Pindah Lagi : When Laughter and Tears Collide

pic from bisniswisata.co.id (karena kemarin kami naik Lion Air)

      Judul ini terinspirasi dari lagu “When Love and Hate Collide”, hits lawas punya Deff Leppard. Laughter, ada tawa bahagia yang meruah karena kepergian ini mengakhiri kondisi lima bulan terpisah sebagai keluarga. Di sisi lain, ada air mata kesedihan karena mesti berpisah dengan orang-orang yang telanjur dekat.
Sebelum memublikasikan ini, saya mengecek tanggal artikel terakhir. Sekedar memastikan hal yang sudah pasti bahwa saya cukup lama hiatus ngeblog. Daaan....sudah lebih dari sebulan saya enggak menengok “rumah” ini. Fiuuuuh, sapu-sapu, lap-lap, pel-pel dulu biar rada bersih hehehe.

Padahal, sebelum kembali jatuh dalam kemandegan ngeblog, saya sudah punya list tema tulisan. Yakni tulisan-tulisan experience-based selama tinggal di Sumatera Utara. Tulisan yang akan amat-sangat subyektif dari sudut pandang saya. Yaaaah, tulisan-tulisan ringan, seringan diri saya yang hanya remah rempeyek kacang ^-^
Saya merasa perlu menuliskan hal-hal itu sebagai kenangan tentang Sumatera Utara. Bagian Indonesia yang hampir sebelas tahun saya tinggali. Lebih dari satu dekade yang terbagi di tiga tempat : Karo, Siantar, dan  Medan. Si sulung Ale, lahir di Karo (that’s why he has name Ladika). Si bungsu Elo, lahir di Siantar (sehingga dia punya nama Ladiant). Sengaja tidak berdoa meminta anak ketiga saat di Medan karena nama Ladimed terdengar aneh :P.
Intinya, masing-masing daerah kesan punya dan cerita tersendiri.
Kalau ditanya, kerasan tidak tinggal di sana? Haha, kalau nggak kerasan pasti sudah sejak lama kami pulang kampung ke Jawa. Kerasan itu bukan karena selalu senang. Tapi mungkin karena berusaha lentur menghadapi berbagai keadaan. Di manapun berada, senang dan sedih itu pasti akan ada. Karena keduanya sudah paket bundling, layaknya promo handphone dengan sim-cardnya :P.
Kami pergi bukan karena tak lagi nyaman.  Kami angkat kaki karena menolak kondisi Long Distance Family (LDF). Sepuluh tahun lebih, membuat keseharian di Sumatra Utara sudah terasa biasa. Namun, ketika tiba waktu harus pergi, hal-hal yang kemarin terasa biasa, mendadak terasa istimewa. Terasa penting dan perlu diawetkan dalam tulisan.
Tapi memang, selalu ada alasan untuk kemalasan #eh. Sebulan terakhir, saya cukup sibuk dengan urusan pindahan. Nggak sibuk-sibuk amat sih kalau soal packing. Toh beberes barang sudah dicicil sejak lama. Tapi pindahan kan nggak cuma urusan packing. Ada hal-hal lain yang juga wajib diselesaikan sebelum kami benar-benar pindah.
Oh ya, BJ sudah lebih dulu pergi. Itu berarti, kami berbagi tugas. BJ mengerjakan persiapan kami tinggal di Makasar. Sementara saya membereskan urusan di Medan (packing, jual/bagi/buang barang, pindah sekolah, de el el). Bersyukurnya, ada bantuan dari berbagai arah mata angin.
Oh ya, orang-orang yang rajin menulis berhak bilang : “malas ya malas aja, nggak usah banyak alasan!”  Hehehe, iya sih. Maafkan hamba sahaya yang kadang membiarkan diri ditelan kemalasan.
Jadi, hari ini, 9 Juli 2020, di sebuah titik  di Sulawesi Selatan, saya start menulis lagi. Tulisan ini akan saya sambung dengan cerita tentang pengalaman naik pesawat terbang di saat pandemi, pengalaman mengurus pindah sekolah antar provinsi, etc. Kalau sekarang sih sekedar tulisan curhat tentang cinta dan benci tawa dan tangis yang bertabrakan ^-^

TAWA
Selama BJ masih bekerja di perusahaan yang sekarang ini, pindah-pindah kota tetap akan jadi hal yang niscaya. Saya nggak kaget sih, secara pekerjaan saya dulu juga punya potensi pindah ke berbagai daerah di Nusantara. Jadi, beberapa tahun lalu, saya pernah bilang : “kalau pindah lagi, aku pengin ke Indonesia tengah atau timur.” Keinginan random tanpa alasan khusus. Sekedar memenuhi rasa ingin tahu dan ingin mengalami. 
Maklum, dulu nge-fansnya sama Riyanni Djangkaru. Menjelajah adalah hasrat yang terpendam. Bersyukur, hasrat ini tak lagi menggelegak seiring bertambahnya usia. Pada fase sekarang, saya sudah cukup mampu berdamai dengan situasi “tak mudah untuk kemana-mana.” Tapi memang, kisah-kisah perjalanan tetap menjadi tema bacaan favorit saya sampai sekarang. At least, saya bisa “melihat dunia” dengan meminjam kaki dan mata mereka yang berbagi cerita. (FYI, salah satu blog favorit saya adalah milik Agustinus Wibowo, saya menyukai cara penulisan sekaligus sudut pandangnya dalam bercerita).
Jadiiii, pindah-pindah kota itu memang repooot. Tapi sepanjang pengalaman yang sudah terlampaui, kerepotan itu selalu terbayar lunas. Bahkan lebih. 
Bukan berarti saya selalu ready 100 percent untuk pindah. Bagaimanapun, dalam situasi baru selalu ada tantangan dan ketidakpastian. Dan tak semua tantangan bisa saya atasi dengan kecepatan ekspress. Bahkan, ada kondisi-kondisi yang tak mampu saya tangani. Kondisi yang akhirnya saya skip dengan berjuang untuk menerima bahwa saya memang tak bisa menanganinya.
Duluuu, rasa-rasanya saya jumawa, yakin bisa menaklukkan semua keadaan. Tapi sekarang situasinya berbeda, saya lebih memilih untuk rendah hati dan bersandar pada Tuhan (harus “dihajar” dulu baru bisa berpikir seperti ini hihihihi). Terlebih, saat ini, saya dan suami tak bisa lagi hanya berpikir tentang kami berdua. Tapi juga anak-anak yang sudah terikat dalam sistem sekolah formal (saya merasa belum siap untuk home-schooling).
Makanya, dalam kepindahan kali ini, sebenarnya saya nggak langsung oke. Yang terutama terpikir adalah Ale yang baru saja pindah sekolah saat naik kelas IV. Saat ada informasi mutasi, Ale baru enam bulan di sekolah baru. Dengan menunggu sampai kenaikan kelas, hanya setahun Ale di sekolah itu. Maka, pendapat Ale sangat kami dengar. Salah satu alasan kuat untuk pindah adalah karena Ale memilih ikut ayah.
BJ berangkat di Februari. Sementara saya dan anak-anak menyusul Juli, usai kenaikan kelas. Praktis, sejak awal Februari hingga permulaan Juli, kami hidup terpisah. Bagi orang-orang yang sudah sangat amat terbiasa dengan kondisi LDF, lima bulan mungkin belum apa-apa. Tengok cerita keluarga-keluarga TKI, mereka long distance dalam hitungan tahun! Bahkan, nggak harus berstatus TKI untuk punya status LDF. Banyak juga keluarga yang bertahun-tahun LDF meski kerja di dalam negeri.
Saat belum menikah, ada status Long Distance Relationship. Setelah menikah, ada kondisi Long Distance Marriage. Setelah punya anak, terjadi Long Distance Family.  Sampai-sampai ada istilah pejuang LDR/M/F. 
Terdengar heroik layaknya perjuangan kemerdekaan bangsa :D
Buat kami, ini kondisi yang baru pertama kali. Pekerjaan BJ memang membuat dia biasa pergi berhari-hari keluar kota. Tapi ritme yang sering adalah, dalam seminggu hanya dua, tiga, empat, atau lima hari di luar kota. Rekor terlama pergi hanya 1,5 bulan, yakni ketika  BJ ada pekerjaan di Lampung. Pun, saat berangkat ke Makasar, BJ berencana pulang satu atau dua kali sebelum akhirnya pindah. Tapi pandemi Covid-19, mengubah banyak rencana manusia. Transportasi yang semula relatif mudah mendadak jadi rumit.
Minggu-minggu pertama, Ale selalu melow menjelang tidur. Dia mau ayah!! Voice call maupun video call tidak banyak menolong karena Ale mau ayah yang sungguhan. Ayah yang hadir secara fisik, bukan sekedar ayah dalam jaringan! Serius, dia menggunakan istilah itu. Ayah daring....hahaha. 
Sebaliknya dari Ale, Elo justru susah ditelepon. Dia cenderung cuek saat ayahnya menelpon. Elo baru mau menanggapi agak panjang jika dijanjikan sesuatu yang dia inginkan, mainan misalnya. Huhuhu payah...mesti disuap dulu. (Semoga ini tidak menjadi bibit “mau menerima gratifikasi” di kemudian hari. Haha siapa tahu kelak dia jadi entah-apapun-itu yang berkaitan dengan penegakan hukum).  
Situasi berubah di minggu-minggu terakhir. Kali ini giliran BJ yang sering mellow. Ada hal-hal yang membuat dia merasa down. Di Medan, saya juga mengalami stress karena beberapa sebab. Itu adalah minggu-minggu yang berat bagi kami. Pada suatu pagi, saya pernah panik gara-gara BJ tidak menghubungi saya sekaligus saya tidak bisa menghubunginya. Kondisi seperti itu sungguh sangat tidak biasa. Sebab, setiap pagi kami pasti bertukar kabar, entah itu lewat telepon atau sekedar pesan instant. Karena panik, saya sampai kontak beberapa teman kerja BJ. Puji Tuhan, BJ cuma nggak sempat WA karena pagi itu buru-buru keluar kota.
Dalam pernikahan, hidup bersama secara riil saja banyak potensi miss-komunikasi dan miss-understanding. Apalagi  ketika kondisi berjauhan, probabilitas aneka miss itu semakin besar. (Oh ya, lupa, ada potensi kehadiran miss-miss we name her pelakor juga ya hahaha. Biar setara, saya tulis juga potensi kehadiran pebinor ^-^).
Saya jadi mikir, kalau ada keluarga yang lama berjauhan tapi tampak baik-baik saja, kemungkinannya ada tiga. Pertama memang sudah benar-benar advance dan adem dalam menyiasati keadaan. Kedua, belum adem bener sih, tapi tetap bertahan menjalani karena keadaan. Ketiga, memang memilih berjauhan sebab kalau dekat malah sering terjadi keributan. Yang penting ada status meski kondisi jauh panggang dari api :D.
Bersyukurnya, kami bisa mengambil hikmah dari LDF lima bulan dalam kondisi pandemi ini. Sekian jarak dan waktu ini merimbunkan kesadaran bahwa kami memang benar-benar saling membutuhkan. Ada yang terasa timpang saat kami berjauhan. Semoga ini jadi pengingat kalau-kalau nanti kami lagi nggak enakan. Namanya pernikahan itu kan siklus enak dan nggak enak yang terus berulang.
Serius saya bilang bahwa hanya karena pertolongan Tuhan kalau sekarang kami berempat masih bisa ngadeg jejeg (berdiri tegak –bahasa Jawa). Rasa takut menghadapi ketidakpastian keadaan itu pasti ada. Tapi kembali melihat pertolongan-Nya di hari-hari yang sudah lewat meyakinkan kami untuk tetap kuat.
Ini foto moment pertama kembali bertemu di Bandara Hasanuddin. Nggak bisa langsung pelukan karena protokol COVID-19. Sayang sekali, tidak dapat shoot foto yang agak-agak dramatik gitu :P






AIR MATA
Sejak menerima kabar mutasi, saya sudah yakin bahwa kepindahan ini akan sarat emosi. Sebab, ini pindah yang cukup jauh. Bahkan mungkin sangat jauh, tergantung bagaimana cara melihat. Dari Medan, terbang ke ibu kota negeri jiran jelas butuh waktu lebih singkat daripada ke Makassar. Padahal, ke Malaysia atau Singapura adalah penerbangan internasional. Sementara ke Sulawesi Selatan adalah penerbangan domestik. 
Pindah dari Karo ke Siantar, dan Siantar ke Medan juga ada unsur emosi. Tapi mungkin tak sehebat ini karena “ah dekat kok.” Terbukti, selama di Siantar kami masih main-main ke Karo. Juga selama di Medan bisa berkali-kali bertandang ke Siantar (dan Karo). Tapi jarak Sulsel – Sumut, garis lurusnya saja berapa ribu kilometer ya? Belum lagi, jarak riil yang mesti ditempuh bukanlah garis lurus. Jika naik pesawat terbang, kita mesti transit di Jakarta atau Surabaya.
Sebelas tahun adalah waktu yang cukup panjang untuk membangun hubungan sosial. Dalam kurun waktu itu kami mendapatkan banyak teman. Dari sekian hubungan, banyak yang meningkat menjadi sahabat dekat, bahkan saya anggap setara keluarga.
Untuk apa ada pertemuan jika harus ada perpisahan?
Aduuuh...klise banget yaaak. Jujur saya nggak iyes deh sama ungkapan itu. Ya kalo gitu mah nggak usah ketemu siapapun biar nggak perlu pisah sama siapapun. Emang bisa?? Saya rasa, orang introvert level akut pun tetap  butuh hubungan sosial. Meski mungkin nggak sebesar tipe haha-hihi seperti saya.
Tapi saya ngerti sih, kalimat itu muncul sebagai ungkapan kesedihan yang mendalam atas sebuah perpisahan. Apalagi, dalam perpisahan ini, entah kapan akan ketemu lagi. Bagi BJ, ada kemungkinan meeting atau apalah urusan pekerjaan ke Sumut. Sementara saya dan anak-anak? Kemungkinannya lebih kecil. Jauh lebih kecil dari peluang muncul satu angka dalam sepelemparan dadu. Tapi saya nggak mau bilang impossible sih. Because I believe, miracle is possible. Dan siapa tahu saya layak mendapatkan keajaiban itu??
Saya sangat terharu menuliskan bagian ini. Mengingat seminggu terakhir sebelum hari- H kepergian, begitu banyak perhatian dan bantuan yang kami dapatkan. Sebelumnya, ada rencana pergi ke Karo dan Siantar untuk kunjung-pamit. Tapi rencana itu batal karena pandemi Covid-19. Bahkan, mendatangi teman-teman di Medan pun tidak saya lakukan dengan alasan yang sama. Jujur saya agak worry ketika minggu-minggu menjelang test rapid, kami bertiga justru ketemu dengan banyak orang (jangan tanya tentang social distancing! :D). Hanya bisa berdoa. Karena itu adalah pertemuan-pertemuan yang entah bisa terulang atau tidak. Terima kasih untuk semua yang menyempatkan datang ke rumah.
Saya sangat bersyukur untuk SEMUA ORANG yang menjadi bagian dalam potongan hidup kami di Sumatera Utara. Mungkin dengan sebagian orang hanya berupa interaksi singkat dan selintas lalu. Tapi seberapapun itu adalah bagian dari perjalanan kami (life is a journey, right?). Terlebih untuk semua hubungan dengan intensitas lebih, meminjam judul lagu lawas milik Slank : terlalu manis untuk dilupakan.
Terima kasih untuk semua kebaikan yang boleh kami terima. Sengaja tidak merinci satu per satu nama/keluarga, juga satu per satu moment, karena itu akan membuat saya mellow tingkat dewa. Just post some photos here. Hopefully we'll meet again, someday...



















2 komentar:

  1. Waaaah sempet ngerasain Siantar , Karo, Medan ya mba. Aku jg org Medan, merantau ke JKT :D. Tiap mudik aku slalu mampir ke Siantar Krn pasti ngelewatin kalo mau ke kampung papa di Sibolga.

    Kerasa sih sedihnya 11 THN di sana trus hrs pindah yg jauuuh , beda pulau pula :). Tp pengalaman kayak gini, ga semua orang ngalamin. Aku aja pgn banget pindah2 begitu, walopun tau rempongnya pasti luar biasa :D.

    Aku tipe yg ga bisa juga LDR. Mending ikutan pindah nemenin suami deh drpd hrs jauhan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tosss soal ogah LDR haha. Makanya angkat jempol banget buat para pejuang LDR tu mba :)

      pindah2 jauh memang repot tapi saya bilang selalu terbayar lunas :)

      Hapus

Terima kasih atas kunjungannya. Mohon tidak meninggalkan link hidup dalam komentar ya :)