Entri Unggulan

Nama Blog : Mengapa Daily Wife?

Selamat Menunaikan Ibadah Puasa 1440 H

pic by ucapan.club

Meski tidak turut menjalankan ibadah puasa, tapi saya dan BJ (suami) selalu ikut bersukacita menyambut bulan ini. Jadi, sebelum lanjut cerita, terlebih dulu saya mengucapkan SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA bagi semua teman-teman yang menjalankannya. Semoga puasa teman-teman lancar dan berkah. Amiin.

Jujur, saya salut pada teman-teman yang sanggup berpuasa dari sebelum subuh sampai bakda maghrib, selama sebulan penuh. Kalaupun pada umumnya perempuan ada "libur merahnya', toh nanti bakalan menggantinya sesuai jumlah di lain hari. Bahkan, saat masih suasana Lebaran pun, sebagian orang sudah menjalankan puasa Syawal (cmiiw).

Sedangkan saya? Dalam kristianitas memang ada ajaran tentang puasa. Tapi sejauh pengetahuan saya, praktiknya tidak seketat puasa Ramadhan. Puasa Pra-Paskah memang periodenya lebih panjang (40 hari). Namun, pelaksanaannya tidak wajib puasa penuh dari pagi buta hingga lewat senja. Mau puasa yang seperti itu, dipersilakan. Tapi boleh juga puasa pantang, artinya masih makan minum tapi memantang sesuatu (biasanya sesuatu yang sangat digemari). 

Perbedaan seperti itu, buat saya sih bukan sesuatu untuk diperdebatkan. Karena tiap agama/kepercayaan pasti punya ajaran dan aturan masing-masing. Yang pasti, saya belum pernah berpuasa sepanjang hari selama sebulan penuh. Tapi karena lahir dan tumbuh di Indonesia yang mayoritas muslim, puasa Ramadan bukan hal asing buat saya. 

Sedari kecil, saya sudah mengenal puasa Ramadan dari suasana kampung saya di Temanggung, Jawa Tengah. Pagi-pagi, saat sahur, biasanya ada "pengumuman" menjelang imsak yang terdengar dari loudspeaker masjid. Pun demikian saat waktunya berbuka. Sirine akan mengaung-ngaung dari loudspeaker yang sama. Sirine di petang hari adalah tanda untuk "buko". Yup, saya menggunakan huruf o agar lebih memudahkan dalam melafalkan. Yakni tidak seperti dalam Bahasa Indonesia yang diucapkan "buka", melainkan a- Jawa yang sebenernya juga tidak dilafalkan seperti huruf "o" sih hihihi. Ouii, yang begini saja enggak ngerti bagaimana memaparkannya.

Dari kecil pula saya sudah diajari untuk menghormati teman-teman yang menjalankan ibadah puasa. Cara simpelnya adalah dengan tidak enak-enak makan minum di depan mereka. Tapi setelah besar, saya malah mendapati teman-teman muslim yang menyilakan saya untuk tetap makan saat mereka puasa.  Buat mereka, berhasil melewati ujian penglihatan orang makan-minum di saat menahan lapar adalah salah satu esensi dari berpuasa. Tapi ya, tetap nggak enaklah saya meski sudah dipersilakan. Meski tetap ma-min, at least saya menyingkir dulu ke tempat lain.

Saat masih tinggal di rumah orangtua, puasa Ramadan tidak berpengaruh dalam kebiasaan makan. Kan di rumah tetap ada makanan dan semua anggota keluarga juga tidak berpuasa. Berbeda halnya setelah jadi anak kost. Soalnya, tidak semua warung makan buka seperti hari biasa dan tinggal bersama dengan teman-teman yang berpuasa. Untuk makan siang, biasanya sih masih ada warung yang buka (dengan dipasangi tirai di depan). Makan malam lebih mudah lagi cari makanan. Bisa dibilang, mau makan apa saja ada. Tinggal itung bujetnya, cukup apa tidak untuk memanjakan lidah :D.

Yang agak repot adalah cari makanan untuk sarapan. Penjual nasi kucing (ini nama nasi bungkus untuk orang, bukan untuk kucing) yang biasa keliling pagi hari akan libur selama Ramadan. Padahal, saya bukan anak kost yang masak sendiri melainkan makan terbang (pakai sayap #LOL). Jadilah, untuk sarapan nitip sama temen-temen yang beli makanan saat sahur.  

Oh ya, di masa jadi anak kost ini-lah saya selalu menyambut moment bukber alias buka bersama dengan sukacita. Yah, namanya anak kost yang pas-pasan plus masih nggak malu-malu untuk bertindak malu-maluin. Bukber adalah jadi moment makan enak dan gratis (#dasaaar). 

Dari mana dapat undangan bukber? Nah dulu kan saya agak aktif di lembaga pers mahasiswa. Adalah lazim bagi organisasi kemahasiswaan di kampus  mengadakan bukber dan saling gantian mengundang antar lembaga. Untuk organisasi non-rohani, biasanya acara bukber relatif cair. Sehingga, tidak masalah kalau saya ikut datang. Selain untuk hubungan antar organ, buat saya juga untuk pengiritan (biaya makan malam) #LOL.  


Setelah menikah, lalu resign, dan belum lagi aktif di organisasi/komunitas umum, saya nggak lagi ikut acara-acara bukber. Tapi menjelang saat berbuka, sering banget tuh ikut rame-rame belanja takjil (padahal enggak puasa hahaha).  Sudah merupakan pemandangan biasa kalau setiap Ramadan sangat banyak penjual makanan. Sebab, banyak orang yang sehari-hari tidak jualan makanan/minuman, tapi selalu jualan setiap Ramadan. Sebagian memang dengan niat mencari tambahan pemasukan menjelang Lebaran. Sebagian lain fokusnya lebih untuk mengisi kegiatan selama Ramadan. Kalaulah dapat untung banyak, itu bonus.

Setiap ikut belanja takjil gitu, duuuh rasanya laper mata. Habisnya, makanan beraneka ragam. Plus banyak juga sajian-sajian yang di hari biasa tak lazim ada. Kalau mengikuti keinginan mata, bisa-bisa malah jadi ada makanan mubazir karena perut tak sanggup menampung.  


ilustrasi jualan makanan saat puasa (pic by doktersehat.com)

Oh ya, ini adalah puasa kedua sejak kami tinggal di kompleks Rumah Ben. Tahun lalu, seingat saya nggak ada koordinasi untuk penyediaan takjil dan makan sahur bagi petugas sekuriti. Atau mungkin ada koordinasi tapi kami enggak ikut partisipasi (emang nggak ada ajakan). Berbeda dengan tahun ini, penyediaan menu sahur dan takjil untuk petugas sekuriti melibatkan semua warna kompleks, apapun agama/kepercayaannya. 

Buat saya, ini bagus banget. Saya memang menyukai ide maupun praktik kebaikan yang melampui sekat-sekat, baik itu sekat agama, suku, ras...apapun itu. Memang tidak selalu mudah untuk melakukan itu. Bahkan, yang setuju dalam tataran ide pun belum tentu dengan bisa dengan ringan melakukannya. (Beda halnya kalau sudah tidak setuju sejak dalam pikiran, apalagi melakukannya).


Jelajah dunia maya malam ini mengantar saya ke laman BBC Indonesia  tahun 2015 (tapi nggak saya kasih tautan yah...takutnya jadi brokenlink :D). Dalam artikel yang saya baca, ada tulisan yang sedikit menyinggung tentang gerakan #Christian4Ramadan. Gerakan ini terinspirasi dari gerakan #Muslim4Lent, yang berupa solidaritas umat muslim untuk umat Kristiani yang berpuasa menjelang Paskah.

Gerakan seperti ini mungkin tidak akan populer di Indonesia. Bahkan sepertinya malah potensial kontroversial. Di berbagai belahan dunia, sentimen dengan alasan agama (apapun -tidak menunjuk ke agama tertentu) masih terus terjadi. Saya sendiri berpegang pada keyakinan bahwa perbedaan itu keniscayaan. Tapi perbedaan bukan alasan untuk tidak bisa hidup bersama-sama. 


pic by pixabay

Menerima perbedaan memang membutuhkan kedewasaan. Terlebih menerima perbedaan bisa jadi disikapi beragam, tergantung pemahaman dan penafsiran. Yang pasti, seperti gambaran bunga di atas, perbedaan warna-warni justru membuatnya terlihat semarak.

Komentar

  1. Terima kasih banyak Mbak. Bulan Ramadan memang ada banyak hal yang membuat suasanan ramai, contohnya penjual takjil yang setiap sore sebelum buka puasa, sudah menggelar lapaknya dan akan membersihkan lapaknya menjelang waktu sholat Isya. Hari ini hari pertama puasa, anak saya sudah gak sabar belanja takjil di depan komplek

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama2 mbak astin..ni uda semangat aja ntar sore mau belanja takjil wkwkwk

      Hapus
  2. Waaaa asli Temanggung, tho?
    Bapakku juga orang TMG. Sekarang yang di sana tinggal Bulik (adeknya Bapak) dan sodara sepupuku
    --bukanbocahbiasa(dot)com--

    BalasHapus
    Balasan
    1. hiyaa mbak nurul. brarti sering ke tmg yak...saya di n-njumo..tmg plosok hehehe

      Hapus
  3. Sebagai umat muslim yang tadinya kristiani, saya paham banget dengan banyaknya perbedaan.
    Dulu sih kebetulan saya hidup satu atap dengan ortu yang beda keyakinan, Tante dan om yang anehnya juga beda keyakinan, tetangga kanan kiri di Kalimantan orang Philippines yang otomatis kristiani, belakang rumah Bu haji pak haji. Beda dua rumah, orang Bali taat yang agamanya Hindu, obviously. Dan saat itu, rata rata piara anjing hahahaha... Jadi kadang saat Tahun Baru terasa banget kebersamaan itu. Kalau di rumah, saya hanya merayakan lebaran karena menghormati almarhum bapak. Beliau pejabat daerah. Ibu saya saat itu masih agama keyakinan Jawa, seingat saya namanya Pangestu dan ibadahnya mirip Islam. Semua kakak ibu rata rata Katolik. Jadi kalau Natal kami saja yang berkunjung ke sana.

    Aneh saat itu perbedaan ga runcing seperti sekarang .. i miss that momentum. Nanti kapan kapan saya ceritakan di blog!

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah gado2 juga di keluarga ya mbak. ditunggu ceritanya mbak tanti :)

      Hapus
  4. Salut untuk warga kompleks Rumah Ben yang mengadakan kegiatan tanpa membedakan agama dan kepercayaan..You're rock!
    Terima kasih sudah sharing info ini Mbak Lisdha

    BalasHapus
  5. Alhamdulillah ya kita semua sampai juga di Ramadan tahun ini. Semoga ibadah kita dilancarkan hingga akhir Ramadan. Selamat berpuasa semuanya :)

    BalasHapus
  6. Terimakasih banyak mbak, memang seharusnya aepwrti ini ya, saling memghargai dan menghormati antar sesama. Indonesia akan lebih sejuk jika rasa kemanusiaan yang dijunjung tinggi, salam damai 😊

    BalasHapus
  7. Menerima perbedaan memang tak mudah. Banyak yang dari perbedaan malah semakin diangkat agar terlihat semakin nyata. Padahal, keberagaman juga indah ya mba.

    BalasHapus
    Balasan
    1. nggak mudahnya karena kita menilai sepatu orang dengan ukuran kita. padahal kaki2nya saja sudah beda ya kan mbak :)

      Hapus
  8. Memangbseharusnya saling menghargai dan menghormati perbedaan ya mba.. nice share mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. butuh keluasan hati menerima perbedaan ya mbak nisa.

      Hapus
  9. wah saya bacanya dalem nih hehehe. Dengan cara berbeda, beberapa agama memang ada aturan puasa sepertinya ya mba. Kalau dari sisi kesehatan bagus buat detoks tubuh.
    Nah, kata teman saya yang beda keyakinan memang yang khas dari ramadhan terutama di Indonesia adalah petangnya alias ngabuburit, semua koleksi lokal keluar, yang tadinya tidak tahu jadi tahu makanan setempat. Orang-orang juga keluar rumah, ketemu satu dengan lainnya, saling sapa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. kemarin sore saya sudah niat banget ke jalan dekat rumah buat beli takjil dan olaaaaa...maceeetnyaaa

      Hapus
  10. Selamat berpuasa, marhaban ya ramadhan...

    BalasHapus
  11. Perbedaan kalau dibahas memang bikin rame. Tapi kalau dijalanin spt itu ya biasa aja kan? Aku muslim. Sebelahku pak RT nya aja Kristen. Waktu ada acara 1000 hari ortunya kami diundang ya santai aja ada doa2 dr pastur. Kan bisa pas doa, kita menyingkir dulu ke meja prasmanan heheee. Depan rumahku juga Kristen. Pas anaknya tunangan, kami diundang. Santai aja tuh ada ceramah pastur. Padahal di tendanya nyetop jalan kampung. Warga nggak ada yg protes. Biasa aja. Siapapun disini berhak menjalankan ibadahnya. Nah, kalau berisik dangdutan baru deh buibuknya ngelabrak hahahaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. sebenernya dari awalnya kita memang sudah biasa dengan perbedaan ya mbak. tapi zaman medsos ini, kasus intoleransi jadi mudah banget menyebar dan kayaknya jadi biasa juga :(

      Hapus
  12. Terima kasih mbak Lisdha, atas insightnya. Perbedaan memang Indah kalau disikapi dengan bijaksana. Saya juga Masih optimis kalau Indonesia ini masih jadi negeri yang ramah untuk beragam perbedaan..

    BalasHapus
  13. Hehe terima kasih perhatiannya. Saya juga merasakan demikian saat tak puasa karena sedang halangan, cari sarapan mendadak susah, hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. jd harus masak ya mbak artha hehehe

      Hapus
  14. Senang sekali mba membaca artikel ini, terima kasih banyak untuk suka citanya menyertai kami yang muslim ini untuk berpuasa.

    Iya, ga papa sih kalau lihat orang makan. Aku ingat banget nasehat Cak Nun (Emha Ainun Najib), salah satu pendakwah dari Jawa Timur itu. Orang puasa itu nggak usah minta dihormati (salah satunya dengan menutup warung makan). Hanya orang yang tidak bisa menghormati diri sendirilah yang selalu minta dihormati. Gitu sih kata beliau. Dan menurutku itu benar banget.

    BalasHapus
    Balasan
    1. cak nun...saya pembaca beberapa tulisan beliau. tulisannya adem :)

      Hapus
  15. Terima kasih mba, negara kita memang beragam sekali ya agama dan
    Suku bangsa serta kebudayaannya jadi kita terbiasa bertoleransi ya, dulu waktu SMA saya di Jayapura ikut merasakan kebahagiaan natal dan kenyang karena sowan ke rumah Bu guru pakai Angkot rame-rame hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. waah...mbak dedew sempat di jayapura? saya belum pernah ke indonesia timur. pengen banget. salah satunya...so pasti papua

      Hapus
  16. Kalau di tempatku sudah rutin dikasih jadwalnya untuk menyediakan hidangan berbuka, jadi setiap hari dibagi menjadi beberapa orang. Selamat berpuasa ya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. di kompleksku satpam cuma dua org mbak. jd satu hari jatah satu kluarga

      Hapus
  17. Ramadan memang ngangenin ya, apalagi kulinernya. Ternyata buat umat kristiani juga pada sukacita menyambut bulan puasa ya. Banyak momen yang jarang ada di bulan lain. Kalau aku salah satunya acara televisi jg jadi beda

    BalasHapus
    Balasan
    1. yup betul mbaak. acara tipi jd bedaaaa. tp di saya acara tipi disney muluk. kalah ma anak hahaja

      Hapus
    2. yup betul mbak. acaravtipi jd bedaaaaaaa

      Hapus
  18. Aku juga punya temen kantor dulu baik bngt meskipin beda dia suka bawain aku utuk buka puasa mksh bnyk mba,,,

    BalasHapus
  19. Wah, rame nih kisahnya. Tetanggaku jg org kristiani mba. N pas bulab Ramadhan gini aku malah suka antar makanan jg kesebelah. Soalnya baik banget tetangga aku tuh. Pas idul fitri pun beliau kerumah buat ucapin idul fitri. Mmg perbedaan kalo bs saling menghargai jd makin indah ya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya benar mbak. sebenarnya keragaman kan mmg bukan hal aneh ya buat kita.

      Hapus
  20. Alhamdulillah bertemu dengan tamu agung lagi tahun ini, alhamdulillah Ramadhan membawa kita semakin intropeksi semoga ibadah kita diterima Allah Swt, aamiin.

    BalasHapus
  21. Ramadan memang bulan berkah buat semua ya mbak. Yg paling dikangenin ya takjil2 gtu :D
    Perbedaan emang perlu disikapi dewasa, justru itu yang bikin indah, tengkyu mbak :D

    BalasHapus

  22. Perbedaan bukan untuk dibandingkan apalagi dibahas2 bedanya apa. Toleransi paling penting & saling menghormati srrta menghargai

    BalasHapus
  23. Terima kasih. Saya baca tulisan ini sambil senyum-senyum sendiri. Jadi ingat waktu ngekos. Pas bulan Ramadhan. Undangan bukber jadi moment yang paling ditunggu atas dasar perbaikan gizi dan pengiritan hehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. belum pernah ngekos XD tapi tau rasanya warung yang tutup selama ramadhan. dan kalau lagi gak bisa puasa pun gak berani makan di luar XD

      Hapus
    2. @profil : hihi...nasib anak kost yaaa...

      @iyah : jd inget meme2 warteg yg bertebaran di inet. takut2 mau masuk warteg

      Hapus
  24. Iyaa banget...
    Aku baru sadar indahnya keberagaman setelah melihat sahabat-sahabat muslim yang tinggal di luar negeri.
    Memang mereka kaum minoritas, tapi indahnya karena saling menghargai dan tidak mengusik agama masing-masing.

    BalasHapus

Posting Komentar

Terima kasih atas kunjungannya. Mohon tidak meninggalkan link hidup dalam komentar ya :)