Nama Blog : Mengapa Daily Wife?

pic by "text on photo" (android application)


Mumpung terakhir posting tentang renewal domain, sekalian deh sambung cerita asal muasal nama blog. Duluuu kayaknya saya pernah sih nulis tentang ini. Tapi, entah masih ada atau sudah enggak (saat mulai kembali ngeblog di sini, beberapa postingan saya hapus). Entah kenapa saya enggan cek blog archive. Mending re-write aja-lah. Saya masih ingat bener kok kenapa dulu memilih nama “daily-wife”.


Awalnya, blog ini bernama www.dailywife.blogspot.com. Tanpa tanda strip di antara daily dan wife. Tapi cuma isi beberapa postingan karena saya memilih bikin blog lain, yakni blog untuk jualan online kemudian blog pendukung saat saya join sebuah MLM. Dua blog yang juga saya tinggalkan karena ternyata saya enggak (atau belum?) enjoy jualan online maupun MLM-an. Huhu, mungkin karena belum ada faktor T (terpaksa) sih ya... Enggak enjoy jadi alasan untuk sudahan :D.

Lalu saya kembali ke blog ini. Bahkan berniat membeli domain dengan nama yang persis sama. Tapi sayang, domain dailywife.com sudah tak tersedia. Saya pun mengambil pilihan untuk memberi strip di antara daily dan wife. Jadilah www.daily-wife.com. Domain yang ini masih available dan bisa saya pakai. Haha, maksa banget yaaa... Padahal, katanya, menggunakan nama pribadi sebagai domain akan lebih kuat untuk personal branding. Hhhhmm, ya sih. Tapi saya bertahan dengan nama ini karena alasan yang sangat personal.

Eh sebentar..sebentar..

Daily wife? Istri sehari-hari. Istri harian. Maksudnya?

Yayaya... sabar ya..lanjut baca. Ini kan mau diceritain ^-^    

Jadi, dulu itu sebenernya lucu-lucuan saja pilih nama daily wife. Karena kalau ada daily-wife apakah kemudian ada weekly-wife atau monthly-wife atau bahkan annual wife? :P. Eiissshh..macamlah kawin-kontrak hihihi.

Lucu-lucuan tapi berangkat dari kondisi riil saat itu (jaah, sudah hampir sepuluh tahun lalu!). Yakni, saya dan BJ mesti menjalani Long Distance Marriage (LDM) sejarak Bandung – Medan karena pekerjaan. Alasan klasik ya kan? Sebagai pasangan baru, kami cuma bisa ketemu sebulan sekali. Ya apalagi kendalanya kalau bukan soal cuti (emang perusahaan nenek lo?), biaya tiket pesawat (tang ting tung itung-itung), dan rasa rindu yang membuncah (eaaaaa). Kalau beruntung, BJ ada meeting di Jakarta (sehingga bisa melipir ke Bandung). Pernah juga sekali waktu BJ meeting di Bandung (nah ini nggak perlu melipir-melipir...langsung on the spot).

Lalu, saya membuat keputusan untuk resign. Saat itu, saya memang lagi enggak nyaman dengan posisi kerjaan. Tapi bukan itu sih alasan utama resign. Kalau hanya soal posisi, kan pasti akan ada rotasi. Lagipula, itu pekerjaan yang saya inginkan sejak lama. Jadi, melepasnya terasa berat.

Tapi LDM juga nggak kalah berat. Bukan masalah berat di SAAT ITU-nya, tapi saya berpikir untuk jauh ke depan. Pekerjaan BJ maupun pekerjaan saya sama-sama berpotensi mutasi wilayah. Ngenes banget kan kalau gara-gara saya bertahan kami jadi nggak pernah betul-betul tinggal serumah. Selalu dua dapur, selalu ngitung cuti, selalu harap-harap cemas tiap kali ada mutasi.

Belum lagi, bagaimana kalau ada anak. Pekerjaan saya maupun BJ sama-sama “tidak taat” pada hari dan jam kerja. Adalah biasa untuk kerja sampai malam atau ada tugas di tanggal merah. Kalau punya anak, pasti butuh manajemen waktu yang luar biasa demi bisa berkumpul lengkap sekeluarga.

Memilih untuk tetap bertahan berarti harus siap dengan pola rumah tangga yang tidak biasa. Dan ternyata saya nggak siap. Belum lagi berpikir tentang keutuhan pernikahan. Wah, sanggup nggak ya menjaga saling setia dalam pertemuan yang jarang-jarang? Masalahnya bukan hanya soal frekuensi pertemuan. Namun, dengan tetap bekerja, saya pribadi mapan secara finansial. Dalam situasi mapan seperti itu, jangan-jangan saya enteng saja memilih berpisah ketika pernikahan kami kepentok masalah. (Pandangan sebaliknya dikemukakan ibu saya, yakni perempuan sebaiknya tetap punya pekerjaan. Supaya kalau ada hal buruk dalam rumah tangga, setidaknya perempuan masih punya pegangan).

Alhasil, delapan bulan setelah menikah, saya tanda tangan putus hubungan dengan perusahaan lalu menyusul BJ ke Sumatera Utara. Judulnya, turned from “monthly wife” to “daily-wife”. Tapi ternyata faktanya tak persis seperti itu. Tahun awal tinggal satu atap, sepertinya saya lebih sering jadi “weekly wife”. Ya sih, sudah peningkatan daripada frekuensi sebelumnya. Kami lebih sering ketemu di akhir pekan saja karena BJ sering keluar kota saat hari kerja. Kalaupun tak keluar kota, BJ sering pulang malaaaam, bahkan dini hari.

Berjalannya waktu, BJ masih tetap sering bepergian. Ada sih periode di mana BJ berada di posisi pekerjaan yang membuatnya tak dituntut sering pergi jauh. Saat itu lumayan cocok deh dengan nama daily-wife. Tapi itu tidak lama. sekarang situasi kembali lagi, BJ mesti sering traveling. Meski tidak setiap minggu, tetap saja anak-anak bilang “ayah pergi-pergi terus.” (Ada lagu kebangsaan bapak-bapak nih buat situasi kayak gini : “demi kau dan si buah hati, aku rela begini” dududu).

video by youtube

Jadi, daily-wife bukan-lah soal frekuensi waktu. Daily-wife versi saya adalah : pertama pergi semakin jauh terpisah dari keluarga (inti maupun besar), kedua dari semula perempuan bekerja menjadi perempuan rumahan.

Perkara pertama lebih mudah saya hadapi karena sedari seragam putih abu-abu pun saya sudah jadi anak kost. Makin jauh saat kuliah, lalu makin jauh lagi saat bekerja. Jadi saya sudah relatif kebal terhadap "home sick". Lagipula, meski makin jauh toh tetap terhitung jarak domestik. Kalau ditarik garis lurus, dari kampung saya ke Sumatera Utara justru lebih jauh daripada ke Singapura. Sekalipun demikian, butuh paspor (dan mungkin izin tinggal) saat menetap sementara di negeri Singa. Masih satu negara mungkin juga berarti sosial budaya yang relatif lebih dekat ketimbang di luar negeri. Pun, saya pindah ke tempat yang masih terhitung sebagai kota. Banyak kan istri yang tidak betah ikut suami karena lokasi tugas di pedalaman antah berantah.

Yang lebih sulit adalah persoalan kedua. Sedari dulu mana pernah saya mengimpikan jadi ibu rumah tangga. Pesan emansipasi yang masuk kepala sejak kanak-kanak membuat saya lebih berpikir soal “peran ganda” ketimbang menjalani peran domestik di rumah. Tapi, dengan sekian pertimbangan yang tadi saya paparkan di atas, saya memutuskan untuk mendomestikasi diri. Menjalani alur yang lazim dijalani banyak perempuan. Keluar rumah untuk sekolah-kuliah-bekerja-menikah lalu kembali lagi ke rumah. It’s like,.... sebebas apapun pandangan yang pernah kamu kenal, pada akhirnya kamu mengambil pilihan yang tradisional.

Ajaibnya, ibu yang berpandangan “sebaiknya perempuan punya pekerjaan,” justru tidak riweuh dengan keputusan saya untuk resign. Padahal saya sempat berat untuk menyampaikan keputusan itu. Saya khawatir beliau berpendapat “sudah susah-payah diperjuangkan untuk kuliah tapi akhirnya malah memilih di rumah.” Puji Tuhan, ibu tidak seperti itu.  Meski di satu sisi menekankan pentingnya pekerjaan, ibu lebih berpegang pada pandangan konservatif : akan lebih baik bila kalian tinggal bersama.

Jadi, saat saya keluar kerja, tidak ada faktor pemberat eksternal. Saya hanya mesti bergulat dengan pikiran-pikiran yang saling bertentangan. Bertualang adalah pengibaratan yang sangat membantu dalam membuat keputusan. Menjelajah adalah hasrat terpendam yang duluuu sering saya wujudkan dalam kegemaran mendaki gunung. And then I said, being a daily wife is a new adventure. A very-very challenging adventure.

Hari-hari itu saya seperti berada di kaki gunung yang sangat tinggi dan bersiap untuk mendaki. Itu bukan pendakian yang hanya makan waktu sehari semalam. Itu juga bukan ekspedisi yang walaupun lama pasti punya batasan jumlah hari. Itu mungkin akan jadi perjalanan..... seumur hidup. Saya berada di antara dua perasaan. Bersemangat memulai babak baru. Sekaligus takut kalau nanti terlalu lelah kemudian menyerah.

But the adventure must go on.

Dan memang, sejak saat itu hingga saat ini, up and down adalah situasi yang saya jalani. Menjadi perempuan rumah tangga di era emansipasi itu rentan dengan berbagai  perasaan kurang yang timbul dari dalam diri. Semacam kurang berarti, kurang berdaya, kurang berharga dan sebangsanya. Makin pedih kalau dari luar ada komentar, “sayang sekali, sekolah tinggi-tinggi, kok cuma jadi ibu rumah tangga.” Jujur, saya perlu proses untuk bisa selow mendengar suara-suara semacam itu.    

seloow

Tapi saya tidak menyesali keputusan untuk jadi daily-wife.  Toh, bertahan dengan pekerjaan sehingga tetap LDM-an juga akan memiliki masalahnya sendiri (masalah-masalah seperti yang saya bayangkan, bahkan masalah lain). Kalau saya bertahan di sana, mungkin saya akan akrab dengan tudingan mementingkan diri sendiri (karir) dan lebih menyayangi pekerjaan daripada kehidupan berkeluarga. Menjaga keseimbangan peran ganda jadi tantangan sehari-hari.
  
Di era internet seperti ini, memang ada pilihan moderat untuk menjembatani situasi, yakni jadi istri (dan ibu) yang bekerja di rumah. Entah itu membuka usaha di rumah, menerima pekerjaan yang bisa dikerjakan di rumah, MLM-an, atau apapun itu yang bahkan lebih fleksibel sekalipun tinggal berpindah-pindah. Maka, di lini media sosial juga banyak bertebaran status promosi untuk jadi “working at home wife and (or) mom.” Kayaknya enak banget ya, tetap bisa emansipatif sekaligus konservatif dalam satu posisi.

Tapi, jangan salah, bekerja di rumah juga ada tantangan tersendiri. Membagi energi dalam satu tempat (rumah) butuh keterampilan yang canggih. Salah-salah, badan di dekat anak, tapi perhatian sepenuhnya keluar. Haha, nggak akan nunjuk ibu-ibu lain deh. Acung jari diri sendiri sebagai emak-emak yang belum canggih dalam hal ini. Penginnya sih punya kerjaan di rumah yang saya enjoy dan income-nya cukup untuk ukuran saya. Ini bukan semata masalah pendapatan rumah tangga (soal ini nggak akan pernah ada puasnya kecuali kita belajar bersyukur bersyukur dan bersyukur). Tapi ini karena saya kepengin ibu saya sepenuhnya tenang. Meski BJ adalah suami yang sepenuhnya bertanggung-jawab tapi akan lebih baik bila ada sekoci yang bisa digunakan dalam situasi darurat. Yep, I'm still on process.

Jadi bukan soal mau jadi daily wife, weekly wife, monthly wife, even annual wife (ada loh yang ketemu suami beberapa tahun sekali!). Setiap pilihan diambil karena suatu alasan. Dan dalam pilihan apapun selalu ada masalah tapi sekaligus juga peluang.

Every wife has her own adventure, her own journey. Sungguh bersyukur bila menjalani rute sesuai impian. Tapi tak perlu kecil hati jika mesti menjalani rute yang tak sesuai pilihan. Apapun jalur yang kita jalani, pasti ada keindahan-keindahan yang bisa kita nikmati.   

20 komentar:

  1. Hai mba salam knl. Sy jg ibu tumah tgg biasa.. Dl semasa gadis iya bekerja.. Stl menikah murni jd istri dan ibu dr 1 org abg cowok.. Dan sy berush menikmatinya. 😊

    BalasHapus
  2. ya itu semua pilihan dan apapun pilihannya pasti ada positif dan negatifnya

    BalasHapus
  3. Saya dulu pas baru lahiran jadi IRT dirumah, namun pas anak udah agak gedean sekarang mulai kerja lagi, ya namanya juga hidup pasti ada pilihannya yah, yang pasti jalani aja, enjoy dan selalu bersyukur.

    BalasHapus
  4. Apapun pilihannya pasti yang terbaik. Aku dulu juga ldm, Batam Riau, akhirnya karena suami sering ada project pindah pindah. Akhirnya saya resign...dan sekarang bener bener menikmati jadi ibu rumah tangga, alhamdulillah

    BalasHapus
  5. Baru td mlm krpikiran, knp wkt itu saya resign yah setelah melahirkan anak pertama, hihihi... Baca ini jd semangat lg dengan pilihan yg udah dibuat :)

    BalasHapus
  6. Mbak LIsdha....now I know why daily-wife. I feel you!
    Setuju banget every wife has her own adventure, her own journey.Kita memang punya rute impian. Tapi Tuhan lah yang menentukan rute terbaik untuk kita. Apapun yang kita jalani, pasti ada keindahan yang bisa kita nikmati dan kebaikan yang akan kita dapatkan.
    Semangat ya Mbaaakkk!!

    BalasHapus
  7. Keseharian istri atau ibu emang perjalanan yang penuh warna.. tiap hari pasti beda ceritanya. semoga nlig barunya bermanfaat ya.. baik buat aku pembaca maupun pemiliknya...

    BalasHapus
  8. Aku merasakan sekarang mbak. Tapi kalo ortu mbak mendukung, ibuku masih sering nanyain udah apply kerja lagi belum masa sarjana jadi IRT. Padahal suami ga masalahin itu huhu. Kadang2 aku bosen jawab pertanyaan itu. Semoga apapun jalan yanh kita ambil itu yang terbaik yah

    BalasHapus
  9. Halo mba. Smoga segala keputusan yang diambil semakin memberikan dampak bahagia ya :)

    BalasHapus
  10. Iya deh pertama baca nama blognya aku pun mikir "Haaa? Daily wifeee?" Hehehe. Tapi cerita di baliknya inspiring, Mbak. Selalu ada keputusan yang harus kita ambil demi kebaikan bersama, ya.

    BalasHapus
  11. HEhe gpp gak pakai nama, nama dailywife juga oke kok buat domain blog. Ooo jd kyk gtu latar belakang diberi nama daily wife. Alhamdulillah udah gak LDR lagi walau kdng suami dinas2 luar kota ya mbak Hehe. Sukses buat blognya deh.

    BalasHapus
  12. Dulu pas nikah kami sempat bingung mau tinggal dimana secara tempat suami dan istri berjauhan. Akhirnya kami memutuskan suami yang pindah ke kota tempat saya bekerja karena di sana lapangan pekerjaan lebih mudah. Gak kebayang juga sempat terpisah berbulan-bulan kayak Mbak.

    BalasHapus
  13. Begitu ceritanyaa... ya ya... Salut juga dengan keputusan. Semoga terus langgeng kebahagiaan rumah tangganya dunia akhirat.

    BalasHapus
  14. Kadang keadaan tidak bisa dilawan ya, teh...selain dengan kesabaran.
    Ibuku dulu juga monthly wife.
    Karena kalau ikut Babe rahimahullah, pasti pindah-pindah terus. Dan itu ngefek banget ke prestasi akademik anak-anak.

    Jadi diputuskan...
    Setelah anak-anak mandiri (usia SD dan SMP), kami tidak ikut pindah-pindah lagi sama Babe. Sebagai gantinya, Ibu yang bolak-balik ke kota Babe dan ke kota tempat kami tinggal dan bersekolah.

    BalasHapus
  15. Aku pun seorang ibu rumah tangga yang nyambi buka usaha bareng suami mba. Pokoknya yang penting kumpul bersama keluarga, meski harus berjuang bersama dari nol hehe..

    BalasHapus
  16. Setiap orang punya ceritanya masing-masing. Only we know where our priority lies, semangat terus jadi daily wifenya ya Mba. Abaikan yang bilang 'sayang ijazahnya karena cuma jadi IRT' karena IRT itu bukan 'cuma'.

    BalasHapus
  17. Yang namanya LDR ataupun LDM sama-sama 'menguras' ya Mom. Entah itu airmata, kantong, emosional, tenaga. Dan saya juga termasuk orang tidak siap dengan keadaan itu, hingga akhirnya ambil keputusan untuk resign. Senang deh jadi tahu blog ini dan saat baca tulisan-tulisan Mom ini jadi serasa punya teman virtual. Saya juga Sarjana dan bekerja di rumah. Saya harap suatu hari nanti orang-orang akan paham betapa pentingnya punya istri yang terdidik. Salam hangat Mom.

    BalasHapus
  18. Saya juga resign & LDM mbak. Alhamdulillah rejeki Allah masih disitu sampai anak2 sudah pada kuliah. Sekarang sedang mempersiapkan usaha bersama karena sama2 sadar sudah tidak muda lagi, jadi ketika nanti pensiun suami pun tak kaget kalau yg biasanya selalu tugas tiba2 harus dirumah.

    BalasHapus
  19. Salam kenal mom lisda.. Aku juga full sbg daily wife saat ini, versi yang resign aetelah nikah sampe saat ini fokus jaga 2 anak .. Enjoy aja ya kan mom.. Keluarga itu yang utama..

    BalasHapus
  20. Saya setuju dengan pendapat ibunya bahwa istripun harus punya penghasilan, karena kita tidak tahu bagaimana kondisi perekonomian keluarga selanjutnnya, ya bisa diibaratkan sekoci.
    Paling parah seandainya berpisah, sang istri tetap bisa survive walaupun sudah tidak ditanggung oleh sang mantan suami

    BalasHapus

Terima kasih atas kunjungannya. Mohon tidak meninggalkan link hidup dalam komentar ya :)