Akhirnya, Dia Bisa Bicara!!

Ale (merah), Elo (biru) di tepi embung lereng Gunung Sindoro


Si bungsu kami, Elo, bisa dikatakan terlambat bicara. Tahun lalu, saat ulang tahun yang kedua, Elo belum mengucapkan satu pun kata yang sempurna. Jangankan sempurna, penggalan kata yang merujuk ke satu kata utuh pun belum. Padahal, lazimnya anak-anak di usia tersebut sudah bisa bercerita meski dengan kalimat pendek dan kosakata sederhana.

Elo bukannya tak bersuara. Dia tidak asyik berdiam dalam dunianya sendiri. (Ini bikin saya yakin kalau dia tidak autis atau kondisi spesial lain yang-ternyata-cukup-banyak-namanya). Namun suara yang keluar  barulah ah-ah-ah, atau eh eh eh. Bahkan sekedar menirukan suara kambing (mbeeek) atau sapi (moooo) pun dia belum bisa. Kata daaa (bunda) atau yaaah (ayah) juga belum keluar dari mulutnya. Selain ah-ah dan eh-eh, dia menggunakan gerakan isyarat untuk menyampaikan sesuatu.


Meski banyak referensi yang bilang “jangan cemas kalau anak terlambat bicara”, tetap saja rasa khawatir itu ada. Apalagi, semakin banyak baca referensi, akan semakin beraneka informasi yang kita dapat. Satu bilang "jangan khawatir", lainnya bilang "waspada" hahaha.  Pressure lebih banyak dari saya sendiri sih. Kalau soal omongan orang sih, saya nggak terlalu ambil pusing. Lagipula di sini saya kurang gaul di dunia nyata, jadi relatif sepi dari komentar orang. Justru kalau saya bilang soal keterlambatan Elo, reaksi yang muncul kebanyakan justru positif, bilang supaya saya sabar gitu deh.

Sebenarnya, di saat usianya belasan bulan, kami belum terlalu khawatir. Apalagi keterlambatan bicara pada anak adalah hal yang rasanya sih biasa, banyak yang mengalami juga. Paling kami cuma mikir, ini anak kapaan ngomongnya? Kami mematok usia dua tahun sebagai batasan untuk memulai terapi/cek medis.  Setelah dekat-dekat dua tahun tetap belum ada perkembangan yang tampak jelas, mulai deh galau.

Banyak orang bilang, anak kedua biasanya akan lebih cepat bicara. Sebab, selain dari orangtua, dia juga mendapat stimulus dari kakaknya. Tapi pada Elo, itu tak terjadi. Padahal, Ale, saya, dan Mas J rajin mengajak dia bicara. Apalagi saya tinggal di rumah, dan saya cukup cerewet, jadi alasan kurang stimulus dari orang-orang dekat jelas-jelas saya coret.

Faktor gadget?

Di masa bayi-nya, Elo tak banyak terpapar gadget. Bahkan, televisi pun dia tak suka lama-lama menonton (berbeda dengan Ale yang sejak balita sudah sukaa banget nonton tivi :D). Elo suka memegang hape hanya untuk mendengarkan lagu-lagu anak di aplikasi android. (Itu meneguhkan saya kalau dia tidak mengalami gangguan pendengaran. Lagipula, kalau dipanggil, dia mau menoleh. Diberi instruksi sederhana, dia juga bisa lakukan). #Kalau sekarang siiih, dikit-dikit minta hape. Saya mesti pinter-pinter bikin kegiatan pengalihan supaya dia nggak tertarik hape meluluwπŸ˜€

Faktor kawan bermain?

Puji Tuhan, ada tetangga sebelah yang juga punya dua anak. Yang sulung kurang lebih dua tahun di bawah  Ale, sedangkan yang kedua sedikit di atas Elo (hanya selisih sekitar tiga bulan). Mereka berempat sering bermain bersama.

Faktor riwayat kesehatan?

Sebelum opname dulu, Elo beberapa kali demam hingga 40 derajat celcius (tapi puji Tuhan tak pernah sampai kejang). Lalu, Elo opname kurang lebih sepuluh hari ditambah lagi rawat jalan. Apa itu  jadi penyebab?

Entahlah. Yang pasti, kami tak putus berdoa, memohon kepada Tuhan yang Empunya segala macam kemampuan. Kami juga tak bosan melatih Elo bicara. Sebisa mungkin selalu menyebut benda/hal yang dia maksud. Kami menggunakan kata yang benar (bukan bahasa bayi) untuk benda/hal yang dia tunjukkan. Kami juga berusaha berbicara dengan tempo pelan supaya Elo bisa jelas menangkap kata-kata yang kami ucapkan.

Tapi hingga menjelang dua tahun, upaya itu belum menampakkan hasil. Kami mulai mencari-cari informasi tentang terapi wicara di Medan. Baik informasi dari orang-orang yang kami kenal, maupun dari internet. Tapi sebelum mengambil keputusan untuk terapi wicara, kami memutuskan untuk lebih dulu membawanya ke konsultan tumbuh kembang. Kami datang ke sana pada September 2016, beberapa minggu sebelum ulang tahun Elo yang kedua. Di dokter spesialis itu, tak ada hal khusus yang bisa kami dapatkan. Berdasar cek fisik terbatas,  dokter tak menemukan masalah.

Untuk lebih detailnya, dokter memberi rujukan agar Elo menjalani test darah dan MRI (Magnetic Resonance Magnetic) otak. Dokter akan membuat diagnosa berdasarkan dua tindakan tersebut. Duuuh, kok malah saya nggak sampai hati. Soalnya, gara-gara opname dulu, Elo masih suka trauma dengan apapun tindakan medis. 

Kalau “cuma”  diambil darahnya buat ditest, mungkin masih bisa-lah. Tapi MRI? Saya browsing tentang MRI pada anak. Ada artikel yang menyatakan, si anak harus dianestesi supaya dia tenang saat di-MRI. Membayangkan dia dibius, lalu masuk ke dalam alat MRI yang sebenarnya baru saya lihat di media (belum pernah saya lihat langsung), rasanya kok nggak tega, secara bukan kondisi gawat darurat. Selain itu, mikir biayanya juga sih. Kalau bukan kondisi gawat darurat, ditanggung enggak sama asuransi? 

Kami sempat bimbang. Laksanakan apa enggak yaa? Atau cari second opinion? Atau tunggu beberapa waktu lagi? Sebenarnya saya buka tipe orangtua yang pengin anaknya serba cepat menguasai suatu ketrampilan. Toh tiap anak punya milestone masing-masing. Hanya saja, tetap dong penasaran, ini sekedar delay yang tak terlalu masalah atau justru gejala dari suatu kondisi spesial? Kalau memang cuma terlambat, its OK. Tapi kalau ternyata ini gejala dari suatu kondisi spesial, sebisa mungkin kami jangan sampai terlambat mengambil tindakan.  Konon, semakin dini mengambil tindakan, hasilnya akan lebih optimal. 

Tapi kalau mesti MRI? Duuh, rasa-rasanya tetap bimbang. 

Jadinya seperti kontradiksi. Antara khawatir terlambat tapi ragu melakukan rujukan dokter. Alhasil, hingga dua bulan sejak kunjungan ke dokter, kami malah enggak melakukan tindakan lanjutan. Enggak melaksanakan rujukan, cari second opinion juga enggak. Yang kami lakukan "cuma" menyabarkan diri sembari tetap berdoa dan mengajar dia bicara.

Sampai kemudian tiba waktunya kami pulang kampung untuk liburan Natal dan Tahun Baru. Di rumah simbah Uti (mertua saya di Klaten) yang sakit stroke, kami bertemu dengan Pak Yoto yang adalah terapis simbah. Konon, beliau juga sering menangani anak-anak dengan macam-macam kelambatan. Dibanding langkah MRI yang masih bikin bimbang, kami malah merasa mantap untuk pijat syaraf Elo pada Pak Yoto. Pak Yoto memang terapis otodidak, tapi melihat dari sikap beliau juga dari kondisi simbah, apa salahnya dicoba?

Elo tiga kali dipijat oleh Pak Yoto. Menurut “peneropongan” beliau, ada syaraf-syaraf penunjang kemampuan bicara Elo yang terlambat berkembang. Hal itu bisa disebabkan oleh kejadian demam tinggi atau jatuh di bagian kepala. Dua faktor itu terjadi semua di Elo. Saat belajar duduk dan jalan, entah berapa kali dia jatuh.

Pijatnya sih seluruh badan (kecuali perut). Tapi untuk kemampuan bicara, fokus Pak Yoto adalah pijat di bagian belakang telinga ditarik setengah lingkaran hingga ke arah bawah dagu. Gerakan itu dilakukan berulang-ulang hingga dirasa cukup (nah, cukupnya ini berapa saya nggak bisa kasih angka, pakai intuisi saja :D). Pak Yoto menganjurkan pada saya dan Mas J untuk tiap hari melakukan pijatan itu saat Elo sedang tenang. Jadi terapi pijatnya tidak tergantung pada kehadiran terapis tapi juga bisa dilakukan sendiri oleh orangtua.
 
Beda dengan terapi pijat, di rumah Mbah Upi (ibu saya di Temanggung), kami dapat anjuran untuk memberi Elo endog doro (telur merpati). Sempat ragu sih dengan saran ini. Kalau telurnya mesti dijopa-japu (diberi mantra) sama dukun, kami nggak sreg. Terlebih saya browsing soal “telur merpati untuk anak lambat bicara” dan enggak nemu satu pun artikel rujukan. Ini beneran apa cuma mitos sih?

Sebab, banyak juga ya mitos-mitos tentang lambat bicara ini, antara lain menggosok lidah dengan cincin kawin, makan buah manggis, makan tempe dengan daunnya, dan dipukul dengan daun salam. Buat kebaikan anak, apa saja bisa dilakukan.

Tapi soal endog doro rupanya tak ada yang perlu dikhawatirkan. Sama sekali tak ada unsur mistiknya. Bahkan bebas saja, endog bisa direbus atau digoreng, tergantung bagaimana selera si bocah. Oh yaok aja kalau gitu sih. Kalaupun tak ada khasiat yang terbukti untuk kemampuan bicara, toh telur kan makanan bergizi buat bocah. Tak ada salahnya dilakukan.
Lagipula, kesungguhan keluarga dalam mencarikan telur merpati juga bikin kami terharu. Mendapatkan telur merpati kan tidak semudah menemukan telur ayam atau bebek. Telur ini tak ada di pasaran, adanya cuma di pehobi merpati. Ukuran telurnya hanya sedikit lebih besar dari telur puyuh. Sedangkan warnanya putih polos seperti telur ayam kampung. 

Balik ke Medan, Elo justru langsung opnam karena diare. Demam tinggi lagi. Tapi laiknya kebanyakan orang Jawa, beberapa orang bilang Elo sakit karena mau pinter. Hehehe, penghiburan yang agak aneh...Kalau kata kakak saya sih, anak-anak kan memang sedang masanya mencapai berbagai kemampuan. Mungkin “kebetulan” saja sebelum pencapaiannya akan sesuatu si anak sakit.

Tapi tak lama setelah opnam, Elo memang bisa mengucapkan satu kata yang utuh dan sempurna. Dan kata pertamanya itu looh, bikin jeles. Saya yang sehari-hari lebih banyak bersama Elo, tapi kata pertamanya justru AYAH. 

Tapi yaaa, kata BUNDA kan memang lebih sulit dilafalkan. Bahkan, hingga sekarang, Elo masih susah mengucapkan kata Bunda dan panggilan dia ke saya adalah “DADA”. Uniknya, sebelum akhirnya memanggil saya Dada, dia lebih dulu memanggil saya AWA lalu MAMA  barulah kemudian Dada. Dia juga masih kesulitan memanggil Ale. Dia lebih suka menggunakan panggilan Ai atau cukup Mas.

Jadi, Elo baru bisa mengucapkan kata utuh pertamanya di usia 2 tahun 4 bulan (lama juga yaa...). Sebulan dua bulan setelah kata “ayah” kemampuan bicaranya belum berkembang pesat. Tapi saat ini, di usia dua tahun sembilan bulan, kami bisa mendengar kosakatanya yang sudah banyak. Dia juga sudah mampu membuat kalimat sederhana dari beberapa kata. Daaan. lumayan banyak omong juga kayak emaknyaπŸ˜‰

Pertanyaan favorit Elo adalah “ini apa? buat apa?” ketika melihat suatu benda/hal. Pertanyaan yang kadang terasa “merepotkan” ketika moment-nya tidak pas. Rasa repot yang harusnya dibuang jauh-jauh mengingat betapa saat itu kami sangat berharap dia bisa bicara.

Kata-katanya memang belum sejelas anak-anak dengan kemampuan bicara yang normal. Masih banyak kata yang hanya muncul bagian akhirnya. Bunyinya juga masih terasa lucu di telinga orang dewasa. Bahkan ada kalanya situasi Elo tantrum karena kami tak  paham dengan apa yang dia katakan. Tapi sampai di fase ini pun, kami sudah sangat bersyukur. Akhirnya, dia bisa bicara!!!

Poinnya, memang mesti sabar-sabar banget menunggu milestone bocah. Toh meski sudah dibekali keyakinan bahwa waktu pencapaian tiap anak itu beda-beda, rupanya tetap harus berjuang untuk bisa sabar. Dan sebaliknya dari jangan terlalu khawatir, jangan pula terlalu cuek. Apalagi kalau dibarengi dengan gejala lain yang tak biasa.




---------------------------------------------------------------------------------------- ---------------

Terima kasih sudah berkunjung. Bagi yang meninggalkan komentar, nanti saya berkunjung balik😌


Komentar

  1. Kayak Kakak, anakku yang pertama tuh Mb.
    Kakak itu telat jalan. Umur 18 bulan baru jalan. Gak mau tetah eh begitu jalan ya langsung lari hihihi

    Bicara pun sama. Cuman bisa nunun klo minta minum, emam klo minta makan
    Eh pas di Banjarmasin umur 2,5 tahun baru bener-bener jelas bicara setelah pukul-pukul pake daun sirih merah tiap Jum'at. Eh 3 kali Jum'at Alhamdulillah jelas ama lancar

    Entah emang udah saatnya. Yang jelas ikhtiar aja πŸ˜‚πŸ˜‚

    BalasHapus
  2. Iya Mbak , kuncinya memang sabar dan ikhtiar..masing-masing anak beda perkembangan. Anakku si Mas e jalan duluan ngomong belakangan, adik e kebalikannya..hadeh:)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman Menutup Polis Asuransi

Pakai Popok Tali Dua Sampai Usia Berapa?