Gantungkan Data-Datamu Setinggi Awan

pic : pixabay

Cita-cita perlu digantung setinggi langit. Tapi kalau data-data, cukup digantung setinggi awan. Cita-cita dan data-data mesti digantung terpisah. Kalau dua-duanya sama-sama di langit atau sama-sama di awan, ntar kerjaannya malah asik main bareng saja. Hahaha, opo seh ini? Semacam kata-kata yang absurd dan nirfaedah.  

Tapi mudah-mudahan apa yang saya tulis selanjutnya berfaedah sih. Meski faedahnya mungkin nggak akan langsung dirasakan langsung di saat ini. Jadi, beberapa waktu lalu, yakni saat kita masih syok dengan bencana Palu, di salah satu grup WhatsApp ada pesan terusan tentang back-up data-data penting. Entah aslinya pesan dari siapa (karena tidak tertulis sumbernya). Saya tulis ulang di sini sekaligus dengan sharing pengalaman pribadi.

Judul pesannya adalah “Dokumentasikan Surat-Surat Penting.” Mungkin teman-teman juga dapat pesan ini. Soalnya, pesan terusan semacam itu kan lazim tersebar dengan masif. Masalahnya, sudah dilakukan atau belum?

pic : pixabay

Sebenernya, saran untuk mendokumentasikan surat-surat penting itu bukan hal baru. Sudah lama saya dengar tapi kok ya nggak bersegera melakukan. Yang kemarin-kemarin sudah kami lakukan baru sebatas membuat kopian data/surat penting, kemudian menyimpan di tempat yang berbeda dari aslinya. Kalau-kalau ada masalah dengan berkas asli, kami masih punya kopiannya. Etapi, kalau dua-duanya hilang/rusak gimana? Misal, jauh-jauh ya, rumah kebakaran dan semua musnah, termasuk berkas-berkas penting dan kopiannya.

Kita kan nggak tahu, apa yang akan terjadi dan kapan terjadi. Musibah bisa datang tanpa tanda-tanda yang bisa ditangkap orang awam. Musibah bisa terjadi kapan saja dan di mana saja. Makanya, prolog pesan WA yang jadi sumber tulisan saya adalah begini : “dengan begitu seringnya bencana alam terjadi akhir-akhir ini, alangkah baiknya jika kita melakukan persiapan untuk jaga-jaga kemungkinan terburuk itu terjadi. Yaitu dengan cara back-up dokumen-dokumen penting.”

Berdasarkan pengalaman banyak orang, kehilangan data bisa terjadi bukan hanya karena bencana alam. Tapi juga seperti kejadian lain yang juga adalah musibah, seperti kebakaran atau kemalingan. Kehilangan surat-surat penting jelas masalah banget. Mengurus pembuatan ulang pasti makan waktu, tenaga, dan biaya. Kalau ada back-upnya, mudah-mudahan bisa membantu.

Apa saja sih surat/data penting yang perlu diback-up?

Bagi masing-masing orang, jawabannya bisa bervariasi. Tapi, daftar di bawah tentu disepakati sebagai data/surat penting, yakni antara lain :

  1. KTP/SIM/Passport

  2. Akta Kelahiran

  3. Akta/Surat Nikah

  4. Kartu Keluarga

  5. Sertifikat rumah/tanah

  6. BPKB/STNK

  7. Buku Rekening

  8. Polis asuransi

Sepakat kan kalau kehilangan surat/data tersebut di atas bakalan bikin kita ribet? Makanya, kami dulu sempat gaya banget menyimpan berkas-berkas penting di save deposit box sebuah bank di Kota Pematangsiantar. Ya jelas berasa gaya lah, karena menyimpan di SDB kan mesti bayar. Padahal yang disimpan bukannya permata-berlian, melainkan “sekedar” berkas-berkas semacam akta dan ijazah, bukannya sertifikat tanah/rumah, data kepemilikan saham atau sejenisnya. 

(Kata sekedar sengaja pakai tanda kutip, karena meski sekedar toh untuk memilikinya butuh perjuangan :D).  Tapi jadi pengalaman berharga lah. Setidaknya dalam hidup pernah punya SDB di bank wkwkwkwk.

Pindah ke Medan, kami nggak sok-sokan pakai SDB lagi. Soalnya sekarang sudah ada metoda penyimpanan yang murah meriah dan juga relatif aman. (Relatif karena “di dunia ini, apa sih yang benar-benar-benar aman?). Mengutip pesan terusan tadi, langkah-langkah back-up data adalah sebagai berikut :

  1. Scan semua dokumen penting. Kalau nggak ada scanner, bisa difoto. Meski nggak se-presisi hasil scan, foto sudah lumayan-lah. Apalagi kalau kameranya bagus ^-^

  2. Simpan file dalam harddisk dan flashdisk. Saya belum di flashdisk sih, soalnya flashdisk yang tersisa entah di mana. Mesti nyari :D

  3. Jika ingin lebih aman, simpan file memakai zip/rar kemudian dipasang password yang berbeda dengan password akun. Hihihi, jujur saya jadi belajar pakai zip/rar gara-gara ini. Sebelumnya nggak pernah bikin file dengan zip/rar. Caranya : jelas browsing lah :)

  4. Untuk double back-up, simpan juga di penyimpanan awan (cloud storage) seperti google drive dan dropbox. Di saya, kemarin-kemarin fitur ini cuma buat nyimpen-nyimpen foto/video.

  5. Bagikan nama akun dan password akun dengan keluarga inti. Berhubung anak-anak masih kecil-kecil, sementara ini akun dan password masih jadi pengetahuan saya dan suami. Jangan sampai bocor ke pihak lain yang mengakibatkan kita jadi runyam.

pic : pixabay

Gampang sih sebenernya. Tapi justru karena gampang, jadi biasa saja kalau menggampangkan. Contoh terdekat ya saya yang nggak sedari dulu melakukannya. Kalau kamu, gimana?

 

Komentar

  1. Sebagai backup dokumen cara ini adalah yang paling mudah dan aman. Mempermudah pengurusan jika dokumen aslinya hilang. Thanks infonya mbak ^^

    BalasHapus
  2. Kalau keluargaku selama ini dibackup dengan foto copy, scan terus simpan data di laptop-flashdisk gitu. :D Memang hal ini remeh dan sering dilupakan tapi sangat penting. Tfs mak.

    BalasHapus
  3. penting bgt mendokumentasikan data2 penting ya, pernah kelimpungan cari surat2 penting soalnya..tp belum pernah kalo simpan di save deposit

    BalasHapus
  4. tipsnya bermanfaat sekali mba. saya yang lebih parah adalah sifat pelupa. makanya semua dokumen mau disimpen dimana saya pasti ada catatannya. mungkin cara ini bisa saya gunakan mba. thanks infonya.

    BalasHapus
  5. nah sangat berguna nih, solusi untuk jaga-jaga apabila data yang kita miliki hilang atau rusak.

    BalasHapus
  6. teman kantorku juga kasih saran ini mba cuman aku penyakit malas ehhehe padahal penting banget ya setelah baca ini jadi mau dokumen semuanya ah :) reminder banget

    BalasHapus
  7. Wah penting banget ini informasinya Mbak. Makasiihhh...

    BalasHapus
  8. Saya sama suami juga mbak, semua data penting di scan dan disimpan di drive juga di flashdisk supaya nanti ga susah kalo ada yang penting

    BalasHapus
  9. Kyk suamiku semua discan hehe.
    Btw penaaran kalau pakai SDB bayarnya berapa ya mbak? Aku kepoh aja sih meski jg blm ada intan permata berlian yg mau disimpan hihihi

    BalasHapus

Posting Komentar

Terima kasih atas kunjungannya. Mohon tidak meninggalkan link hidup dalam komentar ya :)

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman Menutup Polis Asuransi

Pengalaman Mencairkan Deposito

Pakai Popok Tali Dua Sampai Usia Berapa?