Drama Menabung Emas

 

pic by pixabay

Sudah lamaaa saya tidak menulis dengan label duwit. Nah, beberapa hari ini teringat lagi gojekan* yang sudah berulang-kali saya lontarkan, yakni tentang (e)mas. Bahwasanya “simpanan” emas saya itu buanyaaak, kalo ditotal sudah lebih dari satu kuintal.

Horang kayaaaah....


Estimasi kasar, Mas BJ hampir 70 kilogram (kg), Mas Ale 30 kg, Mas Elo 25 kg. Nah kan, malah sudah 125 kg... Katakan emas saya obral gila-gilaan, sebut saja Rp 900 ribu per gram (dibandingkan harga emas saat menulis ini). Wiiiiiiu, sudah berapa duit tuh kalau 125.000 gram?

LOL..... sampai koprolll๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜  

Eduuun-lah... mosok suami dan anak-anak dibanderol rupiah. Becandaaa....becandaaa. 

Umumnya perempuan Jawa memang kaya-kaya. Yang masih lajang, ada (e)mas-(e)mas baik kandung, sepupu, atau sekedar teman dekat. Kalau sudah menikah, jelas punya (e)mas misua. Apalagi kalau kemudian ada bocah-bocah lanang seperti saya, (e)masnya nambah banyaak hehehe.

(E)mas-(e)mas saya ^-^

Makanya juga ada gojekan, perempuan non-Jawa menikah sama laki-laki Jawa itu auto sugeeeh**. Kalaupun nggak memanggil suami dengan sebutan “mas”, kemungkinan ada circle saudara (dekat maupun jauh) yang mesti dipanggil mas.

Eh dulu ada loh teman yang sempat serius menanggapi omongan “emas saya buanyaak” ini. Sesaat setelah sadar kalau itu hanya candaan, si Eda (orang Batak) ini bilang “tadi awak pikir serius, sombong kali kau bilang gitu.” Wkwkwkw....

Wiuuuu, Mas BJ, Mas Ale, sama Mas Elo mah tiada tergantikan dengan emas logam berapapun bobotnya. Catet ^-^

Berhias Sambil Menabung?

Tapi kami memang sempat punya simpanan emas. Kali ini bukan gojekan, seriusan emas logam mulia yang ituuu. Pengalaman yang diwarnai beberapa drama. Dampaknya, saya said goodbye pada metode membeli emas secara konvensional.

Zaman dulu, saya sering mendengar iklan toko emas di radio dengan tagline “berhias sambil menabung.” Saat kecil, saya melihat emak menerapkan konsep ini. Saat ada uang extra, beliau membeli perhiasan emas. Selain untuk dipakai, emas itu buat jaga-jaga. Suatu ketika ada kebutuhan mendadak, perhiasan bisa ditukar ke toko emas (ditukar uang, jelas saja hehehe).

Kelak saya mengerti kalau konsep menabung dalam berhias ini agak blur (kurang menguntungkan dari hitungan ekonomi). Sebab, menjual perhiasan emas lebih besar potongannya daripada emas non-perhiasan. 

Tapi memang, orang yang membeli perhiasan bisa jadi tidak sepenuhnya fokus pada kalkukasi material. Sebab ada manfaat non-ekonomis yang bisa diperoleh. Perasaan cantik dan wah karena mengenakan emas mungkin bisa digolongkan sebagai manfaat non-ekonomis๐Ÿ˜‰

Saya sendiri kurang suka mendandani diri dengan perhiasan emas. Sewaktu anak-anak, saya beberapa kali menghilangkan anting yang dibelikan emak. Terakhir, saya kehilangan sebelah anting emas seserahan yang dibelikan ibu mertua. Itu terjadi karena saya sering melepas-pasang anting dan ceroboh dalam menyimpan.

Memang sesekali ada rasa ingin memakai perhisan emas. Hanya saja, rasa ingin itu tak pernah lama bertahan. Selalu saja pasang – lepas. Tapi ini juga berlaku untuk perhiasan non-emas sih. Terutama untuk anting.

Ada masa saya sangat lama tidak memakai anting sehingga lubangnya buntet. Kebuntetan itu baru berakhir setelah saya pergi ke toko emas untuk ditindik (itu pun setelah tanya tetangga tentang tempat tindik kuping, jawabnya puskesmas atau toko emas). 

Pada hari itu saya baru tahu alat tindik yang bentuknya seperti pistol wkwkwkw. Dasar nggak pernah maen ke studio tatto. Di sana sangat mungkin ada alat untuk piercing (iya nggak sih?).

Praktis, koleksi emas saya hanya sebatas perhiasan seserahan (minus anting yang hilang). Ketika kemudian terbetik niat untuk “menabung emas”, saya sudah memutuskan untuk tidak membeli dalam bentuk perhiasan. Saya pun mencari nformasi tentang emas non-perhiasan. Kondisi keuangan tidak memungkinkan untuk beli emas batangan besar. Nah, ada nggak sih beli emas non-perhiasan yang bukan batangan?

Emas London

Hasil pencarian pertama yang saya peroleh adalah emas cetakan dari Antam. Tapi waktu itu saya tinggal di Karo, kabupaten di Sumatera Utara yang salah satunya dikenal karena Gunung Sinabung. 

Di sana tidak ada gerai Antam. Pun waktu itu belum tren (atau saya saja yang nggak tahu) beli emas Antam online seperti sekarang. Ngobrol-ngobrol dengan emak-emak tetangga yang sudah sering beli emas, mereka bilang yang bagus itu emas London.

Btw, emas London bukan berarti impor dari negeri Ratu Elizabeth. Nggak tahu deh gimana asal mulanya disebut emas London. Yang jelas, emas London adalah emas batangan impor dari luar negeri (tapi tidak harus dari Inggris). Untuk karat yang sama, emas London bisa lebih murah daripada emas Antam. Selain itu, harga emas London mengikuti tren. Hanya saja, tidak semua satuan berat Emas London memiliki sertifikat.

Emas pertama saya beli di Pajak/Pasar Karo (kalau tidak salah nama tokonya Milala). Saya bilang mau beli emas London dan dikasih emas berbentuk seperti kancing. Beratnya bervariasi. Paling kecil adalah satu mayam --setara kurang lebih 3,33 gram. Ini satuan ukuran emas yang baru saya tahu ketika tinggal di Sumatra. Warna kancing emas ini lebih gelap dibandingkan kuning emas kebanyakan.

Namanya pembeli amatir, nggak tahu ini beneran emas bagus atau tidak. Saya juga nggak ngerti sih, apa beneran ada toko yang curang soal kandungan emas? Saya hanya berpikir simpel : kan ada suratnya. Kalau mau jual, nanti di toko itu lagi. Jika tokonya memang curang, toh barangnya balik ke mereka lagi. Pokoknya niatkan beli emas tiap terkumpul uang.

Kami hanya setahun tinggal di Karo. Koleksi kancing emas kami hanya sedikit. Pindah Pematangsiantar, saya melanjutkan program menabung emas London. Beli emas-nya di Pajak Horas (lupa juga nama tokonya). Tapi saya masih ingat ciri cici penjualnya. Imut-berambut pendek-berkacamata-dan-punya-beberapa-tato.

Di toko ini, bentuk dan warna emas London-nya beda dengan di Karo. Belinya boleh ukuran mayam atau gram.  Semisal beli 2 gram, nanti dipotongkan dari emas batangan besar punya toko. Makanya, bentuk emas dari toko ini tidak rapi seperti emas cetakan. Lebih seperti kerikil tapi ada cap persentase kadar emas dan nominal gramasinya.

kurang lebih printhilan seperti ini deh bentuknya

Saya masih penasaran, pakai alat seperti apa sih untuk memotong emas? Saya nggak pernah lihat karena proses pemotongan dilakukan di dalam toko.

Drama Penyimpanan

Naaaaah, setelah beberapa kali beli, mulai deh timbul kerepotannya. Di mana hartamu berada, di situ hatimu berada. Kalimat klasik ini memang ada benarnya hahahah.

Drama pertama : bingung tempat penyimpanan. Seberapapun jumlahnya, itulah tabungan utama kami. Waktu itu, belum mencoba alternatif metode tabungan lainnya. Bener-bener kepikiran, gimana kalau kemalingan? Posisi rumah dan situasi lingkungan kontrakan pada saat itu memang kurang meyakinkan.

Baca : Antara unit link, reksadana, dan saham 

Waktu itu BJ fokus ke keamanan dokumen-dokumen penting (seperti ijazah dan akta nikah). Jadi deh kami sok-sokan pakai safety deposit box (SDB) di salah satu bank. Saya lupa berapa biaya sewa SDB. Sepertinya di bawah Rp 500 ribu per tahun untuk SDB ukuran kecil.

Jika dihitung-hitung buat investasi, mungkin jadi nggak worth it. Tapi karena fokus utamanya buat keamanan dokumen, jadi nggak pernah saya hitung. Anggap saja kenaikan harga emas itu buat bayar biaya penyimpanan dokumen. Lagi pula, jadi punya pengalaman pakai SDB hahaha (norak yo ben).

Drama kedua : tidak setiap beli emas terus saya langsung ke bank buat simpan di SDB. Waktu itu masih bocil banget, jadi repot kalau seketika mesti ke bank. Antreannya itu lhooo.... Sebelum sempat ke bank, emas saya simpan sementara dulu di rumah. Nah, pernah nih suatu ketika  saya “kehilangan” dua printhilan emas. Surat dari toko-nya ada, tapi fisiknya tak terlihat.

Jelas shock-lah. Hilang atau lupa tempat menyimpan? Kalau hilang, kapan dan bagaimana? Kalau lupa, duh memang dasar ceroboh. Saking primpen*** dalam menyimpan sampai lupa letaknya. Sampai berhari-hari tetap tak ada petunjuk. Satu sisi berusaha mengikhlaskan kalau memang hilang (berat sih hahaha). Di sisi lain masih berharap emas itu hanya berada di suatu tempat yang saya lupa.

Daaaan...harapan terkabul. Pada suatu hari, ingatan saya mendadak segar. Emas itu ternyata saya simpen di rak kosmetik. Rak yang seperti di bawah ini looo...Sekarang, sudah beralih fungsi jadi rak bumbu dapur. Gimana nggak primpen kalau emasnya itu saya taruh di bagian dalam tiang penyangga.๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€



Drama ketiga terjadi saat kami mau pindah ke Medan. Sejak awal memang sudah niat kalau pindah kota kerikil-kerikil emas itu bakalan saya jual. Tentu saja, jual di toko tempat membeli untuk mempermudah urusan. Kan cici-nya sudah hafal sama saya.

Pada hari H, sebelum ke toko membawa barang, saya sudah memastikan uang penjualan bisa ditransfer via bank. Tapi rupanya, ada kendala di transfer sehingga uang diberikan cash.

Wadidaw...langsung berasa nggak aman. Untuk ukuran kami, uang tunai hasil jual emas saat itu sudah banyak banget. Bagaimanapun, itu tabungan bertahun-tahun. Takutnya ada preman mengamati kami dari luar toko lalu berniah jahat. Sampai-sampai BJ memastikan parkir mobil sedekat mungkin dengan toko. Lalu, setelah itu buru-buru ke ATM yang ada mesin setor-nya.

Fiuuuh........ Gitu lah kalau nggak biasa pegang uang besar. Sudah terpikir yang enggak-enggak aja. Beda kalau old-money ya, mungkin biasa aja bawa uang milyaran dalam plastik kresek :D. (Atau malah nggak pernah bawa cash hehehe)

Setelah beberapa saat tinggal di Medan, uang hasil penjualan emas itu kemudian beralih wujud jadi uang muka pembelian rumah. Iya, uang muka doang hahaha. Masih perlu beberapa tahun lagi untuk rumah itu berstatus lunas.

Mengingat drama-drama di atas, saya jadi nggak pernah lagi beli emas di toko. Selain belajar menabung dengan metode lain, saya juga beralih membeli emas secara online. Tapi bakalan kepanjangan kalau saya tulis di sini. Next, saya akan share cara menabung emas mulai dari Rp 500 perak. Wait ya... (*)    


------------------------------

semua istilah ini adalah bahasa Jawa

* gojekan : candaan (makanya agak surprise ketika gojek jadi nama transportasi online)

* sugeeeh : dari sugih --kaya

* primpen : disimpan (disembunyikan) dengan cermat (KBBI, ternyata sudah masuk Kamus Besar Bahasa Indonesia ^^)

 -------------------------------

 Prev : Pulih, Bangkit dari Masalah Kesehatan Mental

Next : Nabung Emas Mulai Rp 100 

44 comments:

  1. Eh Mbak, temen-temenku tuh ada yg nabung emas di aplikasi yg ada jim tanam menanamnya. Tapi aku pikir kalau nabungnya 5K per hari, kapan ngumpul jadi 1 gr itu, secara sekarang udah 1jutaan aja. hahhaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nabungnya anggap uang ilang atau jajan mbak Rani. Nggak usah dipikir2 atau diitung2..eh tahu2 ada simpanan :)

      Delete
  2. Mbaaaa ada2 aja ya tempat penyimpanan nya, sampe di tiang rak bumbu wkwkwkwkkw ngakak aku :p.

    Aku sudah ngumpulin emas batangan itu sejak 2014 mba :). Waktu itu niat nya mau fokus ngumpulin emergency cash. Krn emergency cash hanya dipakai saat bener2 urgent, cthnya sakit yg sampe ga bisa dicover asuransi, ato sesuatu keperluan yg ga bisa lagi dicover oleh tabungan biasa dan aset lain, emergency cash baru akan terpakai. Dan itu artiny akan sangat jaraaaaaaang dipake :D. Naah aku ga mau dana emergency bakal kegerus inflasi kalo seperti itu. Makanya aku lgs mikir, kalo memang dana ini hanya utk emergency, harus liquid biar gampang digunakan saat perlu, berarti ga mungkin diinvestasikan dalam saham/reksadana.tp kalo dlm tabungan biasa artinya bkl kegerus inflasi. Makanya aku pilih LM :). Dan Krn LM nilainya naik trus, yg ada target emergency cash yg tdnya hrs cukup utk 12x pengeluaran, malah jd exceed bisa mengcover 3 thn pengeluaran secara nilai LM naik tinggi bgt :D.

    Dan sampe skr, aku msh rutin tiap bulan beli LM, tp tujuannya bukan utk emergency cash lagi. Tp LBH ke pengaman asetku biar ga turun nilainya :D.

    Aku juga nabung dlm bntuk emas digital, selain bntuk fisik. Soalnya tiap THN zakatnya hrs dikeluarin Krn udh memenuhi syarat jumlah dan waktu. LBH mudah ngeluarin zakatnya kalo ada bntuk digital, tinggal ditarik di tabungan emas pegadaian trus bayar ke badan zakat Deket rumah :D.

    Sangat menguntungkan kok nabung emas batangan. Kalo perhiasan aku memang ga suka. Risih aja makenya. Ada, tp aku ga tertarik make.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ngakak so hard ga mbak fanny? hihihi
      nah..bener banget tu. kalau dari beberapa tahun lalu sudah save emas, waduuuh sekarang berasa kayaaah hehehe

      Delete
  3. WOW :D Terbaeeekkk! Nabung emas berujung DP rumah. keren sih ini mbaaa, walo banyak drama tapii seruuu n memorable yhaa


    Btw, aku ngikik pedih baca kalimat ini --> perempuan non-Jawa menikah sama laki-laki Jawa itu auto sugeeeh wkwkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihihi..napa ngikiknya pake pedih mbak nurul?

      Delete
  4. Haha, bener banget. Kalo nikah ama orang Jawa, "emas"nya banyak, xixi. Wah mau doong mbak dikasih tips nabung emas mulai dari 500 perak. Aku ni susah banget nabung beneran. Pengen invest emas semampunya dulu

    ReplyDelete
  5. Untung ada terjemahannya di bawah wkwkwk ... dari tadi bingung gojekan itu apa ya ... yang teringat ya aplikasi itu hihi.
    Mbak Lisdha ... lucu tulisannya, dramanya semuanya akhirnya bisa jadi bahan tulisan ya hehehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya beneran surprise lho waktu tau gojek jd nama aplikasi. Ini aplikasi serius apa gojekan? Eh ternyata berkembang warbyasah ya :)

      Delete
  6. Wkwkwkwkkkkk (e)masku juga lumayan ini kalau ditimbang, anak bapak bisa berapa kilo, sugeeehhhh aku!


    Btw, sampai sekarang aku nggak ngerti perhitungan toko mas perhiasan deh, perasaan kalau jual atau tukar tambah nggak ada untungnya. Dan kini emang lagi marak nabung emas ya mbak, ntar kalau punya rejeki pengen juga ah nabung emas ๐Ÿ˜

    ReplyDelete
    Replies
    1. soalnya kalau perhiasan kan kemungkinan dilebur lagi mbak. jadi kebersihan pershiasan, kerumitan desain (dan entah faktor apa lagi) jd dasar mereka menaksir harga emas di luar gramasinya.

      Delete
  7. hahaha sama dong mbak kita punya 3 mas di rumah, kalau dikali harga emas dapet berapa tuh. Berhias sambil menabung cocok juga buat yang suka perhiasan ya, kalau aku paling cincin aja itu juga suka aku copot terus. Aku juga pernah lupa nyimpan tuh sampai panik

    ReplyDelete
    Replies
    1. waaa..tosss dong soal lupa menyimpan. hahaa, ternyata saya ada kawaannya :)

      Delete
  8. Bahagia banget pasti ya dari emas bisa bayar DP rumah. Iya mbak, aku sih baru2 aja menabung emas, beli langsing di tokonya sih. Anak2ku juga belajar memiliki emas sendiri. Kurasa ini investasi terbaik yg bisa d8caikan jika darurat dan untuk jangka panjang oke banget.

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah, anak2 jg disimpenin emas sendiri ya mbak. kereeen :). kayaknya anakku juga perlu nih diajarin save emas. kan bisa dari 500 perak

      Delete
  9. (e)masku lebih berat, Mbak Lisdha..(e)mas suami 75 kg, (e)mas mbarep 60 kg, (e)mas ragil 40 kg..tuh 175 kg, kwkw
    Btw, nabung LM memang bisa jadi pilihan ya, lebih mudah dan aman..
    Baca ii jadi ungat akan mas London di Sumut. Dulu ga sempat beli karena awal nikah jadi masih kacau perduitannya. Nyisihin tunai di deposito aja, waktu itu masih lumayan tinggi bunganya

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah sugehan mbak dian ternyata hahaha
      aku pernah juga punya deposito mbak. waktu itu karna pengin tau aja gmn sih caranya nyimpen di deposito (sok pengen tau aja emang). jadi nyimpannya di batas minimal (110 juta), dan ada suatu kali disuruh tanda tangan di daftar nasabah yang adalah daftar manual di buku besar. Di daftar itu antara lain tertulis nama nasabah dan nominal deposito. Sempat dong ngelirik, jumlahnya pada ratusan juta sampai miliaran. Depposito 10 juta langsung terasa bagai remah-remah wkwkkwkw

      Delete
    2. duuh nominal yg pertama extra angka 1. mau nulis 10 kok jg 110 hihihi

      Delete
  10. Daari sebelum menikah, aku sudah dikasih tau mamahku kalau mau nabung bisa beli logam mulia. Tapi semenjak pandemi ini belum beli lagi karena masih melihat-lihat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. bener mbak cie, sekarang harganya wow deeeh

      Delete
  11. Aku pas gadis juga sukanya beli perhiasan, aku pakai dan uangnya g abis buat jajan kan, tp setelah menikah aku beda pola pikir sih, apalagi sejak punya anak, pake perhiasan malah bahaya, ditarik2 trs.

    Jd aku sm suami prefer simpan LM aja, nilai jualnya jg lebih tinggi hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyup mbak, potongannya ga sebanyak perhiasan.

      Delete
  12. Hihi, emang nabung emas itu salah satu permasalahannya adalah tempat penyimpanannya...Aku nabung emas tapi numpang nyimpannya juga...

    Sampai sekarang berusaha beli logam mulia, tapi belakangan...haduh harganya itu bikin miris mau beli hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. benerrrrr...sejak emas melesat saya juga mikir2 mau beli. Tapi ya kapan turun? Jangan2 ditunggu2 malah naik lagi hihihi

      Delete
  13. Saya pernah coba buka tabungan emas nih, tapi sampai sekarang kelupaan terus setor buat nambah saldo tabungannya. Hahahaha. Gimana mau berkembang wkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihihi..itu persoalan mendasar mbak. Brarti ini diingatkan ya>?

      Delete
  14. Jadi mas london itu emas lm gitu kah maksudnya.mau yg berbentuk kancing atau yg batangan. Gitu ya ? Baru gau

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalau dr referensi, emas london itu emas batangan besar. Makanya sama toko trus jualnya dipotong2. Kalau yg kancing, mungkin dilebur dan dicetak dulu sama tokonya. Dugaan saya ini sih

      Delete
  15. Saya dulu buka tabungan emas pas ada lomba pegadaian itu haha, ternyata saya keliru, saya nabungnya di pegadaian syariah sementara lombanya pegadaian konvensional, yawda lanjutin aja. Kalau beli emas langsung gak pernah krn pd dasarnya gak suka simpan emas2 di ruma, emas perhiasan aja saya jg gak terlalu suka, ini hanya ada krn kenangan nikahan, pengen takjual buat dijadikan biaya renove rumah aja eh tp sama suami msh dilarang,pdhl saya mikirnya buat apa itu disimpan toh gak pernah makai, yaaa kalau gak kapan2 mungkin akan diwariskan ke anak

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah iya mbak. Nilai historisnya sih yang mahal. Memang ada juga sih yang lebih pragmatis, daripada nyimpen ga pernah dipake mending dialihbentuk yang lebih terpake :)

      Delete
  16. Aku pernah beli emas. Kepake buat bayar uang muka beli mobil. Hehe. Pas mobipnya dijual, nggak bisa beli lagi emas :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. haha, punya saya yg dulu juga sudah beralih bentuk mbak alida :)

      Delete
  17. Aku jadi ingat Ibuku niih...kak.
    Suka wanti-wanti kalau punya mas-masan jangan disimpen di tempat yang mudah ditebak orang.
    Misal..di dalam lemari, terus di dalam kotak yang terkunci.
    Uda bisa ketebak banget kaan...

    Nah..yang bagus kaya kak Lisdha begini...di *** aku sensor yaa..
    Hhaha...Jadi gak mudah ketebak orang lain.

    ReplyDelete
    Replies
    1. haha, kok saya malah cerita2 tempat dulu naruh emas ya.. tapi ya gitu mbak, saking amannya sama saya sendiri lupa :D

      Delete
  18. Ya ampun, Mbak. Kok kepikiran nyimpen emasnya di tiang rak gitu hihihi. Saya juga sudah menikmati manfaat nabung emas, Mbak. Tapi sekarang udah abis tabungannya hahaha.

    ReplyDelete
  19. Aku juga suka nabung LM Antam, dulu sering arisan, sekarang sih nabung emas di Pegadaian, senang pakai emas aku jadi belinya perhiasan hihi

    ReplyDelete
  20. Wkwkwk ngakak banget ditaruh di rak. Was was ya mbk kalo punya emas banyak, aku pernah nyimpen emas. Rasanya nggak tenang banget mbk, akhirnya aku jual wkwkwk.

    ReplyDelete
  21. Hihiii enaknya punya emas perhiasan atau batanggan itu dulu gampang "disekolahkan" tanpa perlu merepotkan. Tapi ya gitu kebiasaan suka susah nambahnya. Sekarang sejak era digital lebih seru nabung emas di pegadaian digital tinggal konsisten setor sekian persen dari pendapatan..Tapi ya gitu harus benar2 ketat karena beli dinsum dan bakso kadang lebih menggoda... :-)

    ReplyDelete
  22. Mbak, lha kok gak dibahas sekalian, kekeke. Padahal pas bener saya lagi nyari info menabung emas secara online, maksduku biar gak ribet nyimpennya. Tak tunggu postingan selanjutnya ya. Btw, via pegadaian atau gimana ya Mbak, kalau online itu?

    ReplyDelete
  23. wah..aku....sugeeeh..mas ku 80 kg, dirumah..wkwkwkw
    belum pernah nabung emas dipegadaian..emang seneng yang udah berbentuk perhiasan..kapan pengen dipake..bisa heheheh

    ReplyDelete
  24. Sama kaya tradisi di kampung aku Mba, kalau punya rezeky lebih pasti dialihkan untuk beli perhiasan. Nabung dengab emas itu lumayan juga, harganya gak turun, paling kena potongan doang. Ditunggu mba tips menabunh dari 500 rupiahnya.

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungannya. Mohon tidak meninggalkan link hidup dalam komentar ya :)