Waspada Overdosis Paracetamol




Akhir  Februari saya mengalami hari yang emosional. Bukan emosi dalam bentuk kemarahan, tapi empati mendalam atas kesedihan yang dialami oleh keluarga teman. Meski bukan sahabat dekat (kami hanya teman segereja), tapi saya benar-benar turut berbela sungkawa. Kehilangan anak yang masih balita –usianya belum genap dua tahun- secara tiba-tiba. Terbilang tiba-tiba karena dari sakit hingga meninggal terhitung cepat. Saya rasa, siapapun bisa memahami kesedihan mendalam yang mereka alami.

Terlebih, si anak (saya sebut inisialnya : A), adalah anak laki-laki satu-satunya dari tiga bersaudara. Bagi orang Batak, anak laki-laki adalah penerus marga. Kehilangan anak laki-laki berarti tak ada penerus marga. Meski memang, si ibu tengah mengandung (lagi), tapi kan belum diketahui jenis kelamin si calon jabang bayi. Terlepas dari alasan seksis, kehilangan anak tetaplah sesuatu yang menyedihkan.

Bagi saya, ternyata ada perbedaan respon emosi antara datang–ke-rumah-duka-hanya-saat-melayat dengan turut-menyaksikan-meninggalnya-almarhum-sejak- di- rumah- sakit.  Jadi ceritanya, pada Kamis sore ada kabar di grup Whatsapp gereja bahwa bayi A masuk ruang ICU sebuah rumah sakit. Namun karena peralatan RS tersebut kurang memadai,  A dirujuk ke RS lain.

Malam harinya, usai ibadah kelompok, beberapa jemaat gereja beserta pendeta menjenguk ke RS. Namun, saya tidak ikut karena tidak tergabung dalam ibadah kelompok tersebut. Pada jam bezuk hari selanjutnya, barulah saya dan tiga ibu jemaat lainnya menjenguk ke RS. Berhubung A ada di ICU, kami tidak bisa masuk bersamaan. Terlebih, A sedang dalam keadaan kritis.

Oleh staf RS, kami dipersilakan masuk satu per satu. Teman pertama masuk dan saat keluar ia mengatakan jika A sedang kritis. Tangan dan kaki sudah berwarna pucat dan dokter sedang berusaha memacu jantungnya. Lalu teman kedua masuk lalu tak lama keluar. Dengan lirih ia mengatakan jika A sudah meninggal.

Kami berempat terdiam dalam sedih. Dalam kondisi seperti itu, saya masuk dan mendapati ibu A sedang meraung-raung sembari memeluk jasad A yang masih ditempeli aneka peralatan medis. Saat itu, tidak ada satu pun anggota keluarga lain yang mendampingi ibu A. Sebab, si ayah sedang keluar mengurus BPJS (yang sayangnya gagal karena mereka belum mengurus surat pindah :D). Jadi, kami-lah “anggota keluarga” pada saat itu. Saya masih inget banget bagaimana situasi pada saat itu.  

What a heartbreaking moment.

Kronologi peristiwa yang sebelumnya saya dengar adalah, si anak sudah demam kurang lebih tiga hari. Menurut si ibu, di hari sebelum meninggal, A sudah terlihat lemas. Si ibu pun membawa A ke bidan.  Oleh bidan, A diberi obat penurun panas. Si ibu sempat berkata kalau baru beberapa menit yang lalu, ia memberikan obat penurun panas. Tapi bidan bilang tidak masalah.

Kembali ke rumah, si anak bertambah lemas sehingga si ibu membawa A ke klinik. Di tempat itu, petugas medis memberikan obat penurun panas lewat anal. Setelah itu, A makin lemas bahkan tidak sadar. Kemudian A mendapat dua kali suntikan melalui paha kanan dan kiri. Menurut petugas medis, itu adalah obat penawar alergi obat. Namun A tak kunjung membaik sehingga langsung dilarikan ke rumah sakit pertama. Namun, di sana peralatannya tak mendukung sehingga A dirujuk ke rumah sakit lain. Di rumah sakit kedua, A sudah langsung masuk ICU. Namun, segala peralatan maupun tindakan dokter tak mampu menolongnya. Sore hari masuk ICU dan meninggal menjelang siang hari berikutnya.

Well, saya tidak tahu penjelasan dokter mengenai penyebab meninggalnya bocah A. Jadi, kalau kemudian saya menulis tentang overdosis paracetamol, ini bukan penjelasan dari kasus bocah A. Melainkan hanya sekedar dugaan awam setelah mendengar kronologi kejadian. Beberapa gejala yang dituturkan si ibu cocok dengan berbagai artikel tentang overdosis paracetamol. Terlepas dari benar tidaknya dugaan tersebut, bagi saya kejadian ini adalah pembelajaran penting supaya hati-hati dalam mengonsumsi obat. Meskipun itu "sekedar" obat penurun panas seperti paracetamol.

Paracetamol (PCT) atau acetaminophen adalah obat penurun demam dan pereda nyeri yang lazim dikonsumsi. Selain diberikan oleh dokter, banyak merk paracetamol yang dijual bebas, baik untuk dewasa (tablet) maupun anak-anak (sirup/ tablet manis). Ada juga paracetamol dalam bentuk supositoria (diberikan melalui anus) dan infus. Mungkin, karena sebegitu lazim dikonsumsi, banyak orang tidak menyadari bahayanya.

Kasus yang saya alami secara pribadi adalah mengonsumsi paracetamol 1000 mg (iya, angka itu yang tertera di kemasan obat yang adalah resep dokter, saya dapat dari rumah sakit). Dosis itu dua kali lipat dari yang biasa saya minum saat sedang sakit (paracetamol tablet 500 mg). Dampak langsung pada saat itu adalah mual, keringat berlebihan, dan badan seperti gemetar. Waktu itu saya sempat mengira jika mual dan banyak berkeringat adalah karena keadaan sakit saya. Namun, ternyata itu berulang setiap habis minum obat. Lalu saya coba hentikan paracetamolnya, dan gejala tersebut tidak muncul. Fixed, saya yakin mengalami overdosis paracetamol.

Menurut situs alodokter.com, dosis umum pemberian paracetamol adalah sebagai berikut :

  • Dewasa, 325-650 mg tiap [ 4-6 jam atau 1.000 mg tiap 6-8 jam
  • Anak (usian 2 bulan), 10-15 mg/kgBerat Badan (BB), tiap 6-8 jam sekali atau sesuai anjuran dokter.
  • Anak 2 bulan – 12 tahun, 10-15 mg/kgBB tiap 4 – 6 jam atau sesuai anjuran dokter. Dosis maksimal 5 kali dalam 24 jam.
  • Anak 12 tahun >, 325 – 650 mg per jam atau 1.000 mg tiap jam.


Beberapa penyebab ovedosis paracetamol :

  • Sengaja meminum paracetamol secara berlebihan. Ini memang konyol tapi nyata (bukan aneh tapi nyata). Saya membaca beberapa kasus suicidal (bunuh diri) dengan cara mengonsumsi obat bebas (yang mengandung paracetamol) dengan dosis luar biasa. Minum sebutir tablet paracetamol 1000 mg saja saya sudah gemetaran, bagaimana orang yang minum 30 tablet sekaligus? Memang tujuannya cari mati sih :D
  • Petunjuk yang rancu. Saya masih menemukan petunjuk pemberian obat yang menggunakan istilah “sendok teh” atau “sendok makan”.  Kenapa nggak sekalian ditulis sendok takar atau sekalian mililiternya? Penggunaan petunjuk sdt dan sdm sangat rawan menyebabkan salah dosis. Terlebih, ukuran sendok teh dan sendok makan itu beda-beda lho.
  • Minum obat lain yang juga mengandung paracetamol. Minum beberapa jenis obat dalam satu waktu adalah hal yang lumrah. Pemberian beberapa jenis obat dari dokter sangat mungkin sudah mempertimbangkan dosisnya. Namun, dengan penjualan obat yang cukup bebas, banyak orang minum obat tanpa resep dokter. Uhuk, termasuk saya nih. Tapi waktu kejadian keringet berlebih gara-gara obat, itu justru dari resep dokter. Dokter juga manusia :)
  • Menyukai rasa obat. Beberapa anak sangat menolak minum obat (si bungsu saya, Elo salah satunya). Sebaliknya, justru ada anak-anak yang menyukai rasa obat. Pada anak-anak jenis ini, sirup obat bisa menjadi berbahaya jika ditaruh sembarangan.

Mengutip dari sehatq.com, gejala overdosis paracetamol adalah :
  • Kehilangan nafsu makan
  • Mual
  • Muntah
  • Nyeri perut
  • Merasa bingung
  • Lesu
  • Susah bernafas/sesak nafas
  • Wajah bengkak

Overdosis paracetamol yang berkelanjutan bisa memicu terjadinya gagal ginjal yang bisa memicu kematian. Selain itu, overdosis paracetamol juga bisa mengakibatkan beberapa komplikasi sebagai berikut:
  • Enselofati, yakni gangguan pada otak sehingga seseorang mengalami disorientasi.
  • Hipoglikemia, yaitu kadar gula terlalu rendah sehingga organ tubuh tidak bisa berfungsi sebagai mana mestinya
  • Asidosis, yaitu peningkatan kadar asam di dalam darah yang ditandai dengan gejala nafas tersengal-sengal.

Bersyukur banget  waktu itu saya segera menghentikan konsumsi paracetamol 1000 mg. Jadi, meang penting banget untuk benar-benar memerhatikan label obat sebelum mengonsumsinya ya gangs... Jangan pula menggampangkan sesuatu karena hal tersebut lazim dilakukan banyak orang. (*)


Referensi :

https://www.alodokter.com/paracetamol

https://www.sehatq.com/artikel/inilah-yang-terjadi-ketika-seseorang-mengalami-overdosis-paracetamol








      

51 komentar:

  1. Jd inget, pas masih sekolah dulu, ada temen yg mencoba bunuh diri dengan meminum 1 papan panadol hanya Krn diputusin pacar -_- . Ga kebayang seperti apa rasanya.. yg ajaibnya dia msh bisa diselamatkan sih. Selama ini aku minum Paracetamol kalo memang kepala udh pusiiing banget mba selagi msh bisa dihandle dengan banyak air putih, aku biasanya ga nyentuh itu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah itu yak kan mba fanny. sebutir 1000 mg aja saya uda gemeteran :D

      Hapus
  2. Ya ampun, pasti sedih banget orang tuanya... Ternyata paracetamol juga bisa bikin overdosis ya, huhuhu...

    BalasHapus
    Balasan
    1. pasti mbak...saya yang bukan ortunya aja sediih. msh terbayang wajah dek A sampai sekarang

      Hapus
  3. aku sering sakit kepala. biasanya pake paracetampl 250 jg udah sembuh. kalo ga ya paling mentok pake yg 650 udah pol, ga berani lebih,

    semoga tabah untuk keluarga yg ditinggalkan

    BalasHapus
    Balasan
    1. amiin

      saya juga nggak tau dulu apa pertimbangan dokter kasih 1000 mg

      Hapus
  4. Pasti sedih sekali si ibu yang kehilangan putranya. Jadi si A diberikan obat penurun panas 3 kali dalam jarak waktu yang berdekatan.

    Btw, kadang obat pilek atau batuk juga ada parasetamolnya ya. Suka bikin bingung. Jadi kalo anak badannya demam dan batuk pilek, daripada bingung dengan dosis parasetamolnya, aku cenderung memilih obat batuk pilek yg tidak mengandung parasetamol. Jadi pemberian parasetamol bisa diberikan terpisah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak lianny. giu tu sih kalo saran kakak saya yang seorang bidan..mending kasih obat batpilnya yang tanpa parcet ketika juga minum parcet

      Hapus
  5. Duh serem juga ya Mak kalau mengalami over dosis Paracetamol ini. Perlu memang banyak mencari tahu, di antaranya melalui Alodokter dan Sehatq mengenai penanganan penyakit-penyakit tertentu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak Niar... karena saking lazimnya itu ya, jadi banyak yg ga aware

      Hapus
  6. Selama ini kalo anak demam selalu pakai Paracetamol.. tapi sesuai aturan aja.., kalo belum turun biasanya malah ke tradisional gosokin minyak bawang ...

    Gak berani naikin dosis..

    BalasHapus
    Balasan
    1. tepat mbak nova. kalau saya bingungnya tuh kalo sudah dikasih parcet trus muntah (pada anak), na itu mesti dikasih lagi apa enggak hehehe

      Hapus
  7. Waduh, ceritanya tegang euy... Kita aja yang dewasa bisa over dosis apalagi anak kecil yg daya tahan tubuhnya blm sekuat org dewasa... hati-hati memang masalah konsumsi obat2an, dan sbg orang tua juga kudu waspada..

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak..kejadian ini jadi warning banget buat saya

      Hapus
  8. Pengalamanku minun paracetamol 1000mg lgsg gemeter seluruh badan, lemes. Ternyata memang paracetamol obat yang g bisa disepelekan

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah samaaa mbak lya..parcet 1000 mg!

      Hapus
  9. Aduh semoga ibunya dikuatkan apalagi sedang mengandung jangan sampe nanti sakit :( btw makasih infonya mba aku baru tahu ada kasus overdosis paracetamol trelepas dari alm anak itu meninggal krn apa, duh jadi ngeri yah..tapi beneran sih obat warung alias obat bebas itu juga bahaya pengalamanku bulan lalu krn flu aku konsumsi obat warung bukannya sembuh kepalaku luar biasa sakit sampe akhirnya jajan ke dokter :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. tapi ya....kdg kalo "cuma" pusing, males ke dokter sih hehehe.. (itu saya). baliknya ke obat warung lagi :D

      Hapus
  10. Aduh, Mak.... aku ikut sediiihh banget bacanya
    Kebayang gimana hancurnya perasaan sang Ibu ya
    Semogaaaa semuanya baik2 saja, kehamilannya lancaaarrr

    Ini jadi pelajaran bgt untuk kita semua ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. amiin mak nurul. iya pelajaran buat kita semua

      Hapus
  11. Ya Allah baru tahu aku kalau ada over dosis paracetamol seperti ini. Terima kasih telah memberi info ya mba

    BalasHapus
  12. Ya Allah, sedih ikutan kehilangan. Aku pun sering makan parasetamol dan mengalami hal di atas. Mau stop dulu deh lari ke obat tradisional aja. Serem dampaknya ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya pun kalau pusingnya bangeeet baru deh minum obat

      Hapus
  13. Ngeri ya kalau sembarangan minum obat apalagi dosisnya tinggi gitu. Kalau ga kepaksa aku males makan obat apalagi nambahin dosisnya biar cepet sembuh. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kesabaran

    BalasHapus
  14. Makasih mak infonya, aku memang selalu sedia parcet di rumah karena dibanding ibuprofen aku lebih nyaman dengan parcet tapi memang setahu aku harus di jeda minumnya jika dalam kondisi demam, sekitar 4 jam untuk anak yang masih mengonsimsi sirup...ternyata overdosis bahaya banget yah, harus lebih waspada ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. anak saya malah alergi ibuprofen mbak hehehe

      Hapus
  15. Ngeri juga ya. Terlepas benar atau tidaknya overdosis paracetamol membuat bocah A meninggal, ini menjadi pembelajaran bagi kita, bahwa minum obat kudu sangat hati-hati.

    BalasHapus
    Balasan
    1. yup betul mbak, harus waspada banget

      Hapus
  16. Duh ya ampuun. Turut prihatin Mbak untuk temannya. Bisa jadi memang overdosis paracetamol ya kalau merujuk pada kronologis kejadian.

    BalasHapus
    Balasan
    1. terlepas itu atau bukans penyebabnya, tetap jadi pelajaran buat kita smeua ya mbak

      Hapus
  17. Wah bisa ya overdosis paracetamol. Dulu anak anak sering sakit paracetamol itulah andalan buat nurunin demam

    BalasHapus
    Balasan
    1. asal ga berlebihan tetap aman kan mbak wita

      Hapus
  18. Iya mom bener banget kalau pakai Paracetamol memang harus hati2 apalagi kalau anak demam aku tu termasuk parno

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya mbak..aware sama si sulung yang gampang minum obat nih..

      Hapus
  19. Aku jadi ingat dengan kejadian anak tetangga waktu usia 1 tahun. Kayaknya kasusnya sama deh, over dosis obat antibiotik. Huhuehuee sedih banget baca ini jadi mengngatkan anak tetangga dulu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah..OD AB juga bisa begini ya mbak. Intinya OD obat apapun memang bisa bahaya yaa..

      Hapus
  20. Duuh kok serem ya. Aku selalu sedia paracetamol sih di rumah. Tapi anak-anak harus dalam pengawasan ku kalo butuh minum obat

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mak irul. apalagi buat anak yang suka rasa obat. harus disimpan di tempat rahasia

      Hapus
  21. Baca ini kok ya pas tadi aku kasih PCT ke anak soalnya dia udah demam sampai 38,7. Tapi ga berlebihan dosisnya.
    Ngeri juga ya itu baru dikasih PCT di rumah trus di bidan dikasih lagi. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. amin mbak helen. asal ga berlebihan kan memang aman ya..

      Hapus
  22. Duh, bahkan obat yang dikenal aman kayak paracetamol pun bisa bikin overdosis ya. Jadi kudu hati-hati deh. Selama ini aku makan semaunya aja.

    BalasHapus
  23. Ternyata parcet bisa juga jd penyebab masalah kalau diberikan berlebihan ya mbak. Saya termasuk ibu yang juga jarang kasi anak parcet kalau gak genting sekali. Jd pas anak batpil dia demam malah saya suka krn artinya virus akan mati, meski demikian tetep mantau suhunya jg sih, kalau anak udah gk nyaman sekali baru saya kasi.

    BalasHapus
  24. ya mbak Nia..mudah2an makin teratur ke depannya ya...

    BalasHapus
  25. Overdosis parcet bahaya banget ya, padahal saya anggap obat aman, kita harus mulai aware sama dosis maksimal obat yang bisa kita minum per hari

    BalasHapus
  26. Duh mbaaa sedih banget bacanya.
    Biasanya sih di RS klo kita bawa anak karena keluhan demam, suster pasti tanya kapan tetakhir kita kasih parcet. Klo ternyata jedanya masih pendek, maka suster gak akan menyarankan untuk dikasih parcet lagi.

    BalasHapus
  27. betul, jadi emang deh ga boleh selalu berlebihan dalam pakai apapun.

    BalasHapus
  28. Dosis obat menggunakan berat badan. dosis paracetamol adalah rentang 5-30 mg/kgBB per pemberian, dalam sehari bisa diberikan 3-5x pemberian. 1 sendok teh adalah 5ml, sedangkan sendok makan 15ml. perlu dilihat dulu dosis sediaan obatnya.

    untuk kasus alergi obat berbeda dengan overdosis obat. untuk balita lebih baik memeriksakannya ke dokter, apalagi dibawah 1 tahun ini lebih amannya ke dokter spesialis.

    Semoga ini menjadi pembelajaran buat kita, semoga kasus-kasus ini tidak terjadi lagi.

    keep posting artikel yang bermanfaat mbak. Saya dukung

    BalasHapus

Terima kasih atas kunjungannya. Mohon tidak meninggalkan link hidup dalam komentar ya :)