasan menggunakan kata praktikum dalam tautan ini ya : Logo Blog DW

Disclaimer :

Ini adalah percobaan awal saya dalam membuat MOL (maka itu disebut praktikum). Informasi tentang tentang pembuatan MOL saya dapatkan dari internet (terima kasih google dan youtube). Di akhir tulisan, ada  beberapa tautan yang saya baca/lihat tentang pembuatan MOL. Jika teman-teman menemukan informasi yang kurang tepat dalam tulisan ini, bisa tuliskan dalam komentar yaa...

MOL sudah dikenal sejak lama dalam aktifitas bertanam/bertani. Secara mudah, MOL bisa diartikan sebagai cairan yang mengandung berbagai mikroorganisme lokal hasil produksi sendiri. MOL dibuat menggunakan bahan-bahan alami di sekeliling kita.

Secara umum, ada tiga fungsi larutan MOL, yaitu : (1) tambahan nutrisi bagi tanaman/pupuk organik, (2) dekomposer (mempercepat proses pengomposan/penghancuran bahan-bahan organik), dan (3) sebagai pestisida alami.  Semua fungsi bisa dilakukan dengan larutan mol yang sama, hanya berbeda kadar kepekatannya.

Mikroorganisme dalam larutan MOL antara lain Bacillus sp, Saccharomyces sp, Azospirillum sp, dan Azotobacter sp. MOL juga bisa mengandung Pseudomonas sp, Aspergillus sp, dan Lactobacillus sp. Sebagai nutrisi tanaman, MOL mengandung hormon auksin, sitokinin, dan giberelin yang bagus bagi pertumbuhan tanaman. Kandungan mikroorganisme dalam sebuah larutan MOL bisa berbeda-beda, tergantung bahan-bahan pembuat MOL dan faktor lainnya. 

Beeuuuuuh, mesti pelan-pelan nggak sih baca nama-nama mikroorganisme dan istilah-istilah ilmiah begini. Belum lagi kalau harus mengingat-ingat ejaannya...Oh my....Bersyukurnya, ini praktikum ala-ala yang nggak perlu ulangan/ujian.

Alat dan Bahan

Dalam pembuatan MOL, wajib tersedia tiga bahan utama, yakni : karbohidrat, gula, dan mikroorganisme.

Sumber karbohidrat bisa saja menggunakan bahan-bahan yang masih bagus. Namun, sayang  kan...mending dimakan. Sebagai gantinya, kita bisa menggunakan sampah-sampah dapur, seperti kulit pisang, potongan sayur, sisa buah, dan lain-lain. Sesuaikan saja dengan sampah yang kita punya. Penting : bahan karbohidrat dipotong kecil-kecil untuk mempercepat penguraian.

Sumber gula yang bisa digunakan antara lain  gula pasir, gula merah, dan tetes tebu. Fungsi gula adalah sebagai makanan dalam perkembangan mikroorganisme.

Sedangkan sumber mikroorganisme antara lain bisa menggunakan nasi basi, tempe busuk, kepala udang, dan lain-lain. Dalam praktik, saya juga menambahkan EM-4 pertanian, yakni larutan mikroorganisme yang lazim dijual di toko pertanian. Sejauh saya membaca referensi, nggak ada sih penampbahan EM-4. Toh, sudah ada nasi basi. Namun, sudah telanjur beli EM-4, jadi saya pakai. Asal ada sumber mikroorganisme lain, nggak masalah kok tanpa EM-4.

Air untuk proses pembuatan MOL juga bisa berasal dari berbagai sumber. Cairan yang lazim digunakan adalah air sumur, air leri (cucian beras), atau air kelapa. Biasanya, air PAM tidak disarankan karena penggunaan bahan kimia dalam proses pengolahan. Namun, jika tak ada sumber lain, coba dulu saja. Saya menggunakan air leri yang berasal dari air PAM dan berhasil kok.

Wadah untuk pembuatan MOL bisa menggunakan barang-barang bekas. Saya menggunakan botol bekas air mineral 600 ml dan 1,5 liter. Untuk botol ukuran 600 ml saya menggunakan 2 sendok makan gula pasir. Proses dekomposisi dalam pembuatan MOL bersifat anaerob (tidak butuh oksigen). Sebab itu gunakan wadah dengan tutup utuh dan rapat.

***

Oke, lanjut ke pengalaman praktikum :



nasi yang telah ditumbuhi jamur


Praktikum pertama  (MOL nasi basi saja)

Sediakan nasi dengan volume kurang lebih ½ botol. Simpan nasi basi dalam suhu ruang selama 3-4 hari. Tutup wadah nasi dengan kain tipis. Waktu penyimpanan bervariasi tergantung kondisi lingkungan. Tunggu hingga tumbuh jamur berwarna putih atau oranye.

Selanjutnya, masukkan nasi berjamur dalam botol. Lalu tambahkan larutan gula hingga ketinggian 2-3 cm di bawah leher botol (jangan terlalu penuh). Ruang kosong ini penting karena selama proses dekomposisi, bahan karbohidrat akan ditekan naik oleh gas yang dihasilkan oleh mikroorganisme.

Tutup rapat botol dan simpan hingga proses selesai, yakni semua bahan padat sudah hancur dan mengendap. Waktu selesai proses bervariasi, tergantung volume dan bahan-bahan yang digunakan. Dalam praktik saya, ada satu botol yang mengendap sempurna dalam waktu 18 hari (namun masih ada sedikit produksi gelembung gas).

dengan sampah dapur dan EM-4


Praktikum 2 (MOL dengan aneka bahan + EM4)

Selain nasi basi, saya juga menambahkan bahan-bahan lain, yakni potongan sampah dapur (nabati). Saya juga mencoba menggunakan tambahan bahan hewani,  yakni cangkang dan kepala udang (diblender).

Tahapnya sama dengan praktikum pertama. Saya menggunakan botol ukuran 1,5 liter, jadi saya menambahkan takaran gula dan air. Sedikit berbeda dengan percobaan pertama, dalam praktikum kedua, saya menambahkan EM-4. Namun, seperti saya tulis di atas, EM-4 ini opsional. Selanjutnya, simpan hingga proses selesai.

***

Tanda MOL sudah jadi :

  • Bau wangi khas (seperti tape)
  • Bahan-bahan sudah mengendap
  • Produksi gas sudah jauh berkurang

 

Proses yang terlihat saat penyimpanan :

Ada gelembung-gelembung gas yang mendorong bahan-bahan padat ke bagian atas botol. Gelembung gas ini diproduksi oleh mikroorganisme yang bekerja mendekomposisi bahan padat. Gelembung gas ini terlihat banyak di minggu pertama proses dan berpotensi membuat botol meledak.

Cara mudah untuk menghindari botol meledak :

Keluakan gas secara berkala (misal sehari sekali). Caranya pelan-pelan longgarkan sampai gas keluar (bunyi ngeses) lalu tutup rapat kembali. Bila tidak ada waktu untuk rutin mengurangi gas, bisa menggunakan plastik (yang tidak bocor) dan ikat erat pada mulut botol. Gas akan membuat plastik mengembang seperti balon. Bila sudah mengembang penuh, keluarkan gas dan tutup kembali.

Aplikasi MOL :

  • Sebagai dekomposer (bahan pembantu pembuatan kompos) : encerkan menggunakan air dengan rasio 1 : 5, campur dengan gula dan ciprat-cipratkan pada bahan kompos.
  • Sebagai pupuk organik : encerkan menggunakan air dengan rasio 1 : 10 dan siramkan pada media tanam seminggu sekali.
  • Sebagai pestisida organik : encerkan menggukan air dengan rasio 1 : 15 dan semprotkan pada bagian tanaman yang terdapat hama pengganggu. Aplikasi dilakukan pada pagi atau sore hari. Hindarkan penyemprotan pada siang hari untuk menghindari kerusakan tanaman.

Perbandingan tersebut hanya panduan. Sesuaikan dengan kondisi tanaman. Bila mengakibatkan kerusakan, encerkan dengan lebih banyak air. Atau, gunakan dengan perbandingan yang lebih besar dan bila tanaman aman, bisa dicoba dengan dosis lebih pekat. 

Masa kadaluwarsa MOL :

Dalam kondisi normal dan penyimpanan yang baik, MOL bisa bertahan hingga satu tahun. Namun, MOL bisa juga mengalami kerusakan (kontaminasi). Tanda kerusakan MOL yang paling mudah adalah muncul bau tidak sedap (tidak lagi berbau tape).

Sampai di sini sharing belajar dan praktikum saya tentang MOL. Saya masih harus belajar lebih banyak. Bagi teman-teman yang mulai hobi bertanam dan tertarik membuat MOL, bisa langsung mencoba. (DW)

 -----------------------------------------------------------------------

Rerefensi :

https://indonesiabertanam.com/2013/02/26/pekatihan-membuat-mol/

 https://sains.kompas.com/read/2011/05/06/15381139/Mikroorganisme.Lokal.Mandirikan.Petani?page=all

http://bali.litbang.pertanian.go.id/ind/index.php/info-teknologi/933-tehnik-membuat-mikroorganisme-lokal-mol-dan-pemanfaatannya

https://www.youtube.com/watch?v=nERBVkqgGs4

----------------------------------------------------------------------

Prev : Logo Blog DW

Next : Cara Mengurangi Sampah Rumah Tangga

 

19 comments:

  1. MOL ooooh Mikro Organisme Liar toh? Hehehehe...kreatif sekali yach mbak Lisdha ini. Ternyata bermanfaat banget ya buat pupuk organik dll. Buat yang demen bercocok tanam sepertinya mesti mencoba membuatnya sendiri. Pokoknya mesti berbau tape ya ... berhasil deh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. sampah tp baunya enak nih mbak heheheh

      Delete
  2. Aku kok penasaran sama MOL untuk pestisida ya, itu cara menggunakan nya gimana?

    Apa bisa untuk mengenyahkan para nyamuk juga serangga lainnya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya belum pernah nemu referensi utk serangga non tanaman sih mbak. nggak tau deh kalau bisa

      Delete
  3. menarik ini mbak, ini juga bisa jadi solusi mengolah sampah dapur ya mbak? selain itu bisa buat pupuk ya, multifungsi

    ReplyDelete
  4. Waw pertama kali aku bingung MOL itu apa ternyata mikrorganisme liar ya. Aduh ternyata cara bikinnya begitu ya. Tapi ternyata banyak ya manfaatnya untuk pertanian. Berarti cocok ya buat yahg lagi suka nanem pas masa pandemi ini

    ReplyDelete
  5. Biasanya saya kalau ada sisa nasi dan gak bisa diolah lagi suka buat makan ikan atau burung. Boleh juga nih kapan-kapan praktikum MOL

    ReplyDelete
  6. Mbak Lisdha rajin banget sampai mau praktikum MOL segala. Saya menyerah kalau urusan bercocok tanam, tidak seperti ayah saya yang rajin hehehe.

    ReplyDelete
  7. Anakku pernah dapat tugas bikin mol ini dari sekolah, cuma aku gak lanjut bikin karena gak telaten sama sampah2 busuknya itu hehehe

    ReplyDelete
  8. Kadang ga tahan sama bau menyengat itu ya bund, bau tape banget.

    ReplyDelete
  9. Aku sering lihat nih teman-temanku yang pencinta tanaman bikin mbak, ternyata begitu ya caranya...pengen coba untuk tanamanku supaya lebih subur..

    ReplyDelete
  10. Waah kreatif sekali sih mbak sampai bikin MOL. Eh aku juga baru tahu kalau MOL itu mikrooragnisme liar . Waah serasa sekolah dan kuliah lagi ya praktikum

    ReplyDelete
  11. MOL, Mikroorganisme Liar. Menarik sekali ini, bisa utk nutrisi tanaman sekaligus sebagai pestisida. Apalagi dengan memanfaatkan sisa nasi, solutif banget.

    Secara kemarin2 kalau ada nasi sisa kami berikan ke ayamnya tetangga, nah ini sekarang tetangga pd gak punya ayam.

    ReplyDelete
  12. Wah keren banget bikin MOL sendiri. Aku mah langsung buang aja sampag organik ke Kebun biar terurai sendiri jadi pupuk hehe

    ReplyDelete
  13. Aku jadi ingat satuan dalam Kimia, eeh...ternyata bukan.
    Meski sama-sama seperti praktikum di lab. Membiakkan bakteri agar bisa digunakan untuk kesuburan tanaman.
    Kreatif banget, kak.

    ReplyDelete
  14. ih kebetulan suami kau lagi suka banget nih bercocok taman, kayanya kau mesti infoin pembuatan mol ini deh. Makasi infonya ya maaaak

    ReplyDelete
  15. Pernah nyoba bikin bareng suami belum berhasil. Ini pengen bikin taneman sayuran dalam pot moga aja bisa nanti bikin mol. Malasih Mbak Lisdha.

    ReplyDelete
  16. Bahan dan cara membuatnya mudah saja ya Mbak, cuma butuh ketelatenan dan beran coba-coba aja. Biasanya kalau bagian praktikum kayak gini sih tugas suami saya. Saya bagian ngupasin buah sama misahin kulit udang aja deh. Itu berarti konsentrasinya tinggi juga ya, sampai harus dicairkan begitu

    ReplyDelete
  17. rajin banget..ini cocok nih..karena apada rame nanem bunga kan..bikin mol sendiri..,
    biasanya dibuang langsung kesampahan..dibakar ntar tanah hitam baru dijadiin pupuk...tapi ini beneran ilmu baru nih..makasih sharingnya..

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungannya. Mohon tidak meninggalkan link hidup dalam komentar ya :)