Operasi Gigi Bungsu Ketiga!!

 
berhubung utuh dan cukup besar, si gigi mesti dibelah dua

Bedah gigi bungsu ini sudah saya ingini sejak beberapa bulan lalu. Yakni sejak saya tahu kalau gigi bungsu kanan bawah ini sedikit tampak dan selalu bikin rasa nggak nyaman setelah makan. Tapi ternyata butuh waktu panjang dari mulai wacana hingga eksekusi. Mungkin karena bukan situasi yang gawat darurat, jadi nggak bener-bener memaksa untuk segera dilaksanakan.



Baca : Si Bungsu Yang Selalu Bersamasalah

Saat itu, BJ banyak jadwal keluar kota. Padahal, kalau saya bedah gigi, BJ mesti standby pegang anak-anak. Meski belum ada kepastian waktu operasi, saya telepon hotline asuransi yang saya miliki (asuransi dari kantor BJ). Dapat info, kalau bedah gigi bungsu dicover dengan biaya maksimal Rp 6,6 juta. 

Syaratnya, bedah dilaksanakan di rumah sakit, bukan di klinik. Saya masih ingat dua kali bedah gigi yang dulu,  biayanya hanya Rp 600.000 per tindakan. Terus, saya baca beberapa website, biaya bedah gigi bungsu per tindakan semahal-mahalnya nggak sampai Rp 5 juta. Pede banget-lah bakalan full tercover asuransi.

Sengaja saya nggak pakai BPJS. Bukan karena under estimate dengan pelayanan BPJS. Minggu lalu, Ale cabut gigi pakai BPJS, pelayanannya oke kok. Tapi saya nggak pakai BPJS karena punya fasilitas asuransi swasta. Pikir saya, bedah gigi kan lumayan gede budgetnya. Kalau memang ada alternatif, kenapa enggak “membantu” mengurangi beban BPJS. Kan sering tuh baca berita kalau secara nasional anggarannya masih nombok-nombok melulu. 

Hihi, entah ini pikiran yang baik atau justru malah naif?

Habis telpon asuransi, mulai mikir pilih RS. Nah pas akhir bulan April saya papsmear di RS Siloam Dhirga Surya Medan. Sekalian deh ke bagian informasi tentang jadwal praktik dokter bedah mulut. (Tapi kok ya nggak sekalian tanya estimasi biayanya---- pede banget sih). Sabtu 5 Mei saya konsultasi dengan dokter spesialis bedah mulut sekalian foto panoramic. Selanjutnya bedah diagendakan pada 12 Mei.



 Nah ini hasil foto panoramic-nya. Gigi bungsu miring, mepet ke geraham depannya. Memang nggak ada terasa ngilu-ngilu atau sejenisnya sih. Tapi, sebelah gigi geraham belakang itu kan sudah nggak ada (dulu dicabut karena bolong). Bedah gigi bungsu pasti sakit (setelahnya). Tapi saya pilih bedah daripada nantinya si gigi bungsu bikin rusak geraham belakang. Kalau geraham belakang itu sampai rusak dan mesti dicabut, saya jadi cuma punya satu geraham kanan bawah dong. Ahh...nggak mau. 

Karena merasa sudah pernah, saat konsultasi saya nggak tanya-tanya detail ke dokter maupun perawat. Sewaktu dia bilang mengenai efek bedah (kebas, nyeri, bengkak), saya oke aja. Nggak bakalan kaget kalau itu terjadi.

Satu hal yang bikin saya rada deg-degan tiap kali mau tindakan medis itu hanya “malpraktik.” Meski malpraktik itu jarang-jarang tapi kan bisa menimpa siapa saja dan kapan saja. Secanggih apapun peralatannya, sebonafid apapun rumah sakitnya, sepintar apapun dokternya, dan seteliti apapun prosedur tindakannya, bisa saja terjadi hal-hal di luar dugaan.

Hihi, mungkin jadi tampak parno banget yaaa. Padahal, dua kali bedah terdahulu saya hadapi dengan gagah berani. Biasa aja. Mungkin karena di saya, bertambah usia berbanding terbalik dengan volume keberanian. Tapi ya mau gimana lagi, berdoa dan percaya. Itu saja yang bisa  saya lakukan.

Sabtu itu, saya ditemani BJ, Ale, dan Elo langsung ke lantai tujuh RS Siloam. Agak lama di pendaftaran karena beda petugas dengan saat konsultasi. Jadi mesti konfirmasi lagi ke asuransi (huhuhu, harus sabar-sabar kalau pakai asuransi). Selesai urusan daftar, saya ke poliklinik gigi dan ternyata nunggu lamaa (padahal paginya saya ditelpon supaya datang pukul 13.30). Menjelang pukul 15.00, barulah saya dipanggil.

nampang dengan baju operasi ^-^

Operasi dilakukan di lantai tiga. Sebelum turun, saya lebih dulu diminta ganti baju operasi. Waks...kejutan pertama. Dua kali bedah yang dulu, nggak perlu pakai baju operasi segala deh. Makanya saya selalu berpikir bedah gigi bungsu adalah operasi “ringan” (atau paling pol ya “medium”). Tapi baju operasi memengaruhi psikologis saya loh. Kok jadi berasa operasi besar hahaha (teringat prosedur awal dua kali caesar sectio).

Kejutan kedua adalah saat masuk ruangan operasi. Dulu kan bedah di klinik, jadi operasi dilakukan di kursi periksa gigi aja. Kali ini, saya mesti menunggu dengan posisi tidur di bed di bagian pre-operation. Halaah...

ilustrasi ruang klinik gigi (pic : www.gambarproperti.com)
 
Then...masuk ruang operasi. Masuknya ini bukan jalan kaki sendiri. Melainkan tetap tidur di bed, lalu didorong petugas. Berasa sakit parah kaan... Begitu di dalam,  badalaaa...kejutan ketiga : beneran di ruang operasi!!  Ruangan steril dengan cat hijau (untung bukan putih yang bikin silau). Warna baju tenaga paramedisnya hampir serupa dengan cat temboknya. Terus, ada alat-alat segede gaban yang saya nggak tahu namanya. Rrrr...bayangan bedah di kursi praktik gigi seperti dulu ambyar jadi remah-remah.

Saya mesti pindah ke bed operasi. Bed dengan lampu-lampu di atasnya. Lampu-lampu  yang kalau nanti dinyalakan... bakalan silaaaauuuu man. Kan lampu buat operasi, bukan sekedar lampu ruangan.

ilustrasi ruang operasi (pinterest.com)

Lanjut kejutan keempat, wajah saya ditutup dengan kain berlubang. Bagian lubang ini diletakkan tepat di atas mulut. Wih, padahal dulu pas operasi caesar, sama-sama pakai lampu-lampu gitu tapi mata nggak ditutup. Eaaaaaa....yang disorot lampu kan bagian perut. Nah ini operasi gigi, yang disorot kan bagian muka. Hihihi, logika dong buuu...

Oh ya sebelum itu, ada prosedur standar, yakni cek tekanan darah. Kirain. Cek terus sudah. Ternyata alat pengukur tekanan darah terus dipasang selama operasi. Selain itu juga dipasang alat cek jantung yang dicepitkan di jari telunjuk terus disambungkan ke monitor yang rutin berbunyi titt...titt..titt. Helaaaaah... seserius ini??

Setelah semua ok, saya dibius lokal dengan disuntik pada gusi bagian belakang. Namanya disuntik, ya sakit lah. Tapi masih lebih sakit pas epidural buat operasi caesar. Jadi nggak sampai meronta-ronta histeris gitu lah...

Tak lama gusi dan sebagian lidah terasa kebas. Lalu tindakan operasi dimulai. Jelas saya nggak bisa lihat, kan tindakannya terjadi dalam mulut, plus mata saya juga ditutup. Tapi dengan bius lokal, saya bisa menerka tindakan apa yang dilakukan. Entah bagaimana detailnya, yang jelas kan gusi perlu dibedah, lalu gigi yang bermasalah diambil. Mungkin karena dekat banget sama telinga, ya terdengar betul bagaimana desingan peralatan-peralatan itu.

Pernah dengar suara gergaji mesin saat dipakai memotong kayu? Ya mirip seperti itulah suaranya. Hahaha...horor? Nggak horor-horor amat sih.
Saya jadi mikir, dulu kok hebat banget ya bedah gigi dengan wajah nggak ditutup kain. Cuma suruh tutup mata aja, yang artinya kalau saya melek atau ngintip, bisa-bisa saja lihat beraneka alat bergantian masuk ke mulut. Hihihi...

Operasi berlangsung sekitar 30 menit. Berhubung dibius, ya nggak sakit. Palingan agak terasa seperti ditekan (mungkin saat bagian gigi diambil paksa dari gusi). Setelah beres, gusi dijahit, disumpal kain kasa, lalu sudah. Kain penutup dibuka dan saya bisa ngobrol-ngobrol sedikit dengan dokternya. Agak susah sih ngomongnya, kan masih kebas dan disumpal kasa wkwkwkw.

Oh ya, saya rikues untuk bawa pulang si gigi bungsu. Oleh asisten dokter, gigi saya ditaruh dalam botol plastik kecil. Hhhmm,...lumayan gede dan utuh, nggak bolong. Yang saya pikir dulu lubang hitam, ternyata hanya plak kecil. Maklum posisinya bikin susah disikat, pantes aja jadi plak hitam. Berhubung ukurannya besar, sebelum diambil, si gigi mesti digergaji jadi dua. Kata dokter, ujung akar juga sangat dekat dengan daerah syaraf. Makanya tadi sempat pendarahan. Tapi normal sih. Bukan bleeding yang parah gitu.

Pasca tindakan, saya menunggu di bagian luar kamar operasi kira-kira 20 menit. Nggak ngapa-ngapain, bener-bener menunggu sambil tiduran saja di bed. Saya melihat beberapa pasien masuk ruang pra-operasi. Hmhh... di ruangan itu, kesibukan seolah tak terhenti. Ada pasien yang anak-anak, ada pasien setengah baya, ada juga pasien yang sudah sepuh (tua). Entah operasi apa saja yang hendak dilakukan saat itu.

Perawat menjemput saya pakai kursi roda. Hahaha...padahal saya bisa jalaaaan lhoo. Tapi ya sudahlah.. perawatnya pun bilang, “pakai kursi aja ya Bu, saya sudah telanjur bawa.” Ya wis..manut aja lah.

Sampai di lantai tujuh, ketemu sama BJ, Ale, dan Elo yang menunggu sambil berjuang melawan bosan. Dari jam 13.00 kami di RS lhoo.. Menunggunya sih di kamar, tapi kan tetap bosan. Kata BJ, Ale sempat nangis karena takut bunda-nya kenapa-kenapa saat dioperasi. Hahaha, itu anak memang gampang mellow.

Saya kembali ganti baju. Selanjutnya mengurus pembayaran. Berharap urusannya cepet meski pakai asuransi. Kan one day care, bukan rawat inap seperti saat Elo sakit. Dua kali Elo rawat inap di Medan, mesti berjam-jam nunggu urusan asuransi. Bagaimana ya supaya urusan pakai asuransi itu nggak perlu lama? Ternyata one day care pun urusannya butuh waktu cukup panjang. Ada sekitar satu jam kami menunggu. Kasihan Ale Elo yang sudah sangat bosan.

Itu pun dengan kejutan terakhir... Eh sebenarnya nggak terkejut pada detik-jam itu sih, karena sudah dikasih tahu sejak sejak sebelum tindakan operasi. Seperti saya tulis di awal tadi, dengan coverage asuransi Rp 6,6 juta, kirain sudah lebih dari cukup. Artinya, bisa full tercover asuransi. Tapi ternyataaaa... total biaya delapan juta sekian ratus ribu rupiah. Itu artinya harus nombok :D. Widiih..satu gigi aja hampir sembilan juta. Gini nih gara-gara sok yes, nggak nanyak-nanyak estimasi biaya pas dulu bikin janji sama dokter bedah mulut.

Bersyukurnya masih ada uang belanja buat bayar kekurangan. Tapi saya minta berkas-berkas pembayaran (selain kuitansi) ke petugas. Usaha mau reimburse biaya yang nggak tercover asuransi ke kantor BJ. Mudah-mudahan bisa diklaim. Kalau enggak bisa....ihiksss ihiksss. Setelah nyeri gusi, bakalan lanjut nyeri hati.

Di hari Minggu, pipi kanan bengkak, tapi nggak segede dulu, juga nggak terlalu terasa cenut-cenut (obat pereda nyeri-nya ok). Tapi masih kaku sih kalau buat makan-makan normal. Jadi, sementara makan bubur (bikin sendiri) dan lain-lain yang lunak-lunak. Senin, sudah bisa menggerakkan mulut dengan lebih leluasa. Kadang ada rasa-rasa asin yang berarti masih ada sedikit darah yang merembes keluar. Tapi sudah bisa makan biasa.

Sekarang di mulut saya masih ada satu gigi bungsu yang juga nggak mau tumbuh. Posisinya di kanan atas. Semoga saja yang satu ini baik-manis-dan enggak rewel alias nggak perlu operasi.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman Menutup Polis Asuransi

Pakai Popok Tali Dua Sampai Usia Berapa?

Pengalaman Mencairkan Deposito