10/08/17

Mimpi Tenggelam dan Les Berenang

foto pribadi




Beberapa bulan lalu, suamiku a.k.a ayah Ale Elo bermimpi buruk. Dalam mimpi ayah, Ale berenang dan tenggelam. Tragisnya, Ayah tak bisa menolong saat Ale tenggelam. Memang hanya mimpi, tapi ada rasa tak nyaman hingga bangun tidur. Kami berdua bukan tipe orang yang suka menerka-nerka makna mimpi atau membawa-bawa mimpi dalam kehidupan nyata. Tapi soal mimpi tenggelam itu, rupanya agak berbeda. Si ayah begitu waspada tiap kali dua bocah itu bermain air. Dia juga tak bosan mengingatkan aku kalau tenggelam tak harus terjadi di air dalam. Di tempat yang terbilang dangkal pun, bocah bisa tenggelam mengenaskan.


Minggu lalu, Ale mulai les renang.

Sebenarnya, ayah kurang setuju. Bukan karena ayah tak ingin Ale bisa renang. Tapi lebih karena kenangan mimpi buruk itu masih saja membekas. Kalau Ale les, itu berarti kami pasti pergi bertiga : aku, Ale, Elo. Sungguh yakin, Elo pasti tak mau duduk manis menunggui mas-nya berenang. Balita itu pasti juga pengen ikut nyemplung. Artinya, aku tak akan bisa 100 persen mengawasi Ale.

Huhuhu, iya sih. Tapi aku benar-benar ingin supaya Ale les renang. Ada beberapa alasan atas keukeuhnya aku. Pertama, aku percaya, belajar renang akan semakin mudah kalau dimulai sejak dini. Di usia sekarang (tujuh tahun), Ale sudah paham instruksi dan bahaya (meski tetap harus terus diingatkan). Kedua, Ale sudah punya motivasi untuk bisa berenang. Sebenarnya, sudah cukup lama aku menawari dia les, tapi dia belum tertarik. Ketiga, lokasi kolam renang tak seberapa jauh dari rumah. Mana tahu kan, tiba-tiba suami dapat mutasi dan kami tinggal jauh dari kolam renang.  

Ayah bilang, biar dia saja yang mengajari Ale renang. Tapi menurutku, latihan renangnya akan lebih intens jika dia ikut les. Kalau dengan ayah, berarti hanya bisa di Sabtu/Minggu dan tanggal merah lainnya. Lagipula, aku sih ingin memberi pengalaman dan pergaulan baru melalui les.

Ayah mengalah. (Hehehe, maafkan daku ya Yah..) Tapi jelas, pesannya tegas. Selalu waspada!

Ale les di kolam renang Istiqlal. Meski sama-sama bernama Istiqlal, ini jauh dari Masjid Istiqlal di Jakarta ya.. Kolam ini tak seberapa jauh dari tempat tinggal kami saat ini. Jarak itu juga salah satu motivasi-ku memberikan les renang pada Ale. Coba jauh, pasti aku berpikir panjang dan sangat mungkin tidak melaksanakannya.

Di Istiqlal, biaya les renang (saat aku menulis ini) adalah Rp 350.000 per orang (sistemnya BUKAN privat, satu guru satu murid). Biaya itu belum mencakup tiket masuk, yakni Rp 10.000 (Senin-Jumat), Rp 15.000 (Sabtu), dan Rp 20.000 (Minggu dan tanggal merah). Pengantar yang menunggu di dalam juga mesti bayar tiket meski tak ikut berenang. Dibandingkan hasil browsing tentang “tarif les renang di Kota Medan” (yang mana aku cuma dapat sedikit informasi), tarif ini termasuk standar. Ada yang lebih mahal, ada juga yang lebih murah (tapi jauh).

Tak ada batasan frekuensi latihan. Kontraknya adalah “sampai bisa berenang.” Yang disebut “sampai bisa berenang” ini tak ada kriteria jelas. Setidaknya demikian yang kutangkap dari sesi tanya-tanya ke staff kolam renang. Ya rasanya sih bukan sampai bisa tingkat mahir. Tapi kalau bermula dari level nol, mampu berenang minimal dengan satu gaya, bisalah disebut “bisa”.

Hingga aku menulis ini, Ale sudah dua kali latihan. Hmmmh, dugaan ayah benar, mana mau Elo duduk diam (atau bermain) sembari aku mengawasi Ale. Dia jelas pengen ikut nyebuurrrr dengan semangat. Jadinya memang agak repot karena harus memegang Elo, juga menengok Ale. Tapi bersyukur, Pakdhe Acok (nama pelatih) sangat kooperatif, juga terlihat ngemong pada anak-anak.

Kerepotan lainnya adalah karena aku mesti bawa perlengkapan perang cukup banyak. Kan aku juga ikut nyebur, otomatis mesti bawa baju ganti untuk tiga orang, plus perlengkapan mandinya. Belum lagi sesi mandi dan ganti baju. Ale sudah bisa melakukan itu sendiri. Lha Elo?

Tapi demi Ale bisa berenang, aku rela menjalani keribetan itu. Sampai-sampai si ayah bilang, jangan-jangan Ale les hanya demi obsesi ibunya. Hihihi, mungkin iya. Tapi tentu nggak akan kulakukan kalau Ale nggak enjoy. So far, Ale enjoy bangeeet. Malah mau nambah dari porsi dua kali seminggu jadi tiga kali seminggu. Ish, ini sih aku nggak bisa iya-kan. Kalau tiga kali seminggu, brarti adeknya juga tiga kali main air. Hohoho...

Aku memang kepengin banget anak-anakku bisa berenang. Buatku, renang itu salah satu life-skill dan sarana rekreasi yang mudah (kalau bisa renang, tentunya). Aku sendiri tidak tumbuh dengan kemampuan berenang. Kalau aku lahir dan tumbuh di kampung yang terdapat sungai besar atau telaga, besar kemungkinan aku bisa berenang. Soalnya, tempat itu pasti jadi tempat bermain favoritku. Sayangnya, di kampungku cuma ada parit. Mana mungkin berenang di parit kan hehehe. Kedalaman airnya saja tak sampai sedengkul hehehe.

Makanya, aku pernah megap-megap di air. Waktu itu sedang acara outbond di kawasan Taman Safari Bogor sebagai bagian akhir training pekerjaan. Game-nya macem-macem (namanya juga outbond­čĺ¬). Tiba di game yang mesti nyemplung di air, aku gagal menyelesaikannya dengan lancar. Bahkan, ya itu, aku sempat megap-megap dan mesti ditolong teman. 

Makanya aku jadi pengin banget bisa renang. Sedemikian inginnya, aku sampai les renang saat bertugas kerja di Cirebon. Tempat les-ku di Hotel Grage dengan pelatih renang dari tim pelatihan daerah Kota Cirebon. Aku lupa nama si pelatih, lupa pula berapa biaya dan frekuensi latihannya. 

Yang aku ingat, usai les aku tetap tak mahir renang haha.

Tapi setidaknya, aku tak sepenuhnya mati gaya kalau masuk kolam renang. Tapi tentu saja pilih kolam dengan kedalaman maksimal setinggi leher. Kalau ketemu kolam dengan permukaan bawah miring, aku akan mulai berenang dari sisi paling dalam. Kalau aku capek dan tak lagi fokus, aku sudah tiba di bagian kolam yang tak terlalu dalam. Jadi, aku bisa menjejakkan kaki di dasar kolam dengan kepala di atas permukaan air. Ini namanya strategi menghindari tenggelam hehehe.

Dengan kemampuan level dasar begini aku berani sok-sok olahraga berenang. Waktu tinggal di Bandung, aku sering ke kolam air hangat Cipaku. Pokoknya kalau badan sudah pegal-pegal nggak nyaman, itu tandanya sudah butuh pijat atau justru berenang. Dengan berenang, badan kan bergerak semua ya.. ambil nafas juga maksimal. Buatku, efeknya justru relax seperti kalau dipijat. Usai renang pasti bisa tidur lelap dan saat bangun, badan sudah kembali segar.

Saat hamil Ale, aku juga suka ke kolam renang. Waktu itu aku sudah tinggal di Kabanjahe, Tanah Karo. Aku berenang di kolam Hotel Sibayak di Berastagi. Kalau dipikir-pikir nekat juga sih. Soalnya aku pergi sendirian, sementara kemampuan berenangku pas-pasan. Kalau tiba-tiba kram atau apalah...namanya juga bumil, gimana coba? Terlebih kolam renang hotel di hari biasa jelas tak seramai kolam renang umum. Bersyukurnya, saat itu tak pernah ada kejadian buruk. Kemarin aku tanya si ayah, kok dulu aku boleh hamil-hamil ke kolam Hotel Sibayak. Kata si ayah, kan bunda bilangnya setelah di perjalanan ke kolam.  Salah-salah si bumil malah ngambek kalau dilarang.

Hehehe...iya sih.

Semoga harapanku supaya anak-anak mampu berenang bisa terwujud. Mimpi ayah dahulu tak kujadikan sumber ketakutan. Tetapi kuanggap sebagai peringatan agar kami tak lupa berdoa tiap kali hendak berenang. Juga tetap hati-hati dan waspada.

Happy swimming :)

2 komentar:

  1. Belajar berenang nagus buat anak2. Juga melatih mandiri selain utk keselamatan ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak fiberti. tapi ternyata si bocah ga cepat bisa hahaha. sabar :)

      Hapus

Entri Unggulan

Hari-hari Menjelang Akadku

pic : www.sewa-apartemen.net Minggu-minggu ini, aku dan Mas J semakin mendekati hari akad. Jadwal pastinya sih belum ada. Tapi kalau...

Postingan Terpopuler