Gendongan Anti Pegal (1)




kolase foto dari berbagai situs

Sewaktu Ale beranjak meninggalkan besar, aku menyimpan baju-baju maupun perlengkapan bayi lain yang menurut standarku masih layak pakai. Simpan dulu, mana tahu nanti punya adik.

Puji Tuhan, empat tahun kemudian, Elo lahir.  Dan Elo harus terima nasib bukan-anak-sulung dari #EmakIrit. Banyak barang-barang yang adalah turunan dari Ale. Ada sih sebagian yang beli baru. Tapi jelas tidak seperti Ale dulu, yang nyaris semuanya serba baru.


Sekarang Elo juga sudah beranjak besar. Puji Tuhan, sudah lewat masa bayi-nya dengan selamat. Soal barang-barang bayi, beda deh cerita Ale sama Elo. Pasca Elo, aku dan BJ (pak suami) tak punya rencana untuk menambah anggota keluarga (biologis) lagi. Jadi, saat ini nyaris semua perlengkapan bayi sudah hengkang dari rumah. Kalau memang di luar rencana kami, Tuhan mempercayakan anak lagi, ya nasib baik dia banyak barang serba baru lagi hihihi.


Barang-barang bayi itu, ada yang kami kasihkan orang (kalau masih layak pakai), ada pula yang kami buang. Kalau masih ada barang bayi yang tersisa, itu karena tiga alasan, yaitu punya memori tingkat tinggi, masih bisa dipakai, atau terselip tapi dibuang sayang.
Dari sedikit barang bayi yang hengkang belakangan adalah gendongan bayi.  Saat ini, Elo sudah jarang pakai gendongan. Kalau capek jalan, sudah bisa digendong belakang tanpa kain. Tapi, kemarin-kemarin, gendongan masih dibutuhkan karena dia sering tertidur kalau ikut jemput Ale ke sekolah pakai sepeda motor.Berangkatnya duduk di depanku. Terkena angin sepoi-sepoi saat melaju jadi ngantuk. Mesti digendong deh.

Belakangan, aku beli boncengan yang bisa dipasang di bagian “leher” sepeda motor bebek. Dengan bocengan ini, duduknya lumayan aman. Dan sekarang Elo juga sudah dapat posisi yang nyaman saat tidur di boncengan. Toh jaraknya nggak jauh, kalaupun jalan lambat, paling 10 menit. Bawa kain gendong cuma buat jaga-jaga kalau posisi tidurnya berbahaya. Jadi deh, makin nggak butuh banyak stok gendongan.

Tapi, aku memang bukan golongan emak-emak yang punya banyak variasi alat gendongan sih. Terhitung emak-emak yang nggak up to  date soal gendongan. Makanya, aku pernah berdecak kagum saat membaca sebuah blog berisi review aneka jenis gendongan yang dimiliki si empunya blog. Betapa yang namanya gendongan itu buanyak jenis dan buanyak variasi harga hehehe.


Di masa Ale, aku hanya punya dua jenis gendongan, yakni gendongan instant yang diselempangkan ke pundak menggunakan sling dan gendongan kain jarit. Gendongan instant hanya punya dua (yang mana itu kado). Sedangkan kain jarit, jumlahnya lumayan banyak. Sebab, dulu di tempat Ale lahir (Karo-Sumatera Utara), nyaris setiap orang yang menengok bayi pasti membawa kain jarit (mereka menyebutnya “kain panjang”). Kain panjang yang panjangnya tak sepanjang kain jarit yang dibawakan Mbah Upi dan Mbah Uti dari Jawa (hihi, ribet ya baca kata “panjang”). Jadinya, kain panjang yang lebih pendek itu malah nggak terpakai buat gendong. 

Gendongan instant yang aku punya, bentuknya simpel. Kurang lebih seperti yang di gambar di bawah ini. Meski bahannya lembut dan nggak perlu ngunthel2 ikatan di punggung seperti kain jarik, tapi tetap saja lumayan bikin pegel kalau lama dipakai. Selain itu, hanya ada satu tangan yang bebas. Tangan satunya mesti menjaga si bayi.
 


pic : www.bundabayi.com



Setelah Elo lahir, baru deh aku tahu baby wrap yang berupa kain panjang, terbuat dari bahan yang empuk dan stretch. Tahunya jelas dari internet lah. Hmmmh, terlihat ribet juga sih makainya. Tapi demi punggung yang enggak pegal, kedua tangan yang bebas, dan posisi bayi yang terlihat nyaman, aku tetap tergoda beli.

Sebenarnya, waktu itu ada  gendongan jenis tersebut di sebuah toko di Siantar (kami masih tinggal di sana). Tapi, hanya ada satu dan warnanya pink polos. Duuuh, meski nggak terlalu fanatik terhadap pengategorian warna berdasarkan jenis kelamin, tapi rasanya nggak cucok lah pink sama baby boy. Selain itu aku memang kurang suka warna pink. Aku juga pengin gendongan yang ada motifnya.

Jadilah beli secara online.

Layaknya barang bayi lainnya, tersedia aneka merk baby wrap. Tapi aku pilih merk lokal yang harganya miring dibandingkan merk impor. Aku beli merk Hanaroo warna ungu gelap dengan motif.... (lupa). Waktu itu harganya berapaan ya? Kalau nggak salah Rp 160.000 (exclude ongkir). Tapi, saat mudik ke Jawa, ternyata sepupu naksir. Jadi, gendongannya buat dia. Balik ke Siantar, aku beli lagi merk yang sama warna hijau dengan motif lingkaran-lingkaran. Dalam kemasannya, ada buku mini dan VCD berisi panduan pemakaian.





Jujur, menurutku, pemakaian-nya memang rada ribet. Jelas tak sepraktis gendongan instant atau kain jarik. Kalau pakai gendongan ini, mau pakai baju sekeren apapun, sebagian besar bakalan tertutup bagian kain. Ada temenku yang sebenernya tertarik sama anti pegelnya, tapi jadi enggak beli karena ribetnya. Kalau buatku sih, keribetan itu tertebus oleh anti pegelnya yang memang terbukti. Bahan yang melar dan kuncian gendongan yang tidak terletak di punggung, itu letak magic-nya.



Cara pakainya bisa divariasi sesuai kebutuhan. Tapi memang karena panjang banget juga sih, jadi perlu effort lebih untuk memakainya. Jadi, biasanya, kalau pergi-pergi sebentar, aku pakai kain jarik. Tapi kalau buat jalan-jalan lama, aku pakai gendongan yang ini. Panjangnya yang sekitar empat meter, membuat gendongan ini terasa tebal saat dilipat. Tapi, nggak gampang rusak meski dicuci dan diperas menggunakan mesin. Cepet kering juga kalau diperas. 


pic : www.hanarooonline.wordpress.com




Hingga Elo pensiun gendong, kain itu masih bagus kondisinya. Sering dipakai main mumi sama Ale (inget film The Mummy??). Caranya, si kain gendong buat bungkus leher sampai kaki seperti mumi. Tapi masa sih cuma buat main mumi? 

Masalahnya nggak semua emak-emak tertarik sama gendongan ini. Jadi nggak bisa dikasihkan ke sembarangan orang. Sempat mikir alternatif, apa aku tawarin aja di facebook yaah. Bukan dijual, tapi free (kalau jauh, ya bayar ongkir doang). Tapi sebelum rencana itu terlaksana, ada sepupu yang barusan lahiran anak keduanya tertarik sama gendongan jenis ini. Alhasil, si gendongan mesti kembali menempuh perjalanan panjang. Dulu (saat beli) si gendongan menempuh jarak Jakarta- Siantar. Tempo hari perjalanan paket gendongan lebih panjang, yakni Medan – Temanggung.

Saat mau posting ini, baru deh sadar kalau dulu jarang foto pakai gendongan itu. Kalaupun sempat foto, ternyata nggak aku simpan. Jadi nggak ada deh foto kami pakai gendongan itu huhuhu.

Komentar

Posting Komentar

Terima kasih atas kunjungannya. Mohon tidak meninggalkan link hidup dalam komentar ya :)

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman Menutup Polis Asuransi

Pengalaman Mencairkan Deposito

Pakai Popok Tali Dua Sampai Usia Berapa?