Kita Semua adalah Bu Tejo

 

 

Hai hai hai...sudah pada nonton film Tilik belum??

Haha, ini mungkin pertanyaan yang sangat telat yaaa. Lha wong filmnya sudah viral dari kemarin-kemarin.  Makanya di sini saya nggak akan bahas lagi tentang film-nya. Kan sudah pada nonton... Kalau belum, silakan klik video di atas atau langsung ke youtube. 

Ini cuma mau nulis ngalor-ngidul sehubungan dengan film itu. Tersebab, saya bukan movie-freak. Jadi memang nggak akan kredibel membahas film dari berbagai sudut pandang. Saya masih sering terkagum-kagum lho kalau baca ulasan film dari orang yang memang ngerti film. Entah itu dari aktornya, sutradaranya, skenarionya, pengambilan gambarnya, teknologinya, bla-bla-bla... Kalau sudah baca ulasan yang terasa keren gitu kok jadi merasa “ya ampun, receh banget pengetahuan saya tentang film.” 

Ah tapi ya sudahlah, lha wong saya memang bukan orang film. Levelnya baru sekedar buat video belajar anak akibat sistem belajar daring (di tingkat ini pun sudah merasa bangga wkwkwk). Plis...ini bukan humble bragging* ya... Saya ngomong apa adanya . Kalau nggak beneran begitu, kali aja saya sudah bikin channel yutub. Ya sih, nggak bikin channel yutub itu memang bukan semata karena belum bisa bikin video yang bagus. Tapi juga karena belum siap terkenal terekspos ....eaaaaaa.

Balik lagi ke film Tilik.

Banyak orang bilang, film pendek produksi tahun 2018 ini bisa viral karena banyak orang merasa terhubung dengan ceritanya. Pengakuan jujur : saya salah satu dari banyak orang tersebut. 

Apakah kamu juga iya? ^-^

Mungkin karena Tilik diangkat dengan latar budaya Jawa, maka saya merasakan keterhubungan yang sangat erat. Tidak hanya dari tema cerita sebagai ide utama, tapi juga dari bahasa, kostum pemeran, hingga properti kendaraan pengangkutnya.  

Tilik (menjenguk) berombongan ke rumah sakit, itu masih terjadi sampai sekarang. Bahkan, kalau tidak sempat menjenguk ke RS, nanti bela-belain datang ke rumah setelah pulang dari RS. Saya ingat waktu seorang paklik saya harus opname. Di RS, pembezuk datang silih berganti (tiap jam bezuk tentunya). Setelah pulang ke rumah pun, masih banyak yang berdatangan menjenguk. Sampai harus membuat pagelaran (baca : membuka tikar😁) karena banyaknya orang datang.

Dijenguk memang menguatkan dan menghibur. Tapi kalau terlalu banyak penjenguk, sangat mungkin terganggu juga istirahat dan ketenangan si sakit. Tapi tapi tapi...ya mau gimana lagi? Budaya itu masih kuat banget. Dan jika tinggal di desa, menyembunyikan kabar opname di rumah sakit itu cukup sulit. Jadi ya... nikmati saja J

Saya juga mengalami pergi kemana-mana pakai mobil bak terbuka/truk. Duluuu pas masih remaja, kami sering ada kegiatan bersama antar gereja. Karena keterbatasan dana, kami sering pakai mobil pick up. Nah, jadi diejek deh sama teman gereja lain sebagai “rombongan embek” (embek = domba/kambing). Hahaha.... Sadis yaa. 

Etapi, pergi pakai mobil bak belakang memang memorable. Apalagi kalau bukan menjadi pengalaman sehari-hari, bisa jadi sangat pengen mencoba. Seperti waktu masih di Medan dan gereja kami mengadakan acara di luar. Ada satu mobil pick up jemaat yang dipakai dengan fokus untuk mengangkut barang. Tapi ya gitu, anak-anak malah lebih tertarik ikut rombongan naik mobil bak terbuka ini. Termasuk Ale-Elo yang berkeras ikut mobil pick up daripada semobil sama ayah-bundanya. 

Sampai di rumah Elo dengan bangga dan bahagia bercerita bahwa mobil bak itu suaranya seperti Lamborgini (menderu-deru keras gitu looh).  Waduuuh, emaknya langsung terkikik-kikik dan bersyukur. Elo belum pernah naik Lambo, lihat langsung pun cuma sebatas Lambo melintas di jalan, itu pun dengan frekuensi bisa dihitung dengan jari. Soal ini, pengalaman Elo jauh beda-lah lah sama Rafatar** yang bapaknya punya Lambo dan mobil-mobil keren lainnya. Tapi dengan naik pick up saja dia sudah merasa seperti naik Lambo ^-^

(Terima kasih pada keluarga Bapak Elsa dan GSJA River of Life untuk  naik pick up Lambo dari Namorambe - MedanπŸ’—πŸ’—πŸ’—)

Iyaaa, pakai bak terbuka untuk mengangkut penumpang itu memang berbahaya dan melanggar aturan lalu lintas. Di film Tilik juga ada adegan tilang oleh Pak Polisi. Tapi ya.... faktanya, pelanggaran macam ini masih lazim di negeri ini. Kalau moda transportasi memang masih terbatas, atau ada faktor dana terbatas, terpaksalah pakai kendaraan bak terbuka.  

Oh ya, meski berlatar budaya Jawa, saya kira tema cerita Tilik ini melintasi identitas kultur. Dengan sistem guyub yang masih kental, emak-emak seantero Nusantara mungkin merasa related dengan tema ini. (Bukan hanya emak-emak deng, tapi juga orang-orang yang sering merasa jadi korban ghibah emak-emak, seperti Dian di film Tilik).  

Apa memang nyinyir dan menggibah sudah default-nya komunitas emak-emak ya? (Wih ini pertanyaan yang bisa bikin saya ditimpuk sama geng emak-emak produktif dan dinamis nan jauh dari perghibahan).

Tentang persebaran lokasi ghibah, saya nggak punya pengalaman tinggal di negara lain. Tapi jadi terpikir, apakah menggibah berjemaah itu juga terjadi di negara-negara lain yang sistem kekerabatannya masih kuat? Terpikir juga, di negara-negara yang masyarakatnya sudah sangat individualis, apakah juga terjadi ghibah kolektif? Atau ghibah bersama tetap terjadi tapi dengan cara yang berbeda?

Auuuk ah...kadang sebel sendiri dengan pertanyaan random dan receh seperti ini hihihi.

Nah sekarang tentang Bu Tejo..

gambar dapat dari WA



Haduuuh, sejak viral, stiker Bu Tejo ini banyak menghiasi chat di WA saja. Sampai terbayang-bayang deh wajah Bu Tejo. Jangan-jangan saat ini mbak Ida  Fauziah sudah kebanjiran tawaran peran film gara-gara totalitas aktingnya sebagai Bu Tejo.

Kemarin saya WA-nan dengan sepupu di Pekanbaru. Saya bilang, ketika pertama lihat Bu Tejo, saya langsung teringat pada Mbah Ru. Eh ternyata sepupu saya juga mengingat sosok yang sama.

Mbah Ru bukan sosok cerita di film manapun. Mbah Ru adalah tetangga kami di kampung.  Saya sebut dengan "mbah" karena beliau memang sudah sepuh. Kaitan dengan Bu Tejo adalah karena almarhum suami Mbah Ru bernama Mbah Tejo. Otomatis Mbah Ru bisa saja disebut Mbah Tejo. Atau kalau masih muda bisa juga dipanggil Bu Tejo. Duluuu, Pak Tejo adalah kepala dusun. Jadi akan wajar kalau istrinya dipanggil dengan sebutan "bu", bukannya "yu" atau "mbok". Di kampung saya, sebutan "ibu" memang masih terasa mriyayeni.

Saya nggak ngerti bagaimana kabar Mbah Ru saat ini. Makanya, saat chat sama sepupu, saya tanya “Mbah Ru ndak isih sugeng?”*** Sepupu menjawab, sepertinya masih. Ya begitulah kalau pergi jauh dari rumah, tidak selalu tahu kabar siapa yang lahir atau sebaliknya siapa yang meninggal.

Teringat pas masa kecil duluuuuu, di malam tertentu saya dan banyak orang lain akan datang ke rumah Mbah Ru.  Kedatangan kami dengan tujuan yang sama, yakni nonton ketoprak di televisi!!! Nonton bareng zaman dulu : bukan di layar lebar dong, tapi di layar tivi 14 inchi. Tivi dengan gambar hitam putih dan pakai aki.

Saya yang sudah terlalu tua atau kampungnya saya yang terlalu kluthuk? Daerah yang telat terjamah pembangunan gitu? Ketika saya cerita nobar tivi hitam putih ini ke Elo, si bontot yang lagi TK B, dia terheran-heran dan penasaran. Berhubung bukan kolektor barang antik, saya mesti buka google dan youtube untuk kasih contoh wujud tivi hitam putih.  Di sini, saya merasa sebagai manusia dari masa yang telah sangat lama lewat hahahah.

Eh ya, kalau soal sosok Bu Tejo di film Tilik sih, saya hanya mau bilang :

Semua kita adalah Bu Tejo dengan cara yang tak serupa, dalam komunitas yang berbeda, dan pada level yang tak sama.

Haha, sadar kok, ini kesimpulan yang sangat amat sumir. Jadi sangat terbuka untuk disanggah dan ditolak.  Lha wong mengamati secara terbatas kok berani-beraninya bilang semua hehehe. Tapi yo ben...biar lebay gitu ^-^

Saya menulis begitu karena sering baca status/cerita tentang keengganan untuk kumpul sama ibuk-ibuk di sekitar tempat tinggalnya. Gara-garanya ya itu tadi, kumpulan ibuk-ibuk itu identik dengan ghibah dan ngobrol nggak jelas.  Tapi di sisi lain, dia mengghibah kumpulan ibu-ibu itu di media sosial (entah di berandanya atau di halaman orang lain). Seperti tindakan yang berbeda, tapi ada benang merah yang serupa. 

Mereka yang curcol di media sosial ini tidak terbatas pada individu berstatus ibu-ibu lho. Tapi juga para gadis-gadis yang masih kinyis-kinyis, bahkan juga mereka yang berjenis kelamin laki-laki. Itu makanya saya dengan sembarangan menggunakan kata "semua."

Semua : tak perlu melihat ke cermin untuk melihat bahwa saya juga melakukan hal yang sama. Termasuk ketika menuliskan ini.

Ini bukan perayaan pengakuan, tapi sebuah refleksi kecil-kecilan.



Note :

* humble bragging : merendah dengan maksud menyombongkan diri

** Rafatar : anak laki-laki keluarga Raffi Ahmad dan Nagita Slavina (mana tau ada yang nggak tahu hehehe)

*** Mbah Ru ndak isih sugeng ; apakah Mbah Ru masih hidup

48 comments:

  1. Kayaknya tiap manusia punya sisi ghibah alias gossip ya mbaaa.
    Beda intensitas sama tema aja sih kurasa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Namanya juga mahluk sosial ya mbak :)

      Delete
  2. Sobat ghibah saya pak suamii, yang selalu siap sedia menampung segala omel dan kenyinyiran istrinya ini. hehehe..

    ReplyDelete
    Replies
    1. bagus tuh mba diar. ghibah dengan kalangan amat sangat terbatas :)

      Delete
  3. Aih bener mbak..dalam hati sebel juga lihat Bu Tejo yang lidahnya tega bener. Tapi di sisi lain, ah..rasanya kita juga sering gitu deh. Bedanya mungkin gak sebanyak dan setega Bu Tejo. Hahahah. iya gak? iya gak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. mendorong untuk refleksi memang ya mbak :)

      Delete
  4. Hai mbak Lisdha perdana kunjungan balik...^^
    Betul sering juga jadi saksi gimana ghibahnya bapak-bapak itu juga sama ancurnya dengan ibuk-ibuk hahaha.....
    Nggak kenal gender. Memang manusia terutama perempuan sebagai makhluk relasi komunikasi punya kecenderungan memperhatikan perilaku orang lain...

    ReplyDelete
    Replies
    1. apalagi kalo ghibahin tokoh politik ya mbak haha

      Delete
  5. Langsung kesel liat bu tejooo πŸ˜„ walau dia belum ngomong..
    Bagus banget aktingnyaaa itu. Trus aku jd inget bude aku yg meninggal kcelakaan naik mobil pick up rombongan ibu2 serupa

    ReplyDelete
    Replies
    1. turut empati untuk budhe, mbak uciq.

      Delete
  6. iyaaaa, kadang kadang tanpa disadari aku juga suka jadi bu tejo. Walauoun nggak sefrontal bu tejo sih, tapi memang membahas permasalah hidup orang lain kadang menyenangkan karena membuat kita jadi lupa sama masalah hidup sendiri. Hihihi. Yatapi jangan sampe separah bu tejo juga sih yaaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. memang film ini mengajak "bercermin" ya mbak dian :)

      Delete
  7. Bu Tejo lain di sekitar kita mah banyak banget, mungkin kita juga. Film Tilik memang cukup nyetil dan dekat sama masyarakat

    ReplyDelete
    Replies
    1. sampai pada minta sekuelnya tu mbak jiah hahaha

      Delete
  8. Aku ngakak hebat nonton film Tilik mba. Bu Tedjo tuh bikin gething aja. Tapi ternyata omongannya mendekati fakta haha..Tapi tetep caranya salah sih ya. Dan tanpa sadar kadang aku pun bisa seperti bu Tedjo soal ngrasani orang lain

    ReplyDelete
    Replies
    1. terhubung banget yo mbak Juli hihihi

      Delete
  9. hihi dulu saya juga sempet ngalamin naik mobil bak terbuka, kami bilangnya kolbak, duduk di belakang bareng sayuran kadang kambing, jadi kangen naek kolnak ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama mami alfin. saya juga akrab dengan sebutan kolbak

      Delete
  10. OMG dibahas juga di tulisan ini hehe.. aku dah liat dan emang kita semua adalah bu tejo, sadar atau tidak sadar kita semua pernah melakukan itu dan ngga harus naik bak terbuka sih, naik angkot or krl juga bisa hehe.. dan itu adalah realitanya

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalo lihat tayangan ttg jepang, di kereta pada diem2an bae yo mbak hahahaha

      Delete
  11. Aku belum nonton, belum sempat. Tilik ini hits banget, aku sampe sebel sama pemainnya, hihi. Dan akhirnya liat juga sama yang pemeran bu Tejo, kmrn dibahas di TV.
    Tapi kalo dipikir2 lagi emang begitu sih ya realitanya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. sekarang "bu tejo" uda laris manissss di tv

      Delete
  12. Hihi setuju kita semua adalah bu tejo pada level yg berbeda-beda. Bahkan ada yg Julid nya di dalam hati saja

    ReplyDelete
    Replies
    1. bener tu mbak dian. julid dalam hati

      Delete
  13. Suka sama tulisan ini ... dan menyadari ... iya juga sih .. hehe.

    Yang adegan ibu-ibu menyerang polisi sewaktu ditilang ya ampun, sampai ngakak saya tapi miris ya.Sebab ibu-ibu ya begitu itu. Power-nya kadang gak terbantahkan bahkan oleh otoritas sekali pun.

    ReplyDelete
    Replies
    1. This comment has been removed by the author.

      Delete
    2. haha..makasih sukanya mbak niar. Kadang lihat ginian ikut malu sendiri. tapi ya memang fakta :D

      Delete
  14. Wah saya belum nonton nih, jadi makin penasaran sama bu tejo...

    ReplyDelete
  15. Di gosok makin sip...gitulah.., mungkin kita bagian dari Bu Tejo. Tapi dengan melihat tilik..mungkin kita bisa mengingatkan diri..untuk mengerem hasrat menghibaheheheh

    ReplyDelete
    Replies
    1. sisi negatifnya, kalau lagi nggibah orang mungkin malah jadi bangga ya....kayak ada role modelnya gitu :D

      Delete
  16. Haha, ya sadar gak sadar keknya ada masa ngomongin si A si B terlebih kalau mereka ngeselin hihi.
    Wah sennagnya mbak ada ingatan masa kecil gtu yang bisa dijadikan bahan cerita kalau kumpul sepupu ya hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. ingatan tentang tv hitam putih ya mbak april? Hahaha

      Delete
  17. Film tilik hiburan yang bikin ngakak, banyak hikmah yang diambil meskipun banyak yang nyinyir
    tapi keren yang semua terlibat di sini totalitas

    ReplyDelete
    Replies
    1. aktingnya malah natural banget yo mbak:)

      Delete
  18. Wkkwkw~
    Karena Bu Tejo ini memiliki kepekaan yang luar biasa sebagai seorang wanita. Dan kepekaannya diwujudkan dalam bentuk ghibahan.
    Makin mantap jadinya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. teh lendy nonton juga? selingan drakor :)

      Delete
  19. Iya sih kita kadang enggak sadar melakukan seperti yang bu Tejo lakukan. Enggak mau ghibah di kumpulan ibu-ibu wali murid, tapi bikin status ghibah di story WA atau di pesbuk. Hahaha.

    ReplyDelete
  20. Pas awal lihat film ini sempat mikir, ya ampun begitu banget ya. Apalagi pas sesi berdebat berdua aja sambil pegangan tali. Sungguh bikin makjleb :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya belum pernah lihat yang sampai frontal gitu. palingan nggrundel di belakang. tapi faktanya banyak juga cerita ibuk2 "berkelahi" beneran :D

      Delete
  21. Haha bener loh kita semua pernah menjadi bu Tejo, secara disadari ataupun tidak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. film yang membuat banyak orang bercermin :)

      Delete
  22. Bu Tejo ini gambaran emak2 indonesiaa.. hidup emak2!! jayalah selaluu.. pak polisi payah ihh masak kalah lawan emak2.. kalo udah bersatu tuh ya emak2 pasti lupaa ama berantemnya hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. nanti kalau dilawan dengan kekerasan playing victim mbake hehehehe

      Delete
  23. Hahahaha setuju. Bu tedjo itu cerminan orang-orang masa kini kebanyakan. Yang loncer banget klo ngurusin urusan orang lain

    ReplyDelete
  24. Produksi sejak 2018bisa ya mensadak viral sekarang? Saya bleum seleaei nontonnnya.

    ReplyDelete
  25. kalo liat di drakor2 sih juga ada yg modelan kayak bu Tedjo dan kawan2nya gitu. Sama kali ya di negara lain juga pasti ada, hihi..

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungannya. Mohon tidak meninggalkan link hidup dalam komentar ya :)